Kalimat itu tertulis dengan huruf tebal di atas foto: Istri CEO kabur ke pelukan paman suami? Tanda tanyanya satu, kecil, seperti pintu yang sengaja dibiarkan terbuka supaya semua orang bisa masuk.
Kalila membaca kalimat itu untuk kesekian kalinya di meja kerja pengacaranya, pukul sembilan pagi, dengan cangkir teh yang sudah dingin di sikunya. Kantor di lantai sembilan kawasan Sudirman itu rapi dan senyap, dan jendela besarnya memperlihatkan gedung-gedung yang tampak tidak pernah bimbang. Di meja ada tiga lembar cetakan: foto itu, kolom komentarnya, dan angka yang terus naik.
“Sudah dua puluh ribu lebih yang membagikan semalam,” kata pengacara itu sambil menggeser kacamatanya. “Lihat komentarnya, Ibu tidak perlu membacanya semua. Cukup tahu bahwa isinya persis seperti yang kita duga.”
“Aku sudah membacanya.” Kalila meletakkan lembar itu telungkup. “Semua.”
Semuanya masih terbayang jelas. Perempuan seperti ini yang bikin rumah tangga orang bubar. Pantas suaminya cari yang lain, lihat saja senyumnya. Dokternya kok mau-maunya, apa tidak punya malu sama keponakan sendiri. Dan di antara ratusan kalimat itu, yang pendek justru paling kejam: Kasihan suaminya. Kalila membaca tiga kata itu sampai hurufnya kehilangan bentuk.
“Itu keputusan yang tidak saya sarankan.” Pria itu menatapnya tanpa menghakimi. “Tapi sekarang dengarkan saya. Foto ini justru sumber kekuatan kita. Lihat latar belakangnya. Di sini ada dua belas, tiga belas orang, ibu-ibu membawa sapu, anak-anak, seorang pengasuh. Dapur terbuka, siang hari, atap seng yang terlihat jelas. Dan di antara Ibu dan Dokter Baskara ada meja papan. Saya mengukur dengan skala meja: kira-kira satu meter.”
“Latarnya sengaja dikaburkan, supaya orang-orang itu tampak tak berarti.”
“Tepat. Tapi kabur tidak menghapus jarak.” Dia mengetuk gambar dengan ujung pulpen. “Ibu sudah memberi tahu saya jam, tempat, dan siapa yang hadir sebelum foto ini beredar. Catatannya bertanggal Senin pagi. Unggahan ini keluar Kamis. Siapa pun yang membaca urutan itu akan bertanya, kenapa yang bersih justru yang lebih dulu mengaku?”
“Dan di pengadilan?”
“Mereka pasti memakainya. Gugatan balik hampir pasti mengutip foto ini, mungkin dengan lampiran yang lebih tajam.” Pengacara itu melepas kacamata dan menggosok pangkal hidungnya. “Karena itu saya minta satu hal. Jangan membalas apa pun di ruang daring, tidak satu kalimat pun, tidak juga lewat Mbak Asti. Kita tidak melawan gosip dengan gosip. Kita menunggu mereka menaruhnya di atas meja yang punya timbangan.”
“Dan kalau namaku habis sebelum meja itu ada?”
“Maka kita bangun lagi, bata demi bata. Itu lebih lambat, tapi tidak membusuk.”
Kalila memandang foto itu lagi. Wajahnya sendiri di sana, miring, setengah berpaling. Dia ingat persis momen itu: sendok kayu, uap panas, dan jarak yang dijaga dengan hati-hati oleh dua orang yang sama-sama sedang takut. Yang tidak dia ingat adalah bahwa wajah di foto itu terlihat tersenyum.
“Aku tersenyum,” katanya pelan.
“Ibu manusia, Bu Kalila. Manusia boleh tersenyum di dapur.”
Ponselnya bergetar di tas. Asti. Kalila mengangkatnya sambil tetap menatap meja.
“Bu.” Suara Asti serak dan terlalu pelan, seperti orang yang berbisik di ruang yang dindingnya tipis. Di belakangnya terdengar dentang wajan dan suara dua staf yang sedang berpura-pura sibuk. “Tiga klien lagi membatalkan. Yang katering ulang tahun, yang arisan, dan satu perusahaan kecil di Kuningan. Mereka bilang tidak enak dengan situasinya.”
“Alasannya?”
“Tidak ada yang bilang berani. Semuanya bilang ‘nanti kita kabari’.”
“Biarkan saja. Kembalikan uang mukanya penuh, tanpa potongan.” Kalila memejamkan mata. “Dan catat nama mereka. Bukan untuk membalas. Aku hanya ingin tahu siapa yang bertahan.”
