Kamis pagi, lobi gedung pengadilan berbau lantai yang baru dipel dan kertas fotokopi yang kepanasan.
Kalila duduk di bangku panjang bersama Asti, kedua tangan terlipat rapat di atas tas, dengan blus krem yang sengaja dia pilih karena tidak ada satu orang pun yang akan mengingatnya. Sembilan hari dia mematuhi dokter, dan tubuhnya membalas dengan kepala ringan serta kaki yang masih tak mau percaya pada lantai. Di seberangnya, pengacara berdiri membaca ulang berkas dengan bibir bergerak tanpa suara.
“Bu, sekali lagi,” katanya tanpa mengangkat mata. “Pernyataan akhir cukup tiga menit. Jangan membacakan perasaan. Majelis sudah memegang bukti, yang mereka butuhkan hanya kepastian bahwa Ibu masih menginginkan ini.”
“Saya menginginkannya, Pak.”
“Saya tahu. Saya hanya ingin Ibu mengatakannya dengan wajah yang sama seperti hari pertama.”
Kalila menatap pintu kaca lobi. Di luar, kendaraan melintas lambat di bawah langit abu. Dia tidak memperhatikan mobil mana pun, tetapi tubuhnya, tanpa seizinnya, memeriksa setiap sosok yang masuk: perempuan bersanggul, laki-laki berseragam, tukang foto kopi. Tidak ada jas putih. Tidak ada kacamata tipis.
Dia memaksa matanya kembali ke lantai.
Keanu datang lima menit sebelum sidang dibuka, sendirian, dengan pengacaranya setengah langkah di belakang. Dasinya rapi hari ini. Rapi sekali, seperti orang yang menyuruh seseorang membetulkannya. Mereka bertukar pandang sedetik di tengah lobi. Dia tidak mendekat, tidak memanggil, tidak menggerakkan bibir. Dia hanya menurunkan dagu sedikit, sopan seperti kepada orang yang tidak lagi dia miliki, lalu berjalan masuk ke ruang sidang.
Eyang dan Mama tiba tak lama sesudahnya. Eyang berjalan dengan tongkat kayu, ditemani sopir tua yang membukakan pintu, dan ketika melewati Kalila dia berhenti, menepuk punggung tangan perempuan itu dua kali, ringan, tanpa berkata apa-apa. Itu cukup. Kalila merasa lebih tegak dibanding saat dia duduk.
*
Majelis hakim duduk dengan wajah yang sudah membaca terlalu banyak berkas sedih. Ketua majelis, laki-laki berkacamata dengan suara datar dan sabar, membuka dengan membacakan ringkasan. Gugatan, jawaban, gugatan balik yang dicabut, keterangan saksi, kesaksian dokter. Hampir empat puluh menit dia membaca. Kalila mendengar semuanya seperti mendengar cerita tentang orang lain, perempuan malang yang tidur di kamar tiga kali tiga meter dan memanggil suaminya Tuan.
“Kepada tergugat,” kata ketua majelis akhirnya, menurunkan kertas. “Sebelum pernyataan akhir, adakah sesuatu yang hendak Saudara sampaikan? Majelis bertanya untuk terakhir kalinya: apakah Saudara tetap menolak gugatan ini?”
Ruangan hening. Kalila tidak menoleh, tetapi dia merasakan Keanu di sisi kanan, seperti merasakan dinding yang tiba-tiba dingin.
Lama sekali tidak ada jawaban. Dua puluh detik. Tiga puluh. Pengacara Keanu berdeham pelan, siap menyodorkan kalimat yang sudah disiapkan.
“Majelis yang terhormat.” Suara Keanu rendah, pelan, tetapi tidak gemetar. “Dulu saya menolak karena saya pikir menolak sama dengan mempertahankan. Hari ini saya mengerti itu dua hal berbeda.” Dia berhenti. “Saya serahkan kepada majelis. Saya tidak bisa memaksakan yang tidak mau.”
“Pak,” bisik pengacaranya, keras sekali di keheningan itu. “Pak, itu sama dengan...”
“Aku tahu apa yang sama dengan apa,” jawab Keanu tanpa menoleh, sepelan mungkin. “Duduklah.”
Ketua majelis menatap Keanu agak lama, lalu mencatat sesuatu. Hakim anggota di sisi kanan, perempuan setengah baya yang sejak awal paling jarang bicara, mencondongkan badan ke mikrofon.
“Satu hal untuk kepastian berita acara. Saudara tergugat, apakah Saudara dipaksa atau ditekan oleh pihak mana pun untuk menyampaikan jawaban tadi?”
