Julian tiba di rumah ibunya pukul sembilan kurang sepuluh, lebih awal sepuluh menit dari yang dijadwalkan, dan masih sempat duduk di mobil menghitung napas sebelum turun. Rumah tua berhalaman luas itu tidak banyak berubah sejak dia kecil. Pohon sawo di pojok, beranda berubin kuning, dan kursi rotan yang catnya terkelupas di sandaran. Hanya satu hal yang baru: sedan putih yang biasa dipakai Mama terparkir di bawah pohon, tepat di tempat Julian dulu memarkir sepedanya.
Dia membawa map cokelat di tangan kiri. Tidak ada yang menyuruh. Dia hanya tahu bahwa ibunya, perempuan yang menolak dibohongi bahkan ketika kebohongan itu manis, akan mulai dengan dokumen sebelum perasaan.
Eyang menunggu di ruang tamu, di kursi berlengan dengan selendang abu-abu menutup bahu. Usianya tujuh puluh lebih, tetapi punggungnya tidak menyerah pada usia itu. Di sampingnya Mama duduk tegak dengan tangan terlipat, wajahnya pucat tetapi tertata, mata sembab yang ditutupi bedak tipis.
“Mah. Mbak.” Julian menunduk sedikit pada keduanya.
“Duduk,” kata Eyang.
Dia duduk di kursi tunggal yang sengaja diletakkan di tengah, berhadapan dengan dua perempuan itu seperti terdakwa. Julian mengerti tata letak itu dan tidak keberatan.
“Kita tidak akan basa-basi,” kata Eyang. “Mamanya Keanu sudah melihat foto itu. Ibu sudah melihat foto itu. Seluruh keluarga dan setengah kota sudah melihat foto itu. Sekarang Ibu ingin mendengar dari mulutmu sendiri. Apa yang terjadi di panti hari Minggu itu?”
Julian membuka map dan menyusun tiga lembar di meja kayu di antara mereka, satu demi satu.
“Pertama, catatan semua kontakku dengan Kalila sejak malam di taman panti. Tanggal, jam, tempat, durasi. Pertama kali di taman, tiga jam. Di apartemen lantai lima belas, malam itu tidak lebih dari ruang tamu, dua puluh menit. Lobi, dengan Keanu, dua belas menit. Ruang praktik, dengan perawat di luar dan pintu terbuka, empat puluh menit. Panti, hari Minggu, lima menit.” Dia menggeser lembar kedua. “Kedua, serah-terima perawatan kepada dokter pengganti pada Kamis tiga minggu lalu, ditandatangani tiga pihak. Sejak hari itu aku bukan dokternya. Ketiga ...”
Dia menaruh lembar ketiga paling akhir.
“Surat izin kepada pengelola apartemen. Siapa pun dengan kepentingan hukum yang sah boleh melihat rekaman kamera lobi pada malam itu. Aku tidak meminta rekaman itu ditahan atau dihapus. Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”
Eyang mengambil lembar-lembar itu dan membacanya satu per satu, kacamatanya merosot di ujung hidung. Mama ikut menatap dari samping, bibirnya bergerak tanpa suara saat membaca angka demi angka.
“Foto bisa dipotong, Julian,” kata Eyang akhirnya, melipat lembar ketiga. “Catatan tidak. Kamu bersiap lebih awal daripada yang Ibu kira.”
“Aku selalu bersiap lebih awal, Mah.”
“Itu yang membuat Ibu khawatir.” Eyang meletakkan kertas-kertas itu dan menatapnya, tajam seperti dulu ketika dia ketahuan membaca buku di bawah selimut saat disuruh tidur. “Dulu kamu berjanji pada Ibu bahwa kamu tahu batasannya. Ibu ingin tahu apakah janji itu masih kamu pegang, bukan hanya kamu ingat. Jadi jawab satu pertanyaan, dan jawab sungguh-sungguh. Kamu mencintai Kalila?”
Ruangan itu berhenti bernapas.
Julian tidak menoleh pada Mama. Dia tahu sorot mata di sampingnya, dia tahu ibunya sengaja mengajukan pertanyaan itu di depan orang yang paling tak siap mendengarnya. Seumur hidup dia mengenal cara berpikir ibunya: lebih baik luka dibuka di depan saksi daripada bernanah diam-diam.
“Ya,” katanya.
Suara jam bandul di sudut ruangan terdengar terlalu keras.
“Sejak sebelum dia menikah dengan Keanu. Dan aku tidak pernah melanggar batas. Tidak sekali pun, Mah. Tidak dengan ucapan, tidak dengan sentuhan, tidak dengan hadir di tempat yang bisa ditafsirkan. Itu sebabnya catatan itu ada.”
