Kalila tidak menjawab. Dia mengambil cangkirnya sendiri, mendekatkannya ke hidung, dan membiarkan uap itu menampar wajahnya. Pahit-manis, sedikit hangus di ujung. Aroma yang dulu memenuhi dapur megah di Syailendra setiap pukul lima pagi, bersama roti panggang yang tidak pernah Keanu habiskan.
“Aku tidak sengaja,” katanya akhirnya.
“Saya tahu, Bu.” Asti menunduk menatap permukaan kopinya. “Justru itu.”
Dua staf di ujung meja mendadak sibuk. Yang satu menggosok meja yang sudah bersih, yang lain menghitung kotak kemasan yang jumlahnya sudah mereka hafal. Kalila meletakkan cangkir itu tanpa menyesapnya dan tersenyum tipis, senyum orang yang tertangkap basah oleh tangannya sendiri.
“Tiga tahun,” gumamnya. “Delapan puluh lima derajat. Tubuhku ternyata lebih setia daripada aku.”
Tak seorang pun menanggapi. Itu kebaikan paling besar malam itu.
Dia baru tidur menjelang subuh, dan itu pun tidak nyenyak. Tiap kali matanya terpejam, dia mendengar dentingan sendok pada cangkir porselen putih milik rumah lain, di meja makan yang kini diduduki orang yang berbeda. Dia terbangun dengan leher kaku dan telapak tangan basah.
Pagi harinya dia keluar dari kamar ke dapur sebelum siapa pun datang. Teko kopi dari semalam masih berisi separuh, dingin dan menghitam. Dia memandanginya cukup lama, lalu mengangkatnya dan menuang semuanya ke wastafel. Cairan cokelat itu berputar sekali, dua kali, lalu lenyap lewat lubang pembuangan.
Asti masuk dari pintu belakang tepat ketika dia membilas teko. Perempuan itu melihat wastafel, melihat teko, melihat wajah Kalila, dan memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengambil lap dan mengeringkan teko itu tanpa diminta.
Ponsel Kalila bergetar di atas meja jati pukul tujuh lewat sepuluh. Nama Mama.
“Kalila, Nak, kamu sudah sarapan?” Suara Mama pelan tetapi terburu. “Eyang minta kamu datang pagi ini. Jangan khawatir, Keanu tidak di sana, pengacara pun tidak. Eyang hanya bilang ada yang mau dia minta darimu.”
“Minta, Ma?”
“Itu kata yang Eyang pakai. Mama sendiri belum tahu isinya.”
*
Ruang keluarga di rumah Eyang berbau melati dan minyak kayu putih. Eyang duduk di kursi berlengan ukir dengan tongkat bersandar di pahanya, Mama di sebelah kiri dengan cangkir yang belum disentuh. Julian tidak ada. Kursi di ujung ruangan yang dulu dia duduki kosong, dan Kalila menyadari bahwa matanya mencarinya sebelum dia sempat melarangnya.
“Duduk,” kata Eyang. “Dan makan dulu. Ibunya Keanu sudah membawakan lontong.”
Kalila duduk, menerima piring yang disodorkan, dan makan beberapa suap. Lontong itu hanya terasa seperti kenyal dan hangat. Eyang memperhatikannya tanpa berkedip, dan Kalila tahu perempuan tua itu menghitung berapa suap yang masuk.
“Yayasan panti mengadakan gala amal lima belas hari lagi,” kata Eyang akhirnya. “Sabtu malam, di aula gedung milik keluarga Baskara. Dua ratus tamu. Ketua yayasan, para donatur, kenalan-kenalan Eyang. Biasanya katering diserahkan ke hotel yang itu-itu saja, dan setiap tahun orang-orang pulang sambil mengeluh dagingnya alot.”
Kalila meletakkan sendoknya. “Eyang mau Reina’s Catering melayani acara itu.”
“Eyang mau kamu.”
“Eyang, saya tidak bisa.” Kalila menegakkan duduknya. Suaranya tetap sopan, tetapi di bawahnya ada getaran yang tak bisa dia sembunyikan. “Studio saya kehilangan hampir semua klien besar bulan ini. Foto itu masih beredar. Dua ratus orang tamu, sebagian pasti sudah membacanya. Dan saya ...” Dia berhenti. “Lidah saya, Eyang. Saya memasak dengan timbangan dan lidah orang lain. Kalau menunya cacat di depan dua ratus orang, bukan hanya saya yang jatuh. Nama Eyang ikut.”
“Eyang bertanya apakah kamu bisa, bukan apakah kamu takut.”
“Itu pertanyaan yang sama, Eyang.”
Sudut bibir Eyang bergerak sedikit. “Kamu cepat sekali belajar menjawab.” Perempuan tua itu mengetukkan ujung tongkat ke lantai. “Dengar baik-baik. Eyang tidak sedang mengasihani kamu. Kalau Eyang kasihan, Eyang kirim uang dan menyuruh kamu duduk di rumah. Ini permintaan donatur kepada juru masak yang dia percaya.”
“Eyang belum pernah mencicipi masakan saya sejak ...”
