Pukul delapan kurang dua menit, Kalila masih mengaduk adonan bolu dengan tangan yang tidak mau diam.
Dia sudah melakukan hal yang sama sejak subuh: menimbang tepung, menimbang gula, menimbang lagi, seolah angka di layar timbangan bisa menahan jarum jam supaya tidak maju. Asti berdiri di ujung meja stainless dengan ponsel digenggam dua tangan, dan sudah tiga kali dia melirik layarnya tanpa berkata apa-apa.
“Bu, Pak Pengacara belum telepon.”
“Aku tahu.”
“Tapi ini sudah...”
“Aku tahu, Asti.” Kalila menuang adonan ke loyang. Spatulanya mengetuk pinggiran loyang lebih keras dari yang dia maksudkan. “Kalau kamu mau menonton, tonton di luar. Aku tidak mau mendengarnya sebelum Bapak menelepon.”
Asti tidak keluar. Ponsel di tangannya bergetar sekali, dua kali, lalu tidak berhenti lagi. Pukul delapan lewat tiga menit, wajahnya sudah pucat. Pukul delapan lewat dua puluh, telepon di saku celemek Kalila akhirnya berdering.
“Bu Kalila.” Suara pengacaranya rendah dan tertata, seperti orang yang sudah menulis kalimatnya lebih dulu. “Saya sudah menonton sampai habis. Sebelum Ibu mendengarnya dari ponsel orang lain, dengarkan ringkasan dari saya. Seorang perempuan, wajahnya tidak tampak, suaranya disamarkan. Dia menyebut dirinya sahabat dekat sang janda. Tiga tuduhan: Ibu berselingkuh dengan paman suami Ibu, yang juga dokter Ibu sendiri. Ibu mengusir seorang janda yang sedang berduka dari rumahnya. Dan Ibu merusak kesehatannya sampai dia harus menumpang di rumah mertua almarhum suaminya.”
Kalila bersandar pada tepi meja. Di loyang, adonan perlahan mengendap. “Ada nama? Ada bukti?”
“Tidak satu pun. Justru itu yang membuatnya licin, Bu. Tidak ada nama yang bisa kita tuntut, tidak ada dokumen yang bisa kita bantah. Kalau Ibu membalas hari ini, Ibu hanya memberi mereka kalimat baru untuk dipotong-potong.”
“Jadi saya diam.”
“Ibu diam, dan jangan membaca komentar. Itu permintaan saya sebagai pengacara, bukan sebagai orang yang kasihan.”
Setelah sambungan terputus, Kalila minta Asti memutar sepuluh detik pertama saja. Dia mendengar suara serak yang dibelokkan mesin, bergetar di ujung-ujung kalimat. “Dia itu pura-pura sakit supaya semua orang kasihan, dan temanku yang bodoh itu yang dipaksa pergi.” Kalila menekan tombol berhenti sebelum kalimat itu selesai.
“Itu bukan suara siapa-siapa,” katanya. “Itu suara yang sengaja dibuat bukan suara siapa-siapa.”
“Tapi cerita martabaknya, Bu. Soal Ibu memberi obat kepada Mbak Dania...”
“Aku tahu persis dari mana ceritanya datang.” Kalila meraih lap dan membersihkan tepung dari jarinya satu per satu, pelan, supaya Asti tidak melihat gemetarnya. “Dan Bapak benar. Kalau aku menyebut nama sekarang, aku yang tampak seperti orang yang menyerang perempuan sakit.”
Siang menjadi daftar yang dibacakan Asti dengan suara semakin kecil. Kantor akuntan yang memesan kotak makan siang tiap Selasa menunda tanpa batas waktu. Ibu pemilik butik yang tiap pekan memesan kudapan arisan minta maaf, suaminya melarang. Pengelola gedung perkantoran, klien tetap yang terakhir, mengirim dua kalimat yang sopan sekali: kami perlu mengevaluasi kerja sama demi menjaga kenyamanan penghuni.
“Itu tiga,” kata Asti. Dia menaruh ponsel menelungkup di meja, lalu mengambilnya lagi. “Bu, di bawah unggahan itu orang-orang bilang... ”
“Matikan notifikasinya.”
“Ada yang bilang Ibu pantas ditinggal.”
“Matikan, Asti.”
Asti mematikannya. Kalila memandang rak kosong tempat biasanya kotak-kotak pesanan berjajar menunggu diantar. Sampai kemarin masih ada tiga klien di buku pesanannya. Sekarang kolom itu putih, dan yang tersisa hanya bau bolu setengah matang yang gosong di pinggir.
“Bu, ada satu lagi.” Asti menggulir layar dengan ibu jari yang kaku. “Berita bisnis. Syailendra Corp rapat pemegang saham besok pagi pukul sembilan, dan wartawan sudah menunggu sejak siang. Katanya dewan akan menanyakan... ya, soal ini.”
