Panggilan kesebelas masuk ke kotak suara, dan Asti berhenti menekan layar.
Dia berdiri di pinggir jalan raya dengan tas masih tergantung di bahu, sudah dua jam sejak Kalila menyuruhnya pulang. Perasaannya tidak punya nama yang jelas. Hanya ada kebiasaan lama seorang kepala asisten dapur yang tahu atasannya tidak pernah membiarkan telepon berdering tanpa dijawab, apalagi sebelas kali.
Dia menyetop taksi pertama yang lewat. Sopirnya bertanya apakah ibu baik-baik saja, dan Asti hanya menjawab, “Tolong lebih cepat, Pak,” sambil menggigit kuku, kebiasaan yang sudah dia tinggalkan sejak jadi kepala dapur. Lima belas menit kemudian dia berlari di jalan tanah menuju vila, menyalakan senter ponsel, dan menemukan pintu dapur tidak terkunci.
“Bu Kalila?”
Lampu dapur menyala. Bau jahe dan jeruk nipis masih menggantung, bercampur dengan sesuatu yang lebih dingin. Di lantai, di antara serpihan mangkuk putih dan genangan kuah yang mulai menyusut, Kalila terbaring miring dengan satu tangan terlipat di bawah pipi. Telunjuknya berdarah, sudah mengering di ujungnya.
“Ya Tuhan. Bu! Bu Kalila!”
Asti berlutut, menepuk pipi yang dingin itu, dan lega luar biasa ketika kelopak mata Kalila bergerak sedikit. Dia menelepon ambulans dengan suara pecah, lalu menelepon dokter pengganti yang nomornya dia simpan dengan nama paling atas, lalu terdiam sebentar dan menelepon satu nomor lagi yang pernah Mama titipkan di vila ini: kalau terjadi apa-apa, Nak, jangan menunggu.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Kalila membuka mata sekali. Dia melihat langit-langit ambulans, lampu putih yang berkedip di sela jalan, dan wajah Asti yang basah.
“Bolu,” katanya serak.
“Bolunya sudah saya matikan, Bu.”
“Bagus.” Dan dia memejamkan mata lagi.
*
Dokter pengganti itu perempuan berkacamata bulat, rekan Julian yang suaranya selalu terdengar seperti orang yang menimbang tiap kata sebelum menaruhnya di meja. Menjelang tengah malam dia berdiri di sisi ranjang ruang observasi, membaca hasil pemeriksaan dengan alis yang nyaris tidak bergerak.
“Gula darah rendah, tekanan darah rendah, dehidrasi ringan. Tubuh Ibu mengirim tanda yang sudah lama diabaikan.” Dia menaruh papan catatan di ujung ranjang. “Bukan penyakit baru. Kelelahan berat. Ibu berhenti karena sudah tidak bisa lagi menawar.”
“Saya tidak sempat jatuh sakit.”
“Itu kalimat yang paling sering saya dengar dari orang yang akhirnya jatuh.” Nada dokter itu tidak keras, tetapi tidak memberi celah. Dia menunduk sedikit, menurunkan suaranya. “Dan sebelum Ibu bertanya: saya tidak menghubungi siapa pun, sesuai permintaan Ibu dulu. Tetapi nama pasien yang masuk lewat IGD tercatat di papan, dan kepala tim medis rumah sakit ini membaca papan itu setiap malam.”
Kalila tidak menjawab. Di bawah selimut, jarinya yang terluka mengepal tanpa dia sadari.
“Saya tidak mengatakan apa pun soal itu,” lanjut dokter, kembali pada nada kerjanya. “Saya hanya tidak mau Ibu terkejut. Nah, soal istirahat tadi. Ibu menginap malam ini untuk observasi. Besok siang boleh pulang, dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar: istirahat total. Tidak ke dapur panti, tidak menyentuh kompor, tidak membaca apa pun tentang diri Ibu di ponsel.”
“Saya sudah tidak punya klien untuk dikejar, Dok.”
“Justru itu kesempatannya.”
Kalila hampir tertawa. Napasnya hanya keluar sebagai desah pendek. Di kursi samping ranjang, Asti sedang membereskan tas Kalila dengan kedua tangan yang masih gemetar, dan setiap kali Kalila menoleh, Asti pura-pura sibuk menghitung kancing.