“Eyang mencicipinya di pernikahanmu, tiga tahun lalu. Sampai sekarang Eyang ingat rasa sup buntutnya.” Eyang menatap lurus. “Rasa tidak hilang, Kalila. Dia hanya bisu. Dia sedang menunggu kamu berhenti berteriak supaya dia bisa bicara lagi.”
Kalila menunduk. Tenggorokannya mendadak sempit, dan dia tidak tahu apakah itu karena kalimat Eyang atau karena lontong yang kering.
Mama berdeham. “Bu, saya setuju. Tetapi dengan syarat.” Dia menoleh pada Kalila, dan matanya lembut sekaligus teguh. “Menunya kamu yang pegang, dari awal sampai akhir. Tak seorang pun boleh menyuruh kamu mengganti apa pun. Dan Julian tidak boleh mengatur apa pun, Nak. Sehelai serbet pun tidak.”
“Dia sedang cuti,” kata Eyang datar. “Dan dia sendiri tidak tahu Eyang memanggilmu hari ini.”
Wajah Kalila terasa hangat. Dia tidak bertanya, dan Eyang tidak menjelaskan.
“Ada yang saya khawatirkan,” kata Kalila pelan. “Gosip. Kalau saya berdiri di dapur acara keluarga Baskara, orang akan bilang ...”
“Biar mereka bilang.” Eyang menggeleng. “Orang yang bersembunyi dibicarakan sepuluh kali lebih lama daripada orang yang berdiri di dapurnya sendiri sambil memegang pisau. Eyang mau mereka melihat kamu bekerja.”
Kalila memandang kedua perempuan itu bergantian. Di dinding belakang Eyang tergantung foto keluarga yang sudah menguning, dan dia melihat Julian kecil di sana, berdiri paling pinggir dengan topi terlalu besar. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan.
“Saya mau,” katanya. “Dengan satu permintaan.”
“Sebut.”
“Anak-anak panti jadi panel pencicip. Sepulang sekolah, di dapur panti. Mereka tidak punya alasan berbohong soal rasa, Eyang. Dan kalau lidah saya bisu, saya butuh yang jujur.”
Eyang tersenyum penuh, dan senyum itu membuat wajah tuanya tampak sepuluh tahun lebih muda. “Itu ide yang akan Eyang curi kalau kamu tidak menyebutnya lebih dulu.”
Mama menepuk punggung tangan Kalila. Lalu, seolah baru teringat, dia menambahkan dengan suara yang diturunkan, “Satu hal lagi, Nak. Mama tidak akan memberi tahu Keanu siapa yang melayani acara itu.”
“Dia akan tahu, Ma.”
“Ya.” Mama menatap cangkirnya yang dingin. “Tetapi biar dia tahu dari tempat lain, dan biar dia sendiri yang memutuskan datang atau tidak.”
Kalila mengangguk. Eyang mengulurkan selembar kartu undangan bertepi emas pudar, dan Kalila membaca tanggalnya dua kali supaya yakin dia tidak salah hitung. Lima belas hari. Lima belas hari untuk dua ratus porsi, dengan lidah yang bisu.
*
“Dua ratus?” Asti nyaris menjatuhkan mangkuk adonan. Dia berdiri di tengah dapur vila dengan tepung di dagu, dan dua stafnya berhenti bernapas. “Bu, kita baru kehilangan tiga klien kemarin. Kita punya empat belas kotak sehari. Dan sekarang dua ratus orang, di aula keluarga Baskara?”
“Dua ratus satu, dengan Eyang.” Kalila menggantung tasnya di paku dekat pintu. “Duduk, Asti. Aku mau menghitung bersamamu.”
Dia membentangkan kertas bergaris di meja jati dan menulis tiga kolom: bahan, jam, orang. Tangannya bergerak mantap, dan hanya dia yang tahu bahwa kemantapan itu pinjaman. Asti menarik kursi dan duduk, dan lama-lama bahu perempuan itu menurun juga, seperti orang yang menemukan pegangan di tengah arus.
“Lidah saya sudah siap, Bu. Tapi lidah saya cuma satu.”
“Tidak. Ada satu yang lain.” Kalila menulis angka di ujung kertas. “Sepuluh. Anak-anak panti. Mereka yang menentukan apakah saus itu terlalu asin atau terlalu manis. Kita hanya mencatat.”
Asti terdiam, lalu tertawa pendek, hampir terisak. “Ibu serius menyerahkan gala dua ratus orang ke lidah anak SD?”
“Mereka tidak tahu cara berbohong soal rasa.” Kalila meletakkan pensil. “Itu yang kubutuhkan sekarang, Asti. Seseorang yang jujur.”
Di luar jendela, cahaya sore jatuh di pagar panti yang cat putihnya mengelupas. Kalila memandangnya sebentar. Beberapa pekan lalu pagar itu tempat seorang laki-laki bertopi mengarahkan kamera. Hari ini dia akan berjalan melewatinya membawa kertas menu.
“Kamis depan, sepulang sekolah,” katanya. “Sampai itu, kita habiskan hari-hari untuk pemasok dan daftar bahan. Lalu kita mulai dengan sup.”