“Julian.”
Mama berdiri. Tangannya menempel di dada, dan wajahnya yang tertata runtuh perlahan seperti tembok yang kehilangan penyangga. “Kamu ... sejak sebelum ...” Dia menggeleng. “Kamu paman Keanu!”
“Aku tahu, Mbak.”
“Kalila istri Keanu!”
“Sampai saat ini, ya.” Julian berdiri juga, perlahan, supaya tak tampak seperti ancaman. Suaranya tetap rendah. “Dan aku tidak mencuri apa pun, Mbak. Aku tidak mengajaknya pergi, tidak merayunya, tidak mendorong siapa pun bercerai. Aku menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu sampai dia tidak lagi menjadi istri siapa pun. Itu pun hanya kalau dia mau. Kalau tidak, aku tidak menunggu apa-apa dan tidak pernah punya hak untuk menunggu.”
“Kalila tahu?” tanya Mama. Pertanyaan itu lebih mirip bisikan.
“Tidak.” Julian menatap lurus padanya. “Dan aku minta Mbak menyimpannya. Itu hakku untuk mengatakannya sendiri, kalau waktunya tiba dan kalau dia sudah bebas mendengarnya tanpa merasa dipaksa. Kalau Mbak yang menyampaikan, itu bukan lagi pengakuan. Itu tekanan.”
Mama diam sebentar. Lalu, seolah hal itu terlepas dari tangannya tanpa izin, dia berkata, “Semalam Mbak ke vilanya. Mbak tanya apakah dia punya perasaan padamu.”
Julian tidak bergerak. Di dadanya sesuatu menjadi sangat pelan.
“Dia jawab apa?”
“Katanya, dia bahkan belum punya perasaan pada dirinya sendiri.”
Julian menunduk. Sudut bibirnya bergerak, antara senyum dan sesuatu yang lebih mirip luka yang disentuh dengan hati-hati. “Itu jawaban yang benar,” katanya. “Itu justru jawaban yang kuharap dia berikan.”
Mama membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menoleh pada Eyang. Eyang hanya memandangnya dengan sorot yang berkata, tolong, Nak. Mama menarik napas panjang dan bahunya turun sedikit.
“Mbak simpan,” katanya. “Tapi tidak untuk lama.”
Mama menatapnya, lama. Julian membiarkan dirinya ditatap. Dia melihat bagaimana mata kakak iparnya itu bergerak dari wajahnya ke map, ke ibunya, ke jendela, seperti orang yang mencari tempat untuk menaruh sesuatu yang terlalu berat. Ketika bicara lagi, suara Mama nyaris tak terdengar.
“Mbak tidak tahu harus marah atau kasihan.”
“Mbak boleh memilih,” kata Julian. “Aku tidak akan melarang.”
*
Eyang diam cukup lama setelah Mama kembali duduk, mengusap pipinya dengan ujung jari. Di luar, seekor burung hinggap di dahan sawo dan berkicau sebentar, kemudian pergi.
“Ibu akan memutuskan sekarang,” kata Eyang. Dia tidak menaikkan nada, dan karena itulah keputusan itu terdengar mutlak. “Sampai ada putusan di pengadilan, kamu menjauh dari semua kontak publik dengan Kalila. Tidak panti, tidak studio, tidak rumah sakit tempat dia berobat, tidak acara keluarga yang dihadiri dia. Kalau perlu bicara, lewat Ibu atau lewat pengacaranya.”
“Setuju, Mah.”
“Ibu belum selesai. Kamu tidak boleh berhenti menjadi dokter yang baik hanya karena orang sedang ribut. Tetapi kamu juga tidak boleh membiarkan nama rumah sakit terseret karena Ibu.”
“Aku mengerti, Mah,” kata Julian. Dia mengambil kembali tiga lembar kertas itu dan memasukkannya ke dalam map.
“Dan kalau Keanu bertanya?” tanya Mama pelan. “Dia akan bertanya, cepat atau lambat.”
“Keanu sudah dewasa,” jawab Eyang sebelum Julian sempat membuka mulut. “Dia akan bertanya pada dirinya sendiri lebih dulu. Lebih baik begitu.”
Julian berdiri, memegang map dengan kedua tangan.
“Senin pagi aku menghadap dewan etik rumah sakit, Mah. Sendiri, sebelum ada yang memanggilku. Aku bawa catatan ini ke sana, supaya mereka mendengar dariku lebih dulu.”