“Asti, siapa yang jaga malam ini di sini?” tanya Kalila akhirnya, pelan, tanpa menatap.
Asti berhenti membereskan. “Saya... tidak tahu, Bu.”
Itu jawaban jujur yang terlalu cepat untuk benar-benar jujur, dan keduanya tahu. Kalila tidak mengejarnya. Dia memiringkan kepala ke arah pintu kaca ruang observasi yang separuh terbuka, tempat lorong rumah sakit membentang remang dengan lampu-lampu hemat energi yang dipadamkan separuh.
Di ujung lorong itu, tepat di bawah papan penunjuk arah ke poli penyakit dalam, seorang laki-laki berjas putih berdiri membelakangi lampu.
Kalila mengenali bahu itu sebelum mengenali apa pun yang lain. Bingkai kacamata tipis yang memantulkan cahaya, tangan kanan yang menahan sebuah map di dada, dan cara berdiri seseorang yang terbiasa menunggu dengan tegak. Dia tidak bergerak dan Kalila pun tidak. Jaraknya terlalu jauh untuk saling bicara, terlalu dekat untuk berpura-pura tidak melihat.
Julian melangkah satu kali ke arah ruang observasi. Berhenti. Tangan kirinya terangkat setengah jalan, seperti hendak mengetuk sesuatu yang tidak ada di sana.
Lalu dia menurunkannya. Dia berbalik, dan langkahnya menjauh dengan irama yang disengaja, tenang, tanpa menoleh lagi, hingga punggung berjas putih itu hilang di tikungan lorong.
Di tikungan itu Julian berhenti sebentar, bersandar satu bahu pada dinding dingin, dan memejamkan mata. Dia sudah membaca nama di papan IGD pukul sebelas, dan sudah dua kali berjalan ke ujung lorong ini untuk berbalik. Rasanya seperti menepati janji dengan mengiris dirinya sendiri sedikit demi sedikit.
Kalila memandang tikungan kosong itu lama. Dia tidak menangis dan tidak memanggil. Dia hanya mengerti, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Julian sedang menepati janji yang dia sendiri minta: tidak datang ke pintunya. Bahkan ketika pintu itu berada di rumah sakit tempat dia bertugas, dan perempuan di balik pintu itu sedang jatuh.
“Bu?” Asti berbisik.
“Aku tidak apa-apa.” Kalila memejamkan mata. “Tolong matikan lampunya sedikit.”
*
Menjelang pukul satu dini hari, pintu ruang observasi terbuka tanpa diketuk, dan Mama masuk dengan mantel tipis di bahu serta rantang bertingkat di tangan. Rambutnya yang biasa disanggul rapi sekarang hanya diikat sekenanya.
“Mama langsung ke sini begitu Asti menelepon.” Dia menaruh rantang di meja, lalu duduk di tepi ranjang dan memegang dahi Kalila dengan punggung tangannya, cara yang sama yang dulu mungkin dia pakai pada Keanu kecil. “Kamu dingin sekali, Nak.”
“Maaf merepotkan, Ma.”
“Jangan minta maaf kepada orang yang datang membawa bubur. Keanu menelepon Mama dua kali sejak tadi sore, menanyakan apakah kamu sudah makan. Mama tidak bilang kamu di sini. Itu bukan wewenang Mama.” Mama membuka rantang, dan uap tipis dengan aroma kaldu naik ke wajahnya. Dia menyendok sedikit, meniupnya, lalu mengarahkannya ke bibir Kalila. “Makan. Sedikit saja.”
Kalila menerimanya. Hangat, lembut, sedikit asin dari yang dia ingat. Atau mungkin itu hanya ingatan tentang asin. Dia menelan dan tidak bisa membedakan.
“Ma, tadi pagi...”
“Mama tahu. Mama sudah mendengar seluruhnya.” Mata Mama keras sejenak, lalu melunak ketika kembali ke wajah Kalila. “Besok pukul sembilan ada rapat pemegang saham, dan Keanu akan bicara. Kamu tidak perlu menontonnya, Kalila. Mama tidak ingin kamu mendengar satu kata pun yang membuat tubuhmu kerja lagi.”
“Bicara apa?”
“Yang seharusnya dia bicarakan sejak berbulan-bulan lalu.” Mama menyuapkan sesendok lagi. “Sekarang makan dulu. Sisanya urusan anak Mama.”