Kamis sore, tiga hari sesudah studio, Keanu pulang lebih awal dan menemukan dapur rumahnya berbau bawang goreng.
Dania berdiri di depan kompor dengan celemek yang bukan miliknya, rambut disanggul seadanya, wajah penuh uap. Mbok Darmi berdiri di sudut dengan tangan terlipat dan tak mengatakan apa-apa. Di meja ada semangkuk sup ayam yang berkuah keruh, jahe terlalu banyak, daun bawang dipotong tidak rata.
“Aku masak sendiri,” kata Dania, berseri. “Aku sudah bilang akan buatkan sup. Cobalah.”
Keanu duduk di kursi yang dulu ditempati Kalila setiap pagi pukul lima, dan menyendok sedikit. Dia mengaduk lebih lama daripada perlunya, sebab dia tahu apa yang akan dia dapatkan. Panas. Hanya panas. Dia menelan.
“Enak?” tanya Dania.
Dia menatap mangkuk itu dan teringat suara Mbok Darmi di lorong tiga malam lalu: Mas tidak pernah bertanya soal Mbak Kalila, kecuali kalau ada yang salah. Dan dia teringat pula bahwa dia tidak bisa membedakan sup Dania dari sup siapa pun.
“Panas,” katanya.
Wajah Dania bergeser, nyaris tak kentara. “Itu bukan jawaban.”
“Aku harus ke rumah Mama.”
“Tiap hari? Kamu baru pulang.”
“Ya, Dania. Tiap hari, untuk sementara.” Dia berdiri, mengambil kunci mobil dari meja, dan berhenti di ambang pintu dapur. “Terima kasih supnya.”
Dia tidak menoleh. Di belakangnya terdengar sendok beradu panci, terlalu keras.
Mbok Darmi menyusulnya sampai garasi dengan langkah tertahan, membawa kantong plastik berisi jeruk dari kulkas.
“Buat Ibu,” katanya, lalu cepat-cepat meralat, “buat Nyonya Besar.”
“Mbok.”
“Mbok cuma bilang, Mas.” Perempuan tua itu menunduk menatap sandalnya. “Dulu sup Mbak Kalila tidak pernah keruh. Dia bangun jam lima bukan karena disuruh. Dia bangun karena Mas sering pulang larut dengan perut kosong, dan dia tidak pernah mengatakannya.”
Keanu menerima kantong itu dan tak menemukan jawaban yang pantas. Dia hanya mengangguk, menyalakan mesin, dan baru di tikungan pertama menyadari tangannya mencengkeram setir terlalu erat.
*
“Tidak.”
Mama mengucapkannya sambil meletakkan semangkuk soto di depan Keanu, tanpa menaikkan nada, dan karena itu kata itu mendarat lebih berat daripada bentakan mana pun. Ruang makan di rumah Mama masih sama seperti ketika Keanu kecil: meja jati panjang, taplak kuning gading, lampu gantung dengan kap kain yang kusam. Hanya kursi di ujung meja, tempat ayahnya dulu duduk, kini selalu kosong.
“Ma, aku hanya minta alamatnya. Aku tidak akan membuat kegaduhan.”
“Kamu sudah membuat kegaduhan sejak kamu lahir, Keanu.” Mama menarik kursi dan duduk di seberangnya. “Makan dulu.”
Keanu memegang sendok, mengaduk kuah yang mengepul, dan memasukkannya ke mulut. Hangat. Dia mengunyah potongan ayam dan bihun seperti mengunyah kertas basah. Mama memperhatikannya tanpa berkata, dan tatapan itu lama-lama membuatnya tahu bahwa Mama tidak sedang menghitung berapa suap yang masuk, melainkan berapa lama dia sanggup bertahan sebelum meletakkan sendok.
“Aku sudah membaca map biru,” katanya akhirnya. “Aku bertemu Asti hari Senin. Aku sudah tahu soal malam ketujuh, Ma. Aku harus bicara dengan Kalila.”
“Bicara apa?”
“Aku harus ...” Dia berhenti. “Aku harus minta maaf.”
“Untuk apa kamu minta maaf?”
“Untuk semuanya. Untuk yang aku katakan di rumah sakit. Untuk yang aku tuduhkan.”
“Dan setelah kamu minta maaf, apa yang kamu harapkan?”
Keanu tidak menjawab. Sendok di tangannya berhenti di udara.
“Kamu harap dia memaafkanmu. Kamu harap dia menangis, atau mengangguk, atau berkata semua baik-baik saja.” Mama menyatukan kedua tangannya di atas taplak. “Nak, Mama bukan menolakmu. Mama menolak kamu datang ke depan pintu itu dengan rasa bersalah sebesar rumah dan menyuruh dia memikulnya. Rasa bersalah itu minta diampuni. Kalila tidak punya tenaga mengampuni siapa pun sekarang. Dia baru belajar berdiri.”
“Lalu aku harus bagaimana, Ma? Berdiam diri?”
“Datanglah sebagai orang yang sudah selesai dengan rasa bersalahnya.” Mama menatap lurus. “Bukan orang yang ingin menghapusnya.”
