Tiga hari sesudah Rabu itu, Julian sudah memeriksa seratus tujuh puluh pasien dan tidak ingat satu wajah pun.
Itu bukan keluhan, hanya fakta. Dia datang ke rumah sakit pukul enam pagi, pulang lewat pukul sepuluh malam, dan di antaranya mengisi setiap lubang di jadwal dengan visite, rapat, tinjauan berkas, apa pun yang bisa dipegang tangan. Sabtu siang, setelah pasien terakhir di poli pulang, seorang perawat mengetuk pintu ruang kerjanya membawa teh yang sudah dingin sebelum diminum.
“Dokter belum makan sejak pagi.”
“Aku makan nanti.”
“Dokter bilang begitu kemarin.” Perawat itu meletakkan cangkir di meja dan menatap map-map yang menumpuk. “Pasien yang tadi, Pak Haji itu, bilang Dokter melamun waktu menulis resep.”
“Aku tidak melamun. Aku sedang berpikir.”
“Resepnya tertulis dua kali, Dok.”
Julian menunduk. Di lembar kertas resep, memang ada dua baris obat yang sama, rapi, berurutan. Dia merobek lembar itu menjadi dua dan membuangnya ke tempat sampah. Perawat itu keluar tanpa suara.
Tidak sampai semenit kemudian pintu diketuk lagi, dan kali ini yang masuk dokter senior perempuan berambut kelabu, pembimbing lamanya, yang duduk di kursi tamu tanpa menunggu dipersilakan.
“Jadwalmu sudah penuh sampai bulan depan. Kamu menambah visite akhir pekan yang bukan bagianmu.”
“Pasien tidak mengenal hari libur.”
“Dan dokter yang menghindari sesuatu dengan bekerja akan membuat pasiennya membayar.” Dia menatap Julian lewat atas kacamatanya. “Aku tidak bertanya apa yang kamu hindari. Aku hanya bilang, selesaikan itu di tempat yang bukan ruang rawat.”
“Aku sedang mengerjakannya, Bu.”
“Bagus. Jangan terlalu lama.” Dia berdiri, merapikan snelinya, dan keluar.
Setelah pintu menutup, dia membuka laci terbawah, mengeluarkan selembar kertas bergaris kuning dan sebatang pena hitam. Telapak tangannya dingin. Selama tiga hari, setiap kali ponselnya bergetar dia memeriksanya sebelum sempat berpikir, dan setiap kali bukan siapa pun. Itu wajar. Dia sendiri yang berjanji. Tetapi janji yang sehat tetap butuh tempat untuk menaruh beban.
Dia menulis satu kata di baris pertama. Kalila.
Lama dia memandangi nama itu, sebelum menambahkan di bawahnya:
Hari ini hari ketiga. Aku tidak menelepon, dan itu tidak sesulit yang kukira. Yang sulit adalah tidak membuka percakapan kita di ponsel hanya untuk melihat namamu. Kamu memintaku tidak menghubungimu. Aku akan menepatinya. Tetapi kamu tidak melarangku menulis, selama tidak kukirim.
Aku tidak minta dimaafkan. Aku hanya ingin ada satu tempat di dunia ini yang tahu apa yang kupikirkan, selain Mama.
Dia melipat kertas itu menjadi tiga dan memasukkannya ke amplop polos, tanpa nama, tanpa perangko. Lalu dia menaruhnya di laci, mengunci laci itu, dan memutuskan: satu surat tiap Sabtu. Tidak lebih. Surat adalah cara orang yang menolak mengambil jalan pintas untuk tetap bernapas.
*
Pukul tujuh malam, rumah ibunya menyambut dengan lampu beranda yang baru menyala. Sawo di pojok menjatuhkan bayangan panjang di halaman, dan Julian parkir di tempat yang sama dengan hari Rabu, mengingat roda mobil Kalila yang berputar di jalan ini.
Eyang menunggu di ruang tamu dengan sebuah tatakan kecil di pangkuan. Di atas tatakan itu tergeletak pena hitam bergaris perak.
“Kemarilah.”
Julian duduk di sofa panjang yang sama. Matanya jatuh ke pena itu dan tertahan di sana lebih lama dari yang dia rencanakan.
“Aku sudah menaruhnya kembali di meja, Mah.”
“Dan aku menyimpannya.” Eyang tidak mengangkat suara. “Kuserahkan sesudah putusan.”
