“Kami belum mengirim undangan, Dokter Julian.”
Direktur rumah sakit mengucapkannya dari ujung meja panjang tanpa mengangkat alis, seorang laki-laki enam puluhan berambut putih dengan wajah yang selalu tampak sedang menghitung. Di kiri dan kanannya duduk masing-masing dua anggota dewan etik, salah satunya dokter perempuan senior yang dulu membimbing Julian. Tak seorang pun tersenyum. Ruang rapat itu berada di ujung koridor lantai teratas, tempat karpet meredam semua langkah, dan Julian sudah menunggu sepuluh menit di kursi luar dengan map cokelat di pangkuan sebelum sekretaris mempersilakannya masuk. Hari Senin itu tidak ada yang memanggilnya. Itulah inti kedatangannya: dia menyerahkan diri sebelum ada yang mencari.
“Saya tahu, Dok. Saya datang sendiri.” Julian tetap berdiri sampai dipersilakan duduk. “Ada foto yang beredar sejak Kamis. Nama saya dan nama rumah sakit ini tersangkut di kolom komentarnya. Lebih baik Bapak dan Ibu mendengar kronologinya dari saya, sebelum mendengarnya dari orang yang tidak punya catatan.”
Dia membuka map dan menjelaskan tanpa ornamen: Kalila Reina pernah menjadi pasiennya karena gangguan psikosomatis, perawatannya sudah dia serahkan kepada rekan sejawat, dan foto di panti hanyalah pertemuan tidak disengaja, lima menit, jarak satu meter, disaksikan belasan orang. Isi map itu sudah dibaca keluarganya hari Sabtu, dan dia tidak mengulangnya satu per satu.
Dokter perempuan senior itu membaca dokumen serah-terima dua kali. “Hubungan keluarga yang Dokter sebut. Apa persisnya?”
“Suami pasien adalah keponakan saya, Bu.”
Alis beberapa anggota dewan terangkat hampir serentak. Julian tidak menunda kalimat berikutnya.
“Karena itu saya menyerahkan perawatan. Saya sadar hubungan itu bisa dipakai untuk menyerang pasien. Dan saya tidak menyerahkannya sesudah ada foto, tetapi tiga pekan sebelum foto beredar.”
Sunyi. Direktur mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di tepi meja. Dokter perempuan senior itu menurunkan dokumen dan menatap Julian lewat atas kacamatanya.
“Dokter datang sebelum ada yang memanggil,” kata dokter senior itu. “Apa yang Dokter harapkan dari kami?”
“Keputusan yang tidak menunggu komentar daring, Pak. Kalau ada sanksi, saya terima. Yang tidak boleh terjadi adalah pasien lain mengira dokternya bisa disetir oleh gosip.”
“Satu pertanyaan lagi, dan Dokter boleh memilih tidak menjawab. Apakah ada alasan pribadi di balik penyerahan perawatan itu?”
“Ada, Bu.” Julian tidak berkedip. “Dan alasan itu yang membuat saya berhenti, bukan yang membuat saya melanjutkan. Hanya itu yang bisa saya katakan di ruangan ini, karena sisanya milik orang lain.”
Dokter senior itu menatapnya beberapa detik lalu mengangguk, pelan, seperti guru yang melihat murid lama memilih jawaban yang dulu dia ajarkan.
“Dokter Julian,” katanya akhirnya. “Secara etik, Anda sudah bertindak benar. Dokumen ini lebih rapi daripada kebanyakan yang kami terima. Namun rumah sakit ini punya reputasi yang harus dijaga, dan sampai gosip ini mereda, kehadiran Anda di lorong akan membuat orang membicarakan hal lain daripada pasien. Kami menyarankan cuti dua pekan.”
“Dengan atau tanpa gaji?”
“Dengan.”
“Saya terima.”
Direktur menatapnya sedikit lebih lama. “Anda tidak membantah.”
“Saya tidak punya alasan membantah, Dok. Saya tidak sedang membela diri. Saya hanya ingin memastikan tidak ada pasien yang dirugikan karena nama saya.”
Dia berdiri, membungkuk singkat, dan keluar dengan map di tangan.
*
Di ruang kerjanya di lantai lima, Julian baru memasukkan dua buku dan sebuah stetoskop ke kardus ketika jarinya menyentuh selembar kertas lecek di saku kemejanya. Gambar krayon dari panti: pohon, tiga sosok garis, dan bocah beringus yang tersenyum lebar. Dia meluruskannya di telapak tangan, memandanginya sebentar, lalu menyelipkannya ke laci paling atas, bukan ke kardus. Ada hal yang tidak ikut cuti.
