"Jangan langsung bergerak, Nyonya Syailendra. Cairan infusmu baru berjalan setengah," sebuah suara bariton yang dalam, tenang, dan dipenuhi wibawa terdengar dari sisi kanan ranjang.
Aroma parfum lama yang mendadak memicu memori masa lalu Kalila, tentang badai di malam itu, tentang pengabaian Keanu.
Kalila menoleh. Seorang pria jangkung dengan baju dokter warna hijau berdiri di sisi kanan ranjang. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang tegas. Garis rahang yang tajam, bahu lebar, dan postur yang tegak membuatnya tampak seperti Dewa Yunani versi manusia yang terlalu sempurna untuk ruang rumah sakit.
Nama yang tertera di dadanya dr. Julian Baskara Sp.PD-KPsi. Pria tampan, kaya raya dengan fisik sempurna yang digilai banyak gadis. Ah, tidak hanya gadis kok karena yang non-gadis juga menggilai Julian.
Julian adalah paman Keanu, adik almarhum sang papa.
"Paman... Julian?" cicit Kalila, suaranya serak. Dia mengenali dokter itu. Julian adalah paman kandung Keanu yang berusia dua tahun lebih muda. Dia adik bungsu dari mendiang ayah Keanu walau beda bapak karena nenek Keanu menikah lagi. Hubungan darah membuat wajah Julian memiliki kemiripan dengan Keanu, tapi pembawaan Julian jauh lebih matang dan tenang.
Julian berdiri membungkuk di atas ranjang setelah tadi jemari rampingnya dengan telaten mengganti infus. Wajah tampannya yang biasanya tenang kini terlihat tegang, rahangnya mengeras, alis bertaut tipis seolah menahan badai di dalam d**a.
“Kenapa aku di sini?” Kalila mengerang pelan. Pandangannya masih kabur saat bertemu dengan mata Julian yang dalam. Kalila mencoba bangkit tapi tiba-tiba dunia berputar.
Julian meletakkan iPad medis kemudian meletakkan satu tangan di bahu Kalila, menahannya dengan lembut. "Lama tidak berjumpa, Kalila. Terakhir kali kita bertemu adalah saat kamu pingsan tiga tahun lalu sebelum aku berangkat ke Inggris. Dan sejujurnya, aku tidak menyangka akan menemuimu kembali di IGD rumah sakitku sendiri dengan kondisi sekritis ini."
Mata Kalila berkedip pelan saat kesadarannya kembali secara sempurna. Dia mencoba tersenyum, meski wajahnya masih pucat. “Maaf jadi merepotkan Paman. Tadi di dapur tiba-tiba gelap semua. Aku tidak ingat apa pun kecuali jeritan anak-anak yang panik.”
“Julian,” koreksi pria itu cepat, suaranya terdengar rendah. “Hanya Julian. Selisih umur kita hanya tiga tahun, Kalila." Julian tersenyum tipis, tangannya tanpa sadar merapikan selimut di d**a Kalila dengan gerakan yang terlalu lembut untuk seorang dokter.
“Tapi…” tentu Kalila tidak enak hati, menolak ide itu.
“Sst… jangan banyak bicara dulu,” gumam Julian lembut, “tekanan darahmu turun drastis. Istirahatlah, nanti aku akan atur obatnya agar besok sudah bisa kembali ke dapur.” Matanya sesaat tertahan lebih lama di wajah Kalila yang pucat, sebelum dia buru-buru mengalihkan pandang ke monitor detak jantung.
"Aku... aku hanya kelelahan bekerja, dok," elak Kalila, bingung karena Julian tidak mau dipanggil dengan sebutan 'Paman' sesuai hierarki keluarga.
Julian menarik sebuah kursi, duduk di samping ranjang Kalila, lalu melepas kacamatanya. Seketika cahaya lampu menyapu iris kebiruannya yang dingin, "Julian, Kalila. Kelelahan bekerja tidak akan membuat sel imun tubuhmu drop drastis hingga memicu peradangan lambung kronis. Hasil pemeriksaan fisikmu bersih. Tapi, tubuhmu sedang melakukan penolakan fisik akibat stres emosional tingkat tinggi yang tertahan terlalu lama. Dalam duniaku, ini disebut severe psychosomatic disorder akibat silent depression."
Silent depression?
Kalila meringis mendengar itu. Lelaki di depannya ini seorang internis yang melanjutkan pendidikan subspesialisasi untuk menangani masalah kesehatan yang berkaitan dengan hubungan antara pikiran, mental, dan kondisi fisik tubuh. Tentu saja dia tidak bisa berbohong.
Julian menatap lekat jemari Kalila yang kurus, "sebagai doktermu, aku berkewajiban menyelamatkan fisikmu. Tapi sebagai paman di keluarga... aku berhak tahu apa yang dilakukan keponakanku hingga istrinya kehilangan keinginan untuk bangun setiap pagi?" Tanya Julian lembut. Dia menatap intens wajah pucat Kalila, seolah ingin menghafal setiap garis wajah perempuan yang sudah tiga tahun ini menyiksa hatinya diam-diam.
Air mata Kalila menggenang di pelupuk, tapi dia menahannya. Validasi yang datang dari suara lembut Julian justru lebih menyakitkan daripada pengabaian Keanu selama ini. Kalila menggigit bibir bawah mencegah lolosnya isakan hingga membuat bahunya bergetar pelan.
