Kalila duduk di bangku penggugat dengan tangan terlipat di pangkuan dan lidah yang masih diam, lima hari sesudah teh yang tak terasa di teras vila. Lima pagi berturut-turut dia menaruh sebutir garam di ujung telunjuk. Lima pagi berturut-turut tidak ada apa-apa. Dokter pengganti hanya berkata pelan, rasa Ibu mengikuti ketenangan, dan jangan menghitung hari. Tetapi pagi ini dia menghitung, sebab di seberang ruang sidang, hanya terpisah lorong sempit di antara dua barisan bangku, Keanu duduk dengan punggung lurus dan map biru yang kini tak dia bawa.
Dia tidak menoleh. Kalila tahu itu karena dia sendiri yang menahan diri tidak menoleh lebih dulu.
Sebagai gantinya dia memandang bangku pengunjung. Mama duduk di baris kedua dengan tas di pangkuan dan mengangguk kecil ketika matanya bertemu. Tak ada Eyang, dan tak ada Julian; Kalila tidak bertanya pada dirinya mengapa dia menghitung kekosongan itu. Di baris paling belakang, dekat pintu, dia melihat gaun biru muda dan rambut yang diurai rapi. Dania. Seorang diri. Perempuan itu mengangkat saputangan ke sudut matanya begitu tatapan mereka bertemu, dan Kalila memalingkan wajah.
Hakim ketua membuka sidang, menanyakan kehadiran, lalu mempersilakan kuasa hukum tergugat. Pengacara berambut perak itu berdiri, merapikan jasnya, dan untuk sesaat Kalila melihat sesuatu yang aneh di wajahnya: ketidakrelaan yang dibungkus profesionalisme.
“Yang Mulia, atas arahan klien kami, tergugat dengan ini mencabut gugatan balik yang diajukan pada sidang sebelumnya, baik dasar nusyuz maupun dasar dugaan hubungan khusus, berikut seluruh bukti satu sampai tiga.”
Gumaman halus merambat di bangku pengunjung. Hakim ketua mengangkat kepala dari berkas.
“Saudara Tergugat.” Dia memanggil langsung. “Pencabutan ini kehendak Saudara sendiri tanpa paksaan?”
Keanu berdiri. “Ya, Yang Mulia.”
“Dan terhadap gugatan pokok penggugat, bagaimana sikap Saudara?”
Keanu diam sebentar. Kalila memandang punggungnya yang kaku, bahu yang lebih sempit dalam jas yang sama.
“Saya tidak menyetujui perceraian ini, Yang Mulia. Itu tetap sikap saya.” Suaranya tidak keras, tetapi seisi ruangan menegang menunggu. “Tetapi saya tidak akan membantah satu pun dalil penggugat. Saya hadir untuk mendengar.”
Hakim ketua menatapnya lama, lalu mengetuk berkas dengan ujung pulpen. “Dicatat. Majelis menjadwalkan sidang pembuktian Senin, sebelas hari dari sekarang. Kedua pihak diharapkan menghadirkan saksi dan dokumen. Sidang ditutup.”
Palu berbunyi satu kali. Kalila baru sadar dia menahan napas sejak kalimat Keanu tadi.
Di lorong sempit itu dia sempat melihat tangan Keanu yang terlepas dari sandaran bangku, ruas jarinya putih, seperti tangan orang yang baru berhenti mengepal. Dulu tangan itu mencengkeram pergelangannya di ruang tamu. Hari ini tangan itu diam di sisi tubuh dan tidak meminta apa-apa.
Keanu berdiri lebih dulu. Dia merapikan jasnya, berbalik, dan ketika matanya bertemu mata Kalila di lorong sempit antara dua barisan bangku, dia hanya mengangguk sekali. Tidak mendekat. Tidak membuka mulut. Dia melangkah ke samping dan memberi jalan, seperti orang yang belajar bahwa hadir bisa berarti menyingkir. Pengacaranya menyusul dengan wajah kaku, dan Kalila mendengar bisikan tajam yang tidak dia tangkap artinya.
Mama menunggu di pintu. Dia menyentuh lengan Kalila sekilas.
“Dania ada di belakang, Nak.”
“Aku tahu, Ma.”
“Eyang menunggu kabar di rumah. Nanti Mama telepon. Tapi jangan sendirian.”
“Saya bersama pengacara saya.” Kalila tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”
*
“Jangan salah paham.”
Pengacara Kalila berjalan di sisinya di koridor pengadilan yang ramai, langkahnya cepat meski usianya hampir enam puluh. Dia membawa map di dada dan tidak menoleh ketika bicara.
