Keanu masuk ke aula lewat pintu pelayan, menunggu hingga satpam tadi berbalik, lalu melangkah ke dalam tepat ketika musik instrumental naik satu tingkat. Dia tidak menoleh ke tangga depan. Perempuan di sana, dengan gaun krem dan mata berkaca, bisa menunggu sampai kapan pun dia mau. Malam ini dia tidak punya tenaga untuk dua perang sekaligus.
Penunjuk tempat di meja utama bertuliskan namanya dengan huruf emas. Dia duduk di antara ketua yayasan dan seorang pria asing berambut perak yang sudah dia kenal dua tahun terakhir, mitra yang pekan lalu menawarkan perluasan kontrak. Pria itu mengangkat gelas sambil tersenyum, dan Keanu membalas dengan anggukan yang dia harap terlihat wajar.
“Pak Keanu, senang bertemu lagi di luar ruang rapat.” Investor itu menepuk lengan kursinya. “Saya sangat antusias malam ini. Anda tahu mengapa?”
“Saya tidak tahu.”
“Karena katering malam ini.” Pria itu tertawa kecil. “Ketua yayasan bilang namanya Reina’s Catering. Saya tidak percaya ketika membaca buku acara.”
Keanu meraih serbet dan melipatnya dua kali di pangkuan. “Anda mengenal mereka?”
“Tentu saja.”
Sup pembuka datang, dihidangkan dalam mangkuk putih tipis dengan uap yang naik lurus. Keanu menyendok sedikit dan menaruhnya di lidah. Hangat. Itu saja. Dia menelannya dan menaruh sendok kembali, sementara di seberangnya istri ketua yayasan memejamkan mata dan berkata pelan, “Ya Tuhan, enaknya.”
*
Di dapur belakang, jendela saji berderet baki tinggi seperti barisan prajurit. Kalila berdiri di ujung konter dengan sendok bersih di tangan dan tablet berisi denah meja di sampingnya. Asti kembali dari pintu pelayan dengan napas pendek.
“Sup pembuka semuanya sudah turun, Bu. Meja utama terpuji dua kali, istri ketua yayasan sampai minta tambah.”
“Tambah?” Kalila mengangkat alis. “Tolong catat. Aku mau tahu mangkuknya kembali kosong atau tidak.”
“Dan Pak Keanu duduk di meja satu.” Asti menurunkan suara. “Di sebelah investor itu.”
Kalila tidak menoleh. Dia mengambil sendok kecil dan mencelupkannya ke panci sup cadangan, meniup, lalu membawanya ke bibir. Hangat. Hanya hangat. Dia menggeleng pelan, hampir tak terasa, dan menyerahkan sendok itu pada Asti, yang sudah tahu cara menerimanya tanpa diminta.
“Seperti tadi, Bu. Pas.”
“Bagus.” Kalila meletakkan sendok ke bak cuci. “Wagyu keluar sekarang, Asti. Jangan ada piring yang lebih dari empat menit di jendela. Daging dingin itu dosa.”
“Dan kalau Pak Keanu ...”
“Dia tamu. Dia makan apa yang kita kirim, sama seperti yang lain.” Kalila menegakkan punggungnya. “Itu saja yang perlu kita pikirkan tentang dia malam ini.”
Asti mengangguk dan mulai memanggil pelayan satu per satu. Kalila mengambil baki pertama, memeriksa garnis, dan menaruhnya di jendela dengan gerak yang dia pelajari bertahun-tahun lalu, ketika dunia masih terasa. Lidahnya masih bisu. Tangannya masih fasih. Dia pikir, selama salah satunya hidup, dia tidak akan jatuh.
*
Hidangan utama menyusul. Wagyu berasap diletakkan di piring dengan saus ungu pekat, dan seluruh meja terdiam sejenak untuk menghargai aroma yang naik. Investor itu memotong sepotong kecil, mencicipinya dengan mata terpejam, lalu mengangguk lama.
“Pak Keanu, saya jujur kepada Anda. Saya makan di banyak tempat di banyak negara. Kalau saya mengenal sebuah perusahaan lewat meja makannya, biasanya saya benar.” Dia meletakkan garpu. “Dari meja merekalah saya pertama kali mengenal Syailendra Corp.”
“Maksud Anda?”
