Keanu meninggalkan meja investor sebelum hidangan penutup datang, berpamitan kepada ketua yayasan dengan alasan kepalanya berat, dan tidak seorang pun di aula bertanya karena semua mata masih tertuju ke panggung.
Dania menunggu di anak tangga paling bawah, kedua tangan memeluk lutut, gaun krem yang mulai kusut menyentuh batu dingin. Ketika Keanu keluar dari pintu depan gedung pukul sepuluh lewat, dia mengangkat wajah dan matanya bengkak karena menangis terlalu lama. Seorang satpam berdiri di kejauhan dengan sikap orang yang sudah kehabisan cara.
“Keanu.” Dania berdiri terlalu cepat dan nyaris limbung. “Mereka tidak mengizinkan aku masuk. Aku bilang aku keluargamu, tetapi ...”
“Aku sudah bilang jangan datang.”
“Aku cuma ingin menemanimu.”
“Masuk ke mobil.” Keanu membukakan pintu, dan suaranya terdengar begitu datar sampai dia sendiri tak mengenalinya. Dania menatapnya sejenak, mulutnya membuka seolah hendak berkata lagi, lalu dia masuk dan duduk merapat ke jendela.
Sepanjang jalan pulang dia bicara. Tentang betapa sepi rumah tanpa dirinya, tentang Mbok Darmi yang hanya diam, tentang malam-malam ketika dadanya sesak dan hanya suara Keanu yang membuatnya tenang. Keanu mendengarnya seperti mendengar siaran radio dari kamar sebelah.
“Di dalam tadi ramai sekali, ya? Kamu duduk di mana?”
“Meja depan.”
“Pasti kamu bertemu orang-orang penting. Kamu lelah, pasti. Besok aku buatkan sup, ya, seperti dulu. Kamu suka sup buatanku.”
Matanya menatap lampu jalan yang lewat satu per satu. Sebuah kalimat investor berputar di kepalanya tanpa mau berhenti: kami sudah sepakat lisan malam itu. Dia sama sekali tidak ingat Dania pernah memasak sup untuknya.
“Keanu, kamu mendengarkan aku?”
“Ya.”
“Kamu tampak ... marah. Apa aku salah bicara di tangga tadi? Aku bisa minta maaf pada panitia besok.”
“Tidak usah.”
“Kamu marah padaku.”
“Aku tidak marah.” Dia memejamkan mata. “Aku hanya butuh sendirian malam ini, Dania.”
Dania diam sebentar. Lalu dengan suara kecil, hampir seperti anak yang takut dimarahi, “Jangan marah padaku. Aku tidak akan membuat keributan.”
Keanu membuka mata.
Jangan membuat keributan. Dia pernah mengucapkan itu persis, dengan nada yang sama, di dapur megah rumahnya sendiri, pada seorang perempuan yang berdiri gemetar menggenggam tepi meja marmer. Masuk ke kamarmu, jangan membuat keributan. Pada pukul dua dini hari, dengan Dania di lengannya. Dia tidak pernah tahu kalimat itu bisa berbalik dan menempel di mulut orang lain.
“Tidak,” katanya pelan. “Kamu tidak membuat keributan.”
Di rumah, dia mengantar Dania sampai pintu kamar tamu. Dania berdiri di ambang dengan sepatu di tangan.
“Kamu tidak mau cerita apa yang terjadi di dalam?”
“Besok.”
“Kamu selalu bilang besok sekarang.” Dania tersenyum kecil, menunggu dibalas. Keanu tidak membalas. Dia menyuruh Mbok Darmi menyiapkan teh hangat untuknya dan masuk ke ruang kerja tanpa menunggu ucapan terima kasih.
*
Lemari arsip di sudut ruang kerja dibuka dengan kunci kecil yang jarang dia pakai. Di laci kedua dari bawah ada map-map kontrak berjajar dan berlabel rapi oleh sekretarisnya. Dia mencari nama investor itu, menemukan tumpukan beberapa bulan lalu, dan membuka halaman pertama dengan tangan yang tidak lagi tenang.
Kontrak sewa alat berat, dua tahun. Dia membaca halaman demi halaman seperti mahasiswa membaca soal ujian yang tak pernah dia pelajari. Di bagian pembuka tertera tanggal kesepakatan lisan, yang diberi catatan kaki oleh tim hukum: “disepakati secara lisan pada malam jamuan penutup sebagaimana tercantum dalam korespondensi.” Satu halaman berikutnya, tanggal penandatanganan. Selisihnya satu hari.
Dia tahu tanggal kesepakatan lisan itu. Itu malam ketika ponselnya berdering berkali-kali dan dia terlambat mengangkatnya, lalu datang tanpa sempat bertanya apa pun.
Di bagian perantara, pada baris yang dia lewati beberapa bulan lalu karena mengira itu urusan administrasi: Reina’s Catering, diwakili Kalila Reina.
