“Dokter bilang jangan, Bu. Tapi ini bukan komentar.”
Asti berdiri di depan sofa ruang tengah vila dengan ponsel dipegang seperti benda panas. Kalila setengah berbaring di bawah selimut tebal, pulang dari rumah sakit sejam lalu dengan plester kecil di telunjuk dan dua pesan tertulis dari dokter pengganti yang menempel di pintu kulkas: istirahat total dan jangan membaca apa pun tentang diri sendiri. Di luar jendela, langit Selasa sore mendung rendah.
“Bukan komentar, bukan wawancara?”
“Klarifikasi. Dari rapat pemegang saham pagi tadi. Sembilan puluh detik, Bu. Pak Keanu.”
Kalila menatap layar yang diangsurkan itu cukup lama. Dia ingin menolak. Tubuhnya sudah meminta berhenti, dan Mama sudah berpesan berhenti. Tetapi dia juga tahu satu hal tentang dirinya: bila yang dia hindari tidak pernah dia dengar, selamanya dia akan membayangkan versi yang lebih buruk.
“Putar.”
Suara Keanu memenuhi ruang tengah yang kecil itu, lebih rendah daripada yang dia ingat, tanpa nada memerintah. Dia mendengar kalimat demi kalimat: salah, saya yang pertama menuduh, saya cabut. Dia mendengar jeda yang panjang di tengah, bunyi napas yang tertangkap mikrofon, lalu kalimat terakhir yang ditutup pertanyaan seorang wartawan. Itu keputusan Ibu Kalila, bukan keputusan saya.
Dasinya miring. Itu yang Kalila lihat lebih dulu, sebelum kalimat apa pun: simpul dasi yang miring dan kerah yang longgar di leher yang menyusut. Keanu yang dia kenal tidak pernah keluar rumah dengan simpul sembarangan, bahkan pada hari dia kehilangan kontrak terbesarnya.
Layar kembali gelap. Asti menahan napas.
“Bu?”
Kalila menarik selimut sampai ke dagu. Dia memandang plester di jarinya. Yang pertama muncul bukan haru. Yang pertama muncul adalah curiga yang sudah dua kali dia lihat menang atas dirinya, dan dia tidak mau kalah untuk ketiga kalinya.
“Dia melakukan itu supaya dirinya tampak bersih lagi,” katanya, setengah kepada Asti, setengah kepada dinding. “Orang yang minta maaf di depan kamera kan tahu persis siapa yang akan menonton.”
Ponselnya sendiri berbunyi di meja. Mama.
“Kalila, kamu tidak membukanya, kan?” Suara Mama terdengar tegang dan lelah, tetapi ada sesuatu di baliknya yang berbeda dari kemarin.
“Saya sudah menontonnya, Ma. Maaf.”
Hening sebentar. Lalu Mama tertawa kecil, tanpa geli. “Mama sudah menduga. Kamu keras kepala seperti ibumu pasti dulu. Bagaimana?”
“Saya bertanya-tanya apakah dia melakukannya untuk dirinya sendiri.”
“Tidak.” Jawaban Mama datang cepat, hampir sebelum kalimat Kalila selesai. “Mama bukan membela dia, Nak. Mama hanya tidak mau kamu menyimpan jawaban yang salah. Dia menangis di mobil, sendirian, sesudah mikrofon itu. Supri melihatnya lewat cermin. Orang yang melakukan sesuatu supaya tampak bersih tidak menangis di mobil tanpa penonton.”
Kalila tidak menjawab. Di luar, gerimis pertama jatuh ke atap seng dapur.
“Mama minta maaf, Kalila.” Kali ini suaranya turun. “Mama bilang kamu tak perlu menonton karena Mama takut kamu menangis lagi. Padahal mungkin kamu perlu menonton, supaya kamu tahu bukan Mama yang memaksanya.”
“Saya tahu, Ma.”
“Makan buburnya,” kata Mama. “Itu saja yang Mama minta hari ini.”
*
Rabu pagi, matahari belum terlalu tinggi ketika suara banyak langkah kaki kecil terdengar di jalan tanah belakang vila.
Kalila baru selesai mengepel teras kecil di belakang, melanggar pesan dokter, ketika Bu Pengurus muncul di ujung jalan dengan kerudung biru miring dan sembilan anak berbaris di belakangnya seperti anak bebek yang disuruh diam. Beberapa membawa bunga liar yang masih basah. Seorang anak perempuan berkepang membawa kertas gambar lebih besar dari badannya.
