“Yang ini kurang asin!”
Anak perempuan berkepang dua itu mengacungkan sendoknya setinggi kepala seperti hakim mengacungkan palu. Di sebelahnya, bocah lelaki berhidung beringus, yang kini sudah sepenuhnya Kalila kenal sebagai pencicip paling galak di panti, mengangguk mantap tanpa melepaskan sendok dari mulutnya.
“Kurang asin, Kak. Tapi enak. Cuma kurang asin.”
Kalila mencatat di buku kecilnya. Kurang asin, ditulis dengan huruf besar, lalu dia menoleh pada Asti yang berdiri di sisi kompor dengan sendok bersih di tangan. Asti mencicip, memiringkan kepala, dan mengangguk. “Betul, Bu. Setengah sendok teh lagi.”
Enam hari sudah lewat sejak Eyang menyerahkan kartu undangan bertepi emas itu, dan seluruhnya habis untuk menelepon pemasok, menawar harga ayam, dan memastikan aula keluarga Baskara punya dapur belakang yang layak. Hari Kamis ini, akhirnya, uji menu pertama. Dapur panti penuh bunyi: kursi anak-anak bergeser, panci beradu, Bu Pengurus di ambang pintu menghitung kepala supaya tak ada yang menyelinap membawa kerupuk lebih dari jatah. Sepuluh anak duduk mengelilingi meja panjang dengan dua puluh mangkuk kecil di depan mereka dan secarik kertas skor berbentuk bintang.
Aturannya sederhana. Satu bintang untuk “tidak mau lagi”, tiga bintang untuk “mau lagi”, lima bintang untuk “mau lagi dan lagi”. Tidak boleh berbohong, tidak boleh menyontek. Bocah beringus itu menambahkan aturan sendiri: tidak boleh menyuruh dia berhenti makan sebelum mangkuknya habis.
Sup bening lolos dengan tiga bintang rata-rata. Ayam kecap mendapat dua puluh dua bintang dari sepuluh anak dan nyaris pecah perang kecil karena satu paha. Puding santan gagal total: terlalu kenyal, kata anak laki-laki bertubuh paling kecil, yang menyuap sedikit lalu mengembalikannya dengan wajah menyesal seperti meminta maaf pada kue. Kalila tertawa dan mencoret puding itu dari daftar tanpa keberatan. Dia mencatat semuanya, juga kalimat-kalimat kecil yang tak ada dalam daftar penilaian: sup ini hangat seperti pelukan, kata seorang anak. Kentangnya terlalu banyak, kata yang lain. Setiap kalimat dia tulis persis, sebab tidak ada ahli kuliner yang bisa menggantikan kejujuran sebuah mulut sepuluh tahun. Lalu dia mengambil panci terakhir dari kompor.
“Ini yang paling susah,” katanya. “Saus untuk daging. Kalau yang ini tidak lolos, Kakak harus mulai dari awal.”
Asti melirik. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi Kalila tahu kepala dapurnya sedang mengingat piring yang sama di malam gala dulu, saus truffle berry ungu pekat yang meletup di atas kompor dan berubah jadi kutukan. Smoked wagyu dengan saus itu menu andalan Reina’s Catering, dan menu itu pula yang mengakhiri hari ketika lidah Kalila mati.
“Truffle-nya tidak ada, Bu,” kata Asti pelan. “Pemasok impor menolak kirim. Katanya stok habis.”
“Aku tahu.” Kalila meletakkan panci. “Jadi kita ganti.”
Dia sudah mencoba tiga pekan terakhir, di antara tidur yang pendek. Jamur lokal dari pasar tradisional: kuping, shiitake, dan jamur kayu yang dikeringkan lalu direndam dalam kaldu sumsum. Aroma tanahnya tidak persis truffle, tetapi dalam. Dia menambahkan beri liar yang direbus sampai pekat, sedikit cuka balsamiko, setitik madu. Setiap bahan dia pilih dengan kepala dan catatan, bukan dengan lidah.
Dia membagikan saus itu pada irisan daging yang sudah disiapkan, dan sepuluh anak memandang mangkuk masing-masing dengan wajah serius seperti sedang menghadapi ujian kenaikan kelas.
Sunyi. Hanya denting sendok.
Anak perempuan berkepang mengunyah lama. “Ada rasa hutannya,” katanya akhirnya.
“Hutan?” Kalila bertanya.
“Hutan yang di film itu, Kak. Yang ada pohonnya tinggi. Terus ada manis-manis buah gitu di belakangnya.”
“Manisnya tidak terlalu banyak?”
Anak itu berpikir sungguh-sungguh. “Pas.”
