Lima hari sesudah rapat perluasan kontrak itu, pada Sabtu malam gala, Keanu datang lebih awal karena dia tidak percaya pada dirinya sendiri. Orang yang terlambat masih punya kesempatan berbalik pulang di tengah jalan, dan Keanu tahu persis dia akan memakai kesempatan itu. Maka sopirnya menurunkannya di halaman gedung Baskara pukul enam lewat dua puluh, empat puluh menit sebelum pintu aula dibuka, dan dia berdiri sendirian di bawah lampu taman dengan jas hitam yang kini terasa longgar di bahu.
Gedung itu bergaya kolonial, putih, berpilar, dengan tangga lebar yang diapit dua pot palem raksasa. Lampu-lampu kristal sudah menyala di dalam. Dari jendela tinggi dia melihat pelayan membenahi meja bundar dan seorang perempuan berseragam panitia memegang papan jalan, menunggu tamu pertama seperti prajurit menunggu gelombang.
Dia baru hendak menaiki tangga ketika sebuah taksi berhenti di gerbang.
Perempuan yang turun mengenakan gaun krem sederhana, rambut diurai, wajah dipoles tipis sehingga pucatnya tampak seperti kelembutan. Dania. Dia berjalan menaiki tangga dengan langkah kecil, satu tangan memegang tas, dan menyapa perempuan berpapan jalan dengan senyum yang tak akan ditolak siapa pun.
“Selamat malam. Saya Dania, datang bersama keluarga Syailendra.”
Panitia itu menunduk memeriksa daftar. Jarinya bergerak ke bawah, lalu ke bawah lagi. “Maaf, Bu, nama Ibu belum tertera.”
“Mungkin atas nama Keanu Syailendra? Saya ikut ...”
“Daftar kami sudah diperiksa sampai ke nama pendamping, Bu. Tak ada tambahan.” Perempuan itu tetap sopan. “Kalau Ibu punya kartu undangan, saya dengan senang hati ...”
“Aku tidak punya kartu.” Dania memandang sekeliling dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Keanu melihatnya dari seberang halaman: bahu yang bergetar, tangan yang naik ke dada. Dulu gerakan itu cukup untuk membuatnya berlari.
Dia tidak berlari.
Dia hanya berdiri, dan di dalam dirinya sesuatu mengaduk ringan. Seandainya dia menyapa, Dania akan menggandeng lengannya, dan dia akan terpaksa membawanya melewati panitia, dan Kalila, yang sedang bekerja di balik dinding itu, mungkin melihat mereka masuk berdua. Keanu mundur dua langkah, memutar tubuh, dan melangkah ke arah lorong samping yang ditandai papan kecil bertuliskan khusus panitia dan staf. Pintunya terbuka separuh. Seorang satpam mengangguk padanya, mengenali jasnya, dan membiarkannya lewat.
Dia berjalan menyusuri koridor sempit yang berbau minyak goreng dan sabun pel, melewati tumpukan kursi lipat dan troli kosong. Tanpa rencana. Hanya satu tujuan: menjauh dari tangis di tangga depan.
*
Di dapur belakang aula, Asti mengeluarkan suara seperti orang tersedak.
“Bu. Freezer.”
Kalila menoleh dari konter stainless tempat dia sedang menata irisan jamur. Asti berdiri di depan lemari pembeku besar dengan telapak tangan menempel di pintunya. Lampu indikator mati. Dengung kompresor lenyap.
“Mati?”
“Mati total, Bu. Padahal daging wagyu empat puluh kilo, kaldu, semua bahan saus ...” Suara Asti merambat naik. “Pantas tadi sore terasa panas. Saya kira cuma ...”
“Asti.” Kalila tidak mengeraskan suaranya. Justru memelankannya, dan itu cukup untuk menghentikan seluruh dapur. “Napas dulu. Berapa lama sebelum daging naik di atas lima derajat?”
“Paling ... dua puluh menit, Bu. Mungkin tiga puluh.”
“Cukup.” Kalila melepas celemek bersihnya, menggantinya dengan yang lain. “Dua hari lalu aku menyewa chiller berpendingin dari penyedia es di belakang pasar, sebagai cadangan. Truknya sudah di pintu belakang sejak jam empat, belum kita buka karena kukira tidak akan terpakai. Panggil dua orang, bawa troli. Daging dulu, lalu kaldu, lalu bahan saus. Jangan buka lemari lain. Jangan ada yang berlari.”
Asti menatapnya sepersekian detik. Lalu dia berbalik dan memanggil, dan dapur yang tadi hampir membeku bergerak lagi seperti mesin yang diberi minyak. Kalila ikut mendorong troli, merasakan dingin menjalar dari kotak logam ke telapak tangannya, dan di antara dengus napas dia berpikir sesuatu yang hampir lucu: tubuhnya begini pandai bertindak, sementara lidahnya masih bungkam.
