“Pak Keanu?”
Keanu mengangkat kepala. Di seberang meja rapat, sang investor sudah selesai menjelaskan sesuatu dan sedang menunggu jawaban, alisnya terangkat sopan. Layar proyektor menampilkan peta wilayah tambang yang tak lagi dia lihat sejak sepuluh menit lalu. Dia hanya melihat garis-garis biru yang berkelok dan bertanya-tanya sendiri, sungai atau jalan, apakah itu penting.
“Maaf,” katanya. “Tolong ulangi bagian tadi.”
Dua pekan lebih telah lewat sejak Keanu keluar dari ruang kerja Julian dengan satu pertanyaan yang tak mau pergi. Selama itu dia hidup dari kopi hitam dan roti tawar yang rasanya seperti kertas. Rapat hari ini seharusnya urusan mudah. Investor asing yang selama dua tahun menjadi mitra terbesarnya mengusulkan perluasan kontrak, proyek tambahan di luar kesepakatan yang sudah berjalan, dan semua angkanya menguntungkan. Keanu hanya perlu mengangguk di tempat yang tepat.
“I was saying,” investor itu mengulang dengan sabar, “bahwa kami ingin menambah dua unit di tahap kedua, dengan opsi pemeliharaan lima tahun. Kalau Anda setuju, kami bisa menandatangani sebelum akhir kuartal.”
“Saya akan minta tim hukum menyiapkan draf.” Keanu menyentuh pelipisnya. “Maaf, saya kurang tidur.”
“Saya perhatikan.” Pria itu menutup map. “Anda tampak tidak baik, Pak Keanu. Kalau boleh jujur, lebih kurus daripada waktu kita bertemu dua tahun lalu. Tolong jaga diri. Kontrak itu tidak ada gunanya kalau orang di sebelah sana pingsan di tengah-tengah.”
Keanu tersenyum tipis, senyum yang dia tahu tak sampai ke mata. Dia berdiri, menjabat tangan pria itu, dan mengantarnya sampai ke pintu lift. Ketika pintu menutup, bahunya turun seakan dia baru melepas beban sepuluh kilo.
Sekretarisnya, seorang perempuan paruh baya yang sudah bekerja sejak ayahnya masih hidup, menunggu di depan ruang kerja dengan tablet di dada.
“Pak, mengingatkan saja.” Dia membuka layar. “Undangan gala amal yayasan panti hari Sabtu. Bapak sudah mengonfirmasi hadir lima hari lalu. Saya perlu tahu jam kedatangan untuk sopir.”
“Jam tujuh.”
“Baik. Dan Pak, ini daftar katering yang tertera di buku acara.” Perempuan itu ragu sejenak. “Reina’s Catering.”
Keanu berhenti dengan satu tangan di gagang pintu.
Sekretarisnya tidak memandang wajahnya. Dia menatap layar dan menunggu, seperti orang yang menunggu sesuatu pecah lalu berusaha tak terkena serpihannya.
Keanu mengambil buku acara yang tergeletak di meja sekretaris, sampul krem dengan lambang yayasan, dan membukanya pada halaman menu. Matanya turun satu baris demi satu baris. Sup bening. Ayam kecap. Smoked wagyu dengan saus berry hutan. Jarinya berhenti di baris terakhir. Smoked wagyu, saus berry. Dia pernah melihat dua kata itu di kartu menu yang dia pegang hampir dua bulan lalu, di aula rumahnya sendiri, malam dia berdiri di antara investor dan menuduh istrinya sengaja membuat sausnya gagal. Kalila memilih menu yang sama. Entah itu keberanian, atau jawaban.
“Siapa yang menunjuk mereka?” Suara Keanu terdengar asing di telinganya sendiri.
“Dari keluarga Baskara, Pak. Eyang sendiri.”
“Batalkan kehadiranku.”
“Pak?”
“Aku tidak datang. Bilang saja ada urusan keluarga mendadak.”
Ponselnya bergetar sebelum sekretarisnya sempat menjawab. Dia mengeluarkannya dari saku jas dan melihat nama Mama di layar, seolah ibunya memiliki mata di setiap sudut gedung ini.
“Ma.”
“Kamu baru saja menyuruh sekretarismu membatalkan undangan Eyang.” Suara Mama tenang, terlalu tenang. “Jangan salahkan dia. Mama yang meminta dia mengabari Mama kalau kamu ragu, sejak Eyang menunjuk katering itu.”