Ponselnya berdering. Nomor pengelola apartemen.
“Dokter Julian? Maaf mengganggu pagi-pagi. Saya dari manajemen gedung.” Suara laki-laki muda, hati-hati. “Kami mendapat surat dari kantor pengacara Bapak Keanu Syailendra, meminta salinan rekaman kamera lobi malam tanggal yang sudah Dokter ketahui. Kami sudah menahan rekamannya sesuai permintaan, tetapi sebelum menyerahkan salinan, kami wajib menanyakan persetujuan pemilik unit.”
“Berikan,” kata Julian.
“Maaf?”
“Berikan saja salinan lengkapnya, tanpa dipotong. Dari saat saya masuk lobi sampai saya keluar, juga bagian saat Pak Keanu datang.” Julian menutup tutup kardus dengan satu tangan. “Biar mereka lihat sendiri.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Sambungan putus. Julian menatap kardus di mejanya. Rekaman itu menyimpan dua belas menit yang dia jalani seperti berjalan di atas tali: masuk, bicara dengan Keanu, keluar. Tidak ada hal yang membuatnya malu. Satu-satunya yang dia sesali adalah bahwa dia tidak bisa menjaga jarak lebih jauh dari tindakan Keanu malam itu.
Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.
Keanu berdiri di ambang, tanpa jas, kemejanya lecek dan dua kancing teratasnya terlepas. Wajahnya cekung. Di bawah matanya ada bayangan seperti noda tinta yang tak bisa dicuci.
“Julian.”
“Keanu.” Julian tidak berdiri. “Masuklah. Tutup pintunya kalau mau.”
Keanu tidak menutupnya. Dia berjalan dua langkah ke dalam, berhenti di tengah ruangan, dan menatap kardus-kardus di rak. “Cuti?”
“Dua pekan. Dewan etik.”
“Karena foto itu.”
“Karena orang-orang ribut soal foto itu.” Julian bersandar. “Kamu datang untuk apa?”
“Pengelola apartemen meneleponku pagi ini,” kata Keanu. Suaranya serak. “Pengacaraku meminta rekaman lobi dan kau mengizinkan mereka melihatnya. Utuh.”
“Utuh. Termasuk bagian ketika kau datang.”
Rahang Keanu bergerak. Dia tidak membantah, dan Julian tidak menekannya lebih jauh.
Keanu menarik napas. Tangannya mengepal dan terbuka dua kali sebelum dia berbicara. “Apa kamu yang menyebarkan foto itu?”
Julian tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan laki-laki di depannya, bukan sebagai dokter, tetapi sebagai laki-laki yang tumbuh di meja makan keluarga yang sama, yang kini menatapnya dengan sorot hampir memohon. Dia memperhatikan tulang pipi yang menonjol, kerah yang terlalu longgar, tangan yang gemetar tipis. Seandainya dia masih bisa bertindak sebagai dokter, dia akan memeriksa tekanan darah pria itu saat itu juga. Dia tidak bisa. Dia tidak boleh.
“Kamu kehilangan lima kilo, kurang lebih,” katanya.
“Tutup mulutmu, Julian. Jawab pertanyaanku.”
Julian bangkit, menuang air dari kendi kaca ke gelas, dan meletakkannya di tepi meja di depan Keanu tanpa menyodorkannya. Keanu menatap gelas itu sebentar, lalu meminumnya sampai habis dengan gerakan orang yang menenggak obat.
“Air pun tidak ada rasanya,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
“Kalau kamu mau diperiksa, aku bisa mengantarmu ke internis rekanku,” kata Julian. “Tetapi bukan aku.”
“Aku tidak datang untuk berobat.”
“Aku tahu.”
“Tidak.” Julian mengucapkannya tanpa meninggikan suara. “Aku tidak punya alasan menyebarkan foto yang membuktikan aku berdiri satu meter dari istrimu di tengah orang banyak. Foto itu menguntungkan aku hanya kalau dibaca dengan lengkap, dan orang yang menyebarkannya jelas ingin tidak ada yang membacanya lengkap.”
Keanu membuka mulut hendak membalas, tetapi tidak ada yang keluar. Dia menunduk. Julian melihat dahinya berkerut, pelan, seperti orang mencoba menghitung sesuatu dan baru menyadari angkanya hilang.
“Kalau bukan kamu,” kata Keanu lambat, “maka siapa?”
Julian menatapnya, dan di wajah itu dia melihat hal yang tidak ingin dia lihat: Keanu benar-benar tidak tahu.
“Itu pertanyaan yang seharusnya kauajukan kepada rumahmu sendiri.”