“Itu urusan rumah itu.”
“Tapi namanya nama Ibu.”
Kalila mengeluarkan bolu dari oven. Permukaannya retak dan tengahnya turun, bentuk yang dulu akan membuatnya mengulang dari awal sambil bersenandung. Sekarang dia memandanginya lama, memotong pinggirnya yang gosong, dan menyuapkan satu irisan ke mulut Asti, karena hanya lidah Asti yang bisa dia pinjam.
“Manis?”
“Manis, Bu. Sedikit terlalu kering.”
“Berarti besok kita ulang.” Dia berkata begitu seakan besok adalah hari seperti biasanya.
*
Menjelang sore, Bu Pengurus datang ke vila sendirian, berjalan kaki lewat jalan tanah di belakang panti. Matanya sembab sebelum dia mengucapkan satu kata pun. Dia memegang map plastik biru dengan kedua tangan, erat-erat, seperti memeluk sesuatu yang bukan miliknya.
“Bu Kalila.”
“Silakan duduk, Bu.”
“Tidak usah. Saya tidak lama.” Dia tetap berdiri di ambang pintu dapur. “Dewan yayasan rapat darurat pagi tadi. Setelah wawancara itu, ada donatur yang menelepon ketuanya. Mereka minta... mereka minta Bu Kalila rehat dari panti. Sampai nama baik Ibu bersih, dan nama baik panti juga.” Suaranya patah di kata terakhir. “Dapur tidak boleh dipakai dulu. Anak-anak tidak boleh berkunjung ke sini. Saya yang disuruh menyampaikan, dan saya bilang, tidak, saya tidak sanggup.”
“Tapi Ibu datang.”
“Karena kalau bukan saya, Ibu akan membaca suratnya sendirian.” Bu Pengurus menutup mulut dengan punggung tangan, dan bahunya berguncang. “Saya sudah lima tahun menyapa Ibu di gerbang itu. Saya tidak pernah, tidak sekali pun, membayangkan harus berdiri di sini mengatakan ini.”
Kalila bangkit dari kursinya, mengambil map itu, lalu menaruhnya di meja tanpa membukanya. “Ibu tidak menyuruh saya pergi. Ibu menyampaikan. Itu beda.”
“Si kecil yang beringus itu menanyakan Kakak sejak tadi pagi. Katanya Kakak janji membuatkan bolu madu.” Air mata Bu Pengurus jatuh juga. “Saya tidak tahu harus menjawab apa.”
“Bilang saja bolunya belum jadi.” Suara Kalila terdengar tenang, terlalu tenang, dan dia sendiri heran. “Jangan bilang aku tidak datang. Bilang aku sedang belajar membuat yang lebih enak.”
*
Malam itu vila terlalu sunyi untuk dibiarkan. Asti sudah pulang dengan mata yang berat karena Kalila memaksanya, dan jam dinding yang berhenti di pukul empat lewat dua puluh seperti menertawakan semua orang yang masih memercayai waktu.
Kalila menyalakan kompor kecil dan merebus kaldu ayam dengan serai, daun jeruk, dan sedikit jahe. Dia menimbang garam setengah sendok, menambah jeruk nipis dua sendok, tidak lebih dan tidak kurang, lalu menuang sup bening itu ke mangkuk putih. Tangannya tahu semua langkah tanpa disuruh. Hanya lidahnya yang tidak ikut.
Dia meniup uapnya. Menyendok. Mencicip.
Hangat. Cair. Itu saja.
Dia menyendok lagi, lebih banyak, menahannya di lidah sampai uapnya menyengat langit-langit mulut. Tetap tidak ada. Bahkan butir garam kecil yang tiap pagi dia latih, yang minggu lalu masih sempat berbisik padanya, sekarang diam sama sekali. Seolah seseorang telah menutup pintu yang baru dia buka sedikit.
Mangkuk itu luput dari jarinya.
Bunyinya pecah, kasar dan panjang, memantul dari dinding dapur yang kosong. Kuah tumpah ke ubin, mengalir pelan di antara serpihan putih. Kalila berlutut untuk memungut pecahan itu satu per satu, dan tangannya gemetar tanpa bisa dia perintah berhenti.
Satu serpihan menggores jari telunjuknya. Darah muncul kecil dan merah. Dia memandangnya, dan perasaan yang datang bukan sakit, melainkan ketakutan yang aneh karena tidak ada apa-apa yang bisa dia rasakan selain dingin yang naik dari lantai.
Lalu ubin itu terasa miring. Dapur berputar pelan, makin cepat, dan yang terakhir Kalila ingat adalah dinginnya lantai di pipinya, dan ponselnya berpendar di atas meja dengan nama Asti yang menelepon berkali-kali tanpa ada yang mengangkat.