Sepuluh menit sebelum Kalila membuka mata
Julian menatap intens wajah Kalila yang pucat. Wajah Kalila seolah menariknya kembali ke suatu siang yang sudah lama dia kubur lima tahun lalu.
Julian baru saja menyelesaikan shift di rumah sakit ketika ibunya meminta tolong untuk mengantar sumbangan ke panti asuhan di pinggiran kota. Dia datang dengan baju dokter yang masih dikenakan, wajah lelah dan sedikit tergesa.
Lalu dia melihatnya.
Di tengah halaman panti, seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun sedang duduk di atas rerumputan. Rambutnya dikuncir asal-asalan, bajunya kotor terkena tanah dan air liur anak-anak.
Di pangkuannya, seorang anak laki-laki kecil yang hidungnya beringus sedang tertawa terbahak-bahak. Gadis itu ikut tertawa, tanpa sedikit pun raut jijik, tanpa rasa segan. Tangannya mengusap hidung anak itu dengan tisu, lalu memeluknya erat seolah anak itu adalah miliknya sendiri.
Julian berhenti di pintu gerbang. Napasnya tertahan, matanya tertumbuk hanya pada gadis itu.
Bukan karena wajah manis si gadis, melainkan karena sesuatu yang sudah jarang dia temui, keikhlasan. Di dunia yang penuh kepura-puraan, gadis itu terlihat nyata. Tidak ada kamera, tidak ada orang lain yang sedang merekam aktivitas gadis itu.
Julian berdiri diam cukup lama hingga salah satu pengurus panti menyapanya. Dia kaget, tersenyum formal, menyerahkan sumbangan, lalu melangkah masuk. Tapi matanya tidak bisa lepas dari gadis itu.
Merasa diperhatikan, gadis itu akhirnya menoleh dan bertatapan dengannya, Julian merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, kehangatan yang menenangkannya. Gadis itu hanya tersenyum kecil, mengangguk sopan, lalu kembali fokus pada anak-anak.
Julian tidak mendekat, dia berdiri bersandar di tiang dan membiarkan perasaan itu mengendap. Dia tidak bertanya nama, juga tidak melakukan apa pun. Hanya melihat dari kejauhan. Dan ini menjadi penyesalan seumur hidupnya. Andai saja waktu itu dia bertanya nama dan nomor telepon, takdir mungkin akan menulis berbeda untuk kisah mereka.
Beberapa minggu kemudian, dia kembali ke London untuk menyelesaikan subspesialisasinya. Karena segudang kesibukan, tesis dan tanggung jawab besar, perlahan akhirnya menggeser wajah gadis di panti itu ke sudut ingatannya. Dia tidak secara sengaja melupakan tapi hanya terlalu sibuk untuk mengingat.
Sampai dua tahun kemudian.
Mamanya meneleponnya, memintanya luangkan waktu karena sang keponakan, Keanu, akhirnya akan menikah dengan gadis pilihannya. Julian sampai Jakarta malam sebelum akad dilangsungkan.
Keesokan pagi, Julian duduk di barisan keluarga pengantin pria. Pintu besar terbuka, setelah akad selesai diucapkan, pengantin wanita berjalan diapit oleh dua wanita setengah baya, mungkin ibu dan tantenya, entahlah, Julian tidak paham.
Saat dia mendongak untuk melihat si pengantin wanita, baginya, dunia berhenti untuk kedua kalinya.
Wajah itu. Senyum tulus dan malu-malu itu. Cara dia menunduk sedikit saat berjalan.
Julian merasa darahnya mengalir mundur. Napasnya tersengal di dalam d**a yang tiba-tiba sesak.
Itu dia.
Ternuata namanya Kalila Reina.
Gadis yang lima tahun lalu duduk di rerumputan panti, tertawa bersama anak-anak yatim tanpa rasa jijik. Gadis yang membuatnya terpaku tanpa alasan yang masuk akal. Gadis yang dia biarkan menghilang karena dia fokus pada karirnya.
Sekarang, gadis itu berjalan menuju meja di mana keponakan dan penghulu menunggunya untuk menandatangani buku nikah.
Julian merasa dadanya ditinju berkali-kali oleh palu raksasa dari dalam.
Napasnya tertahan begitu lama hingga paru-parunya sakit. Jari-jarinya yang biasanya stabil meremas ujung kursinya hingga buku jarinya memutih dan bergetar. Hatinya berteriak marah, marah pada diri sendiri. Sakit!
Julian membeku, tidak bergerak dari tempatnya.
Dia menatap Keanu yang tersenyum semringah usai lancar berucap akad. Keponakannya. Putra dari kakak tirinya yang sudah tiada. Laki-laki yang sebentar lagi akan memasangkan cincin di jari gadis itu.
