Rabu sore, Keanu pulang lebih awal dan menemukan Mbok Darmi sedang membakar sate di halaman belakang.
Arang menyala merah di dalam kotak besi tua. Asapnya menggulung wangi, dan dia tahu itu wangi karena Mbok pernah menyebutnya begitu. Bagi lidahnya sendiri, asap itu hanya bau gosong yang sopan. Perempuan tua itu mengipasi bara dengan lembaran koran, kebayanya basah di punggung.
“Mbok.”
“Ya, Mas.” Mbok Darmi menegakkan badan, menyeka dahi dengan punggung tangan. “Nyonya Besar bilang makan malam di sini. Sate ayam, seperti dulu.”
“Bumbu kacangnya,” Keanu berhenti, memilih kata dengan hati-hati, “yang banyak kacangnya. Kental. Seperti yang biasa Mbok buat.”
Kipas koran itu terhenti di udara sepersekian detik. Mbok Darmi menatapnya, dan di mata yang keriput itu Keanu melihat sesuatu yang tidak dia duga: pengertian. Perempuan itu tidak bertanya. Dia hanya mengangguk perlahan.
“Mas tidak akan merasakannya.”
“Bukan untukku.”
“Baik, Mas.” Kipas itu bergerak lagi. “Kacangnya banyak.”
Keanu berdiri beberapa saat di ambang pintu dapur, memandang punggung Mbok. Dia ingin bertanya apakah Mbok tahu sesuatu yang belum dia ketahui. Tetapi dia sudah belajar dari hari-hari terakhir ini bahwa kadang pertanyaan yang tidak diajukan memberi ruang pada jawaban yang lebih jujur.
*
Meja makan itu panjang, terlalu panjang untuk tiga orang. Mama duduk di sisi kanan Keanu dengan punggung lurus dan tangan terlipat di pangkuan, mengenakan kebaya biru tua yang biasa dia pakai ke acara keluarga. Di sisi kiri, Dania duduk dalam gaun putih berpotongan sederhana, rambutnya dikepang longgar di bahu. Dia terlihat segar. Dia terlihat seperti seseorang yang sedang bahagia dan berusaha menyembunyikannya.
Keanu menunggu sampai dia merasa cukup berani, lalu menyentuh garpunya. Dania, yang sejak turun tangga tadi memakai parfum melati yang terlalu pekat, menoleh dan tersenyum seperti orang yang yakin dunia sudah kembali ke tempatnya. Dulu senyum itu bisa membuat Keanu menunda apa pun. Malam ini dia hanya memperhatikannya, seperti memperhatikan soal yang sudah dia tahu jawabannya tetapi masih ingin diperiksa ulang.
“Aku senang kita makan bersama lagi,” katanya, menuangkan air ke gelas Mama. “Sudah lama sekali, Tante. Rumah ini terlalu sepi.”
“Memang,” jawab Mama pelan. Dia mengambil serbet dan membentangkannya di pangkuan dengan gerakan lambat. “Eyang menitip salam. Beliau bilang kamu harus banyak makan, Dania.”
“Eyang baik sekali.” Dania menyentuh kerah gaunnya. “Padahal aku jarang bertemu beliau.”
“Beliau mengingat semua orang yang pernah duduk di mejanya,” kata Mama. “Terutama yang menolak kue kacangnya.”
Dania tertawa kecil, terlalu cepat, lalu menyesap air.
Mbok Darmi masuk membawa nampan besar. Nasi, sup bening, dan piring-piring kecil berisi sate ayam dengan bumbu kacang kental, dua tusuk di tiap piring. Dia menaruh satu di depan Mama, satu di depan Keanu, dan satu di depan Dania. Tangannya tidak gemetar. Itu membuat Keanu sadar bahwa perempuan itu sudah memutuskan sesuatu sebelum dia masuk.
Dania menatap piring itu. Hanya sepersekian detik, tetapi Keanu menghitungnya.
Tangan putihnya terulur, dua jari menyentuh tepi piring dan menggesernya ke samping, ke arah Mbok yang masih berdiri. Gerakan itu lancar, tanpa ragu sedikit pun, seperti menyingkirkan sendok yang salah tempat.
“Mbok, tolong bawa kembali ya. Aku tidak bisa makan itu. Alergi kacang.” Dia tersenyum pada Keanu. “Kamu lupa, ya?”
