Mama datang ke vila Sabtu pagi tanpa rantang. Itu belum pernah terjadi, dan Kalila langsung tahu ada yang berbeda.
Dia sedang menguji resep roti kukus di dapur kecil, dengan timbangan digital di kiri dan Asti di kanan memegang sendok uji. Adonan di baskom masih lengket di jari ketika suara roda mobil terdengar di jalan tanah. Dia mencuci tangan dengan terburu-buru, mengelapnya pada celemek, dan tiba di teras tepat ketika Mama turun dari sedan putihnya sendirian, tanpa sopir.
“Ma.”
“Kalila.” Mama berdiri di kaki tangga teras dan memandangnya lama. “Boleh Mama masuk? Bukan kabar buruk. Tapi ada yang harus Mama ceritakan, dan Mama ingin duduk dulu.”
Mereka duduk di ruang makan kecil, di meja kayu yang dulu dipakai ibu Kalila memotong sayur. Asti menyuguhkan teh dan menghilang ke dapur dengan sopan. Mama menaruh tas di pangkuan, dan Kalila melihat jemarinya sedikit gemetar sebelum menjadi tenang.
“Dania sudah keluar dari rumah Keanu,” kata Mama. “Kamis lalu, ke rumah Ibu Tanto. Dia menerimanya tanpa banyak bicara. Maaf Mama baru sempat datang sekarang, dua hari ini Mama menemani Ibu Tanto.”
Kalila mengangguk. Dia menunggu sesuatu di dalam dirinya bergerak, lega atau puas atau marah. Yang datang hanya hening.
“Dan ada rekaman,” lanjut Mama. “Mbok Darmi yang merekamnya, Selasa malam, di ruang kerja Keanu. Dania menelepon seseorang dan mengatakan fotonya dia ambil dari folder surel Keanu, dan tidak ada yang tahu itu ulahnya. Mama sudah mendengar sendiri. Keanu juga, di meja makan. Dia mengakui, dan dia menangis, tetapi tidak seperti yang kamu bayangkan.” Mama menarik napas. “Mama tidak mau kamu mendengarnya dari orang lain, Nak.”
“Terima kasih, Ma.”
“Kamu tidak marah?”
“Saya lelah.” Kalila memandang cangkirnya. “Itu yang paling jujur. Saya mengira kalau kebenaran itu keluar, saya akan merasa menang. Tetapi yang saya rasakan hanya seperti selesai mengangkat sesuatu yang berat dan tangan saya masih gemetar.” Dia mengangkat wajah. “Ma, saya minta satu hal. Jangan hukum Dania. Dia butuh dokter, bukan hakim.”
Mata Mama berkaca-kaca, dan dia cepat-cepat mengedipkannya. “Rekaman itu Mama simpan. Tidak dipakai di sidang kecuali perlu. Mama sudah bicara dengan pengacara kamu lewat telepon pagi ini.”
“Bapak pengacara tahu?”
“Dia bilang, ‘Simpan, Nyonya. Alat bukti yang tidak dipakai kadang lebih kuat daripada yang dipakai.’” Mama tersenyum kecil, tipis. “Mama pikir dia benar.”
“Dan Keanu?”
“Tidur di ruang kerjanya dua malam ini, kata Mbok. Lampunya menyala sampai pagi.” Mama menatap teh yang mulai dingin. “Dia tidak meminta Mama menyampaikan apa pun. Mama bilang begitu bukan untuk membelanya, hanya supaya kamu tahu dia tidak memakai ibunya sebagai perantara.”
“Saya tahu, Ma.”
Setelah Mama pergi, Kalila kembali ke dapur dan mengambil sepotong roti kukus yang sudah dingin dari kukusan. Dia menggigitnya pelan. Kenyal, hangat sisa uap. Itu saja. Dia mengunyah sampai habis, lalu menaruh sisa potongan di piring Asti tanpa berkata apa-apa.
*
Di waktu yang sama, di lantai dua belas sebuah gedung perkantoran yang berbau karpet baru, Keanu duduk di seberang meja pengacaranya dengan laptop terbuka dan wajah yang tidak lagi bersedia dimanis-manisi.
Pengacara berambut perak itu duduk tegak, jasnya licin, dasinya rapi. Di sebelahnya, stafnya yang muda berlaptop mengetik tanpa mengangkat kepala.
“Bapak kelihatan lelah,” kata pengacara.