Hening. Jam dinding di ruang tamu berdetak, sekali, dua kali.
“Baca ulang pesan terakhir Tanto,” kata Mama.
Keanu mengerutkan dahi. “Ma, aku sudah ...”
“Kata demi kata. Keluarkan ponselmu.”
Dia meraih ponsel dari saku dan membuka pesan itu. Dia tidak pernah menghapusnya. Dia tidak pernah berani. Layarnya sudah menguning di beberapa bagian oleh ingatan, karena dia membukanya begitu sering. Dia membacanya keras-keras, suaranya makin lama makin pelan.
“Keanu, kalau terjadi apa-apa padaku di lapangan ... tolong bantu jaga Dania sampai dia mandiri. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Maaf dulu aku merebutnya darimu.”
“Sekali lagi.”
“Ma ...”
“Sekali lagi, Keanu. Pelan-pelan.”
Dia membacanya lagi. Lalu sekali lagi, dalam hati. Matanya berhenti pada satu titik di tengah kalimat dan terpaku di sana, seperti jarum kompas yang menemukan utara, tapi dia sendiri belum tahu mengapa.
“Aku sudah membacanya seribu kali,” katanya serak.
“Kamu membacanya sebagai perintah seumur hidup,” jawab Mama. “Cobalah membacanya sebagai kalimat.”
Keanu menunduk ke layar. Kata demi kata, dia mencoba mendengarnya bukan dengan suaranya sendiri, melainkan dengan suara Tanto yang dulu suka bercanda di pos jaga sambil mengaduk kopi sachet. Tolong bantu jaga. Sampai dia mandiri. Kata-kata itu selalu ada di sana, dan dia selalu membacanya terlalu cepat.
*
Mereka pindah ke teras belakang karena Keanu merasa dinding ruang makan menyempit. Malam sudah turun penuh, dan lampu taman menerangi pot-pot anggrek ayahnya yang Mama rawat dengan setia. Keanu duduk di bangku besi dengan siku di lutut, memandang kosong ke rumput.
Setelah beberapa menit dia mengeluarkan ponselnya lagi dan menelepon sebuah nomor yang dia hafal di luar kepala.
“Selamat malam, Pak Keanu.” Suara pengacara itu halus dan terlatih. “Saya baru hendak menelepon soal persiapan sidang. Ada ...”
“Cabut gugatan balik itu.”
Hening sesaat di ujung sana. “Maaf, Pak?”
“Gugatan balik. Nusyuz, dugaan hubungan khusus, semuanya. Cabut. Aku mau itu dicabut di sidang berikutnya.”
“Pak Keanu, saya paham Bapak sedang tertekan, tetapi gugatan balik itu satu-satunya posisi tawar kita. Kalau dicabut sekarang, kita menghadapi pembuktian tanpa apa-apa. Mohon pertimbangkan dulu. Kita bisa ...”
“Aku sudah mempertimbangkan.”
“Bapak belum membaca analisis saya soal foto-foto itu. Ada bahan tambahan yang ...”
“Aku tidak mau membaca.” Keanu menutup matanya. “Cabut.”
“Pak, dengan hormat, sebagai penasihat Bapak, saya keberatan. Itu bukan keputusan yang bijak.”
“Itu perintah.”
Kata itu keluar lebih dingin dari yang dia niatkan. Pengacara itu tidak langsung menjawab, dan dalam sepi itu Keanu mendengar sesuatu yang belum pernah dia dengar dalam suara pria tersebut: keraguan yang tidak berhasil dia sembunyikan.
“Baik, Pak,” kata pengacara itu akhirnya. “Saya siapkan.”
Keanu memutus sambungan. Telapak tangannya basah. Dia memandang rumput yang mulai berembun dan sempat berpikir bahwa keputusan sebesar itu seharusnya terasa seperti sesuatu, lega atau takut. Yang ada hanya ruang kosong yang rapi, seperti rak yang baru dikeluarkan isinya. Di belakangnya, pintu kaca teras bergeser pelan, dan Mama keluar dengan secarik kertas kecil di tangan serta sebatang pulpen.
“Kamu sudah mendengar dirimu sendiri tadi?” tanya Mama, duduk di sampingnya.
“Ya.”
“Seperti apa?”
“Seperti seseorang yang baru saja memotong benang yang dia pegang selama bertahun-tahun.” Keanu menggosok wajahnya. “Dan masih tidak tahu apakah itu benar.”
Mama tidak menjawab. Dia meletakkan kertas itu di lututnya, menulis dengan huruf yang tegak dan lambat, seperti menulis nama anak di buku pelajaran. Nama kampung, nomor rumah, patokan kecil. Lalu dia melipatnya dua dan tidak langsung menyerahkannya.
“Mama titipkan satu syarat. Bukan agar kamu mengambil.” Dia menatap anaknya. “Agar kamu memberi. Dengar, Nak?”
Keanu mengangguk, dan Mama meletakkan kertas itu di telapak tangannya yang masih gemetar.