Sebelum Kalila sempat menjawab, pintu kamar VIP itu terbuka kasar. Keanu melangkah masuk dengan napas memburu, masih mengenakan kemeja kantornya yang sedikit kusut. Asti pasti telah menghubunginya.
"Kalila! Apa lagi yang kau lakukan…" Kalimat bentakan Keanu seketika terputus saat dia melihat sosok pria yang duduk di samping ranjang istrinya.
Keanu membeku. Matanya membelalak. "Paman Julian? Kapan Paman kembali dari London?"
Julian berdiri dengan tenang, memasukkan tangan ke dalam saku baju dokternya, lalu berbalik menghadap Keanu. Meskipun Keanu lebih tua secara usia dan memiliki postur yang sedikit lebih kekar, aura otoritas Julian sebagai perwakilan tertua dari garis ayah Keanu langsung terasa mendominasi ruangan.
"Tiga hari yang lalu, Keanu," jawab Julian, suaranya terdengar datar tapi menusuk, “jadi beginikah caramu menyapa istrimu yang baru saja kolaps di tempat kerjanya? Dengan bentakan? Begitu Keanu? Apa kata mamamu kalau tahu hal ini?"
Keanu berdeham, egonya terusik di depan pamannya. Dia melirik Kalila yang tetap menatap kosong ke luar jendela, mengabaikan kehadirannya.
"Gak gitu, Julian, aku hanya cemas. Belakangan ini Kalila sering membuat drama. Dia bahkan pindah ke kamar pelayan hanya karena masalah sepele." Keanu segera mengubah panggilannya ke Julian karena merasa dia lebih tua.
"Masalah sepele?" Julian maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata keponakannya dengan sorot mata kesal, "Keanu, istrimu menderita depresi klinis akut. Tubuhnya menolak makanan karena otaknya terus-menerus mengirimkan sinyal trauma dan stres. Lambungnya terluka parah bukan karena salah makan, tapi karena jiwanya disiksa oleh ketidakpedulianmu."
Wajah Keanu memucat mendengar penjelasan medis dari pamannya, “kok aku yang disalahkan? Kamu tidak tahu apa-apa tentang rumah tangga kami. Kalila hanya cemburu buta karena aku membantu Dania. Mendian suaminya adalah sahabatku…"
"Aku tahu segalanya tentang Dania, Keanu," kali ini Julian yang memotong, "mertua Dania meminta tolong padaku untuk ikut mengurus garis bisnis mendiang anaknya," potong Julian cepat, tegas dan dingin. "Menjaga amanah sahabat adalah hal terpuji. Tapi, mengabaikan istri sahmu hingga dia mengidap psikosomatis berat dan kehilangan indra perasanya... itu bukan amanah. Itu merupakan kejahatan domestik yang egois, Keanu." Jawab Julian sangat tegas.
Keanu kaget. Informasi bahwa Kalila kehilangan indra perasanya malah dia dengar dari orang lain, bukan dari bibir Kalila sendiri. Dia teringat kejadian gala makan malam, saat dia menuduh Kalila sengaja merusak makanan karena cemburu dan sengaja ingin merendahkan imejnya. Ternyata, Kalila memang sedang sakit.
"Kalila..." Keanu melangkah mendekati ranjang, berniat menyentuh tangan Kalila.
"Jangan menyentuhku, Tuan Keanu," suara Kalila terdengar lirih, tapi begitu tegas untuk memotong gerakan Keanu. Dia bahkan tidak mau menoleh pada suaminya. "Dokter Julian, bisakah dokter meminta orang asing ini keluar dari ruangan ini? Aku butuh ketenangan."
Kata 'orang asing' yang keluar dari mulut Kalila membuat rahang Keanu mengeras karena marah dan malu. Dia merasa Kalila sengaja menghinanya, "Kalila! Aku ini suamimu!"
Julian mengangkat tangan, suaranya datar tapi penuh otoritas yang tidak bisa diabaikan, “Keanu Syailendra. Keluar dari ruangan ini. Sekarang. Sebagai kepala tim medis, aku melarangmu menjenguk hingga kondisi psikologis pasien stabil. Dan sebagai pamanmu… aku akan memastikan mamamu tahu persis bagaimana putranya memerlakukan istrinya.”
Keanu mengepalkan tinjunya erat hingga buku jarinya memutih. Rasa cemburu, marah, dan harga diri yang terluka bercampur aduk di dadanya. Dia melihat bagaimana Kalila begitu patuh dan percaya pada Julian, sementara terhadap dirinya, Kalila hanya menyisakan dinding es.
Tanpa bisa melawan otoritas sang paman yang memegang kendali medis atas Kalila dan posisi keluarga, Keanu terpaksa berbalik dan melangkah keluar dari kamar rawat dengan kesal serta amarah yang mulai membakar hatinya.
Di dalam kamar, Julian kembali duduk di samping Kalila, meletakkan tangannya dengan sopan di atas selimut. “Kamu aman di sini,” bisiknya, “mulai hari ini, aku yang akan menjadi dokter sekaligus pelindungmu, Kalila.”
Kalila menoleh perlahan. Julian menahan napas saat melihat mata indah itu kuyu, tidak bersinar. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya bertemu langsung dengan mata Kalila. Julian hanya berharap sorot matanya tidak menunjukkan rasa rindu teramat sangat pada Kalila, yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Di luar kamar, sosok Keanu terlihat samar di balik kaca buram pintu, diam dan mengawasi.