Julian pejamkan mata sepersekian detik. Dia menarik napas dalam, memaksa paru-parunya kembali bekerja. Saat dia membuka mata lagi, senyum tipis sudah menempel di bibirnya. Senyum seorang paman yang ikut bahagia. Senyum yang sempurna.
Tapi matanya tidak bisa berhenti.
Ketika Kalila duduk di samping Keanu dan menandatangani buku nikah menandakan dia sudah sah menjadi istri Keanu. Lalu saat pemasangan cincin, Julian melihat tangannya sedikit gemetar. Getaran itu sangat halus, hampir tidak terlihat. Tapi Julian melihatnya. Dan tanpa sadar, jemari kanannya ikut mengeras, seolah ingin menenangkan getaran itu dari jauh, dari tempat yang tidak boleh dia dekati.
Hingga sang mama yang menyadari perubahan sikapnya, memintanya berdiri untuk berikan selamat dan berfoto.
“Julian…, kamu…” tangan sang mama menyentuh lembut lengannya. Mata sepuhnya tahu tanpa perlu diberitahu ada sesuatu pada putra bungsunya, “hufft…jangan ya, Nak, gadis itu sudah resmi menikah dengan keponakanmu.”
Julian menunduk, menatap mamanya. Dia tersenyum kecil dan membalas usapan tangan sang mama, “no need to worry, Mah. Aku tahu batasannya.”
Julian hanya mampu berikan ucapan selamat yang formal dan sempurna pada pasangan pengantin baru itu. Karena dia tahu, garis batas itu sudah digambar jelas. Dan sebagai seorang gentleman, dia tidak akan pernah melangkahinya.
*
Di resepsi, Julian berdiri di sudut aula dengan segelas minuman yang tidak pernah dia minum. Dia melihat Kalila tertawa kecil saat Keanu membisikkan sesuatu di telinganya. Tawa yang pelan, sopan dengan mata yang melotot mungkin karena Keanu berbisik hal nakal. Tawa yang cukup untuk membuat d**a Julian terasa sesak lagi, seolah ada tangan tidak terlihat yang meremas jantungnya.
Seorang kerabat mendekat, bertanya dengan nada bercanda, “Julian, kenapa diam saja? Biasanya kamu yang paling ramah.”
Julian tersenyum tipis, mengangkat gelasnya, “sedang menikmati momen. Jarang-jarang melihat Keanu bahagia seperti ini.”
“Iya, akhirnya setelah drama ditinggal Dania, Keanu berhasil move on juga. Semoga mereka bahagia.” Kata si kerabat.
“Aamiin…” Jawab Julian, tulus.
Dia tidak berbohong. Tapi dia juga tidak berkata bahwa di dalam dadanya, ada sesuatu yang baru saja mati dan hidup di saat yang sama.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Julian berdiri di balkon lantai dua. Matanya tertumbuk pada satu sosok di bawah sana. Kalila berjalan sendirian di lorong taman yang masih dihiasi lampu-lampu kecil. Dia melepaskan sepatu haknya dan membawanya di tangan. Gaun putihnya sedikit terangkat, memerlihatkan pergelangan kaki yang ramping. Kalila tampak lelah, tapi masih saja tersenyum pada diri sendiri, senyum kecil yang hanya dia tahu.
Julian menunduk. Dia pejamkan mata. Menekan jari-jarinya ke pelipis. Lalu membuka lagi dengan tatapan yang sudah kembali dingin, terkendali dan kosong.
Perasaan itu dia tutup rapat di dalam d**a. Tidak boleh ada yang tahu. Tidak boleh ada yang menduga. Karena perempuan itu sudah menjadi istri keponakannya. Dan dia adalah seorang gentleman yang tahu di mana garis batas itu digambar dan ia tidak akan pernah melangkahinya.
Setelah hembuskan napas panjang dan sosok Kalila tidak lagi terlihat, Julian berbalik masuk ke kamar, menutup pintu dengan pelan dan membiarkan bayangan Kalila dalam gaun putih itu menghilang bersama malam.
Tidak ada yang tahu. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah ada yang tahu, kecuali sang mama dan Tuhan.
*
Kini, di ruang rawat yang sepi, Julian menatap wajah Kalila yang masih belum sadar. Jari-jarinya kembali sedikit bergetar di atas selimut.
Bertahun-tahun dia menjaga janji itu.
Dan sekarang, perempuan yang pernah membuat dunianya berhenti, terbaring lemah di hadapannya. Kalila rampak ringkih, pucat dan tidak tahu bahwa dokter yang akan merawatnya ternyata pernah dan masih menyimpan seluruh perasaan itu dalam diamnya.