Dania tidak tidur malam itu. Keanu tahu karena dia sendiri tidak tidur, dan pukul empat pagi dia mendengar langkah kaki mondar-mandir di lantai atas, kadang berhenti, kadang bergeser lagi, seperti seseorang yang menghitung sesuatu dan selalu kehilangan hitungannya.
Pukul lima lewat, Mama sudah duduk di ruang tengah dengan teh yang tidak diminum. Dia datang tanpa memberi kabar, membawa mantel tipis, dan hanya berkata, “Mama tidak mau kamu menghadapi ini sendirian.”
“Ma, kalau dia menangis, Mama jangan ikut goyah.”
“Mama tidak akan goyah. Mama akan duduk di sini dan menatapmu seperti tadi malam.” Dia meluruskan lipatan mantelnya. “Kamu yakin?”
“Tidak.” Keanu mengusap wajahnya. “Tapi aku lebih tidak yakin kalau menunda satu hari lagi.”
Tengah malam tadi Keanu sudah menyampaikan keputusannya lewat pintu kamar tamu yang setengah terbuka, dengan tiga kalimat pendek, dan Dania hanya menutup pintu pelan-pelan tanpa membantah. Pukul enam, Dania turun dengan kopernya sendiri. Koper abu-abu kecil, dua tas jinjing, dan wajah yang sudah dibersihkan dari semua tanda tangis, seolah malam tadi tidak pernah terjadi. Dia berdiri di anak tangga terakhir dan menatap Keanu yang sudah menunggu di ruang tengah, berpakaian lengkap, dengan Mama duduk tenang di sofa.
“Aku tidak mau ke rumah itu,” katanya.
“Rumah Ibu Tanto.” Keanu menyebut namanya dengan jelas, agar tidak ada yang bisa mengira dia menyamarkan. “Beliau sudah menunggu.”
“Aku punya apartemen sendiri.”
“Dan kamu akan kembali ke sana, nanti, kalau sudah siap. Tapi bukan hari ini.” Dia berdiri. “Dania, aku tidak sedang menghukummu. Aku sedang berhenti.”
“Berhenti apa?”
“Berhenti menjadi alasan kamu tidak perlu berdiri sendiri.”
Wajah Dania bergeser. Sesaat Keanu mengira dia akan berteriak, dan dia sudah menyiapkan diri. Tetapi yang terjadi lebih sunyi: lututnya menekuk, dan dia duduk di anak tangga bawah dengan tas jinjing terlepas dari bahunya. Napasnya memendek, pendek sekali, seperti orang yang berlari dalam mimpi.
Dulu Keanu akan langsung berlutut dan memeluknya. Dulu dia akan melupakan janji, jam, orang, apa pun. Sekarang dia melangkah mendekat, mengambil tempat di anak tangga di sebelahnya, dan duduk dengan jarak satu lengan.
“Dania.”
“Aku tidak bisa...”
“Aku di sini. Tarik napas. Hitung bersamaku.” Dia berbicara pelan, dengan nada yang pernah dia pakai pada Kalila di malam-malam sulit mereka dulu, yang kini dia sadari belum pernah dia pakai di rumah ini selama berbulan-bulan. “Satu. Dua. Tiga. Tidak apa-apa kalau takut. Takut itu nyata. Tapi kita tetap berangkat.”
Dia tidak tahu apakah serangan itu asli atau tidak, dan di lantai dingin itu dia sadar bahwa pertanyaan itu mungkin tidak penting. Orang bisa benar-benar takut dan benar-benar menahan sekaligus. Satu tidak membatalkan yang lain.
Lima menit kemudian, napas Dania lebih teratur. Dia menunduk, memeluk lututnya, dan tidak menatap siapa pun.
Di mobil, Dania duduk di kursi belakang di samping Mama, wajahnya menghadap jendela. Hanya setelah mereka melewati lampu merah ketiga dia bicara, dengan suara kering.
“Kalila sudah tahu?”
“Belum.”
“Dia akan senang.” Itu bukan pertanyaan.
“Aku rasa tidak,” jawab Keanu, matanya tetap pada jalan. “Aku rasa dia hanya akan lelah.”
Dania tidak membalas. Mama yang di sebelahnya diam-diam meletakkan tangan di atas tangan perempuan itu, dan Dania tidak menarik tangannya.
*
Rumah Ibu Tanto masih berbau kayu manis ketika mereka tiba. Perempuan kecil itu sudah berdiri di teras, tidak dengan kerudung kremnya yang kemarin, melainkan dengan daster batik biru tua dan tangan yang terbuka. Dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menunggu.
Dania berhenti di tengah halaman. Pagar besi hijau, pot anggrek, foto toga Tanto di dinding yang terlihat dari pintu terbuka. Keanu melihat bahunya mengeras, bersiap melawan sesuatu, mungkin kata-kata, mungkin kemarahan.