Dua puluh menit kemudian semua beres. Daging terjaga di angka tiga derajat dan Asti duduk di bangku plastik sambil menyeka keringat dengan lengan seragam.
“Bu, Ibu tahu freezer itu akan mati?”
“Tidak.” Kalila mengangkat bahu. “Aku hanya tahu satu hal tentang dapur: sesuatu selalu mati di jam yang paling tidak enak. Chiller itu bukan firasat, Asti. Itu pengalaman.”
Pukul tujuh kurang sepuluh, saus berry hutan dikentalkan dalam panci tembaga besar. Kalila menyendok sedikit di punggung sendok untuk memeriksa warna, memiringkannya agar dia bisa melihat bagaimana cairan itu mengalir dan menempel. Dia menghirup uapnya. Berry matang, tanah dari jamur, setitik cuka. Dia memberikan sendok bersih pada Asti.
“Bagaimana?”
“Seimbang, Bu. Berry-nya jangan ditambah. Garamnya ...” Asti menutup mata. “Seperempat sendok lagi. Tidak, setengah.”
Kalila menambahkan setengah sendok, mengaduk, dan menunggu. Saus itu berputar pelan, ungu pekat, kembaran dari malam yang pernah menghancurkan hidupnya.
*
Di ujung koridor servis, Keanu berhenti.
Dia tidak sengaja. Koridor itu hanya berujung di sebuah ruang kecil bertirai, dan ketika tirainya sedikit tersingkap, dia melihat dapur dari sudut yang tak diperuntukkan baginya: jendela saji persegi, tempat hidangan diserahkan ke pelayan. Dari situ dia melihat punggung-punggung putih, uap, bunyi sutil beradu panci, dan di tengah semuanya, Kalila.
Rambutnya diikat rapi di balik topi putih. Wajahnya yang kurus tampak lebih tajam dan lebih tenang daripada yang dia ingat. Dia memberi perintah dengan suara rendah, menunjuk, mengoreksi, dan setiap orang bergerak sebelum dia selesai berbicara. Keanu mengamati beberapa menit, sampai dia sadar bahwa dalam tiga tahun pernikahan mereka, dia tak pernah melihat istrinya memimpin dapur sebesar ini.
Dia hanya pernah melihat hasilnya di piring.
Seorang pelayan menyodorkan baki berisi mangkuk sup pembuka ke jendela saji. Kalila mengambil satu, membenahi uap yang menempel di tepi mangkuk, lalu mengambil sendok kecil. Dia meniup perlahan, mendekatkannya ke bibir, merasakan, dan menggeleng pelan.
Hanya sekali. Gerak yang amat kecil.
Keanu mengenalnya seperti mengenal tulisan tangannya sendiri. Gerak itu persis yang dia lihat di dapur rumahnya malam gala dulu, saat dia berdiri di ambang pintu menuduh. Dulu dia menyebutnya kesengajaan, caranya menyindir. Dia mencoba mengingat apakah malam itu Kalila memegang sendok, memiringkan kepala, lalu menyerahkannya pada Asti. Dia ingat. Dia ingat tangan yang bergetar, wajah yang pucat, dan dia ingat betul dia tidak bertanya mengapa.
Kalila menyerahkan sendok itu pada Asti. Asti mencicip, mengangguk. Kalila mengangguk balik, seperti orang yang menerima kabar dari tempat jauh lewat penerjemah.
Dari celah tirai yang lain, di sisi kirinya, dia bisa melihat sepotong aula yang mulai terisi. Eyang masuk lebih dulu dengan tongkat dan kebaya abu-abu, digandeng Mama. Di belakang mereka berjalan Julian dalam jas gelap, tanpa dasi kupu-kupu yang dikenakan tamu lain, wajahnya tenang dan lebih kurus daripada terakhir dia lihat. Julian mengantar kedua perempuan itu ke meja paling jauh dari dapur, di dekat jendela besar yang menghadap taman, lalu duduk dengan punggung menghadap pintu pelayan. Dia tidak menoleh sekali pun. Keanu menyadari itu seperti menyadari tiang listrik di pinggir jalan: jelas, disengaja, dan tidak ada urusannya dengan siapa pun yang melihat.
Langkah sepatu mendekat dari belakang. Satpam tadi, kini berdiri dengan topi di tangan.
“Pak Keanu? Maaf. Di depan ada Ibu yang menangis, mengaku keluarga Bapak, minta dipanggilkan.”
Keanu tidak menoleh. Pandangannya tetap pada punggung Kalila yang tegak di antara uap. “Bilang beliau, saya tidak ada di sini.”
“Baik, Pak.” Satpam itu ragu. “Tapi beliau bilang akan menunggu sampai Bapak keluar.”