“Hanya dua pihak,” kata pengacara.
Selasa pagi, kantornya di lantai sembilan sudah berbau kopi pahit dan kertas baru. Kalila baru saja menyerahkan kartu bertanda D. dari vas lili itu, dan sang pengacara hanya membaca satu baris permintaan maaf di dalamnya, lalu menyimpannya di map tanpa komentar. Bau lili masih menempel di lengan blazer Kalila. Dia menaruh dua lembar cetakan di meja kaca, di antara cangkir Kalila yang belum tersentuh. Satu foto dapur panti dari lampiran gugatan balik yang sudah dicabut. Satu lagi foto yang sama dari akun gosip, dalam bingkai berbeda, tetapi dengan ketajaman yang sama.
“Berkas aslinya, yang ukurannya sebesar ini, hanya dipegang dua pihak. Pertama orang yang memotret. Kedua kantor kuasa hukum tergugat, yang melampirkannya ke pengadilan.” Dia mengetuk lembar kedua dengan ujung pena. “Tidak ada orang lewat yang mengunggah foto sebesar itu dari ponsel. Hari ini saya mengirim surat permintaan keterangan kepada keduanya. Pemotret lewat kantor yang menyewanya. Kantor itu pasti menolak, tetapi penolakan pun ada catatannya.”
“Keanu?” tanya Kalila.
“Saya tidak menyebut nama Tuan Keanu di surat mana pun. Kalau beliau memang tidak tahu, surat ini justru menolongnya.” Pengacara itu menyandarkan punggung. “Dan kalau pihak sana berkata foto itu ‘dokumentasi pribadi’, saya akan bertanya pribadi siapa. Orang yang berbohong biasanya kehabisan nama di pertanyaan kedua.”
“Dan kalau mereka tidak menjawab sama sekali?”
“Itu juga jawaban.” Dia mengambil daftar di sudut meja. “Daftar saksi dari Ibu sudah saya terima. Asti, Mbok Darmi, dokter pengganti. Mbok Darmi bersedia?”
“Asti menelepon kemarin. Katanya, ‘Mbok datang, Mbak. Mbok tidak bisa bohong, tapi Mbok juga tidak akan bicara lebih dari yang Mbok lihat.’”
“Itu saksi yang paling saya sukai.”
Kalila tersenyum kecil, lalu senyum itu surut. “Pak, ada sesuatu yang belum saya ceritakan soal Julian.”
“Ceritakan kalau sudah Ibu putuskan perlu. Untuk sekarang,” pengacara itu merapikan dua lembar cetakan menjadi satu tumpukan, “jangan buka akun itu lagi. Biar saya yang membaca komentarnya.”
*
Sore itu, di dapur terbuka panti, Kalila menurunkan dua panci besar bubur kacang hijau yang masih mengepul. Anak-anak yang menunggu di bangku panjang langsung bersorak, dan Bu Pengurus harus menepuk meja dua kali supaya mereka antre.
“Yang sabar. Kak Kalila tidak ke mana-mana.”
Seorang anak lelaki kecil, yang hidungnya masih saja beringus, menerima mangkuknya dengan dua tangan dan berbisik, “Kak, enak sekali,” lalu lari. Kalila memandangi punggungnya yang pendek. Dia tidak merasakan bubur itu, tetapi dia melihat anak itu menjilat sendoknya sampai bersih, dan untuk sekarang itu cukup sebagai ukuran.
Anak itu tidak benar-benar lari jauh. Dia berhenti di tiang aula, menoleh, dan bertanya dengan mulut penuh, “Kak, Om Dokter yang bawa beras itu kok nggak datang lagi?”
“Om Dokter sibuk, Sayang.”
“Tapi dia bilang kalau datang selalu lebih awal. Kami sudah nunggu dari tadi.” Dia mengangkat bahu dengan seluruh keseriusan anak tujuh tahun, lalu menghilang ke sekumpulan anak lain di bangku.
Kalila menatap pintu gerbang yang kosong. Dia tidak tahu mengapa kalimat sepele itu membuat tengkuknya hangat.
“Dia dua tahun waktu kamu pertama jadi relawan,” kata Bu Pengurus dari belakang. “Sekarang tujuh. Waktunya cepat sekali, ya.”
Dia mengajak Kalila ke ruang kerja kecil di samping aula. Di dinding tergantung bingkai-bingkai relawan dari tahun ke tahun. Bu Pengurus menunjuk satu, dan Kalila melihat dirinya sendiri di usia dua puluh tiga, rambut dikuncir asal-asalan, memangku anak laki-laki yang sama dengan hidung yang sama. Dia tertawa terbahak di foto itu. Kalila tidak ingat kapan terakhir dia tertawa seperti itu.
“Saya mau tunjukkan satu hal lagi, Nak. Kamu boleh marah kalau saya salah.” Perempuan itu mengeluarkan buku kas bersampul hitam dari laci dan membukanya di halaman yang sudah diberi penanda. “Papan donatur kami hanya memuat nama yang mau dipajang. Yang ini tidak. Tetapi buku kas harus jujur.”