“Tidak, Yang Mulia. Kalau ada yang menekan saya, itu perasaan saya sendiri.”
Hakim perempuan itu mengangguk dan menulis. Ketua majelis menoleh ke arah Kalila. “Baik. Kepada penggugat, silakan.”
Kalila berdiri. Lututnya sempat goyah, tetapi dia menekan ujung meja dengan tiga jari dan tegak kembali. Teks tiga menit yang disiapkan pengacara ada di map, tidak dia buka.
“Yang Mulia, saya tidak punya banyak. Saya datang ke sini bukan untuk menghukum siapa pun.” Suaranya keluar tipis, kemudian mantap. “Selama tiga tahun saya mengira cinta itu soal menahan. Menahan lapar, menahan diam, menahan nama saya sendiri. Sekarang saya tahu bahwa ada hal yang kalau ditahan terlalu lama, bukan cinta lagi yang tersisa, tetapi tubuh yang berhenti bicara.” Dia menelan ludah. “Saya tidak membenci. Saya sudah mencoba mencari bencinya, dan tidak ketemu. Saya hanya selesai.”
Satu kata itu jatuh di tengah ruangan seperti sesuatu yang ringan tetapi tidak bisa dipungut kembali.
Ketika Kalila kembali duduk, tangannya dingin, dan untuk menyembunyikan getarnya dia menoleh ke barisan pengunjung. Mama ada di bangku kedua, kebaya biru tua, mata merah tetapi tegak. Di sebelahnya Eyang duduk dengan selendang tersampir dan tongkat kayu di pangkuan, menatap lurus ke depan seperti hakim yang tak ditugaskan. Dan di bangku sebelah Eyang, ada kursi kosong yang tidak diduduki siapa pun.
Kalila tidak sadar sudah menghitung bangku itu sampai dia mendapati dirinya mencari satu bahu yang tidak ada. Pipinya memanas. Dia segera menunduk, marah pada dirinya sendiri, bukan pada siapa pun.
Aku tidak mencarinya, pikirnya. Dan pikiran itu terdengar paling bohong dari semua kalimat yang pernah dia ucapkan hari ini.
*
Sidang ditutup pukul sebelas lewat sedikit. Di koridor, orang-orang berhamburan dengan wajah seperti baru selesai menahan napas. Pengacara berbisik bahwa semuanya berjalan sesuai harapan, bahwa ucapan Keanu tadi sangat membantu, dan bahwa dia akan menjelaskan lebih panjang di kantornya nanti. Kalila hanya mendengar separuh, karena separuh lainnya tersita oleh suara dari ujung koridor.
“Bapak baru saja menyerahkan perkara,” desis pengacara berambut perak itu, setengah berlari mengejar langkah Keanu. “Dengan satu kalimat Bapak membuang tiga bulan strategi!”
“Aku menyerahkan sesuatu yang bukan milikku.”
“Pak, masih ada tenggat banding, masih ada...”
“Nanti, Pak. Hari ini tidak.” Keanu berhenti di dekat tangga, menatap sebentar ke luar jendela. Dari jarak dua puluh meter, bahunya tampak seperti bahu orang yang baru menaruh beban dan belum yakin tangannya sanggup berdiri tanpa itu.
Mama menyusulnya di dekat jendela besar yang menghadap halaman parkir. Dia tidak membawa tas, tidak membawa rantang. Dia hanya meraih tangan Kalila dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, seperti memegang barang yang sudah dia tahu akan dia lepaskan.
“Tadi bagus sekali, Nak.”
“Saya tidak sempat membaca catatan pengacara.”
“Justru itu bagusnya.” Mama tersenyum, tipis dan bergetar. “Mama tidak akan minta apa pun lagi, Kalila. Soal Keanu, soal kesempatan, soal apa pun. Dulu Mama datang ke apartemen malam-malam membawa satu permintaan. Sekarang Mama hanya akan duduk di bangku itu dan mendengarkan hakim memutuskan.”
Kalila ingin berkata sesuatu, tetapi tenggorokannya penuh. Yang keluar hanya, “Terima kasih, Ma.”
Seorang panitera berkemeja putih keluar dari ruang sidang, memegang selembar kertas yang dia tempelkan pada papan pengumuman dekat pintu. Dia menoleh ke arah Kalila dan Mama, lalu mengangguk sopan.
“Bu Kalila, putusan akan dibacakan hari Selasa depan, pukul sepuluh pagi.”