Kalila menutup pintu toilet di belakangnya dan berdiri di lorong dengan telapak tangan menempel di daun pintu, seakan pintu itu bisa ditahan agar tidak terbuka lagi. Tangis di dalam masih terdengar, naik, turun, naik lagi. Dia menghitung tanpa sengaja. Tiga tarikan napas, satu sedu. Tiga tarikan napas, satu sedu. Orang yang betul-betul hancur tidak menangis dengan jeda serapi itu.
“Ibu pucat sekali.”
Pengacaranya sudah menurunkan ponsel dari telinga. Dia menatap pintu toilet, lalu wajah Kalila, dan alisnya yang tebal terangkat sedikit.
“Dania ada di dalam,” kata Kalila. “Dia menangis.”
“Ibu apakan?”
“Saya hanya bilang kalau dia yakin, dia tidak perlu mengatakannya.”
Pengacara itu mengangguk pelan dan tidak bertanya lagi. Orang yang sudah puluhan tahun duduk di ruang sidang tahu kapan sebuah kalimat lebih berguna disimpan daripada dibongkar. “Kita turun. Kalau ada yang bertanya, Ibu tidak berbicara dengan siapa pun di toilet.”
“Memang tidak. Dia yang berbicara pada saya.”
“Itu juga jangan Ibu ceritakan sekarang.”
Mereka sudah di ujung tangga ketika pintu toilet terbuka. Dania keluar dengan mata dan hidung merah, saputangan di genggaman, langkahnya goyah sampai seorang petugas pengadilan buru-buru menawarkan lengan. Perempuan itu berterima kasih dengan suara habis. Kalila melihat semuanya dari jarak dua belas anak tangga dan merasakan sesuatu yang tidak dia sangka. Bukan marah, bukan takut. Hanya perasaan mengenali, seperti menemukan soal yang sama untuk kedua kalinya.
Di lobi, Mama menunggu di dekat pintu putar dengan tas di dada. Matanya mencari wajah Kalila, lalu bergeser ke tangga di belakangnya, tempat Dania baru saja turun satu anak tangga demi satu anak tangga, bersandar pada lengan petugas.
“Dia ke toilet,” kata Mama pelan. Bukan pertanyaan.
“Dan menangis. Lama.”
Mama menarik napas, panjang dan tertahan, seperti orang yang memilih tidak mengucapkan dua kalimat sekaligus. “Mama antar kamu ke mobil.”
“Pak Pengacara yang mengantar, Ma. Mama pulang saja. Eyang pasti menunggu kabar.”
Mama menyentuh lengannya sekali lagi dan pergi tanpa menoleh ke tangga.
*
Sabtu pagi, ruang praktik dokter pengganti berbau teh jahe dan buku-buku lama. Dokter perempuan itu duduk di kursi rendah dengan buku catatan di pangkuan, kacamata bulatnya melorot di hidung. Dia tidak pernah menaruh meja di antara dirinya dan pasien.
“Garamnya hilang lagi,” kata dokter itu, membaca catatan minggu lalu.
“Sejak Keanu datang ke vila. Paginya masih ada, tipis sekali. Begitu dia pergi, hilang.” Kalila menautkan jari-jarinya. “Lalu hari sidang itu Dania. Saya ceritakan semuanya, Dok, termasuk bisiknya.”
Dia menceritakan dari toilet sampai tangis yang terlalu rapi. Dokter itu mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali menulis satu-dua kata. Ketika Kalila selesai, dia melepas kacamata dan mengusap pangkal hidungnya.
“Rasa Ibu naik turun mengikuti ketenangan. Bukan mengikuti siapa yang datang atau pergi.”
“Tapi setiap Keanu mendekat, rasanya lenyap.”
“Ibu tidur?”
“Empat jam, kadang lima. Makan sehari tiga kali, pakai timbangan, supaya tidak keliru.”
“Bagus. Saya tidak sedang bercanda.” Dokter itu hampir tersenyum. “Sekarang, Ibu bisa menyebut kapan persisnya ketenangan itu pergi, di teras waktu itu?”
Kalila berpikir. Teh melati, burung di pohon mangga, langkah yang dia kenal. “Waktu dia bilang maaf. Saya tidak tahu harus menaruhnya di mana. Kalimat itu terlalu besar untuk saya terima dan terlalu terlambat untuk saya tolak.”
“Nah.” Dokter itu memakai kacamatanya lagi. “Lidah Ibu tidak sedang menolak Keanu. Dia menolak pekerjaan menimbang kata maaf sambil menjaga dada tetap tegak. Itu berat bagi siapa pun.”
Kalila menatap lantai, lalu mengangkat kepala. “Dok, saya mau tanya sesuatu yang tidak enak. Mediasi pertama, Dania mengi tepat waktu Keanu bangkit meninggalkan sesi. Hari sidang itu, tangisnya pecah tepat setelah dia selesai berbicara. Dua kali.”