“Ini bukan kemenangan. Ini hanya satu senjata disingkirkan dari meja. Gugatan pokok Ibu tetap harus dibuktikan, dan pihak sebelah masih punya kemampuan menyulitkan. Tuan Keanu hari ini tampak berbeda, tetapi di ruang sidang orang bisa tampak apa saja.” Dia berhenti sejenak di depan jendela koridor. “Dua hari lagi saya butuh daftar saksi dari Ibu: Asti, Mbok Darmi, dan dokter pengganti bila beliau bersedia. Surat serah-terima perawatan dan rekaman CCTV sudah saya jilid. Selebihnya tinggal kejujuran Ibu di kursi saksi.”
“Saya tahu, Pak.”
“Saya hanya tidak ingin Ibu pulang dan mengira ini selesai.”
“Saya tidak mengira begitu.” Kalila mengatur napas. “Pak, saya perlu ke toilet sebentar. Tunggu di sini?”
“Tentu. Saya akan menelepon kantor.”
Toilet perempuan di lantai dua gedung pengadilan berlantai keramik abu-abu dan berbau karbol. Lampu neon berkedip pelan di atas deretan wastafel. Kalila membasuh tangan dengan air dingin, lama, sampai buku jarinya memerah. Dia menatap cermin. Perempuan di sana tampak lebih tua dari dua puluh delapan. Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali bercermin tanpa menghitung sesuatu, hari tanpa rasa, jumlah butir garam, sisa hari menuju sidang, dan tidak menemukan hari itu.
Pintu terbuka di belakangnya.
Dia mengenal langkah itu sebelum melihatnya: kecil, ringan, seolah tak ingin diganggu oleh lantai. Dania berdiri di ambang dengan gaun biru muda dan tas kecil di bahu, wajahnya pucat dan tenang. Tidak ada Keanu. Tidak ada Mbok Darmi. Sebuah senyum tipis ada di bibirnya.
“Halo, Kalila.”
“Dania.”
“Kamu tampak lelah. Dan kurus. Keanu pasti sedih melihatnya.” Dania maju dua langkah, menaruh tas di tepi wastafel di sebelah Kalila. “Aku duduk di belakang tadi. Kamu tidak melihatku, tapi aku melihatmu. Kamu hampir menangis waktu Keanu bicara.”
“Aku tidak menangis.”
“Mungkin kamu belum sadar.” Kalila mengenali caranya: kekhawatiran yang manis, lalu luka diselipkan di dalamnya tanpa suara. Dania memutar keran, membasahi ujung jarinya, dan menyentuhkannya ke pelipis seperti seseorang yang hendak pingsan. “Kamu pikir kamu menang, ya? Pencabutan itu. Cara dia berdiri tadi seolah-olah dia minta maaf pada seluruh dunia.”
Kalila mengeringkan tangan dengan tisu dan tidak menjawab. Di cermin dia melihat Dania memperhatikannya, bukan wajahnya, tetapi tangannya, menunggu gemetar yang tidak datang.
“Dia tidak pernah mencintaimu seperti dia mencintaiku,” kata Dania, lembut, dengan nada orang membacakan fakta. “Kamu tahu itu. Aku sudah ada sebelum kamu, Kalila. Kamu hanya orang yang kebetulan ada ketika dia butuh rumah.”
Kalila meremas tisu itu menjadi gumpalan kecil dan menjatuhkannya ke tempat sampah. Dia menoleh dan menatap perempuan itu, sungguh-sungguh menatap, untuk pertama kali tanpa sedikit pun merasa kecil.
“Kalau itu benar,” katanya pelan, “kamu tidak perlu mengatakannya.”
Dania mengerjap.
“Orang yang yakin tidak berdiri di toilet pengadilan untuk meyakinkan orang lain. Dia sudah pulang ke rumah.” Kalila mengambil tasnya. “Sehat selalu, Dania.”
Senyum di wajah Dania tidak pudar. Justru dia melebar sedikit, tipis dan dingin, dan untuk sekilas Kalila melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik mata berkaca-kaca: ketenangan yang tidak ada hubungannya dengan kesedihan.
“Kamu akan menyesal mengatakan itu.”
Dania masuk ke salah satu kabin, menutup pintunya dengan bunyi klik halus. Kalila sudah menarik gagang pintu keluar ketika terdengar suara dari balik daun pintu kabin itu, rendah, nyaris berbisik, ditujukan pada tak seorang pun.
“Lihat saja siapa yang ditinggalkan.”
Lalu tangis itu pecah. Kencang, bergetar, penuh sedu, terlalu cepat dan terlalu rapi, seperti keran yang dibuka tepat setelah kalimat terakhir selesai.