Keanu mengikat dasinya untuk ketiga kalinya, dan ketiga kalinya simpulnya miring.
Di cermin lift pribadi lantai atas gedung Syailendra Corp, wajahnya tampak seperti foto orang lain: tulang pipi lebih tajam dari bulan lalu, mata merah di bawah kelopak yang sudah dua malam tidak tenang. Dia melonggarkan simpul itu, menariknya lagi, lalu menyerah dan membiarkannya apa adanya.
“Pak.” Sekretarisnya berdiri di depan pintu lift dengan map di dada, perempuan paruh baya yang sudah bekerja sejak ayah Keanu masih hidup dan jarang sekali menaikkan suara. “Ruang rapat penuh. Wartawan tiga puluh orang, tiga di antaranya dari kanal yang kemarin menayangkan wawancara itu. Komisaris yang paling senior sudah di kursinya dan dia membawa cetakan komentar warganet.”
“Dia membawa komentar warganet ke rapat pemegang saham?”
“Katanya sebagai bahan pertimbangan reputasi.” Sekretaris itu menyodorkan naskah dua halaman. “Ini jawaban yang disusun kantor pengacara Bapak. Isinya sopan dan hampir tidak berarti apa-apa.”
Keanu menerima naskah itu, membaca kalimat pembukanya, dan menyerahkannya kembali. “Simpan, Bu.”
“Bapak tidak mau memakainya?”
“Aku sudah memakai kalimat yang disusun orang lain terlalu lama.”
Di ambang ruang rapat, pengacaranya berdiri dengan jas licin dan wajah yang berusaha tetap datar. Mereka bertukar tatapan sangat singkat. Pria berambut perak itu tahu sesuatu sedang bergerak di luar kendalinya, dan Keanu membiarkannya tahu.
“Pak Keanu,” bisik pengacara itu ketika dia lewat, “saya mohon, jangan menyebut soal foto. Kalau pihak sebelah menyalin pernyataan Bapak, itu bisa dibaca sebagai pengakuan.”
“Memang pengakuan.”
“Bapak masih punya gugatan yang belum selesai.”
“Dan aku punya istri yang sudah selesai denganku.” Keanu tidak memperlambat langkah. “Duduklah, Pak. Dengarkan saja. Kalau ada yang harus kau bela, belalah aku sesudah ini.”
*
Ruang rapat berbau karpet baru dan kopi yang tidak diminum. Sebelas orang duduk mengelilingi meja panjang, sisanya berdiri di barisan belakang dengan kamera dan buku catatan. Komisaris paling senior, laki-laki enam puluhan dengan kacamata baca di ujung hidung, sudah membuka pembicaraan sebelum Keanu sempat duduk.
“Pak Keanu, kami semua menghargai kerja Bapak. Tetapi dua hari terakhir nama perusahaan ini dipakai orang untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan alat berat.” Dia mengangkat selembar cetakan. “Istri Bapak, paman Bapak, wawancara kemarin. Investor kami bertanya apakah pemimpin perusahaan ini sanggup mengurus rumahnya sendiri.”
Beberapa kamera mengangkat lensa. Keanu merasakan seluruh ruangan menahan napas, dan di sudut matanya pengacaranya sedikit memajukan badan, siap menjawab kalau saja dia diizinkan.
Keanu berdiri. Dia melewati kursi itu, menuju podium kecil di ujung meja, dan mengambil mikrofon dari dudukannya. Tangannya tidak gemetar. Yang gemetar adalah lututnya, dan itu tidak terlihat dari mana pun.
“Tuduhan terhadap Ibu Kalila Reina dan terhadap Dokter Julian Baskara salah.” Suaranya bergema rendah di langit-langit. “Keduanya tidak melakukan satu pun yang disebutkan kemarin. Saya punya catatan, saya punya rekaman, dan saya tidak akan menyuruh siapa pun mempercayainya karena saya bicara. Saya hanya minta Bapak-Bapak berhenti memakainya.”
“Pak Keanu...”
“Izinkan saya selesai.” Dia tidak keras, tetapi komisaris itu menutup mulutnya. “Saya orang yang pertama menuduh Ibu Kalila. Di dapur rumah saya sendiri, di depan para karyawan saya, saya menuduhnya menggagalkan jamuan perusahaan ini dengan sengaja. Dia tidak sengaja. Dia sedang sakit, dan saya yang tidak mau melihatnya. Tuduhan itu saya cabut hari ini, di sini, di depan Bapak-Bapak dan di depan kamera.”
