Rabu itu Kalila tiba sepuluh menit sebelum pukul empat dan menyuruh Asti mematikan mesin di bawah pohon sawo.
“Kalau satu jam aku belum keluar, ketuk kaca beranda. Jangan telepon.”
“Telepon bisa dibaca orang, ya, Bu?”
“Ketukan tidak.”
Jip hitam itu sudah ada di halaman, diparkir rapi di sisi pagar. Tentu saja. Kalila menarik napas dan mendorong gerbang kecil. Di beranda berubin kuning, Eyang duduk di kursi rotan dengan teh dan sebuah majalah yang tidak dia baca. Perempuan tua itu menatap Kalila lama, lalu menunjuk pintu ruang tamu dengan dagu.
“Julian sudah dari pukul tiga. Duduknya seperti murid yang akan diuji.” Dia membetulkan selendang di bahu. “Pintunya tetap terbuka. Eyang di sini, dan Eyang tidak akan pura-pura tuli.”
“Terima kasih, Eyang.”
“Jangan berterima kasih. Pergilah, sebelum keberanianmu basi.”
Ruang tamu itu berbau kayu tua dan minyak kayu putih. Julian berdiri dari sofa panjang di sisi jauh ruangan begitu Kalila masuk, kemeja biru muda dengan lengan digulung sampai siku, kacamata tipis, tangan menggantung di sisi tubuh seperti orang yang tidak tahu harus menaruhnya di mana. Di antara mereka ada meja rendah dan satu karpet. Kalila duduk di kursi berlengan, bukan sofa, dan Julian baru duduk setelah itu.
Kalila mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah pena dari tas, sebab pengacara berpesan agar tanggal dan jam dicatat. Dia menulis angka-angkanya dengan tangan yang berusaha tidak gemetar, lalu menaruh pena itu di meja rendah, tepat di sisi cangkir teh yang disuguhkan Eyang dan tidak dia sentuh.
Mereka saling menatap. Tidak ada yang bicara. Dari beranda terdengar pelan bunyi cangkir menyentuh tatakan.
“Sejak kapan?” tanya Kalila.
Julian tidak berpura-pura tidak mengerti. Dia melepas kacamata, mengusap pangkal hidung, lalu memakainya lagi, kebiasaan yang Kalila baru sadar sudah dia hafal.
“Lima tahun.”
Kalila tidak bergerak.
“Di halaman panti. Aku mengantar sumbangan dari Mama dan berdiri di gerbang. Kamu duduk di rumput dengan anak kecil berhidung beringus di pangkuanmu, tertawa sampai bahumu bergoyang.” Suaranya tenang, bariton yang selalu bekerja seperti sapuan tangan di punggung orang gelisah, tetapi jemarinya saling menggenggam di antara lutut. “Aku tidak bertanya namamu. Itu penyesalan terbesarku. Dua tahun kemudian aku duduk di barisan keluarga mempelai laki-laki dan melihat pengantin perempuan berjalan masuk. Itu kamu. Aku baru tahu namamu dari penghulu.”
“Kamu menyaksikan akadku.”
“Ya.”
“Dan kamu pulang ke London.”
“Besoknya. Aku tidak datang ke resepsi.” Dia menunduk sebentar. “Aku tidak menyampaikan ini untuk meminta apa pun, Kalila. Kamu bertanya, jadi aku menjawab. Hanya itu.”
“Bu Pengurus bercerita padaku. Jangan salahkan beliau.”
Sesuatu di wajah Julian bergerak, bukan kaget, lebih seperti orang yang akhirnya diizinkan menurunkan beban dari bahu. “Aku tidak akan menyalahkannya.”
Kalila memandang tangannya sendiri di pangkuan. Dia sudah menyusun sepuluh kalimat sepanjang malam dan tidak satu pun bisa dipakai. “Ada satu hal lagi. Di ruang praktikmu, kamu bilang terakhir kali kita bertemu tiga tahun lalu. Tapi yang menangkapku di gerbang rumah Syailendra, malam hujan itu, kamu.”
“Ya.”
“Kamu bohong.”
“Aku menyimpan sebagian.” Julian tidak mengelak. “Tiga bulan sebelum kamu mogok jadi istri, aku pulang dua hari untuk urusan keluarga. Mama menitipkan sesuatu untuk Keanu, jadi aku mampir ke rumah itu. Pos satpam kosong, listrik padam, dan kamu berdiri di selasar dengan baju basah kuyup, menggigil, hampir jatuh. Aku menangkapmu karena memang tidak ada orang lain. Aku mengantarmu ke dalam, memeriksa, lalu meninggalkan catatan untuk Simbok. Dua hari kemudian aku terbang kembali.” Dia menatap Kalila lurus. “Aku bilang tiga tahun, karena aku tidak mau kamu merasa diawasi. Kamu baru saja kehilangan hampir segalanya. Aku tidak mau menjadi satu lagi orang yang tahu terlalu banyak tentang hidupmu.”
