Empat hari kertas lipatan itu tinggal di saku dalam jas Keanu, dan setiap malam dia mengeluarkannya, membacanya, lalu menyimpannya lagi. Pada hari kelima dia memakainya. Taksi yang dia panggil berhenti di ujung jalan tanah dekat sebuah panti asuhan tua, dan Keanu turun dengan map biru di tangan dan jantung berdetak seperti anak yang datang menghadap guru.
Sepanjang jalan dia menyusun kalimat dan membuangnya satu per satu. Sopir taksi sempat bertanya apakah dia hendak ke rumah sakit, sebab wajahnya, kata sopir itu, seperti orang yang akan diperiksa. Keanu menjawab tidak, dia hanya hendak menemui seseorang, dan sopir itu cukup bijak untuk tidak bertanya lagi.
Di teras vila, Kalila sedang menaruh sebutir garam kasar di ujung telunjuknya.
Itu latihan yang disuruh dokter pengganti: setiap pagi, satu butir, satu rasa, tanpa berharap. Pagi ini dia menempelkannya ke lidah dan menunggu. Asin. Sangat tipis, seperti bisikan dari ruangan sebelah, tetapi ada. Dia menyeduh teh melati setelahnya dan duduk dengan cangkir di tangan, bibirnya hampir tersenyum, ketika suara roda di jalan tanah membuatnya mengangkat kepala.
Dia melihat jas gelap. Dia melihat langkah yang dia kenal sampai ke ritmenya.
Cangkir di tangannya tidak bergetar. Itu yang paling dia syukuri.
“Siapa yang memberi alamat?” tanyanya sebelum Keanu sempat membuka mulut.
“Mama.”
“Mama.” Kalila meletakkan cangkir ke meja rotan. “Berdiri di situ, Tuan Keanu. Tidak usah naik.”
Keanu berhenti di bawah anak tangga teras. Dia menurunkan map biru dari bawah lengannya dengan gerakan hati-hati, tetapi tidak menyodorkannya. Matahari pagi jatuh di bahunya dan memperlihatkan kerut-kerut di sekitar mata yang belum pernah ada tiga bulan lalu.
“Aku sudah bicara dengan Asti. Aku sudah membaca ini.” Suaranya serak. “Aku tahu soal malam ketujuh, Kalila. Aku bertemu investor itu di gala. Dia yang mengatakannya.”
Kalila tidak bergerak. Ada masa ketika dia membayangkan kalimat-kalimat seperti ini diucapkan di depan pintu kamar rawat, dan dia akan menjatuhkan diri ke dalamnya seperti orang menangkap tali. Sekarang tali itu datang terlambat, dan dia mendapati tangannya tidak lagi terulur.
“Malam itu kamu tidak jatuh karena menolak menurut. Kamu jatuh setelah menyelesaikan satu kesepakatan yang menaikkan perusahaanku. Dan sesudahnya, di kamar rawat, aku ...” Dia menarik napas, lalu memaksa dirinya tidak memalingkan wajah. “Aku bilang kamu lebih mementingkan bisnis katering itu daripada anak kita. Aku bilang aku melarangmu. Kamu tidak membela diri. Aku mengira itu pengakuan.”
“Aku memang tidak membela diri.”
“Aku tahu. Karena kamu tidak punya tenaga, dan karena aku tidak memberi ruang.” Dia menggigit pangkal lidahnya sampai nyeri. “Aku minta maaf. Bukan hanya soal malam itu. Soal martabak juga. Aku menuduhmu meracuni Dania, dan CTM yang kamu berikan justru menyelamatkannya. Julian bilang begitu, dan aku tidak mau percaya karena itu keluar dari mulut Julian. Aku salah. Aku salah dalam banyak hal sekaligus dan aku baru tahu setelah harus membaca catatanmu.”
Kalila memandanginya. Di bawah meja, jarinya mengusap pinggir tatakan cangkir, pelan, berulang.
“Itu belum semuanya,” kata Keanu. “Ada dua yang harus kukatakan. Pertama, gugatan balik itu. Aku sudah menyuruh pengacaraku mencabutnya. Di sidang berikutnya.” Dia mengangkat dagu. “Aku tidak menyuruh mereka menulis nama Julian. Tapi aku juga tidak menyuruh mereka berhenti, seperti katamu. Itu salahku. Aku tidak mau menutupinya dengan kata ‘tidak sengaja’.”
“Dan yang kedua?”
Wajah Keanu mengeras sebentar sebelum mengendur. “Pemasok. Kontrak katering kantor. Klien-klien yang tiba-tiba membatalkan. Itu semua perintahku, Kalila. Pada hari kamu pergi, aku sedang marah dan aku mengucapkan sesuatu pada kepala pembelian, sesuatu yang tidak kuingat. Mereka menafsirkannya sebagai perintah. Aku baru tahu minggu lalu. Aku sudah mencabutnya lewat dia, semua yang masih bisa dicabut. Tak seorang pun perlu berterima kasih. Aku hanya memberi tahu supaya kamu tidak mendengarnya dari orang lain.”
