“Kamu tidur?”
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Mama begitu Kalila membuka pagar kayu. Bukan salam, bukan nama, bukan foto. Mama berdiri di bawah lampu teras dengan sanggul sedikit longgar dan blus linen krem yang kusut di bagian lengan, tampak seperti orang yang sudah duduk berjam-jam di dalam mobil. Di tangan kirinya tergantung rantang susun tiga yang tutupnya terikat dengan karet gelang. Sedan putih di belakangnya mati mesin, sopir Eyang menunggu di balik kemudi tanpa menoleh.
“Tidur, Ma,” jawab Kalila.
“Berapa jam?”
“Tiga. Kadang empat.”
“Itu bukan tidur.” Mama menghela napas, melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, dan menyodorkan rantang itu seperti seseorang menyerahkan bayi. “Pegang. Berat. Mama masak sendiri, jadi kalau tidak enak, salahkan Mama saja.”
Kalila menerimanya dengan kedua tangan dan hampir tertawa karena beratnya. Rantang itu masih hangat dan baunya naik dari sela tutup: kuah santan, serai, daun jeruk. Hidungnya sempat mengenali aroma itu sebelum lidahnya, yang diam, bisa berkata apa-apa. Dia mengantarkan Mama ke ruang tengah, menyalakan lampu, dan menarik kain putih yang masih menutupi sebuah kursi.
Mama duduk dan memandang berkeliling. Matanya berhenti pada jam dinding yang mati di pukul empat lewat dua puluh, pada tegel retak, pada kaca jendela yang sudah dibersihkan separuh. Lalu pada Kalila.
“Jadi di sini.”
“Peninggalan orang tua saya, Ma. Sudah lama tidak ditinggali.”
“Eyang bilang jangan tanya.” Mama menggeleng pelan. “Mama tidak tanya. Mama hanya tidak menyangka kamu tinggal di rumah sekecil dan sesunyi ini, sementara Mama punya rumah besar di mana ada lima kamar kosong.” Dia berhenti. “Maaf. Mama tidak berhak bicara begitu.”
“Mama boleh bicara apa saja.”
“Tidak. Hak itu Mama habiskan waktu Mama menyuruh anak Mama menjaga amanah.”
Kalila menaruh rantang di meja dan duduk di seberang. Sesaat tidak ada yang berbicara. Dari dapur terdengar tetesan air dari keran yang belum tertutup sempurna.
“Kamu sudah makan hari ini?” tanya Mama lagi.
“Sudah, sedikit.”
“Mama bawa makan malam. Nanti kita makan bersama. Tapi sebelum itu ...” Mama mengambil napas yang terdengar mahal. “Mama harus menanyakan sesuatu, dan Mama minta kamu jawab apa adanya, bukan karena kasihan pada Mama.”
Kalila menunggu.
“Foto itu. Julian.”
Dia mengatakannya tanpa menekan, tanpa menuduh.
“Tidak ada apa-apa, Ma,” kata Kalila. Suaranya tenang, dan itu menolongnya. “Foto itu diambil hari Minggu, di panti, jam tujuh pagi. Dokter Julian datang mengantar titipan Eyang, dan dia sama sekali tidak tahu saya ada di sana. Kami bicara kurang dari lima menit. Ada meja di antara kami, dan jarak satu meter, dan belasan orang. Dia sendiri yang pertama melihat orang yang memotret. Dia sendiri yang menyuruh saya melapor kepada pengacara saya hari itu juga. Saya menundanya sampai Senin karena pengacara saya melarang pesan, dan itu tercatat.”
“Dia menjaga jarak?”
“Dia tidak pernah melangkahi garis, Ma. Lima menit itu, saya bahkan tidak yakin dia bernapas biasa.” Kalila berhenti, menyadari betapa jauh kalimat terakhir itu melebihi yang diminta. Dia menunduk. “Maksud saya, dia sangat berhati-hati.”
Mama memandangnya lama, kemudian mengangguk satu kali. “Mama percaya.”
Kalila mengangkat kepala.