“Dia mungkin memerlukannya.”
“Dia punya sepuluh pena, Nak. Yang dia perlukan adalah alasan untuk datang ke rumah ini lagi, kalau suatu hari dia mau, tanpa kamu perlu memanggilnya.” Dia menaruh tatakan itu di meja samping. “Sesudah putusan nanti, pena ini dikirim. Lewat sopirku. Bukan lewat kamu.”
Julian mengangguk. Sofa itu empuk di bawahnya, tetapi punggungnya tegak.
“Kamu tidak makan,” kata Eyang. “Wajahmu seperti kertas.”
“Aku makan.”
“Kamu mengulang kalimat yang sama seperti kemarin lusa.” Perempuan tua itu menatap jauh ke jendela, pada gelap yang mulai turun. “Aku ingat hari akad itu, Nak. Kamu datang ke rumah ini selepas resepsi yang tidak kamu hadiri, duduk di beranda sampai azan subuh. Aku tidak bertanya. Pagi itu kamu tersenyum waktu pamit ke bandara, dan matamu sudah mati.”
“Aku tidak ingat.”
“Aku ingat. Seorang ibu selalu ingat.” Dia mengelus lengan kursi. “Hari Rabu kamu tersenyum sama seperti itu waktu Kalila pergi. Janji yang baik adalah janji yang bisa dipegang tanpa saksi. Kamu sudah memegangnya lima tahun. Beberapa bulan ke depan tidak ada bedanya.”
“Beberapa bulan itu bisa lima.”
“Aku bukan dokter, jadi aku boleh berhitung kasar.” Eyang menyesap tehnya. “Satu hal lagi. Aku memperhatikan dari beranda. Dia pergi tanpa menoleh, memang. Tetapi di gerbang kecil itu langkahnya melambat. Hanya setengah detik.”
Julian tidak menanyakan setengah detik itu untuk apa. Dia sadar kalau bertanya, dia akan mulai berharap, dan berharap adalah satu hal yang sudah dia putuskan akan dia lakukan hanya di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Dari halaman terdengar bunyi pintu mobil, lalu langkah yang ringan. Mama muncul di ambang pintu dengan tas di bahu dan kerudung yang masih rapi, wajah lelah seperti seseorang yang berjalan jauh tanpa tahu tujuan. Julian berdiri dan menunduk. Sejak dia kecil, dia belum pernah bisa menyapa kakak iparnya tanpa merasa sedang meminta izin.
“Maaf, Bu. Saya langsung masuk.”
“Duduk, Nak.”
Mama duduk di kursi berlengan, persis tempat Kalila duduk tiga hari sebelumnya. Matanya jatuh ke pena di meja samping, lalu ke Julian.
“Kalila datang ke sini?”
“Rabu, atas permintaannya sendiri,” jawab Eyang. “Pintu terbuka, saya di beranda, pengacaranya tahu. Dia hanya bertanya satu hal, dan Julian menjawab jujur.”
Mama menarik napas. Lama. Lalu dia menoleh pada Julian. “Apa yang kamu minta darinya?”
“Tidak ada, Mbak.”
“Jangan pura-pura sopan padaku.”
“Aku tidak pura-pura.” Julian menautkan jemari di lutut. “Tidak ada yang kuminta, sampai dia bebas, dan sampai dia sendiri yang memilih. Dia memintaku untuk tidak menghubunginya. Aku akan menepatinya.”
Mama menatapnya lama sekali, seakan mencari retakan di wajah adik iparnya. Tidak ada. Yang ada hanya laki-laki yang lelah dan tetap duduk tegak.
“Kalau dia memilihmu,” kata Mama pelan, “Keanu akan hancur dua kali. Kehilangan istri, lalu kehilangan pamannya, di hari yang sama.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau dia tidak memilihmu?”
“Kalau dia memilih Keanu,” jawab Julian, “aku yang akan menjaga pintunya.”
Hening jatuh di ruangan itu, panjang dan berat seperti kain basah. Mama memandang jemarinya sendiri, lalu pena di meja samping, lalu Eyang. Wajahnya bergetar sedikit di bagian rahang, hanya sedikit, sebelum dia menegakkan bahu.
“Bu,” katanya, dan suaranya sudah teratur lagi, “besok saya bawa Keanu ke rumah Ibu Tanto.”