Mama sudah berdiri di depan pintu ruang sidang ketika Kalila tiba, dan sebelum Kalila sempat menyapa, dia meraih tangan Kalila dan menggenggamnya, lama, seperti memeriksa suhu.
“Dingin,” kata Mama.
“Ruangannya yang ber-AC, Ma.”
“Bukan ruangannya.” Mama tidak melepas. “Tapi kamu berdiri tegak, dan itu cukup untuk pagi ini.”
Kalila tersenyum tipis. Mama akhirnya melepas genggamannya dan tidak bertanya lagi. Dari celah pintu yang terbuka, Kalila sempat melihat punggung lurus yang sudah duduk di bangku tergugat, jauh sebelum sidang dimulai. Keanu datang lebih awal. Dia tidak tahu apakah itu harus dihitung sebagai sesuatu.
Ruang sidang Senin itu lebih penuh daripada sidang sebelumnya. Kalila menghitung tanpa sengaja: tiga baris bangku pengunjung terisi, dua panitera mencatat, satu petugas membawa map tebal bolak-balik di depan meja majelis. Di sisi tergugat, Keanu duduk dengan kemeja putih tanpa dasi dan punggung yang tidak bersandar. Di seberang lorong sempit, pengacaranya merapikan berkas dengan gerakan orang yang tidak lagi berharap pada isinya.
Di baris kedua bangku pengunjung, Mama mengangguk kecil. Di baris paling belakang, Dania duduk dengan gaun krem dan tas kecil di pangkuan, seorang diri lagi, menatap lurus ke depan seperti anak yang menunggu dipanggil namanya.
“Saksi pertama dari penggugat,” kata hakim ketua. “Silakan.”
Asti berjalan ke kursi kayu di sisi meja majelis dengan langkah yang terlalu tegak, jelas gugup. Setelah sumpah, dia meremas tali tas di pangkuannya sampai buku jarinya putih. Kalila ingin tersenyum padanya dan tidak berani, sebab pengacaranya sudah memperingatkan: jangan ada isyarat apa pun dari bangku penggugat.
Pengacara Kalila berdiri. “Saudari Asti, sejak kapan Anda bekerja untuk Ibu Kalila?”
“Tiga tahun delapan bulan, Pak.”
“Ceritakan kondisi Ibu Kalila dalam tiga bulan sebelum dia meninggalkan rumah suaminya.”
Asti menarik napas. “Bu Kalila makin kurus, Pak. Beliau tidak pernah mengeluh, tapi saya lihat tangannya gemetar kalau memegang sendok. Dan hari gala itu, hari beliau kehilangan rasa, beliau masih berdiri mendikte takaran supaya tamu tidak tahu.” Suaranya serak. “Sejak itu beliau memasak dengan timbangan dan saya yang mencicipi. Beliau tidak minta dikasihani. Beliau hanya bilang, ‘Asti, tolong lidahmu.’”
Gumam halus merambat di bangku pengunjung. Kalila memejamkan mata sekejap.
Pengacara Keanu bangkit untuk memeriksa silang, dan pertanyaannya datar. “Saudari pernah melihat penggugat bertemu Dokter Julian Baskara di luar urusan pengobatan?”
“Satu kali, Pak. Di panti asuhan, hari Minggu, di dapur terbuka. Banyak orang. Beliau berdiri sekitar satu meter dari Ibu Kalila.”
“Satu meter. Anda mengukurnya?”
“Saya tidak punya meteran, Pak, tapi saya punya mata.” Asti mengangkat dagu sedikit. “Dan hari itu Ibu Kalila melapor ke pengacaranya sebelum sidang Senin.”
Hakim ketua menahan sudut bibirnya. “Dicatat. Saksi berikutnya.”
Dokter pengganti tiba sepuluh menit kemudian dengan map hijau di dada. Dia bersumpah, duduk, dan membacakan keterangan tertulisnya tanpa menaikkan nada: gangguan psikosomatis yang dipicu tekanan berkepanjangan, gejala berupa hilangnya indra pengecap yang berfluktuasi mengikuti keadaan emosi, perkembangan sejak penyerahan perawatan terdokumentasi dalam catatan. Satu kalimat pun tentang Julian tidak disebut. Kalila memperhatikan bagaimana pengacara Keanu mencoret-coret catatan, berhenti, lalu duduk.
*
“Saksi berikutnya, Saudari Darmi.”
Mbok Darmi masuk dengan kebaya sederhana dan sanggul yang dirapikan lebih teliti dari biasanya. Kalila baru sadar betapa kecil perempuan itu ketika berdiri di depan meja majelis yang begitu tinggi. Selama tiga tahun dia hanya melihat Mbok di dapur, membungkuk di antara panci. Sekarang punggung itu tegak, tetapi bahunya bergetar.
“Silakan ceritakan yang Saudari lihat sendiri,” kata pengacara Kalila, selembut yang bisa dia lakukan di ruang seperti ini.