Bocah beringus menghabiskan potongan dagingnya, menjilat sendok, lalu mengacungkan lima jari di depan wajah Kalila. “Lima bintang. Tapi bintangnya aku simpan dulu, soalnya aku mau lagi.” Anak-anak lain tertawa. Tawa yang tulus, riuh, dan sama sekali tidak bisa dipaksa, memenuhi dapur kecil itu sampai bergetar jendelanya.
Dan di tengah tawa itu, di ujung lidah Kalila, sesuatu berkedip.
Asin. Sangat tipis, nyaris seperti ingatan, tetapi nyata. Rasa garam yang tertinggal di bibirnya dari tetes saus yang tadi terciprat saat dia menyendok. Kalila membeku sedetik. Lalu dia menunduk, pura-pura mengelap panci, memastikan tak seorang pun menangkap ekspresinya. Napasnya tertahan, dan dia tidak berani mengecap lagi karena takut rasa itu hilang bila diperiksa.
Rasa itu hilang sendiri, pelan, seperti jejak kaki di pasir basah.
Dia mengangkat wajah. Hanya Asti yang menatapnya, dan perempuan itu menggeleng sedikit, berarti aku tidak melihat apa-apa, Bu. Kalila membalas dengan anggukan yang hampir tak terlihat.
*
Anak-anak sudah dibawa pengasuh untuk mandi sore. Dapur mendadak lengang, dan Asti, yang sejak tadi menahan diri, menaruh sendoknya.
“Tadi asin, ya, Bu?”
“Sedetik.” Kalila mengelap tangannya pelan-pelan. “Aku hampir tidak percaya. Aku tidak mau menyebutnya, Asti, kalau kusebut dia pergi.”
“Kalau pergi, ya, nanti datang lagi.” Asti mengatakannya seperti hal paling biasa di dunia. “Lidah itu kan tidak punya tujuan lain, Bu.”
Kalila menoleh, dan perempuan itu pura-pura sibuk menyusun mangkuk. Mereka baru selesai tersenyum ketika Bu Pengurus datang membawa map plastik bening. Dia duduk di seberang Kalila di meja yang kini penuh mangkuk kosong, membenahi kacamatanya, dan menarik napas sebelum berbicara.
“Ini daftar tamu yang sudah dikonfirmasi, Bu Kalila. Dari yayasan dan dari keluarga Baskara. Ibu perlu tahu lebih awal supaya bisa menyesuaikan.”
“Menyesuaikan apa?”
“Ya ... apa pun yang perlu disesuaikan.” Bu Pengurus mendorong map itu perlahan. “Saya bacakan yang penting saja. Ketua yayasan dan istrinya. Dua pemilik rumah sakit swasta. Beberapa donatur lama. Dan ...” Dia ragu. “Beberapa relasi bisnis yang diundang lewat Eyang. Termasuk dari Syailendra Corp.”
Kalila tidak bergerak.
“Pak Keanu juga,” kata Bu Pengurus, hampir berbisik. “Beliau sudah mengonfirmasi lewat sekretarisnya sore tadi.”
Dapur panti mendadak terasa sempit. Kalila memandangi tulisan tangan di kertas itu, nama yang dia kenal sampai ke bentuk huruf K-nya, dan dia merasakan sesuatu bergerak di dadanya yang tak bisa dia namai. Bukan marah. Bukan takut. Kewaspadaan yang dingin.
“Apa Bu Kalila ingin saya bilang ke Eyang untuk ...”
“Tidak, Bu.” Kalila menutup map itu. “Menunya tidak diubah. Saus yang tadi, sama persis. Kalau dia ingin mencicipi, dia akan mencicipi apa yang kupilih. Bukan apa yang kupilihkan untuknya.”
Bu Pengurus menatapnya lama, lalu tersenyum kecil dan bangkit untuk menyusul anak-anak.
Di sudut dapur, Asti sudah mengangkat ponselnya sejak tadi, menunggu giliran bicara. Dia mendekat setelah Bu Pengurus pergi, menurunkan suaranya.
“Bu, ada satu lagi dari kantor yayasan. Daftar itu belum semuanya.” Dia menggeser layar. “Yang di perjamuan tujuh hari dulu, investor luar negeri itu. Beliau sudah mengonfirmasi hadir.”
Kalila memandang layar, dan untuk beberapa detik dia hanya mendengar air menetes dari keran yang tak tertutup rapat.
Orang yang dulu menjabat tangannya di malam ketujuh. Orang terakhir yang berbicara dengannya sebelum lantai menjadi dingin.
“Taruh beliau di meja utama,” katanya akhirnya. “Dan jangan beri tahu aku siapa duduk di sebelahnya.”