“Aku ke sini bukan untuk mendengar itu.” Keanu memutar laptopnya hingga layar menghadap sang pengacara. “Folder bersama ini tersambung ke surelku. Kau sendiri yang bilang waktu itu, ‘Bapak tak perlu membukanya’. Aku tidak membukanya. Sekarang aku membuka.”
Layar menampilkan puluhan gambar kecil berbaris, semuanya dengan nama berkas yang sama bentuknya: tanggal, jam, kode. Dia mengeklik salah satunya. Dapur terbuka panti, dari seberang pagar. Kalila menerima gambar krayon dari tangan anak kecil. Julian satu meter di sebelahnya. Keanu menatap foto itu lebih lama dari yang dia rencanakan. Bukan pada Julian. Pada wajah Kalila, yang menunduk menerima gambar dari tangan sekecil itu dengan senyum yang dia kenal dari tahun pertama pernikahan mereka dan yang entah sejak kapan tidak pernah dia lihat lagi. Seseorang telah mengawetkan senyum itu dari balik pagar, dan hal pertama yang dia rasakan adalah malu karena foto itu ada, bukan marah.
Dia menutupnya, membuka yang lain, dan yang lain lagi. Rahangnya mengeras pada setiap bidikan.
“Siapa yang memotret ini?”
“Seorang fotografer lepas,” kata pengacara, setelah jeda yang terlalu panjang. “Kami sewa untuk dokumentasi.”
“Siapa yang menyuruh?”
“Kantor kami, Pak. Demi kepentingan klien.”
“Aku tidak pernah menyuruh.”
“Bapak bilang, ‘siapkan’.”
“Aku bilang, ‘siapkan, tapi jangan diajukan dulu’.” Keanu menahan suaranya agar tetap datar. “Aku bilang jangan diajukan dulu. Aku tidak pernah menyuruh seseorang berdiri di seberang pagar sebuah panti anak-anak dengan lensa panjang untuk memotret istriku.”
“Istri Bapak sedang menggugat cerai.”
“Dia tetap tidak menyuruhmu dan aku tidak berhak membiarkanmu.” Keanu menutup laptop dengan satu gerakan pelan. “Mulai hari ini: semua bahan itu dimusnahkan. Berkas, salinan, cadangan di mana pun. Tidak ada lagi yang memotret siapa pun atas namaku. Dan sebelum matahari terbenam, serahkan kepada pengacara Kalila daftar semua pihak yang pernah memegang berkas asli. Lengkap.”
“Pak, itu sama dengan mengakui...” protes pengacara itu.
“Foto-foto itu sah sebagai alat bukti, Pak. Bapak yang rugi kalau dimusnahkan,” sambungnya tanpa menurunkan suara.
“Aku rugi lebih banyak kalau terus menyimpannya. Itu sama dengan mengatakan yang sebenarnya.” Staf muda di sebelah pengacara itu berhenti mengetik, ketukan terakhirnya menggantung di udara. Keanu berdiri. “Dan kalau kau tidak melakukannya, aku akan mencari orang yang mau.”
Pengacara itu menatapnya beberapa detik, kemudian mengangguk satu kali, kaku, seperti orang yang baru menyadari bahwa klien yang dia kira dapat dituntun ternyata telah belajar berjalan sendiri.
*
Sore itu, ketika kabut mulai turun di sekitar panti dan Mama sudah pulang dengan wajah yang sedikit lebih ringan, Asti datang ke dapur dengan ponsel di tangan dan raut yang tidak biasa.
“Bu. Akun itu lagi.”
Kalila menggulung lengan bajunya sampai siku. “Jangan dibuka, Asti. Pengacara bilang...”
“Bukan foto, Bu. Pengumuman.” Asti menyodorkan layar. Sebuah gambar hitam dengan teks putih besar di tengahnya, tanpa foto, tanpa nama. Senin pukul delapan pagi. Sahabat dekat sang janda buka mulut: apa yang sebenarnya terjadi antara istri CEO dan pamannya?
Kalila membaca teks itu dua kali dan mengembalikan ponselnya.
“Dania sudah tidak di rumah itu,” katanya pelan.
“Tapi dia masih punya telepon, Bu,” jawab Asti. “Dan seseorang di seberangnya sudah menyiapkan jam delapan.”
Kalila mengusap tangan di celemek, mengambil ponselnya sendiri, dan mengirim tangkapan layar itu kepada pengacara dengan satu kalimat: Senin jam delapan, Pak. Balasan datang sebelum dia sempat meletakkan benda itu. Saya sudah menduganya, Bu. Jangan membuka apa pun sampai saya telepon.