“Mbak Kalila itu...” Mbok berhenti, menelan, mulai lagi. “Non Dania menginap di kamar tamu atas, Pak Hakim, sejak malam itu sampai sekarang. Waktu Non Dania datang pukul dua dini hari, Mbak Kalila yang turun dengan baju tidur. Mbok lihat sendiri. Mas Keanu bilang masuk kamar, jangan membuat keributan. Mbak tidak membuat keributan. Mbak masuk kamar dan Mbok dengar pintunya dikunci.”
Hening di bangku pengunjung. Mbok menyeka mata dengan ujung kebayanya.
“Pagi harinya Mbak pindah ke kamar belakang, kamar pelayan magang. Mbok yang bantu bawa kopernya, dua. Mbak tidak bilang apa-apa. Mbok yang menangis.” Dia menarik napas gemetar. “Mbak tidak pernah membentak siapa pun, Pak Hakim. Kalau marah, Mbak diam. Itu lebih menakutkan dari berteriak.”
Pengacara Keanu berdiri, lama, seolah menimbang apakah ini layak ditanyai. Lalu dia melangkah.
“Saudari digaji oleh keluarga tergugat?”
“Ya, Pak.”
“Berarti kesaksian Saudari bisa dipengaruhi oleh keinginan agar penggugat menang dan memperburuk posisi majikan Saudari?”
“Mbok digaji untuk mencuci piring dan memasak, Pak.” Suara Mbok pecah, tetapi tidak bergeser. “Bukan untuk berbohong.”
Seseorang di bangku pengunjung menahan tawa yang berubah menjadi batuk. Pengacara Keanu mengeraskan rahangnya. “Saudari pernah melihat penggugat meninggalkan rumah tanpa pamit, memperlakukan suaminya...”
“Cukup.”
Satu kata itu jatuh dari sisi kiri ruang sidang, tidak keras tetapi bulat. Keanu sudah berdiri. Tangannya bertumpu di tepi meja, buku jarinya memutih, tetapi bukan kemarahan yang terbaca di wajahnya. Lebih mirip rasa malu yang akhirnya menemukan tempat untuk duduk.
“Jangan tanya apa-apa lagi pada beliau.”
“Tuan, ini hak kita untuk...”
“Duduk.” Keanu tidak menoleh pada pengacaranya. Dia menatap Mbok Darmi di kursi saksi, lama, dan Mbok menunduk membalasnya. “Yang Mulia, saya tidak ada pertanyaan untuk saksi ini. Dan saya tidak keberatan dengan kesaksiannya.”
Hakim ketua mengangkat alis tipis dan mencatat. Kalila, yang tidak sempat menahan diri, melihat Keanu menoleh ke bangku pengunjung. Bukan ke baris kedua tempat Mama duduk. Ke baris paling belakang. Dia menatap Dania lebih lama daripada yang pernah Kalila lihat, tatapan datar dan teliti seperti orang membaca ulang kalimat di kertas yang dia kira sudah dia pahami. Dania membalas dengan senyum kecil dan mengangkat saputangan ke pelipis.
Keanu memalingkan wajah lebih dulu.
*
Di koridor, pengacara berjalan setengah langkah di depan Kalila sambil menelepon kantornya, sementara Asti mengantre air mineral di dekat tangga. Kalila menunggu di dekat jendela besar di ujung lorong, jauh dari kerumunan.
Dari sana dia melihat Mbok Darmi duduk sendirian di bangku panjang dengan sekotak air mineral yang belum dibuka di pangkuan. Dia ingin menghampiri, tetapi seseorang lebih dulu.
Gaun krem. Langkah ringan.
Dania berhenti di depan Mbok Darmi, menunduk, meletakkan tangan di bahu perempuan tua itu seperti seorang anak perempuan yang sayang. Kalila mendengar suaranya dari ujung koridor, lembut dan jernih, dan karena lorong itu lengang, setiap kata terbawa sampai ke telinganya.
“Mbok masih mau kerja di rumah itu?”
Mbok Darmi mengangkat kepala. Kotak air mineral di pangkuannya bergeser sedikit.
“Aku hanya bertanya,” lanjut Dania, tersenyum. “Mbok sudah tua. Aku tidak ingin Mbok capek. Kadang ada orang yang bicara terlalu banyak di tempat yang salah, lalu menyesal di rumah.”
Kalila melangkah maju. Satu langkah, dua. Tangan pengacaranya muncul di sisi lengannya tanpa menyentuh, hanya cukup dekat untuk mengingatkan.
Mbok Darmi memandang Dania sebentar, dan di wajah tua itu tidak ada ketakutan seperti yang Kalila kira. Yang ada adalah ketenangan orang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu dan baru saja memutuskan untuk berhenti.
“Mbok kerja di rumah itu sebelum Non datang, Non,” katanya pelan. “Dan Mbok tahu apa yang Mbok lihat.”
Senyum Dania tidak pudar, tetapi sudutnya bergeser. “Tentu, Mbok. Kita lihat saja nanti.”
Dia berbalik, dan di ujung koridor matanya bertemu mata Kalila. Saputangan itu tak terlihat, air mata pun tidak. Hanya wajah yang sangat tenang.