Pagi hari sesudah sidang, Mbok Darmi menemukan bahwa rumah itu sudah berganti nada tanpa ada yang mengumumkannya.
Dia bangun pukul empat seperti biasa, menyalakan kompor, merebus air untuk kopi Mas Keanu yang kini lebih sering dibiarkan dingin di meja makan. Pukul lima lewat, langkah ringan terdengar menuruni tangga. Non Dania muncul di ambang dapur dengan daster putih dan rambut digelung asal, wajahnya segar, terlalu segar untuk orang yang katanya tidak tidur sejak berminggu-minggu.
“Mbok.”
“Ya, Non.”
“Kopi untukku. Tanpa gula. Tapi jangan di cangkir yang retak itu, nanti bibirku tergores.” Dia membuka lemari dan menunjuk deretan gelas dengan telunjuk yang kukunya berkilat. “Dan kamar tamu atas, seprainya diganti tiap pagi, bukan tiap tiga hari. Kemarin Mbok lupa.”
“Kemarin Mbok di pengadilan, Non.”
“Oh iya.” Dania tersenyum. Senyum itu manis, hanya saja Mbok Darmi sudah tiga tahun melihat bagaimana senyum lain, senyum Mbak Kalila yang tulus dan kikuk, bekerja, dan dia tahu bedanya. “Mbok pulang pukul berapa kemarin? Aku tidak mendengar Mbok masuk.”
“Menjelang magrib, Non.”
“Pasti capek. Mbok sebaiknya istirahat lebih banyak. Biar Supri yang antar belanja, Mbok tidak usah ikut.”
Itu bukan tawaran. Mbok menunduk dan mengaduk kopi, dan baru ketika Dania berbalik menuju ruang kerja Mas Keanu, dia mengangkat wajah. Pintu ruang kerja itu menutup dengan bunyi klik halus.
Di garasi, Supri sedang mengelap kaca mobil ketika Mbok lewat membawa ember. Lelaki itu menurunkan suaranya tanpa ditanya.
“Mbok, tadi Non Dania tanya jam berapa Mbok pulang kemarin dan ke mana saja. Saya jawab saya tidak tahu.”
“Memang tidak tahu, kan?”
“Memang.” Supri menggaruk kepala. “Tapi saya merasa diawasi, Mbok. Dan Mbok juga.”
Mbok mengangguk dan membawa embernya ke belakang. Di sana, melewati koridor service, dia sempat berhenti di depan kamar sempit tiga kali tiga meter yang dulu ditinggali Mbak Kalila. Ranjang single itu kini kosong, seprainya masih rapi seperti ketika Mbak pergi. Mbok membersihkannya tiap hari meski tak ada yang menyuruh. Dia tidak tahu untuk apa. Mungkin hanya supaya tempat itu tidak menjadi tempat orang melupakan.
Sepanjang hari dia bekerja seperti biasa. Menyapu, memotong sayur, menjemur taplak. Tetapi telinganya, yang sudah renta untuk banyak hal, tiba-tiba tajam untuk satu: suara perempuan di balik pintu yang tertutup, tertawa kecil pada pukul sebelas, pukul dua, pukul empat.
*
Malam datang dengan hujan tipis. Mas Keanu mengirim pesan lewat sopir bahwa dia lembur di kantor dan makan di rumah Nyonya Besar. Seharusnya itu kabar biasa. Tetapi rumah yang tak ada tuannya selalu terdengar lain, seperti panggung sebelum pemain naik.
Pukul delapan lewat, Mbok membawa teh melati ke ruang kerja karena Non Dania pernah bilang dia suka teh dibawakan ke sana. Dia mengangkat tangan untuk mengetuk dan berhenti. Pintu tidak tertutup rapat. Ada celah satu jari, dan dari celah itu keluar suara yang tidak dia kenal.
Suara Non Dania, tetapi bukan Non Dania yang manja dan mudah gemetar. Ini suara yang rendah, santai, hampir riang.
“...iya, sudah naik, aku lihat tadi pagi. Orang-orang percaya, kamu tahu, tinggal dilanjutkan saja. Jangan buru-buru, biar mereka sendiri yang bertanya-tanya.” Jeda, tawa kecil. “Ya, untung Keanu tidak pernah membuka surelnya. Laptopnya tidak pernah dikunci, foldernya terbuka begitu saja, aku tinggal pakai yang di sana. Tidak, tidak ada yang tahu itu aku. Siapa yang akan menduga? Aku kan yang paling lemah di rumah ini.”
Ada keinginan di dada Mbok untuk mendorong pintu itu dan berkata, di depan wajah perempuan yang selalu pucat itu, bahwa dia sudah mendengar. Tetapi Mbok tahu, kata-kata tanpa bukti hanyalah kata-kata. Perempuan dengan suara manja seperti itu selalu menang melawan perempuan tua dengan suara bergetar.