Burung di pohon mangga dekat pagar berkicau dua kali dan berhenti, seakan ikut menahan napas.
Kalila berdiri perlahan. Dia menuruni satu anak tangga, tidak lebih, dan menatap Keanu dari jarak yang cukup untuk melihat matanya yang cekung.
“Aku mendengar,” katanya.
Keanu menunggu kelanjutan. Kelanjutan itu tak pernah datang.
“Hanya itu?”
“Hanya itu. Aku bilang aku mendengar. Aku tidak bilang aku memaafkan.” Suaranya datar, tetapi di baliknya ada sesuatu yang berat dan mapan, seperti batu yang sudah lama di dasar sungai. “Aku tidak akan berbohong untuk menenangkanmu. Kamu datang membawa permintaan maaf, dan aku menerimanya sebagai fakta bahwa kamu sudah tahu. Itu saja.”
“Aku mengerti.”
“Dan satu hal lagi.” Kalila melipat tangan di dada. “Kamu bilang kamu mencabut semua yang menekan studioku. Aku tidak membalas dendam, Keanu. Aku pergi. Orang yang membalas masih peduli menang. Aku sudah tidak peduli.”
Kata terakhir itu melukai lebih dalam daripada kemarahan. Keanu menerimanya tanpa mengelak.
“Saham yang dulu kamu berikan ke studioku,” lanjutnya, “akan kukembalikan lewat pengacaraku minggu ini. Bukan karena aku butuh uang atau karena aku mau kita impas. Karena yang kuminta dulu hanya satu: kamu berhenti. Dan kamu berhenti sekarang. Jadi tidak ada yang perlu kuambil darimu.”
Ponsel di saku Keanu bergetar.
Keduanya menunduk bersamaan. Keanu mengeluarkan benda itu dan melihat layar. Dania. Getarannya berhenti, lalu mulai lagi.
Dia menatap layar itu beberapa detik. Kalila memperhatikan wajahnya, mencari ekspresi lama, gerak bahu yang dulu otomatis berbalik ke arah panggilan itu. Gerak itu absen. Keanu menekan tombol samping dan layar menjadi gelap.
“Dia akan terus menelepon,” katanya.
“Itu urusanmu.”
“Ya.” Keanu menyimpan ponsel. Lalu, dengan suara lebih rendah, “Aku akan datang ke setiap sidang, Kalila. Bukan untuk menolak. Aku sudah tidak punya tenaga menolak. Aku akan datang untuk mendengar.”
“Terserah kamu.”
“Itu cukup.”
Dia mengangkat map biru sedikit. “Ini milikmu. Aku tidak tahu harus kukembalikan atau kusimpan.”
“Simpan.” Kalila menggeleng. “Aku yang menulisnya. Aku tidak perlu membacanya lagi.”
“Kamu kurus sekali.”
“Kamu juga.” Sudut bibir Kalila bergerak, bukan senyum, lebih mirip pengakuan. “Pulang dan makan, Keanu. Kamu terlihat seperti orang yang lupa caranya.”
Keanu menatapnya, dan sesuatu di wajah laki-laki itu bergeser, seperti orang yang baru diberi satu kalimat yang bisa dia pegang sepanjang jalan pulang. Dia mengangguk sekali, kaku, seperti menyelesaikan upacara kecil yang dia tidak yakin diperbolehkan. Lalu dia berbalik dan berjalan menyusuri jalan tanah ke arah taksi yang masih menunggu.
Kalila berdiri di teras sampai bunyi mesin menghilang.
Asti muncul di ambang pintu dengan baki kecil dan dua gelas air putih, lalu berhenti begitu melihat wajah Kalila.
“Ibu baik-baik saja?”
“Garamnya, Asti. Tadi pagi ada, sekarang hilang lagi.”
Asti meletakkan baki dan duduk di anak tangga tanpa banyak kata, dan itu cukup. Beberapa menit mereka memandangi jalan tanah yang kosong.
“Dia kelihatan tidak sombong lagi,” kata Asti akhirnya.
“Itu bukan urusan lidahku,” jawab Kalila, dan Asti tidak membantah.
Kemudian dia kembali ke kursi rotan, mengangkat cangkir tehnya yang tinggal separuh, dan menyesap.
Panas. Basah. Itu saja.
Dia meletakkan cangkir. Menjilat ujung telunjuknya yang masih berpasir garam, menunggu rasa yang pagi ini datang. Tidak ada apa-apa. Dia menunggu lebih lama. Teh itu dingin pelan-pelan di tangannya, dan butir garam tak lagi punya bahasa.