“Ibu sedang menanyakan apakah itu sandiwara.”
“Saya tidak mau menjadi orang yang mengira semua tangisan itu sandiwara.”
“Saya psikiater Ibu, bukan psikiater Dania. Saya tidak akan menilai orang yang tidak pernah duduk di kursi ini.” Dokter itu menutup bukunya di atas jari telunjuk, penanda halaman. “Tetapi mencatat bukan menuduh. Tulis kapan, di mana, apa yang terjadi sebelumnya, siapa yang sedang bergeser dari siapa. Catat saja, jangan simpulkan. Kalau polanya memang ada, dia akan berbicara sendiri.”
*
Sore itu Asti datang ke vila membawa sebuah vas besar berisi lili putih. Kuncup-kuncupnya baru separuh terbuka, dan baunya memenuhi dapur kecil sampai Kalila harus membuka jendela.
“Datang ke studio jam sepuluh tadi, Bu. Kurirnya bilang sudah dibayar lunas.” Asti mencabut kartu kecil dari sela tangkai dan menyerahkannya. “Saya tidak berani menaruhnya di tempat sampah sebelum Ibu lihat.”
Maaf soal hari itu, Kalila. Aku takut sendirian. Semoga kita bisa baik-baik. — D.
Ponsel Kalila bergetar di meja. Nomor yang sama, pesan yang sama, ditambah satu tanda hati kecil di ujungnya. Dia menaruh kartu dan ponsel berdampingan, dan baru sadar betapa rapi tulisan tangan di kartu itu, setiap huruf berdiri tegak seperti anak sekolah yang tahu gurunya akan memeriksa.
“Bunganya taruh di luar saja, Asti. Dan tolong jangan ada yang menuliskan alamat vila di mana pun.”
“Baik, Bu.” Asti ragu sebentar. “Ada satu lagi. Bukan bunga.”
Dia menyodorkan ponselnya sendiri. Akun gosip yang sama, unggahan yang baru semalam. Foto dapur terbuka panti itu lagi, tetapi dari bingkai yang berbeda: Kalila menerima gambar krayon dari tangan anak kecil, Julian berdiri satu meter di sebelahnya. Keterangannya pendek. Gugatan balik boleh dicabut, tapi foto ini tidak bisa ditarik.
Kalila memotret layar itu, mengirimkannya ke pengacara, lalu menelepon. Suara di seberang menjawab pada dering kedua.
“Saya sedang membandingkannya, Bu,” katanya sebelum Kalila bicara. “Lampiran gugatan balik yang dicabut itu masih ada di berkas saya, bukti satu sampai tiga. Saya taruh unggahan ini di sebelahnya.”
“Dan?”
“Resolusinya sama, dan terlalu tinggi. Di unggahan ini kancing jaket anak kecil itu bisa dihitung satu per satu. Tangkapan layar tidak setajam itu, bahkan foto dari ponsel pun tidak, kecuali dari jarak dekat. Ini diambil dengan lensa panjang, dari seberang pagar, dan yang mengunggahnya memegang berkas aslinya, bukan salinan yang beredar di pengadilan.”
“Berkas aslinya ada pada siapa?”
“Itu yang akan saya telusuri.” Terdengar bunyi kertas dibalik. “Simpan semua tangkapan layar, Bu, lengkap dengan tanggal dan jamnya. Jangan membalas di mana pun. Jangan menelepon siapa pun tentang ini kecuali saya.”
Kalila memutus sambungan. Asti membawa vas itu keluar dan menaruhnya di bangku teras, dan untuk beberapa saat dapur terasa lega.
Dari laci meja dia mengambil buku kecil bersampul polos, pemberian dokter pengganti, dan membukanya di halaman pertama. Dia menulis dengan tulisannya yang kecil dan datar.
Mediasi pertama: Dania mengi di koridor, Keanu bangkit meninggalkan ruang sidang. Reda begitu Keanu mengajaknya ke ruang kesehatan.
Pengadilan, Kamis: Keanu berdiri, mengatakan hadir untuk mendengar. Tidak sampai satu jam kemudian Dania ada di toilet, menangis tepat setelah kalimat terakhirnya.
Dia berhenti dan membaca ulang kedua baris itu. Lalu menambahkan baris ketiga, hampir tanpa sadar. Keduanya terjadi sesudah Keanu bergeser satu langkah menjauh.
“Ibu menulis apa?” tanya Asti dari ambang pintu.
“Catatan.” Kalila menutup buku. “Belum kesimpulan.”
Dari halaman, bau lili terbawa masuk bersama angin, manis dan pekat. Lidahnya masih tidak merasakan apa-apa, tetapi hidungnya bekerja, dan hidungnya mengatakan ada sesuatu yang terlalu harum untuk sebuah permintaan maaf.