Ibu Tanto melangkah turun dua anak tangga, lalu tiga. Dan ketika Dania akhirnya berdiri tepat di hadapannya, perempuan tua itu memeluknya. Tanpa nasihat, tanpa pertanyaan, tanpa air mata. Hanya pelukan yang lama dan lambat, seperti menyelimuti seseorang yang kedinginan.
Dania kaku sepuluh detik. Dua puluh. Kemudian, pelan, tangannya naik dan mencengkeram punggung daster itu. Terdengar suara yang bukan tangis dan bukan sedu, lebih seperti napas terakhir seorang anak yang akhirnya diizinkan pulang.
Keanu memandang ke arah lain. Dia mengeluarkan dua map dari tas kerjanya dan menyerahkannya kepada Mama, agar tidak ada yang merasa dibeli.
Ketika pelukan itu terlepas, dia mendekat. “Dania. Ini surat-surat apartemenmu yang selama ini aku urus, sertifikat dan pajaknya. Semuanya atas namamu. Yang satu lagi surat tunjangan bulanan untuk satu tahun, langsung ke rekeningmu.” Dia berhenti. “Dengan satu syarat. Kamu berobat. Dokternya Ibu Tanto dan Mama yang pilih. Aku tidak ikut campur. Aku tidak memeriksa. Tetapi syaratnya ada.”
Dania menatap map itu. Matanya merah, hidungnya merah, dan di balik semua itu sesuatu yang kembali mengeras, perlahan, seperti es yang membeku ulang di tepi kolam.
“Aku akan bilang pada semua orang apa yang kamu lakukan pada Kalila,” katanya.
Mama bergerak di sisinya, tetapi Keanu mengangkat tangan agar dia diam.
“Katakan,” jawabnya. “Semuanya benar.”
Dania tidak bergerak. Dia tidak mengambil map itu. Ibu Tanto yang akhirnya menerimanya dari tangan Mama, dengan jari-jari keriput yang tidak gemetar. “Biar Ibu simpan, Nak. Nanti kamu ambil kalau kamu mau.”
Pintu rumah kecil itu menutup di belakang mereka berdua, dan Keanu berdiri lama di halaman, mendengarkan bunyi pot anggrek yang bergoyang tertiup angin.
*
Rumah Syailendra sunyi sekali siang itu. Keanu pulang sendirian, karena Mama minta diantar ke rumah Eyang, dan menemukan meja makan sudah ditata untuk satu orang.
Mbok Darmi berdiri di sisi meja dengan semangkuk sup ayam kampung yang mengepul. Kuahnya bening kekuningan, serai mengambang di permukaan, potongan ayam yang jelas sudah direbus lama. Dia menaruh sendok di sebelah mangkuk dengan hati-hati.
“Makan, Mas. Walaupun tidak terasa.”
Keanu duduk. Dia menyendok kuah, meniupnya, dan menelannya, lalu suapan kedua, ketiga. Dia menghabiskan seluruh mangkuk dengan gerakan yang hampir mekanis, seperti memenuhi kewajiban kepada tubuhnya. Mbok Darmi berdiri di dekat kompor, memperhatikan wajahnya yang tak berubah sedikit pun, dan tidak bertanya apakah sup itu enak, sementara rumah menunggu di sekelilingnya dengan sabar.
Ketika mangkuk itu kosong, dia mengangkat wajah. Mbok Darmi masih berdiri di tempat yang sama, tangan terlipat di depan perut, menatap mangkuk kosong itu dengan raut yang sulit dibaca.
“Mbok tidak pergi?”
“Sebentar lagi, Mas.” Dia meraih mangkuk dan memegangnya tanpa mengangkatnya. “Mbak Kalila dulu selalu menaruh dua sendok jeruk nipis di sup ini, Mas. Tidak lebih dan tidak kurang. Mbok pernah bilang itu terlalu asam, dan kata Mbak, ‘Justru itu yang bikin orang pulang, Mbok’.”
Keanu menatap mangkuk kosong itu. Dua sendok. Selama tiga tahun dia makan sup ini hampir setiap pekan dan tidak pernah sekali pun bertanya mengapa rasanya selalu membuatnya ingin menambah.
“Kenapa Mbok bilang sekarang?”
“Karena baru sekarang Mas bisa mendengarnya.” Mbok Darmi membawa mangkuk itu ke dapur, dan di ambang pintu dia berhenti tanpa menoleh. “Dulu Mas pasti bilang, ‘Mbok jangan banyak bicara’.”
Pintu dapur menutup pelan. Di ruang makan yang terlalu luas itu, Keanu duduk lama dengan sendok kosong di tangan, mencoba mengingat rasa asam yang tidak lagi bisa dia panggil.