Tenggorokan Kalila sakit. Bukan karena marah, belum. Karena semua kalimat itu cocok, satu per satu, seperti kepingan teka-teki yang dia kira sudah dibuang.
“Kamu merawatku,” katanya pelan. “Di rumah sakit itu. Kamu duduk di sisi ranjangku, memegang nadiku, menanyakan makananku, sambil menyimpan itu semua.”
“Aku menyerahkan perawatan begitu aku sadar rasa itu bisa dipakai untuk menyerangmu.” Julian mengucapkannya tanpa tekanan, seolah menyampaikan hasil laboratorium. “Itu sebabnya dokter pengganti. Itu sebabnya catatan kontak untuk pengacaramu. Aku tidak menyerahkannya karena takut. Aku menyerahkannya karena kamu pantas mendapat dokter yang tidak punya kepentingan.”
“Dan kamu pikir itu cukup?” Suara Kalila naik setengah nada, lalu dia mengendalikannya. “Kamu tahu apa yang paling membuatku marah, Dok? Bukan karena kamu mencintaiku. Tapi karena kamu tidak pernah memintaku apa pun. Tidak sekali pun. Bahkan sekarang. Kamu duduk di ujung sana seperti menunggu vonis.”
“Aku tidak punya hak meminta.”
“Dan aku masih istri orang.” Kata itu menyakitkan di lidah yang tak merasakan. “Secara hukum. Sampai palu itu diketok.”
“Aku tahu.”
“Jadi aku akan memintamu satu hal, dan kamu tidak boleh menawar.” Kalila berdiri. Kakinya gemetar sedikit, tetapi suaranya tidak. “Jangan hubungi aku. Tidak lewat pesan, tidak lewat Eyang, tidak lewat Bu Pengurus. Sampai semuanya selesai. Bukan karena aku membencimu.” Dia menelan ludah. “Tapi aku harus tahu aku berdiri sendiri. Kalau aku tidak tahu itu, apa pun yang kupilih nanti tidak akan sah, bagiku maupun bagimu.”
Julian berdiri juga. Dia tidak melangkah mendekat, bahkan setengah langkah pun tidak.
“Baik,” katanya. “Aku tidak akan datang ke pintumu. Kalau suatu hari kamu membutuhkanku, kamu yang memilih jalannya.”
Kalila mengangguk satu kali. Dia berbalik dan berjalan melewati beranda tanpa menoleh pada Eyang, yang menunduk pura-pura memeriksa majalahnya. Buku catatan dia dekap ke dada. Pena di meja rendah tertinggal begitu saja.
Julian memandanginya sampai gerbang tertutup. Setelah mobil Kalila menghilang di ujung jalan, dia mengambil pena itu, memutarnya sekali di antara jari, dan menaruhnya kembali di tempatnya tanpa menyentuhnya lebih lama.
Dari beranda, Eyang berkata tanpa menoleh, “Dia pergi tanpa menoleh.”
“Ya, Mah.”
“Itu bukan tanda dia membencimu, Nak. Orang yang benci menoleh.”
*
Mobil sudah melewati dua lampu merah ketika Asti bertanya pelan, “Ibu mau saya antar ke vila atau ke studio?”
“Vila.”
“Ibu menangis?”
“Tidak.” Kalila menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Matanya kering. Itu yang membuatnya heran, sebab dadanya terasa seperti baru saja dicuci dengan air yang terlalu dingin. “Aku marah, Asti. Dan lega. Dan marah karena lega.”
“Itu boleh semua, Bu.”
Dia merogoh tas untuk mengambil pena dan menulis jam keluarnya, seperti pesan pengacara. Buku catatan ada. Pena tidak. Dia membuka kantong depan, lalu kantong samping, dan baru ingat di mana benda itu terakhir dia letakkan: di meja rendah, di samping cangkir teh yang tidak sempat dia minum.
Asti melirik kaca spion. “Putar balik, Bu?”
Kalila diam beberapa detik. Dari jendela, sawo di pojok jalan itu sudah jauh di belakang. Dia membayangkan Julian mengambil pena itu dan menaruhnya kembali tanpa kata, dan dia tahu persis lelaki itu akan melakukannya.
“Tidak,” katanya. “Biar di sana.”