“Ma, aku tidak mau ...”
“Datang, Keanu.” Kalimat itu pendek, dan di baliknya ada nada yang jarang Mama pakai sejak ayahnya meninggal. “Kamu sudah mengonfirmasi. Kamu tidak akan membatalkan janji pada Eyang hanya karena takut melihat perempuan yang kamu tuduh sengaja merusak sausnya.”
Keanu menutup mata. “Aku tidak takut.”
“Kalau begitu datang.”
Telepon terputus. Dia berdiri lama di depan pintu ruang kerjanya sebelum berkata pada sekretarisnya, tanpa menoleh, “Tidak jadi. Aku datang.”
*
Sore harinya dia masih di kantor ketika kepala pembelian Syailendra Corp mengetuk pintu dengan sebuah map. Pria itu bertubuh gempal, selalu berkeringat meski AC menyala, dan membawa wajah orang yang hendak melaporkan tugas selesai dengan baik.
“Pak, laporan mingguan. Dan satu hal soal arahan Bapak yang lalu.”
“Arahan apa?”
“Soal Reina’s Catering, Pak.” Kepala pembelian membuka map. “Sudah kami jalankan seluruhnya. Kontrak katering kantor dihentikan lewat evaluasi mutu, pemasok daging dan bahan impor yang ada hubungan dengan kita sudah diberi pesan untuk menunda pengiriman, dan beberapa klien yang kebetulan rekan kita sudah kami hubungi secara halus. Mereka mengerti, Pak. Tidak ada yang bertanya.”
Keanu tidak langsung bicara.
Arahan. Dia mencari kata itu di kepalanya sampai menemukan potongannya, di hari Kalila pergi, di koridor rumah sendiri dengan dua koper dan wajah yang menolak menoleh. Dia sedang marah. Dia berkata sesuatu sambil berjalan, setengah kepada kepala pembelian yang kebetulan menelepon soal urusan lain. Tanpa nama studio, tanpa kalimat selengkap ini, tapi cukup. Cukup untuk dibaca sebagai perintah oleh orang yang terbiasa mengira bosnya selalu serius.
Tanpa nama Syailendra, bisnis katering kecilmu itu tidak akan ada apa-apanya.
Dia ingat dia pernah mengucapkan itu kepada Kalila. Dia tidak ingat pernah mengucapkannya kepada orang lain.
“Siapa yang menyuruh pemasok daging?” tanyanya.
“Itu inisiatif divisi, Pak, berdasarkan arahan.” Kepala pembelian mulai berkeringat lebih banyak. “Apakah ada yang keliru?”
“Berhenti.” Keanu mendorong map itu kembali. “Cabut semuanya. Pemasok, klien, apa pun yang masih bisa dicabut. Kontrak kantor aku urus sendiri. Dan dengar baik-baik: tidak seorang pun boleh menyebut ini pada Bu Kalila atau stafnya. Tidak seorang pun.”
“Tapi, Pak, bukankah ...”
“Itu perintah.”
Pria itu mengangguk cepat dan mundur. Pintu menutup. Keanu duduk di kursinya dan menatap kosong ke meja, ke setumpuk dokumen yang terbuka di hadapannya. Dia mengira marah akan datang, atau malu. Yang datang malah lelah, kelelahan yang begitu tua sampai dia curiga sudah lama ada dan dia baru sekarang berhenti berlari darinya.
Dia mengangkat gelas air putih di mejanya dan meminumnya sampai habis. Air itu dingin dan basah, dan hanya itu. Dia menaruh gelas kosong tepat ketika ponselnya bergetar lagi. Dania.
Aku lihat undangan di mejamu. Aku boleh datang menemanimu hari Sabtu? Aku akan duduk diam, aku janji. Aku tidak mau kamu sendirian di antara orang-orang itu.
Keanu membaca pesan itu dua kali. Dulu dia akan membalas dalam hitungan detik. Dulu dia akan merasa bersalah karena tidak melakukannya lebih cepat.
Kamu tidak ada di daftar tamu, ketiknya. Tetap di rumah. Mbok Darmi menemanimu.
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Dania menulis ulang pesannya beberapa kali.
Aku akan datang sendiri kalau begitu. Cuma di luar, lihat dari jauh. Aku tidak akan masuk.
Jangan, ketik Keanu. Satu kata, tanpa titik.
Baik, balas Dania akhirnya. Aku mengerti. Aku selalu merepotkan.