Keanu menutup map. Membukanya lagi. Nama itu masih ada di sana, tercetak tegas, dengan tanda tangan yang dia kenal dari catatan-catatan kecil di pintu kulkas.
Selama ini dia mengira kontrak ini berasal dari kegigihan timnya, dari koneksi, dari nama Syailendra. Dia bahkan mengingat dirinya menyebut kontrak ini di depan para direktur sebagai bukti reputasi yang tak tergantikan. Kalila duduk di barisan depan malam itu, bertepuk tangan. Dia tersenyum dan tidak mengatakan apa pun.
Keanu bangkit, membuka pintu ruang kerja, dan menemukan Mbok Darmi berdiri di lorong membawa nampan teh. Perempuan tua itu belum tidur; bayangan kakinya terlihat di bawah pintu sejak tadi.
“Mbok.”
“Mas Keanu.”
“Mbak Kalila meninggalkan sebuah map biru, Mbok,” katanya, dan kali ini dia bertanya, bukan menuntut. Dia bahkan tidak yakin bagaimana dia tahu. Kata itu muncul di kepalanya dari ingatan lain, ingatan tentang Kalila yang pernah duduk di meja makan ini dengan map berwarna itu di pangkuan dan menyembunyikannya dengan punggung ketika dia masuk. “Mbok menyimpannya.”
Mbok Darmi tidak menyangkal. Dia menatap Keanu lama, dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak dan memilih terlalu lama diam. “Ada, Mas.” Suaranya bergetar sedikit. “Mbak Kalila tidak sempat membawanya waktu pergi, Simbok simpan di kamar. Simbok kira Mas Keanu tidak akan pernah menanyakannya.”
“Kenapa Mbok tidak pernah menyerahkannya?”
“Karena Mas tidak pernah bertanya soal Mbak Kalila, kecuali kalau ada yang salah.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan kasar. Itulah yang membuatnya sulit ditelan. Keanu hanya mengangguk, dan Mbok Darmi menambahkan lebih pelan, “Ada di bawah bantal Simbok.”
“Tolong ambilkan.”
Perempuan tua itu menaruh nampan di meja lorong dan pergi. Ketika dia kembali, tangannya memegang map biru tipis dengan sudut yang sudah lecek, bertuliskan Portofolio dengan tinta hitam. Dia menyerahkannya dengan dua tangan seperti menyerahkan sesuatu yang bisa pecah.
“Mbak Kalila tidak pernah mengambilnya, Mas. Simbok tidak berani membuka.”
“Mbok tahu isinya?”
“Tidak, Mas. Simbok hanya tahu Mbak Kalila hampir tidak tidur selama seminggu itu. Dan dia selalu tersenyum kalau Simbok tanya.”
“Terima kasih, Mbok.”
Keanu membawa map itu kembali ke ruang kerja dan menutup pintu dengan pelan.
Isinya rapi. Dia membuka halaman pertama: daftar unit alat berat Syailendra Corp, lengkap dengan foto dan harga sewa, ditulis dengan tulisan tangan Kalila yang miring ke kanan. Halaman kedua dan ketiga berisi tabel perbandingan dengan penyewa lain, skenario harga yang dia susun sendiri dari percakapan tujuh malam itu. Di tepi halaman, catatan kecil: Dia suka asam, tambah jeruk di menu malam ke-4. Dia tidak suka basa-basi, bicara angka.
Dia membalik terus. Di halaman paling belakang, terselip selembar kertas yang dilipat dua. Tulisan tangan yang sama, kali ini terburu, seperti ditulis di sela-sela mengaduk panci:
Untuk ulang tahun perusahaan Keanu. Jangan bilang dulu. Setelah teken baru kubilang: kerja kerasku ini untuk Syailendra, dan untuk anak kita.
Di bawahnya, terselip selembar foto kecil berwarna abu-abu. Hasil USG, tepi putih dengan bintik kecil di tengahnya. Di baliknya, dengan pensil: semangat, kamu pasti bisa.
Tangan Keanu berhenti.
Dia duduk di kursinya, memegang foto itu di antara dua jari, dan merasa seolah seseorang menutup pintu di belakangnya dan mengambil seluruh udara ruangan. Hanya jam dinding dan napasnya sendiri, dan jauh di dalam kepalanya, kalimat yang dia ucapkan malam itu pada seorang perempuan yang baru kehilangan segalanya.
Dia membaca catatan itu sekali lagi, sampai huruf-hurufnya basah.
Pukul dua dini hari, dia masih duduk di sana. Ketika matahari mulai mengabu di balik tirai, dia mengambil ponsel dan menulis satu pesan untuk sekretarisnya, mengosongkan seluruh jadwal Senin pagi. Hari ini Minggu, dan studio itu tentu tutup; kontrak dua tahun itu mencatat alamatnya, dan dia tidak tahu alamat lain. Dia menyelipkan foto USG ke dompet dan berbisik ke ruangan kosong:
“Senin pagi. Aku ke studio itu.”