Minggu pagi, Keanu menyetir sedan putih Mama dengan kedua tangan di kemudi pukul sepuluh dan dua, seperti orang yang baru belajar.
Mama duduk di sebelahnya tanpa bicara sejak lampu merah pertama. Tas kecilnya dia peluk, dan sesekali jemarinya mengetuk-ngetuk resleting. Di kursi belakang ada rantang berisi kue lapis dan sekotak teh melati, oleh-oleh yang menurut Mama tidak boleh dilupakan ketika bertamu pada orang yang sedang berduka dan tidak pernah berhenti berduka.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Mama ketika mereka masuk jalan kecil dengan deretan rumah tua.
“Bubur ayam.”
“Rasanya?”
Keanu membuka mulut untuk menjawab dan mendapati bahwa jawaban jujur itu terlalu memalukan untuk diucapkan keras-keras. Panas, lembut, sedikit kenyal. Itu saja yang dia ingat, seolah dia menelan sebuah ide tentang bubur, bukan buburnya.
“Hangat,” katanya.
Mama menoleh sebentar, dan dia tahu Mama menangkap jeda itu. Tetapi wanita itu hanya menepuk punggung tangannya di atas persneling, sekali, seperti dulu ketika dia kecil dan baru pulang dari sekolah dengan nilai jelek.
“Dengarkan Mama. Kamu masuk sendiri. Mama menunggu di ruang tamu. Kamu tidak membawa nama Dania ke dalam pembicaraan sebelum kamu mendengar apa yang ingin dikatakan Ibu Tanto. Mengerti?”
“Mengerti, Ma.”
“Dan jangan membela siapa pun di depan ibu yang sudah kehilangan anaknya.”
“Ya.”
*
Rumah itu kecil dan rapi, dengan pagar besi hijau dan pot-pot anggrek di sepanjang teras. Ibu Tanto sudah berdiri di ambang pintu ketika mereka turun, tubuhnya kecil dalam daster batik dan kerudung krem, wajahnya lebih tua daripada yang diingat Keanu dari hari pemakaman. Dia tidak tersenyum lebar. Dia hanya memegang tangan Keanu dengan kedua tangannya, lama, dan berkata, “Kamu kurus.”
Mama sempat menahan lengannya di ambang pintu, hanya sedetik. “Ingat,” bisiknya. “Kamu datang untuk mendengar. Bukan untuk membela diri.”
“Aku ingat.”
“Bagus. Karena kamu punya kebiasaan mengingat sesudah selesai bicara.”
Ruang tamunya berbau kayu manis dan sabun lantai. Di dinding tergantung foto Tanto berpakaian toga, tersenyum miring seperti biasa. Mama duduk di sofa dekat jendela, sementara Ibu Tanto membawa Keanu ke meja makan kecil di belakang. Di sana sudah terhidang singkong rebus dan teh dalam gelas tinggi.
“Makanlah dulu, Nak. Aku tidak bisa bicara dengan orang yang belum makan.”
Keanu menggigit singkong itu, mengunyah pelan, dan menelan. Ibu Tanto memperhatikan wajahnya yang tidak berubah sedikit pun, dan dia tidak perlu bertanya.
“Tidak ada rasanya, ya?”
“Bu?”
“Tanto pernah bercerita. Kamu orang yang makan sambil membaca laporan, jadi tidak pernah benar-benar tahu apa yang kamu makan.” Dia tersenyum tipis. “Mungkin dulu dia benar, dan sekarang kamu membayarnya.”
Keanu meletakkan sisa singkong. “Bu, saya ingin bertanya soal Dania. Saya tahu ini lancang.”
“Tidak lancang. Aku sudah menunggu sejak pemakaman.” Ibu Tanto menuang teh untuknya, dengan tangan yang tidak gemetar. “Tanyalah.”
“Ibu tahu, setelah Tanto tiada, Dania tinggal di rumah saya. Saya merasa itu amanah dari Tanto.”
“Aku tahu. Mama kamu sudah bercerita.” Dia duduk. “Dania itu punya apartemen atas namanya sendiri. Uang asuransi Tanto sudah cair dan sudah masuk rekeningnya. Sejak hari ketiga, aku mengundangnya tinggal di sini. Kamar Tanto masih kosong, kasurnya kubersihkan tiap Jumat. Aku sudah mengundangnya delapan kali. Dia tolak delapan kali.”
“Dia bilang apa?”
“‘Keanu lebih mengerti aku, Bu.’” Ibu Tanto mengucapkannya tanpa nada, seolah menyalin kalimat dari kertas. “Aku tidak marah. Aku hanya merasa kamar anakku tidak lagi dianggap tempat yang layak ditinggali.”
Keanu menunduk. Ada sesuatu yang terasa dingin di dasar perutnya, bukan mual, lebih mirip firasat.
“Pesan terakhir Tanto kepada saya,” katanya pelan, “berbunyi: Keanu, kalau terjadi apa-apa padaku di lapangan, tolong bantu jaga Dania sampai dia mandiri. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.”