Hening. Dia mendengar bunyi pena jatuh di meja belakang.
“Foto-foto yang beredar diambil atas nama saya. Saya tidak pernah memerintahkannya, tetapi saya juga tidak menghentikannya ketika saya bisa. Itu tanggung jawab saya, bukan orang lain. Dan orang yang berbicara kemarin, siapa pun dia, berbicara dari cerita yang salah. Cerita itu bermula dari saya.” Dia berhenti. Dadanya naik turun sekali. “Rumah tangga saya rusak karena kelalaian saya sendiri. Bukan karena istri saya. Bukan karena pamannya.”
Pengacara berambut perak itu tidak bergerak, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna. Dia menatap Keanu seperti menatap sesuatu yang runtuh di depan matanya, pelan, dan dia tak bisa menahannya. Di seberang meja, komisaris senior melepas kacamatanya. Dua direktur saling bisik. Seorang komisaris perempuan di sisi kiri justru mengangguk kecil, dan itu satu-satunya anggukan di ruangan.
“Ini tidak pantas diucapkan di forum seperti ini,” kata komisaris senior, kini tanpa kacamata. “Kita tidak sedang di ruang pengakuan.”
“Setidaknya itu jujur,” sahut komisaris perempuan itu, tanpa menoleh. “Saya lebih suka jujur yang tidak pantas daripada pantas yang bohong.”
Rapat itu terbelah di depan mata Keanu, sebelas orang dalam dua kubu yang saling menahan suara. Dia tidak mencoba menengahi. Seorang direktur keuangan menggeser kertas di depannya dan berkata bahwa investor asing pasti akan menelepon sebelum siang. Direktur lain menjawab bahwa investor yang sama pernah memuji katering istri Pak Keanu dan mungkin justru lebih percaya pada orang yang berani mengaku salah. Komisaris senior mengetuk meja dengan pena, sekali, dua kali, tanpa menemukan kalimat berikutnya. Seorang wartawan di barisan belakang mengangkat tangan sebelum ada yang menyuruh.
“Pak Keanu, satu pertanyaan. Apakah Bapak menyetujui perceraian yang sedang diajukan Ibu Kalila?”
Keanu menggenggam mikrofon sedikit lebih erat. Pada detik itu dia melihat seluruh musim yang dia lewatkan: kopi delapan puluh lima derajat, kotak bekal, tangan yang menunggu di dapur pukul lima pagi.
“Itu keputusan Ibu Kalila,” katanya pelan, “bukan keputusan saya. Dan saya tidak berhak membatalkannya.”
*
Dari gedung itu dia keluar lewat pintu belakang, tidak lewat lobi. Supri sudah menunggu dengan mesin menyala, dan tanpa bertanya dia membukakan pintu belakang mobil.
Keanu duduk dengan punggung lurus selama dua menit pertama. Gedung mengecil di kaca belakang. Lalu bahunya runtuh pelan, dan dia menutup mulut dengan kepalan tangan agar suaranya tidak sampai ke kursi depan. Tangisnya tidak ribut. Hanya napas yang patah-patah, dan air yang jatuh ke manset kemeja tanpa dia usap.
Supri menyetir tanpa menoleh. Di cermin tengah, matanya sekali bertemu dengan mata Keanu, lalu cepat-cepat kembali ke jalan, seperti orang yang menjaga pintu sebuah kamar tempat orang lain sedang berduka.
“Mas,” katanya akhirnya, di lampu merah, “Mbok Darmi tadi pagi bilang... Mbak Kalila semalam dibawa ke rumah sakit. Pingsan di dapur vilanya.”
Keanu mengangkat kepala. Tangannya yang tadi di mulut terjatuh ke paha.
“Siapa yang bilang?”
“Mbok dengar dari Nyonya Besar. Katanya Nyonya Besar sengaja tidak menyampaikan sebelum Mas bicara di rapat, supaya Mas tidak berubah pikiran.”
Keanu menatap lampu merah itu sampai matanya perih. Dia ingin berkata putar balik. Dia ingin mengatakannya sampai ujung lidahnya terasa terbakar. Tetapi di kepalanya terdengar suara yang dia ucapkan sendiri beberapa menit lalu: bukan keputusan saya, dan saya tidak berhak.
Dia mengeluarkan ponsel dan mengetik satu pesan untuk Mama. Hanya tiga kata: Dia baik-baik saja? Balasannya tiba sebelum lampu berganti hijau.
Sedang makan. Pulanglah, Keanu. Jangan ke sana.