… aku adalah orang yang memelukmu di bawah hujan badai malam itu…
*
Kalila menyeka bulir keringat dingin di keningnya. Sudah beberapa hari berlalu sejak dia menyampaikan pada Keanu tentang ‘pengunduran dirinya’ sebagai istri Keanu Syailendra dan sedang menunggu proses perceraian.
Sayangnya, sejak itu, mual psikosomatis itu kian sering datang. Setiap kali dia mencoba mencicipi bahan makanan, lambungnya bergejolak hebat dan tangannya bergetar tak terkontrol.
Saat ia memegang sebuah mangkuk porselen, pandangan mata Kalila mendadak kabur. Kepalanya berputar hebat, menarik kesadarannya mundur jauh ke dalam sebuah kilas balik memori kelam yang terjadi tepat tiga bulan sebelum dia memutuskan untuk mogok menjadi istri.
Sore itu, hujan baru saja membasahi ibu kota. Kalila duduk sendirian di sudut sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan setelah menyelesaikan pertemuan penting dengan seorang calon pelanggan besar.
Wajahnya sempat berseri-seri saat menatap layar ponselnya. Dua jam lalu, Keanu mengirimkan pesan singkat, sebuah kelangkaan dalam pernikahan mereka terutama sejak dia keguguran. Tiba-tiba saja Keanu mengajaknya makan malam romantis di sebuah restoran yang cukup mewah, “Aku akan datang ke restoran jam tujuh malam. Kita makan malam di luar.”
Janji sederhana itu membuat Kalila rela menunggu dengan sabar dan hati berdebar. Jam menunjukkan pukul tujuh, lalu bergeser ke pukul delapan. Kopi di cangkirnya sudah mendingin, pastry yang dia pesan masih tersisa sedikit, tapi siluet sosok Keanu belum juga tampak. Kalila mulai gelisah, dia mencoba menelepon, mengirimkan rentetan pesan, tapi entah kenapa Keanu tidak merespon, sampai ponselnya sendiri menyisakan sedikit sekali daya baterai.
Kalila tidak tahu bahwa di poros jalan yang lain, Keanu baru saja membanting setir mobilnya ke arah apartemen Dania. Usai magrib tadi, Dania menelepon Keanu sambil menjerit histeris. Janda muda ini mengaku melihat sosok bayangan mendiang suaminya berdiri di sudut kamar, membuatnya mengalami panic attack akut yang hebat.
Keanu, yang terpasung oleh permintaan mendiang sahabatnya, langsung mengabaikan segalanya, termasuk lupa pada janjinya akan makan malam dengan Kalila. Dia mengebut secepat yang dia bisa untuk menembus kemacetan demi menemani Dania yang ketakutan, hingga dia melupakan sepenuhnya bahwa ada seorang istri yang sedang menatap pintu restoran dengan harapan yang perlahan mati.
"Mohon maaf, Nyonya... resto kami sudah bersiap untuk tutup," suara pelayan terdengar penuh rasa iba padanya, seketika membuyarkan lamunan sepi Kalila tepat pukul sepuluh malam.
Dengan hati yang remuk, penuh rasa malu dan d**a yang sesak oleh kekesalan, Kalila pulang memakai taksi konvensional. Di dalam kabin taksi, air matanya luruh bersama derasnya hujan badai yang kian mengamuk.
Kekesalan Kalila sempat mereda saat akhirnya ponselnya bergetar dan terlihat pesan pop-up dari Keanu, tapi saat dia membuka pesan itu, amarahnya membubung tinggi karena Keanu menulis pesan dia menemani Dania yang ketakutan. Tidak ada permintaan maaf karena melupakan begitu saja janjinya.
Kalila menghapus air matanya dengan kasar. Suaminya sedang berada di pelukan masa lalunya, dengan alasan kemanusiaan, sementara dirinya, sang istri sah, dibiarkan malu dan kedinginan di restoran. Entah kenapa, semesta malam itu sepertinya juga berkonspirasi hingga begitu kejam padanya. Begitu taksi menurunkannya di depan gerbang megah kediaman Syailendra, dia harus menghadapi badai yang menerpa dengan sangat dahsyat.
Saat Kalila merogoh tasnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ponselnya mati total karena kehabisan daya baterai dan kunci kartu akses gerbang otomatis miliknya tertinggal di atas laci dapur dalam.