“Aku tidak lupa.” Keanu meletakkan garpunya. “Alergimu parah, kan? Sampai berbahaya.”
“Kamu tahu itu. Dokter bilang satu butir pun bisa membuatku sesak.”
“Jadi di hari martabak itu...”
Senyum Dania bertahan. “Martabak?”
“Martabak yang dibawa Kalila. Aku ingat, kamu mengambil satu potong. Gigitan pertama, kedua, ketiga. Kamu baru sesak setelah itu.” Dia berbicara pelan, tanpa menaikkan nada, dan karena itulah suaranya terdengar lebih dingin daripada yang dia maksudkan. “Martabaknya bertabur kacang di atas, kelihatan jelas dari jarak dua meter. Kamu tidak membawa obatmu hari itu. Kenapa?”
“Aku... tidak tahu itu ada kacangnya. Mungkin aku lengah.” Suara Dania mulai bergetar di bagian ujung, tetapi getaran itu datang terlalu cepat. “Keanu, kenapa kamu bertanya sekarang? Ada apa sebenarnya?”
“Ada yang ingin Mama putar,” kata Mama.
Semua kepala menoleh. Mama sudah merogoh tas kecil di pangkuannya dan mengeluarkan sebuah ponsel lipat tua dengan tombol-tombol yang pudar. Dia menaruhnya di tengah meja, di antara mangkuk sup dan vas bunga, dan menekan satu tombol.
Suara yang keluar dari speaker kecil itu kasar dan terdengar jauh, tetapi tidak salah dikenali.
“...tadi pagi sudah kulihat, banyak sekali yang percaya. Soal fotonya tenang saja, itu dari surelnya Keanu, dari folder itu, dan dia tidak pernah membukanya. Ulahku? Tidak, tidak ada yang tahu. Kalau ada yang bertanya, aku tinggal menangis.”
Tawa kecil di akhir rekaman itu menggantung di udara seperti asap.
Mama menekan tombol berhenti. Tidak ada yang bergerak. Dari dapur terdengar bunyi panci yang diletakkan pelan, lalu sunyi.
“Surelku,” kata Keanu. Suaranya aneh di telinganya sendiri, seperti suara orang lain yang berbicara dari ruangan sebelah. “Dania. Surelku?”
“Itu bukan aku.” Wajah Dania memucat, namun tidak sepucat orang yang benar-benar dituduh keliru. “Itu rekayasa. Mbok pasti membuatnya, Mbok tidak suka padaku sejak lama, Mbok...”
“Mbok tidak tahu cara merekayasa suara, Non.” Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan terlipat di depan perut, tidak bergeser sejengkal pun. “Mbok cuma tahu tombol merah.”
Mama menatap Dania tanpa kebencian. “Kami tidak menuduhmu apa-apa sebelum kamu bicara, Nak. Yang tadi itu suaramu sendiri.”
Dania menatap Mbok, lalu Mama, lalu Keanu. Mulutnya bergerak tanpa suara. Kemudian bahunya jatuh, sesuatu di dalam tubuhnya yang kecil itu runtuh pelan, seperti bangunan yang sudah lama ditopang tiang rapuh.
“Karena Kalila tidak pernah kelihatan menderita,” katanya. Suaranya kecil, nyaris tidak terdengar. “Dia selalu tegak. Dia selalu bisa. Semua orang bilang dia kuat. Dan aku tidak punya siapa-siapa, Keanu. Tanto pergi, kamu pergi ke dia, semua orang selalu pergi ke orang yang kuat.”
“Aku tidak pergi ke dia.” Keanu berkata pelan. “Itu masalahnya. Aku tidak pergi ke siapa pun. Aku hanya terus berdiri di depanmu karena menyangka itu amanah.”
“Memang amanah!”
“Pesan Tanto berbunyi, ‘tolong bantu jaga Dania sampai dia mandiri’.” Keanu menarik napas panjang. “Sampai dia mandiri, Dania. Aku salah menafsirkannya. Berbulan-bulan, aku mengira kalimat itu artinya sampai aku mati.”
Dania mengangkat wajah. Tidak ada air mata di sana. Matanya kering, jernih, dan sangat tenang, seperti permukaan danau sebelum badai.
“Kamu pikir aku sudah kalah?” katanya, dengan nada yang sama sekali berbeda dari suara manja yang selama ini dia pakai. “Fotonya sudah dilihat ribuan orang, Keanu. Kamu pikir aku tidak punya cerita lain?”