Enam hari setelah berita acara itu, Keanu tiba di ruang mediasi lima belas menit lebih awal dan duduk sendirian menghadap lukisan sawah yang masih miring. Selama enam hari itu dia tidak menelepon Kalila, tidak mengirim pesan, tidak mencari tahu di mana perempuan itu tinggal. Dia hanya makan seadanya, tidur tak lebih dari empat jam, dan menyuruh Dania tinggal di rumah bersama Mbok Darmi dengan kalimat yang kali ini tidak dia lunakkan: jangan datang.
Pengacara berambut perak itu tidak hadir lagi. Keanu yang meminta. Dia ingin duduk di ruangan ini tanpa seorang pun berbicara atas namanya.
Pukul sepuluh kurang lima, pintu terbuka. Kalila masuk bersama pengacaranya, mengenakan blus abu-abu dan celana panjang gelap, rambut diikat rendah. Dia melihat kursi di seberang meja yang sudah terisi dan satu kerut tipis muncul di dahinya, kerut orang yang mengira lawannya akan terlambat dan harus merevisi dugaan.
Mediator menyalakan perekam, membaca nomor perkara, dan membuka sesi.
“Sebelum kita mulai,” kata Keanu, lebih cepat daripada niatnya. Semua kepala menoleh. Dia menelan ludah. “Saya ingin menyampaikan sesuatu. Boleh?”
Mediator memberi isyarat dengan tangan.
Keanu menatap meja, lalu memaksa dirinya menatap Kalila. “Aku minta maaf soal Jumat lalu. Aku pergi di tengah sesi. Aku seharusnya ... tidak meninggalkan ruangan ini, apa pun alasannya.”
Kata maaf itu keluar dengan susah payah, kaku seperti benda berkarat yang lama tak dipakai. Tidak ada embel-embel pembelaan di belakangnya. Keanu sendiri heran karena dia tidak menyiapkan satu pun.
Kalila memandangnya lama. Sesuatu bergerak di wajahnya, tipis sekali, lalu hilang. Dia mencari nada permainan di kalimat itu, sebagaimana dulu dia selalu mencarinya, dan tidak menemukannya. Yang dia temukan hanya laki-laki yang bahunya menyusut dan kerah kemejanya longgar di leher. Dia mengingatkan dirinya bahwa menyesal dan mengerti bukan hal yang sama, bahwa orang bisa menyesali pecahnya piring tanpa tahu siapa yang dulu membuat retaknya.
“Terima kasih sudah datang tepat waktu,” katanya. Itu bukan kata maaf yang diterima, dan juga bukan penolakan. Itu hanya pengakuan bahwa kata-kata itu telah didengar.
“Baik,” mediator memotong dengan lembut. “Kita mulai. Bu Kalila, silakan Ibu sampaikan syarat Ibu.”
Kalila menarik selembar kertas dari mapnya. Tulisannya rapi, hasil ketikan pengacaranya, tetapi dia tidak membacanya dengan mata. Dia hanya meletakkannya di meja dan berbicara dari ingatan.
“Satu. Saya ingin bercerai. Dua. Saya tidak menuntut harta gono-gini, tidak menuntut tunjangan, tidak menuntut apa pun yang bukan milik saya sebelum menikah. Tiga. Reina’s Catering sepenuhnya milik saya. Tidak ada saham, tidak ada utang budi, tidak ada nama Syailendra di belakangnya.” Dia berhenti, menatap Keanu. “Itu semuanya.”
Keheningan mengisi ruang sempit itu.
“Pak Keanu?” tanya mediator.
Keanu menunduk, lalu menatap tangannya sendiri yang terjalin di atas meja. Dia ingin mengatakan sesuatu yang baik, sesuatu yang jernih. Yang keluar justru seperti engsel pintu yang berkarat.
“Aku menolak menjatuhkan talak,” katanya. “Soal harta, soal studio, aku tidak akan menyentuhnya. Tetapi soal itu ... aku tidak bisa.”
“Alasan Bapak?”
“Karena kalau aku mengatakannya, semuanya selesai.”
Mediator menatapnya lama, lalu menatap Kalila, dan menarik napas panjang. “Kalau begitu, dengan penyesalan, mediasi dinyatakan gagal. Berkasnya saya kembalikan kepada majelis. Sidang berikutnya akan dijadwalkan oleh panitera.” Dia mematikan perekam. “Terima kasih kepada kedua pihak yang hadir penuh hari ini.”
Kalila berdiri lebih dulu. Dia menyandang tasnya, mengangguk kepada mediator, dan tidak menoleh pada Keanu ketika berjalan keluar.
