Enam hari setelah laki-laki itu mengambil mikrofon di depan para komisaris perusahaannya, Julian dipanggil ke lantai tertinggi rumah sakit untuk mendengar sesuatu yang sebenarnya sudah dia ketahui.
Ruang rapat dewan etik berbau kertas lama dan teh melati yang disajikan terlalu panas. Direktur rumah sakit, laki-laki enam puluhan yang tidak pernah terburu-buru, duduk di ujung meja dengan map hijau terbuka di depannya. Di sebelah kirinya duduk dokter senior perempuan, pembimbing lama Julian sejak dia residen, yang menatapnya melalui kacamata separuh bingkai dengan ekspresi seorang guru menunggu murid memperbaiki jawaban.
“Dokter Julian,” kata direktur, “dewan sudah menelaah catatan kontak yang Anda serahkan, keterangan dokter pengganti, rekaman pengelola apartemen, dan pernyataan terbuka yang diucapkan Bapak Keanu Syailendra enam hari lalu. Keputusannya satu kalimat.” Dia membacakan dari kertas. “Tidak ditemukan pelanggaran etik, perkara ditutup, dan dewan menyatakan penyerahan perawatan pasien Anda pada waktunya sebagai tindakan yang patut.”
Julian menarik napas yang dia tahan tanpa sadar sejak dia duduk. Selama enam hari dia sudah menyiapkan kalimat untuk dua kemungkinan, skorsing atau teguran tertulis, dan tidak satu pun untuk yang ini. “Terima kasih, Pak.”
“Jangan berterima kasih pada kami.” Direktur menutup map. “Terima kasih saja pada orang yang bicara di rapat pemegang saham itu. Pernyataan sepolos itu jarang terjadi, dan itu mempercepat kerja kami berminggu-minggu.”
“Saya tidak memintanya.”
“Karena itu nilainya besar.” Direktur berhenti di ambang berdiri, sebelah tangan masih menekan map. “Satu hal lagi. Cuti dua pekan yang dulu Anda ambil, kami catat sebagai tindakan sukarela, bukan sanksi. Pasien Anda menunggu di poli sejak Senin pagi. Mereka lebih suka dokter yang tidak banyak bicara.”
“Saya akan mulai hari ini, Pak.”
Dokter senior itu tidak berkata apa-apa sampai direktur meninggalkan ruangan. Baru ketika pintu tertutup, dia membuka mulut. “Saya mengajarimu menyerahkan pasien bila hatimu ikut campur. Saya tidak tahu kamu akan sepatuh itu sampai kehilangan tidur.”
“Saya tidak kehilangan tidur, Bu.”
“Kalau begitu pulanglah dan tidur malam ini,” kata dokter itu sambil bangkit dan merapikan tasnya. “Itu perintah pembimbingmu, bukan saran.”
*
Sore itu, di apartemennya yang berlantai kayu dan terlalu rapi untuk disebut rumah, Julian membuka laci kedua meja kerja dan mengeluarkan tiga amplop putih tanpa nama.
Di dasar laci, di bawah ketiga amplop itu, tergeletak selembar kertas bergaris dengan gambar krayon tiga orang di bawah satu pohon: seorang perempuan bercelemek, seorang laki-laki berjas putih, dan seorang anak dengan hidung digambar terlalu besar. Anak itu menyodorkannya ke tangan Julian di dapur terbuka panti, dan sejak hari itu dia tidak sanggup membuangnya.
Dia duduk di lantai, bersandar pada kaki meja, dan membaca yang pertama. Tulisan tangannya sendiri, lebih rapi dari yang dia sukai. Kalila, hari ini hari ketiga dan aku belum menelepon. Aku hanya ingin tahu apakah kamu sudah makan. Itu saja. Tidak ada yang lain.
Yang kedua lebih pendek: soal seorang pasien lansia yang tiap hari menanyakan apakah cucunya akan datang, dan bagaimana dia belajar bahwa menunggu bisa dikerjakan dengan tenang atau dengan gelisah, dan dia sedang belajar yang pertama.