“Mama percaya padamu, Nak. Dari malam kamu menolak meminta Mama menekan anak Mama. Orang yang berkata begitu tidak mengejar pelukan siapa pun.” Mama menyentuh pangkal hidungnya. “Yang Mama tidak percaya adalah orang-orang di luar sana.”
Rantang itu dibuka. Di lapis pertama ada sup santan dengan potongan ayam kampung, di lapis kedua nasi putih, di lapis ketiga tempe orek dan sambal teri. Mama menyendok sup ke mangkuk keramik yang dia temukan di rak dapur tanpa bertanya, menaruhnya di depan Kalila, dan duduk memandang.
Kalila menyuap. Hangat. Gurih, katanya dalam hati, karena dia ingat gurih yang seharusnya ada. Lidahnya hanya menyampaikan suhu.
“Enak, Ma,” katanya.
“Kamu berbohong, dan Mama tidak keberatan.” Mama tersenyum kecil. “Habiskan.”
*
Mereka makan dalam diam yang tidak mengusik. Mama menyuap pelan, matanya sering melayang ke dinding, ke lampu, ke kaca. Setelah sendok keduanya berhenti, dia meletakkannya di tepi mangkuk dan akhirnya mengatakan hal yang sejak tadi dia bawa.
“Keluarga kita sedang terbelah, Kalila.”
Kalila meletakkan sendoknya.
“Keanu gelap. Dia pulang, dia makan sedikit, dia masuk ruang kerja dan tidak keluar sampai subuh. Dia tidak menyebut foto itu, tidak menyebut Julian, tidak menyebut kamu. Mama tidak tahu apakah itu baik atau buruk.” Mama menunduk. “Eyang marah. Marah sekali. Bukan kepada kamu. Kepada siapa pun yang tega memotret dan menyebarkan. Tapi Eyang tidak bisa memukul bayangan, jadi dia memanggil orang untuk dimintai keterangan. Dan Mama ...”
Suaranya patah di tengah.
“Mama takut.”
Kalila belum pernah mendengar kata itu keluar dari mulut perempuan itu. Dia selalu mengenal Mama sebagai orang yang berdiri tegak, yang tahu tempat setiap cangkir, yang berbicara dengan intonasi seseorang yang tidak pernah dibantah. Sekarang Mama duduk di ruang tengah sebuah vila berdebu dengan tangan terlipat di pangkuan dan bahu yang menyempit.
“Takut apa, Ma?”
“Kehilangan. Mama sudah kehilangan suami. Mama tidak mau kehilangan Keanu karena Mama terlalu keras kepadanya, tidak juga kehilangan kamu karena Mama terlalu terlambat. Dan tidak juga ...” Dia berhenti sebentar. “Julian itu adik ipar Mama. Mama kenal dia sejak dia masih bocah.”
“Saya tahu, Ma.”
“Kalau begitu Mama tanyakan satu hal lagi, dan jangan jawab dengan sopan.” Mama menatap lurus. “Apa kamu punya perasaan padanya?”
Kesunyian turun sepelan embun.
Kalila menggenggam kedua tangannya di bawah meja. Dia ingin menjawab dengan satu kata, tetapi semua kata yang datang menggumpal dan tidak mau diurai. Dokter. Jaket. Bangku kayu. Teh yang diletakkan di tengah jarak. Dia tahu apa itu semua, dan dia tahu dia belum berhak menamainya.
“Ma.” Suaranya keluar lebih pelan dari yang dia kira. “Saya bahkan belum punya perasaan pada diri saya sendiri.”
Mama menatapnya lama. Matanya basah, tetapi dia tidak menangis. Lalu dia mengulurkan tangan dan menepuk punggung tangan Kalila dua kali, gerak sederhana yang membuat Kalila hampir menangis karena pernah melihat bocah beringus melakukan hal yang sama.
“Itu jawaban paling jujur yang Mama dengar bulan ini,” kata Mama. Dia mengusap sudut matanya dengan sapu tangan lipat. “Dengar, Kalila. Besok pagi Eyang memanggil Julian ke rumahnya. Mama akan duduk di sana. Mama mau dengar sendiri dari mulutnya, bukan dari foto dan bukan dari siapa pun.”