Satpam! Kalila melongok ke kaca di tempat satpam biasa berjaga, tapi tidak ada orang. Kalila terpaksa berdiri di selasar luar pos satpam yang sempit. Hujan badai yang deras seketika mengguyur seluruh tubuhnya hingga basah kuyup dalam hitungan detik. Dia menekan bel interkom berkali-kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah, sepertinya sirkuit listrik utama mati akibat tersambar petir, membuat para pelayan berada di area genset belakang.
Air hujan menembus blazer, kemeja, hingga ke kulit. Tubuhnya menggigil hebat. Dia memeluk dirinya sendiri di selasar sempit di depan pos satpam, lututnya hampir menyerah. Di detik itu, di tengah dingin yang menusuk tulang, satu kesadaran muncul, dia tidak berarti apa pun bagi Keanu.
Pandangan Kalila berputar, lututnya lemas dan saat tubuhnya yang basah kuyup hampir meluruh terjatuh di atas lantai tegel marmer yang keras tiba-tiba saja.
Grep…
Sepasang lengan kekar yang kokoh tiba-tiba menangkap tubuhnya dari belakang, mendekapnya dengan kehangatan yang tak terduga sebelum tubuhnya menyentuh dinginnya lantai. Kalila mengerutkan dahinya dengan sisa kesadarannya yang kian tipis. Dia menghidu wewangian maskulin yang meneduhkan dan aroma antiseptik khas rumah sakit menguar dari tubuh pria yang memeluknya.
Bukan Keanu, ini bukan aroma parfum atau tubuh suaminya. Aroma ini terlalu asing tapi entah kenapa begitu menenangkannya.
Kalila membuka matanya sedikit, menatap garis rahang yang tegas dan sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai tipis. Satu sosok pria tampan sedang berdiri tegap di bawah guyuran hujan, memegang payung yang dia yakin itu payung rumahnya, melindungi sebagian tubuh mereka.
"Tahan kesadaranmu, Kalila!" suara bariton si pria itu terdengar dan penuh ketenangan di sela-sela gemuruh hujan. Pria itu mengangkat tubuh Kalila dengan mudahnya, lalu berlari menerobos hujan masuk ke dalam rumah.
“Buka kamarnya!” teriak Jullian Baskara, dokter tampan yang juga paman Keanu Syailendra. Dia letakkan tubuh Kalila dan segera lakukan pemeriksaan medis. “Simbok, lap tubuh Kalila dan tolong ganti bajunya. Aku akan mengambil tas dokterku di mobil.”
*
Kilas balik memori kelam malam itu seketika terhenti saat pusing kembali menyerang kepalanya. Tubuh Kalila limbung. Lambungnya bergejolak hebat oleh sisa trauma dan sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya sore ini, dia kembali mendengar teriakan panik dari para stafnya.
Prang!
Sebuah mangkuk porselen lolos dari genggaman Kalila saat ini dan pecah berkeping-keping di atas lantai tegel studio catering-nya.
“Astagfirullah…, Bu Kalila, Ibu kenapaaa??”
Beberapa saat kemudian, bau karbol menyengat khas rumah sakit dan antiseptik yang tidak kalah tajam menyambut kesadaran Kalila saat dia perlahan membuka mata. Kepalanya masih berputar, tapi dia paksakan untuk memindai sekeliling. Dia tahu dia ada di ruangan VVIP sebuah rumah sakit swasta mewah di Jakarta.
Parfum ini…?!
Pusing di kepala Kalila masih mampu membuatnya untuk menghidu harum parfum dari sosok pria tampan berkaca mata yang menolongnya waktu itu.
"Sudah sadar? Lama tidak berjumpa dalam kondisi normal, Kalila," ucap Julian, suaranya terdengar tenang tapi sarat akan analisis psikologis yang tajam saat menatap istri keponakan itu. "Aku adalah orang yang memelukmu di bawah hujan badai malam itu dan hari ini, aku kembali menjadi dokter yang harus menyelamatkan jiwamu, Kalila.”
Kalila tetap terbaring kaku. Monitor di sampingnya berbunyi lebih cepat. Dadanya berdegup lebih kencang, karena untuk pertama kalinya sejak dia “mengundurkan diri” sebagai istri… seseorang lain seolah sudah menunggu di ambang pintu hidupnya.
Tapi..., benarkah itu...?