Studio Reina’s Catering membuka pintu pukul tujuh pagi, dan Keanu sudah berdiri di trotoar seberang sejak pukul enam lewat sepuluh.
Dia tidak membawa sopir. Dia tidak membawa apa-apa kecuali map biru yang dia selipkan di bawah lengan, seperti pelajar yang takut disuruh mengumpulkan pekerjaan rumah yang belum selesai. Bangunan dua lantai itu lebih kecil daripada yang dia bayangkan. Papan namanya putih dengan huruf hijau tua, catnya mulai pudar di sudut, dan lampu di dalam menyala satu per satu mengikuti langkah orang yang tiba.
Seorang perempuan berseragam putih membuka kunci pintu dan menyadari sosok di seberang jalan. Dia berhenti di tengah gerakan. Keanu mengenalinya sebelum dia sempat menyembunyikan wajahnya: Asti.
Perempuan itu menyeberangi jalan dengan langkah tegas dan berhenti satu meter di depannya.
“Pak Keanu,” katanya. Bukan sapaan, melainkan pernyataan yang diletakkan seperti kartu di meja.
“Asti. Saya ingin bicara. Hanya sebentar.”
“Ibu tidak di sini.”
“Saya tahu. Saya tidak datang untuk Ibu Kalila.” Keanu menelan ludah. “Saya datang untuk tahu.”
Asti menatapnya cukup lama untuk membuat Keanu menyadari betapa kurus dan kusut dia pasti terlihat. Dia tidak mencukur jenggot tipis di rahangnya, tidak berganti kemeja sejak semalam, dan dasinya hanya disampirkan di bahu.
“Silakan masuk,” kata Asti akhirnya. “Tetapi saya tidak akan bicara sampai Bapak duduk.”
Dapur studio itu bersih dan kecil, lima kompor berjajar, dua meja stainless, dan di ujung ruangan sebuah rak kayu berisi toples bumbu yang ditempeli label tulisan tangan. Tulisan itu miring ke kanan. Keanu mengalihkan pandangan dari rak. Asti menunjuk bangku plastik, dan dia duduk. Asti sendiri berdiri di seberang meja dengan kedua tangan terlipat, tidak menawarkan teh.
“Bapak mau bertanya apa?”
“Kalila,” katanya. “Selama proyek itu. Perjamuan tujuh malam. Apa yang terjadi?”
Asti diam sejenak, lalu tertawa pendek tanpa humor. “Berbulan-bulan, Pak. Berbulan-bulan Bapak tidak bertanya, dan sekarang Bapak mau semuanya dalam lima menit.”
“Kalau kamu butuh lebih dari lima menit, saya punya waktu.”
Kalimat itu terdengar begitu putus asa sampai Asti mengerjap. Dia menurunkan lengannya pelan-pelan dan menarik bangku di seberang meja.
“Ibu menyusun portofolio itu tiga malam sebelum jamuan,” katanya. “Dia bilang ini kejutan untuk Pak Keanu, dan dia tidak mau saya cerita ke siapa pun. Dia tidur dua jam sehari. Di dapur pun dia membaca angka. Saya bilang istirahat dulu, Bu, nanti jatuh. Ibu jawab ...” Asti berhenti. Suaranya sedikit pecah. “Dua kontrak lagi, Asti, dan Pak Keanu akan bangga.”
Keanu menunduk. Di bawah meja, tangannya mengepal di atas lutut.
“Dia tidak pernah bilang dia lelah. Dia bilang, kalau nanti gagal, jangan sampai Pak Keanu merasa berutang apa-apa. Bapak dengar? Dia mau berbuat sesuatu untuk Bapak, dan dia mau Bapak tidak berutang.”
“Saya ...”
“Malam ketujuh Ibu jatuh di depan mata saya.” Asti memandang lurus. “Saya yang menelepon ambulans. Saya yang menelepon Bapak, tiga kali, dan baru diangkat yang ketiga. Bapak hanya bilang, aku datang.”
Napas Keanu tertahan. Dia ingat telepon itu, nada sambung yang dia biarkan berbunyi dua kali karena dia sedang rapat dan ponselnya terbalik di meja, dan suara perempuan yang gemetar di ujung sana. Dia tidak pernah bertanya siapa itu. Dia datang dua jam kemudian.
“Maaf,” katanya. Satu kata, tanpa tenaga.
“Itu bukan untuk saya, Pak.” Asti berdiri dan mengambil teko di rak, menuang air putih ke gelas plastik, dan meletakkannya di depan Keanu seperti memberi sesuatu kepada orang yang pingsan. “Minum.”