“Perjamuan tujuh hari itu.” Pria itu menatap Keanu dengan heran, seakan pertanyaannya terlalu jelas. “Tujuh malam berturut-turut, setiap malam dengan menu yang berbeda, dan setiap malam seorang perempuan duduk di sebelah saya dan menjelaskan alat berat perusahaan Anda seperti dia menjelaskan resep. Bukan brosur. Dia membawa portofolio. Setiap unit, setiap harga sewa, studi kasus, bahkan proyeksi biaya pemeliharaan. Saya sendiri baru tahu belakangan bahwa dia koki, bukan salah satu direktur Anda.”
Keanu merasa ujung jarinya mendingin.
“Nyonya Kalila,” kata investor itu hangat. “Orang yang sangat gigih. Pada malam ketujuh saya masih berbicara dengannya, kami sedang membahas jadwal pengiriman unit, lalu mendadak beliau pucat sekali. Beliau berusaha tersenyum, saya ingat itu, berusaha menyelesaikan kalimatnya. Lalu beliau jatuh. Staf berlarian, beliau dilarikan pergi, dan saya tinggal di aula itu dengan ponsel yang tak berhenti bergetar.” Dia menggeleng. “Tapi kami sudah sepakat lisan malam itu. Saya meminta tim hukum menyiapkan kontrak dan kami meneken dua tahun keesokan harinya. Kontrak yang membuat perusahaan Anda hari ini, kalau boleh saya katakan, menguntungkan kita berdua. Saya kira beliau istri Anda?”
Keanu tidak menjawab.
Di sekitarnya dunia berjalan seperti biasa. Garpu beradu piring, istri ketua yayasan tertawa pada sesuatu, pelayan menuangkan air. Tetapi pendengaran Keanu menyempit menjadi satu garis kecil, dan di ujung garis itu, ada suaranya sendiri di kamar rumah sakit yang sempit dan putih.
Kamu lebih mementingkan bisnis katering sialan itu daripada anak kita.
Dan kalimat berikutnya, yang dia ucapkan lebih keras:
Aku sudah melarangmu mengambil proyek itu!
Kalila terbaring di bantal, pucat, matanya kosong. Dia tidak membela diri. Pada saat itu Keanu mengira diamnya adalah pengakuan. Dia mengira diam itu berarti: ya, aku bersalah. Padahal mungkin perempuan itu hanya tidak punya tenaga. Mungkin dia baru kehilangan sesuatu yang tidak sempat diberi nama, dan dia pun tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa kerja kerasnya itu, apa pun bentuknya, adalah untuk pekerjaan Keanu sendiri.
Tangan Keanu bergerak sendiri, menaruh garpu di tepi piring tanpa suara.
Di meja paling jauh, di dekat jendela besar yang menghadap taman, Julian sedang mengangkat gelas air ke bibirnya. Dia tidak berniat menatap meja utama. Dia sudah memberi dirinya aturan sejak melangkah masuk, dan dia mematuhinya. Tetapi satu gerakan di sudut pandangnya menarik perhatiannya: keponakannya meletakkan garpu dengan cara aneh, kaku seperti orang yang takut menjatuhkan sesuatu yang rapuh.
Julian menoleh.
Dari jarak itu dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan investor. Tetapi dia melihat wajah Keanu. Warnanya meninggalkan pipinya seperti air yang disedot dari bak, bibirnya terbuka separuh, matanya menatap ke arah yang tidak ada apa-apanya. Dia pernah melihat ekspresi itu sekali, pada pasien yang baru diberi tahu sesuatu yang sudah lama dia pura-pura tidak tahu. Dan sebagai dokter, dia mengerti sebelum siapa pun di ruangan itu: sesuatu baru saja menjemput Keanu, dan sesuatu itu tidak bisa dihalau dengan diam.
Mama menyentuh lengan Julian. “Ada apa?”
“Belum tahu, Mbak.” Julian meletakkan gelasnya perlahan. “Tapi sepertinya kali ini dia benar-benar mendengar.”
Di meja utama, investor sudah mengambil serbetnya. “Pak Keanu? Anda baik-baik saja? Wajah Anda ...”
“Malam ketujuh,” kata Keanu. Suaranya keluar tipis dan serak, dan dia sendiri tidak yakin apakah dia bicara pada pria itu atau pada dirinya. “Beliau jatuh pada malam itu. Setelah berbicara dengan Anda.”
“Ya. Sekitar pukul sembilan.”
Keanu menghitung. Dia mencari angka di kepalanya dan menemukan jam yang lain, pukul sembilan lewat di kamar rawat yang sama, kurang dari dua belas jam sesudahnya. Dia berbicara pada istrinya yang baru kehilangan anak, dan kata pertama yang dia pilih adalah tuduhan.