Tiga hari setelah dia berdiri di ruang kerja Julian, kalimat laki-laki itu masih berputar di kepala Keanu seperti kaset rusak. Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Julian, melainkan ke dalam rumahnya sendiri. Dia sudah membongkar ingatannya sampai ke dasar: siapa yang tahu soal apartemen, siapa yang tahu soal panti, siapa yang bisa menjangkau ponsel dan surel dan meja kerjanya. Daftarnya pendek. Terlalu pendek. Dan setiap kali dia hampir mencapai nama di ujung daftar itu, kepalanya berdenyut dan dia menyalakan kopi hitam lagi, yang lagi-lagi terasa seperti air kotor.
Kamis pagi, ruang sidang itu sama dinginnya seperti sebelumnya. Kipas langit-langit berputar pelan. Hakim ketua membuka sidang, menanyakan kehadiran, dan mempersilakan tergugat menyampaikan jawaban.
Pengacara berambut perak itu berdiri, merapikan jas, dan membacakan dengan suara datar yang terlatih. Jawaban atas gugatan, dalil demi dalil, dibantah satu per satu. Keanu mendengarnya seperti mendengar pengumuman stasiun di tempat yang tak dia tuju. Ketika sampai pada halaman keempat, nada pengacaranya sedikit berubah.
“Selain jawaban, tergugat mengajukan gugatan balik, Yang Mulia.”
Kepala Keanu terangkat.
“Dasar pertama, nusyuz, yaitu penggugat meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin tergugat. Dasar kedua, adanya dugaan hubungan khusus antara penggugat dan pihak ketiga, yaitu Dokter Julian Baskara, sebagaimana terlampir dalam bukti satu sampai tiga.” Pengacara itu mengangkat selembar kertas berisi foto. “Foto yang diambil pada hari Minggu di sebuah panti asuhan menunjukkan penggugat bersama pihak ketiga dalam suasana yang akrab.”
Keanu menoleh ke samping. Di bawah meja, tangannya menggenggam tepi kursi sampai kuku-kukunya memucat. Kata siapkan, tapi jangan diajukan dulu terngiang di telinganya, kalimatnya sendiri, dari ruangan yang berbeda. Pengacaranya melirik sekilas, singkat, nyaris tak kentara.
“Tenggatnya hari ini, Pak,” bisik pria itu tanpa menggerakkan bibir. “Kalau tidak diajukan sekarang, haknya hangus.”
Keanu bisa menghentikan semuanya dengan satu kalimat. Berdiri, mengangkat tangan, berkata hentikan. Tinggal itu.
Dia tidak melakukannya.
Dia menunduk memandang lampiran yang terbuka di mejanya, foto-foto tercetak di kertas mengilap, dan tidak menyentuhnya. Dia tidak membacanya, juga tidak membantah apa pun. Hakim ketua mencatat sesuatu.
Di seberang ruangan, Kalila mendengar nama itu disebut dengan suara datar dan merasakan sesuatu mengeras di dalam dirinya, bukan marah, lebih mirip batu yang mengendap di dasar sungai setelah arus lewat. Dia sudah diperingatkan pengacaranya. Dia sudah menduga. Yang tidak dia duga adalah betapa tenangnya dia ketika dugaan itu menjadi kenyataan, dan betapa matanya, tanpa dia perintahkan, bergeser mencari Keanu. Laki-laki itu duduk dengan kepala tertunduk, dan Kalila menatap puncak kepalanya cukup lama untuk mengerti bahwa diam pun adalah pilihan.
*
“Kuasa hukum penggugat, silakan menanggapi,” kata hakim.
Pengacara Kalila berdiri dengan tenang. Dia membawa tiga map tipis yang disusun menurut warna, dan tidak membuka satu pun sebelum berbicara.
“Yang Mulia, terima kasih. Kami menolak seluruh dalil gugatan balik dan akan membuktikannya dengan dokumen. Pertama, catatan lengkap semua kontak antara klien kami dan Dokter Baskara, dengan tanggal, jam, tempat, dan durasi, yang diserahkan kepada kami sebelum foto itu beredar.” Dia menaruh map pertama di meja panitera. “Kedua, surat serah-terima perawatan, bertanggal tiga pekan sebelum foto beredar, menunjukkan bahwa dokter tersebut sudah tidak lagi menjadi dokter klien kami. Ketiga ...”
Dia membuka map terakhir.
“Rekaman kamera pengawas lobi apartemen pada malam yang menjadi pangkal tuduhan ini. Rekaman menunjukkan Dokter Baskara masuk lobi dan keluar dua belas menit kemudian. Rekaman juga menunjukkan siapa yang datang beberapa menit sebelumnya dan memaksa naik ke lantai atas hingga dicegah petugas.”