“Ibu Kalila!” Bu Pengurus setengah berlari. Wajahnya sembab, tetapi yang menetes kali ini bukan kesedihan. “Ketua dewan menelepon saya pukul enam tadi. Dia menonton Pak Keanu semalam, dan dia minta maaf. Katanya keputusan kemarin dicabut. Ibu boleh kembali kapan saja Ibu mau, dan dapur itu tetap dapur Ibu.”
Kalila membuka mulut, tetapi suaranya tidak keluar.
“Dan kata mereka...” Bu Pengurus mengusap pipi dengan lengan kerudung. “Kata mereka, kami semua yang malu.”
Anak lelaki kecil berhidung beringus menerobos barisan dan berdiri tepat di depan Kalila. Dia mengusap hidung dengan punggung tangan, dan dengan serius yang tidak sepadan dengan tubuhnya, dia menyodorkan secarik kertas lipat.
“Kak sakit ya? Kata Ibu Pengurus Kakak sakit karena capek. Ini buat Kakak biar cepet sembuh.”
Kalila membuka lipatan itu. Krayon merah dan kuning, garis-garis yang miring: seorang perempuan raksasa dengan celemek, memegang panci lebih besar dari kepalanya, matahari bersudut di pojok kertas, dan di bawahnya tulisan yang hurufnya kebesaran dan terbalik di sana-sini. KAK KALILA JANGAN SAKIT. KAMI KANGEN BOLU.
Sesuatu di dadanya yang selama berminggu-minggu mengeras seperti batu retak pelan-pelan. Dia berlutut di tanah, tidak peduli dengan lututnya yang kotor, memeluk bocah itu, dan tangisnya datang tanpa permisi: bukan tangis sunyi yang dia kenal selama ini, tetapi tangis yang bersuara, basah, kasar. Baru kali ini sejak malam gala dia membiarkan seluruh tubuhnya menangis.
“Kak, jangan nangis. Nanti bolunya asin.”
Kalila tertawa di sela isaknya, dan di belakangnya delapan anak lainnya ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu. Bu Pengurus menutup wajah dengan kedua tangan.
Anak perempuan berkepang itu akhirnya maju juga, menggeret kertas gambarnya yang besar. Isinya vila, lengkap dengan jam dinding bundar di pojok atas.
“Kak, jamnya salah, ya? Kata Bu Pengurus jamnya mati. Aku gambar jamnya hidup.” Jarum di kertas itu menunjuk pukul tujuh, dan di bawahnya anak itu menulis dengan huruf besar-besar: SARAPAN.
“Kenapa pukul tujuh?”
“Soalnya itu jam paling enak. Semua orang masih bisa mulai lagi.”
Bu Pengurus mengusap hidungnya sambil tersenyum goyah. “Besok-besok kalau Ibu sudah kuat, dapur panti menunggu. Tidak usah buru-buru. Kami cuma ingin Ibu tahu pintunya tidak pernah ditutup.”
“Terima kasih, Bu. Sungguh.”
*
Malam itu, ketika vila sudah sepi dan Asti pulang dengan perintah keras agar Kalila tidur sebelum pukul sepuluh, dia menyeduh teh melati dan duduk di meja dapur dengan gambar jam yang hidup tersandar pada cangkir. Tehnya hangat, bening, dan seperti air biasa. Dia tidak menyesalinya. Dia hanya meletakkan cangkir itu, dan saat itulah ponselnya bergetar satu kali.
Nomor yang pernah dia hafal di luar kepala. Nomor yang kemarin dan kemarin lusa tidak muncul sekali pun.
Aku tidak minta terima kasih. Aku hanya berhenti membiarkan mereka salah bicara tentangmu.
Kalila membaca pesan itu sekali. Dua kali. Dia menyentuh layar dengan ibu jari, membiarkan kursor berkedip di kolom balasan, menulis sesuatu, menghapusnya, menulis lagi. Tiga kalimat, dua kalimat, lalu satu.
Terima kasih.
Dia menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran, menelungkupkan ponsel di meja, dan menatap dinding dapur yang temaram. Tidak ada balasan. Di tempat lain, di kota yang sama, layar yang menyala di tangan seorang laki-laki menampilkan tanda dibaca. Dia memandang dua kata itu lama sekali dan tidak menulis apa pun, karena kali ini dia mengerti bahwa kadang jawaban terbaik atas satu kata adalah tidak menambahkan kata lain.