Keanu mengikuti sampai ambang pintu ruang mediasi dan berhenti di sana. Dari situ dia melihat Kalila menuruni tangga bersama pengacaranya, punggung tegak, langkah mantap, satu tangan menyentuh pegangan besi hanya sekali. Bibirnya sudah terbuka untuk memanggil nama itu. Dia menutupnya kembali. Dia tidak punya hak apa pun untuk menghentikan perempuan yang tahu persis ke mana dia hendak pergi.
*
Warung itu hanya tenda biru dengan tiga meja plastik di pinggir jalan, dua blok dari pengadilan. Panas siang menempel di aspal dan di punggung, dan bau minyak goreng bercampur asap knalpot mengambang di udara. Asti sudah menunggu di dalam mobil di seberang jalan sepanjang sesi, dan begitu Kalila melambai dia memarkir seenaknya di bahu jalan dan berlari menyeberang.
“Bagaimana, Bu?”
“Gagal. Seperti yang kita duga.” Kalila duduk di kursi plastik dan menarik napas. “Tapi dia minta maaf.”
“Pak Keanu?” Asti terbelalak. “Minta maaf?”
“Soal pergi di tengah sesi. Hanya itu.” Kalila memijat pelipisnya. “Dia kurus sekali, Asti. Kerah kemejanya longgar.”
“Orang yang tidak makan memang begitu, Bu.”
“Aku tahu. Aku pernah begitu.” Kalila menurunkan tangan dari pelipis dan menatap pintu warung. “Aku lapar, Asti. Aku belum makan sejak subuh.”
Asti memesan dua porsi nasi uduk, tempe goreng, telur dadar. Pelayan warung, perempuan kurus dengan celemek penuh noda, menaruh piring-piring itu bersama sebuah cobek kecil berisi sambal merah.
“Ini sambal ulek, Bu. Pedasnya sedang.”
Kalila mengambil sendok, mencolek sambal itu dengan ujung sendok, dan menyentuhkannya ke lidah. Sekadar kebiasaan. Setiap hari dia mencicipi dan setiap hari yang dia dapat hanyalah hawa hangat tanpa nama.
Hari ini lidahnya tersentak.
Asin.
Bukan asin yang halus atau berlapis. Asin kasar, menghantam, garam yang kebanyakan ditakar tangan seseorang yang terburu-buru. Tetapi itu asin. Kalila membeku dengan sendok masih di mulutnya, dan matanya melebar sampai Asti ikut berhenti mengunyah.
“Bu?”
“Asin,” bisik Kalila. “Asti, ini asin.”
“Memang asin, Bu. Sambalnya kebanyakan garam, saya ...” Asti berhenti. Matanya membulat. “Ibu bisa merasakannya?”
Kalila mengangguk, tidak bisa bicara. Dia mencolek sedikit lagi dan memastikan. Lidahnya menjawab lagi: garam, tajam, tidak ramah sama sekali. Setetes air mata jatuh ke piring plastik, dan dia mendengar dirinya tertawa dengan suara yang pecah.
“Asin sekali. Astaga, ini asin sekali.”
Asti menutup mulut dengan satu tangan. Pelayan warung memperhatikan dari jauh dengan kening berkerut, mungkin mengira sambalnya telah menyakiti pelanggan, dan Asti buru-buru melambaikan tangan pertanda tidak apa-apa.
“Berapa lama rasanya, Bu?”
“Entah. Mungkin hanya sekarang.” Kalila menghapus pipinya dengan punggung tangan. “Tapi sekarang cukup.”
Mereka makan dalam diam yang hangat. Kalila mencicipi nasi uduknya sedikit demi sedikit, lalu telurnya, lalu tempenya, dan meski hanya sambal yang menjawab, dia menyadari betapa lama dia tidak merasa menyambut sebuah kejadian kecil dengan begitu tulus.
Asti diam cukup lama sebelum merogoh ponsel di tasnya. Dia menatap layar, lalu menatap Kalila. Ada sesuatu di wajahnya yang menyurutkan semua kehangatan tadi.
“Bu,” katanya pelan. “Saya tidak mau memperlihatkan ini. Tapi Ibu harus tahu dari saya, bukan dari orang lain.”
Dia memutar ponselnya.
Di layar ada foto yang diambil dari kejauhan, sedikit miring dan sedikit buram, tetapi cukup jelas untuk dikenali. Dapur terbuka dengan atap seng. Seorang perempuan memegang sendok kayu di balik uap panci. Seorang pria berkemeja berdiri menatapnya, kedua tangan di saku. Siluet orang-orang lain terlihat di latar belakang, kabur seperti noda, seakan memang sengaja dibiarkan tak berarti. Hanya dua wajah itu yang tajam.
Di bawahnya, jumlah yang membagikan sudah melewati tiga ribu.