Keanu memejamkan mata sedetik. Dia tidak perlu melihat rekaman itu untuk tahu apa yang ada di dalamnya. Dirinya sendiri, jas kusut, napas memburu, tangan menunjuk dengan kasar ke arah petugas yang menahannya. Dia sudah menyaksikan wajah itu di mimpi-mimpinya sendiri selama dua pekan.
“Mengenai foto di panti,” lanjut pengacara Kalila, “kami menyatakan bahwa klien kami sendiri yang melaporkan pertemuan itu, beserta ciri orang yang memotretnya, pada hari Senin pagi, sebelum foto itu muncul di ruang publik. Catatannya ada pada kami. Foto yang dilampirkan tergugat memperlihatkan dua orang berdiri pada jarak sekitar satu meter, dikelilingi belasan orang. Bila ini disebut keakraban, maka definisi keakraban di pengadilan ini harus ditulis ulang.”
Terdengar tawa tertahan dari bangku pengunjung. Hakim ketua mengetuk meja satu kali, tidak keras.
“Cukup. Majelis telah menerima jawaban, gugatan balik, dan tanggapan. Kedua pihak diperintahkan menyiapkan pembuktian. Panitera akan mengirim jadwal sidang berikutnya. Sidang ditutup.”
*
Di luar ruang sidang, Keanu menyusul Kalila yang berjalan cepat di koridor bersama pengacaranya. Dia memanggil sekali. Pengacara Kalila memperlambat langkah dan melirik kliennya. Kalila berhenti, menoleh setengah badan.
“Aku tidak menyuruh mereka menulis nama Julian.” Suara Keanu pecah di tengah. “Sungguh. Aku tidak menyuruh.”
Kalila memandangnya. Tidak ada kebencian di wajah itu, dan Keanu sempat berharap ada, karena kebencian lebih mudah dilawan daripada apa yang dia lihat: kelelahan yang tenang.
“Aku percaya,” kata Kalila. “Aku percaya kamu tidak menyuruh mereka menulisnya.”
Napas Keanu terlepas setengah.
“Tapi kamu tidak menyuruh mereka berhenti.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Justru karena itu dia mendarat paling dalam. Keanu berdiri dengan mulut terbuka separuh, dan sebelum dia sempat menemukan satu pun jawaban, Kalila sudah berbalik dan melangkah pergi.
*
Sore itu Kalila pulang lebih awal dari yang direncanakan, ditemani Asti yang tidak banyak bertanya sepanjang jalan. Di gerbang vila Asti baru membuka mulut.
“Mereka menulis nama dokter di pengadilan, Bu.”
“Mereka menulis nama kita berdua.” Kalila menutup pintu mobil. “Itu bagian dari rencana pihak sebelah. Pengacaraku sudah bilang, dan dia benar, dan aku masih ingin menendang sesuatu.”
“Tendang saja ban mobil saya, Bu. Sudah botak.”
Kalila tertawa, pendek dan nyaris tanpa suara, tawa pertama dalam dua hari. Lalu mereka masuk.
Vila diselimuti cahaya oranye pucat yang menyelinap lewat jendela dapur. Asti dan dua staf baru selesai mengemas pesanan kecil dari panti, dan mereka duduk di meja jati dengan wajah letih. Kalila berdiri di depan kompor, memegang ketel kecil, dan tanpa berpikir menyiapkan cangkir-cangkir keramik di rak.
Dia menimbang biji kopi arabika dari toples, menggilingnya kasar, lalu menunggu air mendidih. Termometer kecil dicelupkan. Delapan puluh lima derajat, tepat. Tangannya tahu persis apa yang harus dilakukan; matanya hanya mengikuti. Dia tidak merasa sedang memikirkan siapa pun. Dia hanya ingin sesuatu yang hangat untuk orang-orang yang sudah bekerja seharian. Uap naik, aroma pahit-manis memenuhi dapur kecil itu, dan dia menuang ke tiga cangkir dengan gerak sangat mengalir.
“Silakan, Asti. Kalian juga,” katanya sambil menyodorkan cangkir.
Asti menerima dengan kedua tangan, menyesap, dan seketika berhenti.
Dia memegang cangkir itu lama sekali. Dua staf di sampingnya saling berpandangan. Asti menurunkan cangkir ke meja dengan sangat hati-hati dan menatap Kalila.
“Bu,” katanya pelan. “Ini kopi Pak Keanu.”