Nampan di tangan Mbok bergetar. Cangkir dan tatakan beradu pelan. Dia berhenti bernapas dan berdoa dalam hati, Gusti, jangan sampai bunyinya terdengar.
Tidak terdengar. Di dalam, suara itu melanjutkan, tentang hal-hal yang tidak dia mengerti, tentang ‘wawancara’ dan ‘jam delapan’. Tangan kiri Mbok yang bebas merogoh saku daster dan menemukan ponsel lipat tua dengan tombol yang sudah pudar. Benda itu hadiah Mbak Kalila dua tahun lalu, supaya Mbok bisa merekam resep-resep Mbok sendiri. “Biar tidak hilang kalau Mbok lupa, Mbok,” kata Mbak waktu itu, sambil mengajarinya menekan tombol merah. Mbok tidak pernah menyangka akan memakainya untuk ini.
Dia menekan tombol merah dengan ibu jari yang basah keringat, menempelkan ponsel itu ke daun pintu, dan menunggu. Satu menit. Dua. Lima. Hujan di luar jendela koridor makin deras, dan Mbok berdiri tanpa bergerak seperti patung penjaga yang lupa pada tugasnya.
Ketika langkah Non Dania mendekat dari dalam, Mbok sempat mundur tiga langkah dan berpura-pura baru tiba. Pintu terbuka.
“Mbok.” Dania mengerjap. “Sudah lama?”
“Baru, Non. Ini tehnya.”
“Taruh di meja saja.” Wajahnya cerah dan tenang, dan tidak ada tanda bahwa dia sempat menduga sesuatu. “Terima kasih, Mbok baik sekali.”
*
Pukul sepuluh kurang, Mbok pamit pada Non Dania dengan alasan mengantar jeruk ke Nyonya Besar. “Tukang langganannya baru datang, Non. Nyonya Besar tidak bisa makan jeruk yang lain.”
“Malam-malam begini?”
“Besok pagi jeruknya tidak segar lagi, Non.”
Dania menimbang sebentar, lalu mengangkat bahu. “Supri yang antar.”
Perjalanan itu sepuluh menit yang terasa sepuluh jam. Mbok memeluk kantong plastik berisi jeruk di dadanya dan ponsel lipat itu di saku, dan sepanjang jalan dia tidak berani berpikir. Setiba di rumah Nyonya Besar, penjaga gerbang membukakan tanpa banyak tanya karena Mbok sudah sering datang. Ruang keluarga masih menyala. Nyonya Besar duduk di sofa dengan kardigan dan majalah yang tidak dibuka, seperti sudah tahu akan ada tamu.
“Mbok.” Dia menegakkan badan. “Ada apa?”
“Nyonya,” suara Mbok serak, “maaf. Mbok mau Nyonya dengar sesuatu.”
Dia menyerahkan ponsel lipat itu dengan kedua tangan. Nyonya Besar menerimanya, menekan tombol, dan menempelkannya ke telinga. Suara Non Dania muncul kecil dan jernih dari speaker yang kasar. Nyonya Besar mendengarkan sampai habis. Wajahnya tidak berubah. Hanya jemarinya yang memegang ponsel itu yang makin lama makin pucat.
Dia memutar ulang bagian terakhir. Sekali lagi. Lalu menurunkan ponsel itu ke pangkuan dan menutup mata.
“Mbok takut?” tanya Nyonya Besar tanpa membuka mata.
“Takut, Nyonya.” Mbok menunduk. “Tapi Mbok lebih takut kalau Mbak Kalila mendengar semua ini dari orang lain, lalu mengira Mbok tahu dan diam.”
Tangan Nyonya Besar bergerak, meraih tangan Mbok yang kasar dan menggenggamnya sebentar. Hangat dan kering, seperti tangan ibu mana pun yang pernah menunggu anaknya pulang. “Kemarin Mama melihat Mbok di kursi saksi. Mbok tidak bicara lebih dari yang Mbok lihat. Itu tidak mudah.” Dia melepas genggaman itu. “Mbok sudah memberi tahu orang lain?”
“Belum, Nyonya. Belum pada siapa-siapa.”
“Bagus.” Matanya terbuka. Ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah Mbok lihat sebelumnya, tenang dan sangat dingin, seperti air sumur yang sudah lama tidak ditimba. “Jangan beri tahu Keanu dulu. Biar dia lihat sendiri. Anak itu sudah terlalu sering dituntun, dia baru percaya pada hal-hal yang dia dengar dengan telinganya sendiri.”
“Baik, Nyonya.”
“Besok kita makan malam di rumah Keanu. Mama datang, dan Dania harus ada.” Dia menyerahkan kembali ponsel itu pada Mbok. “Simpan baik-baik. Jangan dihapus, jangan diberikan siapa pun. Dan Mbok, besok sore masakkan yang Keanu suka. Seperti dulu.”