“Sampai dia mandiri,” ulang Ibu Tanto.
“Ya.”
“Berapa kali kamu membaca kalimat itu, Nak?”
“Berkali-kali.”
“Dan tiap kali, kamu membaca bagian ‘sampai dia mandiri’?” Dia menatap lurus. “Atau kamu berhenti di ‘jaga Dania’?”
Keanu tidak menjawab. Dari ruang tamu terdengar bunyi tipis cangkir dan sendok, Mama yang pura-pura sibuk dengan tehnya.
“Amanah itu bukan menggantikan Tanto,” kata Ibu Tanto, lembut sekali, dan karena lembut itu menusuk. “Tanto tidak meminta kamu menjadi suaminya. Dia meminta kamu membantu supaya Dania bisa berdiri sendiri, lalu melepaskannya. Kalau amanah itu dipegang tanpa batas, bukan menjaga namanya. Itu menahan.”
Kalimat itu mendarat di dada Keanu dan tinggal di sana. Dia menggosok wajahnya dengan telapak tangan.
“Bu, hari itu saya yang menyuruh Tanto turun ke lapangan,” katanya, nyaris tanpa suara. “Inspeksi mendadak. Saya yang memerintah. Karena itu saya...”
“Karena itu kamu merasa berutang seumur hidup.” Ibu Tanto mengangguk, seakan menunggu kalimat itu sejak lama. “Kemarilah.”
Dia membuka sebuah pintu di ujung lorong. Kamar sempit dengan kasur yang seprainya licin, lemari kecil, dan sebuah rompi proyek oranye yang tergantung di paku. Keanu berdiri di ambang. Dia tidak berani melangkah masuk.
“Aku tidak menyalahkanmu,” kata Ibu Tanto di sampingnya. “Tanto sendiri yang memilih menjadi orang yang selalu menjawab ‘siap’ kepada sahabatnya. Aku sudah berdamai dengan itu. Yang belum bisa kuterima adalah melihat sahabatnya membayar utang itu dengan hidupnya sendiri, dan hidup istri yang tidak bersalah.”
Mereka kembali ke meja makan. Keanu duduk lagi, dan baru kemudian bertanya, tanpa berani menatap, “Bu, soal alergi kacang Dania.”
Tangan Ibu Tanto berhenti di pinggir gelas.
“Alergi ringan,” katanya. “Sejak kecil. Gatal, kadang bentol, tidak lebih. Dia selalu membawa obat di tasnya, dan sampai sekarang pun begitu. Dulu, waktu mereka masih pacaran, Dania pernah sengaja mencicip kue kacang di depan Tanto, hanya untuk melihat Tanto berlari. Tanto membawanya ke IGD dengan wajah pucat, dan dokter bilang itu tidak apa-apa. Tanto tiga hari tidak bicara padanya.” Dia menghela napas. “Aku tidak mengatakan ini supaya kamu membencinya. Dania anak yang takut ditinggal. Kadang takut itu mengajari orang cara menahan yang paling licik.”
“Tapi di rumah saya, hari itu...”
“Tanyakan pada dirimu sendiri,” Ibu Tanto memotong pelan, “kenapa hari itu, di rumahmu, dia tidak membawa obatnya.”
Keanu membeku. Martabak itu. Mulut yang terus mengunyah setelah gigitan pertama, napas yang mulai berat, Kalila yang berlari ke tas obat dan mengambil CTM, dan dia sendiri berteriak tentang racun. Tas obat Dania tidak pernah ada. Dia tidak pernah bertanya di mana.
Ketika dia berdiri, kakinya terasa asing. Ibu Tanto mengantarnya sampai ruang tamu dan memegang lengannya sekali lagi.
“Datanglah lagi, Nak. Kapan pun. Aku punya singkong yang lebih enak dari ini.”
“Terima kasih, Bu.”
Di teras, Mama menyusul dengan rantang yang sudah kosong separuh karena Ibu Tanto bersikeras membagi kue lapis. Keanu menyalakan mesin mobil tetapi tidak menjalankannya.
Ponselnya bergetar di dasbor. Dania. Kamu di mana? Aku masak lagi. Tadi ayamnya aku coba sendiri, rasanya enak! Pulang cepat ya.
Dia membaca pesan itu dua kali, mengetik Di rumah Mama, menghapusnya, mengetik lagi dengan kata yang sama, dan mengirimnya. Itu benar. Dia tidak berbohong. Hanya saja dia baru menyadari betapa banyak kejujuran yang bisa dipakai untuk menyembunyikan satu kebenaran lain.
“Ma.”
“Ya.”
“Jangan beri tahu Dania aku sudah tahu.”
Mama memandangnya tanpa kaget. “Kenapa?”
“Karena aku tidak mau menghakimi orang berdasarkan cerita ibu yang kehilangan anaknya.” Suaranya serak. “Aku mau lihat sendiri. Dengan mataku. Sebelum aku salah menuduh seseorang untuk kedua kalinya.”