Keanu meminumnya. Kosong, tentu saja. Tetapi dia menghabiskannya.
Keanu mendorong map biru melintasi meja stainless. “Ini milik Kalila. Mbok Darmi menyimpannya.”
Asti menatap sampul biru itu, dan bahunya, yang sejak tadi tegak, melorot sedikit. “Saya yang menjilidnya, Pak. Jam satu pagi, di dapur ini. Ibu menempelkan kertas catatan satu per satu dan bilang, Asti, jilidnya jangan miring, ini untuk suamiku.” Dia mengambil map itu, mengusap sampulnya dengan ibu jari, lalu mendorongnya kembali. “Bawa pulang. Itu bukan milik studio.”
“Saya sudah membacanya.”
“Kalau begitu Bapak tahu apa yang dia bawa ke kamar rumah sakit itu, di kepalanya.” Asti duduk lagi. “Saya mau bertanya satu hal.” Nadanya turun, hampir lembut, dan karena itu terasa lebih berbahaya. “Terus terang. Bapak ke sini untuk minta maaf, atau untuk minta Ibu pulang?”
Keanu membuka mulut dan tidak menemukan jawaban yang bisa dia ucapkan tanpa merasa memalsukan sesuatu. Dia sudah menyiapkan kalimat di mobil, kalimat panjang yang rapi tentang penyesalan. Semuanya menguap.
“Untuk tahu,” katanya akhirnya. “Saya belum tahu apa-apa. Saya tidak berhak minta dia pulang dan saya tidak yakin saya berhak minta maaf. Saya hanya ... ingin tahu apa yang tidak saya lihat.”
Asti menatapnya cukup lama, lalu mengangguk sekali. “Itu jawaban jujur pertama yang saya dengar dari Bapak.”
“Di mana dia tinggal?”
“Tidak.” Asti menggeleng. “Itu bukan hak saya, dan saya tidak akan memberikannya.”
“Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ...”
“Bapak mendengar saya, Pak? Tidak.” Dia berdiri, dan senyum tipis yang tiba-tiba muncul di bibirnya tidak ramah sama sekali. “Pemasok daging yang kami kontak selama berminggu-minggu tiba-tiba mengirim pagi ini tanpa kami minta, katanya urusan kantor sudah beres. Dua hari lalu klien yang membatalkan menelepon minta maaf. Saya tidak tahu siapa yang mengatur itu, tetapi saya tahu persis siapa yang mengatur sebaliknya. Kalau Bapak benar-benar datang untuk tahu, silakan tahu pelan-pelan. Ibu tidak butuh pahlawan yang terlambat.”
*
Siang itu Asti menelepon dari belakang studio, bersandar di tembok gudang dengan satu tangan menutup telinga.
“Bu, saya harus lapor. Pak Keanu datang tadi pagi.”
Di ujung telepon hanya terdengar napas. Lalu, “Kamu beri alamat?”
“Tidak, Bu. Sama sekali tidak.”
“Dia membawa apa?”
“Map biru, Bu.” Asti menunggu. Tidak ada jawaban, hanya suara sesuatu diletakkan pelan di meja. “Saya bercerita soal perjamuan itu. Hampir semuanya. Soal Ibu yang tidak mau tidur, soal pesan Ibu, soal telepon yang saya lakukan malam itu. Maaf, Bu. Saya terlalu banyak bicara.”
“Tidak.” Suara Kalila rendah dan terkendali. “Tidak, kamu tidak terlalu banyak bicara.”
“Ibu marah?”
“Aku tidak tahu aku merasa apa.” Ada jeda panjang. “Dia datang sendiri?”
“Sendiri, Bu. Tanpa sopir.”
Kalila tidak menjawab. Dari seberang Asti mendengar sesuatu yang berbunyi aneh, bukan tangis, lebih mirip tawa yang kehilangan arah.
“Dia membaca semuanya?” tanya Kalila, lebih pelan.
“Katanya sudah, Bu.”
“Dan dia tidak marah? Tidak berteriak? Tidak bilang aku menyembunyikan sesuatu?”
“Dia minta maaf, Bu. Saya tidak yakin dia tahu harus minta maaf pada siapa, tapi dia minta.”
Telepon sunyi cukup lama sampai Asti hampir mengira sambungan putus.
“Asti, kalau dia datang lagi, kasih dia duduk. Dan jangan kasih apa-apa selain air putih.”