Tiga baris tulisan tangan, berurutan, dengan tinta yang sama. Kalila membaca barisnya satu per satu. Dr. J. Baskara. Tiga baris, tiga bulan. Di kolom keterangan, huruf-huruf tegak yang bukan milik Bu Pengurus: untuk anak-anak, dan untuk dapur kecil di taman.
“Titipan Eyang selalu datang dalam kardus,” kata Bu Pengurus. “Yang dalam amplop ini dari dokter sendiri, sejak dia pulang dari luar negeri. Beliau melarang namanya ditulis di papan. Katanya cukup dapurnya dipakai.”
“Dapur terbuka itu?”
“Dapur tempat kamu memasak enam puluh porsi. Atapnya dulu bocor tiap hujan. Sudah diganti seng baru dua bulan lalu, dan saya tidak pernah menjawab kalau ada yang bertanya siapa yang membayar.” Dia menutup buku itu perlahan. “Lima tahun lalu seorang dokter muda, masih berjas, mengantar sumbangan dari ibunya. Dia berdiri di gerbang, bersandar pada tiang itu, lama sekali. Saya sapa, ‘Cari siapa, Dok?’ Dia jawab, ‘Mengantar titipan ibu saya.’ Tetapi matanya bukan pada saya.”
Kalila tidak bertanya matanya pada siapa. Dadanya sudah tahu, bahkan sebelum telinganya selesai mendengar. Samar-samar dia teringat seorang laki-laki berjas putih bersandar di tiang gerbang, satu detik tatapan, anggukan sopan, lalu anak kecil di pangkuannya menarik rambutnya dan dia lupa semuanya. Lima tahun dia tidak pernah mengingat itu.
“Dan waktu kamu menikah,” lanjut Bu Pengurus, lebih lembut, “yang mendampingimu jalan itu saya dan seorang pengasuh. Kamu tidak punya keluarga lain, tangan kamu dingin sekali waktu itu. Saya melihat ke barisan tamu, dan dokter itu duduk di sisi mempelai laki-laki. Wajahnya pucat, Nak. Saya pikir dia sakit. Rupanya bukan.”
“Dia tahu Ibu menceritakan ini?”
“Tidak. Kalau tahu, dia akan memohon saya diam, dan saya tidak sampai hati menolaknya.” Perempuan itu menyentuh punggung tangan Kalila dengan jemarinya yang keriput. “Tetapi kamu perlu tahu dari orang yang tidak punya kepentingan apa pun, kecuali sayang pada kalian berdua.”
“Kenapa baru sekarang, Bu?”
“Karena baru sekarang kamu punya kekuatan untuk mendengarnya.”
*
Malam itu, di vila, jaket abu-abu itu masih tergantung di balik pintu kamar. Kalila berdiri di depannya lama. Dia menyentuh lengan jaket itu, menciumnya sedikit, dan masih ada bau samar antiseptik di kainnya yang sudah berminggu-minggu dia simpan. Tidak ada rasa di lidahnya, tetapi ada sesuatu di dadanya yang berdetak lebih cepat dari seharusnya, dan dia benci karena tidak bisa memerintahnya diam.
Dia mengambil ponsel dan menelepon pengacara.
“Bapak masih bangun?”
“Untuk Ibu, ya.”
“Saya ingin bertanya satu hal kepada Julian. Satu kali. Saya yang menghubungi, bukan dia.”
Hening sebentar. Lalu suara yang hati-hati: “Kalau Ibu bersikeras: sekali saja. Di rumah keluarga, bukan tempat umum. Pintu terbuka. Ada orang dewasa lain yang melihat, dan Ibu catat tanggal serta jamnya. Dan Ibu yang memulai, supaya tidak ada yang bisa berkata sebaliknya.”
“Terima kasih, Pak.”
“Jangan terima kasih. Saya hanya berharap Ibu tahu apa yang akan Ibu tanyakan.”
Dia tahu. Itu yang membuatnya takut. Setelah sambungan terputus, dia menyobek selembar kertas dari buku catatan dan menulis tanggal serta jam telepon itu dengan huruf-huruf kecil yang rapat, seperti menandatangani surat pernyataan untuk dirinya sendiri.
Dia menelepon nomor yang sudah dia hafal tetapi belum pernah dia pencet sendiri. Eyang menjawab pada dering ketiga, suaranya tua dan jernih.
“Kalila.”
“Eyang. Maaf mengganggu malam-malam.” Dia menarik napas. “Bolehkah saya bertanya satu hal pada Julian? Di rumah Eyang, dengan Eyang di ruang sebelah dan pengacara saya tahu?”
Sambungan sunyi cukup lama sampai Kalila mengira jaringannya putus.
“Kamu sudah tahu jawabannya?” tanya Eyang akhirnya.
“Saya hampir tahu. Saya mau mendengarnya dari mulutnya, bukan dari orang lain.”
“Bagus. Dari orang lain, jawaban itu selalu sudah dipotong sebelum sampai.” Terdengar helaan napas, lebih mirip tawa kecil yang tertahan. “Rabu pukul empat. Sekali.”