*
Ruang praktik dokter pengganti itu lebih mirip ruang baca daripada ruang periksa: rak buku rendah, lampu kuning, dua sofa kecil, dan teh melati yang selalu sudah tersedia di meja kayu. Dokter perempuan itu sekitar tiga puluh lima tahun, berkacamata bulat, bersuara tenang dan tidak pernah berbicara terlalu banyak. Kalila duduk di sofa kiri, kebiasaan yang tidak pernah dia pertanyakan.
“Jurnalnya?” tanya dokter itu.
Kalila menyodorkan buku kecil. Dokter itu membaca dalam diam, membalik halaman, menyentuh satu baris dengan ujung jari.
“Kemarin, di warung. Sambal.”
“Asin,” kata Kalila. “Asin sekali. Aku menangis di depan piring nasi uduk.”
“Dan hari ini?”
Kalila menarik napas. “Pagi ini aku mencoba lagi dengan garam di dapur vila. Sempat terasa. Samar saja, hanya di ujung lidah. Lalu aku membuka ponsel dan membaca komentar-komentar itu, dan ketika kembali ke garam itu ...” Dia menggeleng. “Kosong lagi.”
Dokter itu meletakkan jurnal di pangkuan, tidak tampak terkejut. “Ibu tidur?”
“Tiga jam. Kadang empat.”
“Makan?”
“Tiga kali, walau separuh dari porsi biasa. Aku mengisinya jujur di sini.” Kalila menunjuk jurnal. “Aku tidak ingin mengarang apa pun lagi.”
“Bagus. Sekarang, Ibu ingat apa yang Ibu baca saat rasanya hilang?”
“Satu komentar. ‘Perempuan seperti ini yang menghancurkan rumah tangga orang.’”
“Dan Ibu percaya?”
“Tidak.” Kalila menatap tangannya sendiri. “Tapi tubuhku rupanya tidak bertanya apakah aku percaya.”
“Itu yang ingin saya sampaikan hari ini.” Dokter itu membetulkan kacamatanya. “Pemulihan Ibu tidak akan lurus. Ibu akan naik, turun, lalu naik lagi. Itu bukan kegagalan. Rasa di lidah Ibu mengikuti ketenangan, bukan keinginan. Kalau ada hal yang mengguncang, dia pergi dulu. Kalau Ibu mengizinkan diri tenang, dia kembali pelan-pelan.”
“Jadi aku tidak bisa memaksanya.”
“Tidak bisa. Tetapi Ibu bisa memberinya tempat yang aman untuk pulang.”
Kalila terdiam. Kata terakhir itu mengambang di antara asap teh melati, dan untuk sesaat dia teringat satu bangku kayu, seorang pria yang menjaga jarak, dan secangkir teh hangat yang diletakkan tepat di tengah-tengah.
Dia mengusir ingatan itu. Dia menyimpan satu kalimat baru di jurnalnya dengan huruf yang sengaja dibuat tegas: Jangan baca komentar sebelum mencicip. Dokter itu membaca tulisannya dari seberang meja dan tersenyum tipis.
*
Sore sudah turun ketika Kalila tiba di vila. Mobil Asti berhenti di bawah pohon kenari dan dia masuk membawa tas belanja, hati-hati menutup pagar agar engselnya tidak berderit. Di dapur dia membuka jendela, menyalakan kompor, merebus air untuk sup bening, kebiasaan yang kini dia lakukan tiap sore, meski lidahnya belum sepenuhnya pulang.
Dia sedang mencuci sayur ketika sebuah mobil berhenti di jalan sempit di balik pagar. Mesinnya dimatikan, pintunya terbuka dan tertutup, dan tidak ada langkah yang terdengar mendekat. Kalila mematikan keran dan berdiri diam dengan tangan basah.
Ponselnya bergetar lagi di atas meja jati. Layarnya menampilkan satu nama yang tidak dia duga akan muncul secepat ini.
Mama.
Tadi malam Mama menelepon tiga kali berturut-turut. Pada panggilan ketiga Kalila akhirnya menyerah dan menyebutkan alamat vila, bukan karena ingin, melainkan karena suara di ujung sana terdengar seperti seorang ibu yang takut menutup mata tanpa tahu di mana anaknya tidur. Dia belum menyangka Mama akan datang sendiri secepat ini, sehari sesudah foto itu.
Kalila mengangkat. “Mama?”
“Kalila.” Suara Mama pelan, sedikit terengah. “Mama di gerbang. Boleh Mama masuk?”