Yang ketiga dia tulis Sabtu kemarin. Dia sengaja membacanya paling lama. Aku berdiri di lorong itu dan kakiku tidak mau maju. Bukan karena takut. Karena aku sudah berjanji tidak akan datang ke pintumu, dan kamu tidak memintaku datang. Kalau aku melangkah, aku mengambil sesuatu yang bukan milikku. Maka aku pergi. Aku harap kamu mengerti, dan kalau tidak, aku tetap tidak akan menyesal menepatinya.
Julian melipat kertas itu pada lipatan aslinya dan memasukkannya kembali ke amplop. Dia berdiri, menaruh ketiganya di laci, lalu memutar anak kunci dua kali. Bunyi klik terdengar lebih keras dari seharusnya di ruangan yang sunyi.
Dia menaruh kunci itu di saku jasnya. Kemudian, karena merasa itu kurang, dia memindahkannya ke saku celana, seolah letak kunci bisa menentukan seberapa jauh dia sanggup menahan diri.
*
Rumah Eyang menjelang magrib berbau melati kering dan kapur barus. Ibunya duduk di kursi rotan di beranda, mengenakan kain batik cokelat dan selendang tipis, sopir tua keluarga berdiri tak jauh dari mobil sambil mengelap kaca spion yang sudah bersih.
“Mah.”
“Duduk.” Eyang menunjuk kursi di sebelahnya tanpa menoleh. “Dewan etik?”
“Ditutup. Tanpa catatan.”
“Syukurlah.” Eyang memandang halaman, tempat tukang kebun sedang menyapu daun kering dengan gerakan yang pelan. “Mama Keanu bertanya pada dokter pengganti siapa yang jaga malam itu. Lalu dia datang ke sini dan menceritakannya padaku.”
Julian diam.
“Dua kali kamu berjalan ke ujung lorong itu, dan dua kali kamu berbalik. Kamu pikir itu pengecut?”
“Saya pikir itu satu-satunya cara agar saya tetap bisa memandang wajahnya nanti.” Dia berhenti, lalu menambahkan lebih pelan, “Mah, apakah dia makan?”
“Mama Keanu bilang dia pulang ke vila dengan plester di jari dan menangis di depan anak-anak panti. Menangis betulan, bukan yang disembunyikan.” Eyang tersenyum samar. “Orang yang bisa menangis betulan masih punya jalan pulang.”
Tenggorokan Julian mengencang. Dia memandang tukang kebun yang menyapu daun, bukan ibunya, supaya tidak ketahuan.
Eyang menoleh. Mata tuanya tajam dan teduh sekaligus, mata yang sudah melihat anaknya menyimpan sesuatu selama lima tahun dan tidak pernah sekali pun menyebutnya. “Menunggu bukan mengintai, Nak. Orang yang mengintai itu menunggu supaya bisa mengambil. Orang yang menunggu seperti kamu itu bekerja. Pekerjaannya sunyi dan tidak ada yang memberi upah, tapi dikerjakan setiap hari.”
“Mah, saya tidak merasa bekerja. Saya merasa kehabisan akal.”
“Justru itu tanda bekerja.” Eyang membetulkan selendangnya. Ketika dia bicara lagi, nadanya sudah berganti, tegas dan tidak membuka ruang. “Sidang kesimpulan hari Kamis. Kamu tahu itu.”
“Saya tahu.”
“Kamu tidak datang. Tidak lewat pintu belakang, tidak menunggu di tempat parkir, tidak duduk di warung seberang. Kalau pengacaranya melihat bahkan bayangan mobil jipmu di jalan itu, seluruh yang kamu kerjakan tiga bulan ini bisa dipakai orang untuk mengatakan kamu menunggu bukan di tempat yang sepatutnya.”
“Dan penanya?” tanya Julian pelan.
“Masih di tatakan kecil di ruang tamuku, tempat yang sama.” Eyang mengangkat alis sedikit. “Jangan pasang wajah seperti itu. Pena adalah pena. Yang menyakitkan itu menunggunya, dan itu bagianmu.”
Julian menatap sepasang tangannya di pangkuan. Tangan dokter, tangan yang tahu persis seberapa tipis jarak antara menolong dan melanggar.
“Aku tidak datang, Mah,” katanya. “Aku tidak akan ada di mana pun dia bisa melihatku.”