Bayangan Dania di bangku besi masih menempel di kepala Keanu ketika dia menyuruh Supri membawa perempuan itu pulang, dan baru setelah itu dia naik ke lantai dua. Ruang mediasi di sana hanya punya satu meja bundar, enam kursi, dan sebuah lukisan pemandangan sawah yang digantung miring. Keanu duduk di sisi yang menghadap jendela, tepat berseberangan dengan Kalila, dan menyadari bahwa dari semua tempat yang bisa dia pilih, dia memilih tempat di mana dia harus menatapnya terus. Di kursi sebelahnya, pengacara berambut perak tidak hadir. Pria itu mengirim pesan pukul sembilan bahwa dia terjebak di sidang lain, dan Keanu tidak membalasnya.
Pengacara Kalila duduk di samping kliennya dengan map terbuka. Mediator, perempuan lima puluhan berkerudung abu-abu dengan kacamata bertali, menyalakan perekam suara kecil dan mengucapkan pembukaan yang jelas sudah dia ucapkan ratusan kali.
“Mediasi ini bukan sidang. Tidak ada yang menang dan kalah di ruangan ini, hanya ada kesempatan bagi kedua pihak untuk menimbang. Bapak Keanu, silakan Bapak lebih dulu.”
Keanu menaruh kedua tangan di atas meja dan menyadari telapaknya basah. “Saya ingin mempertahankan rumah tangga kami.”
“Bisa Bapak jelaskan?”
“Saya suaminya. Saya ... ingin memperbaiki.”
“Apa yang ingin Bapak perbaiki?”
“Semuanya.”
Mediator mengangkat alis. “Mari kita perinci, Pak. Sebutkan satu.”
Keanu membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. Jeda itu berjalan cukup lama sampai pulpen mediator berhenti bergerak. “Satu saja ... saya tidak bisa memilih, Bu,” katanya akhirnya. Mediator mencatat jeda itu tanpa komentar.
“Apakah ada hal yang ingin Bapak sampaikan langsung kepada Ibu Kalila?” tanya mediator lebih lembut. “Bukan kepada saya.”
Keanu menoleh. Kalila menatap balik, sabar dan lurus, dan lidah Keanu terasa seperti kayu. Dia membuka mulut. Di kepalanya ada daftar panjang yang bahkan belum dia susun, tumpang-tindih antara rasa bersalah dan rasa marah pada dirinya sendiri, dan yang akhirnya keluar hanya satu kalimat. “Saya akan memindahkan Dania dari rumah.”
Di seberang meja, Kalila tidak bergerak. Dia hanya menatap permukaan meja yang bergaris halus, lalu menaikkan pandangan ke Keanu dengan wajah seperti orang yang mendengar jam berdetak di ruangan kosong. Tidak ada kemarahan di sana. Itu yang paling membuat Keanu gentar.
“Bu Kalila?” tanya mediator.
“Saya sudah menyampaikan semuanya di gugatan,” jawab Kalila. Suaranya jernih dan tidak naik. “Saya akan mendengarkan, selama Ibu mediator memerlukan.”
“Apakah Ibu melihat ruang untuk kembali?”
Kalila diam.
Di sampingnya, pengacara Kalila menahan diri tidak mengisi kesunyian itu, kebiasaan orang yang paham bahwa diam klien kadang lebih berbobot daripada seribu dalil.
Kalila sendiri sedang menghitung. Memindahkan Dania. Tiga kata, dan lagi-lagi tentang Dania, seakan satu-satunya yang rusak di rumah itu adalah penempatan seorang tamu. Dia melihat betapa jauh Keanu dari apa yang sebenarnya hendak dia katakan, dan rasa letih menjalari bahunya seperti selimut basah.
Itu bukan diam yang ragu. Keanu tahu, dia terlalu sering membaca wajah itu untuk keliru. Itu diam seseorang yang menolak mengeluarkan kata, karena bila kata dikeluarkan dia harus memilih kata yang tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Mediator menunggu hampir setengah menit, lalu mencatat sesuatu.
Sebelum Keanu sempat bicara lagi, dari koridor terdengar jeritan.
Suara perempuan, bukan jeritan panjang, lebih seperti napas yang tersangkut. Disusul langkah-langkah berlari dan seruan laki-laki yang Keanu kenali sebelum sempat berpikir.
“Pak Keanu! Non Dania! Tolong!”
Supri.
Kursi Keanu mundur dengan bunyi kasar. Dia sudah berdiri sebelum menyadari kakinya bergerak. “Maaf, saya ...”
“Bapak, sesi ini belum ...”
“Maaf!” Dia sudah di pintu.
*
Dania terkapar di bangku besi di ujung koridor, satu tangan mencengkeram dada, tangan lainnya terjulur lemas ke lantai. Napasnya berbunyi. Bukan sekadar cepat, tetapi mengi, suara tipis seperti angin yang dipaksa lewat celah. Supri berlutut di sampingnya sambil menepuk-nepuk pipinya yang pucat.
“Dari tadi dia sesak, Mas. Katanya cuma ingin duduk, lalu begini.”
“Dania.” Keanu berlutut, menahan kepalanya dengan satu telapak tangan. “Dania, lihat aku. Tarik napas. Pelan.”
Mata Dania terbuka sedikit. Bibirnya bergerak. “Kean ... aku ... tidak ...”
“Jangan bicara.” Keanu menoleh ke belakang. Orang-orang mulai berkumpul membentuk setengah lingkaran, ada yang mengeluarkan ponsel. “Ruang kesehatan di mana? Pak, tolong panggil petugas!”
Dia kembali menunduk. Dari sudut matanya dia sempat menangkap sesuatu yang tak dia pikirkan: mata Dania yang sedikit terbuka, bukan menatap dirinya, melainkan melirik pintu ruang mediasi di ujung koridor, lalu menutup lagi. Dia tidak memikirkannya saat itu. Suaranya merendah, meniru nada yang dulu dia pakai bertahun-tahun lalu, ketika perempuan itu masih seseorang yang berhak dia tenangkan.
“Dania, dengar. Kita ke ruang kesehatan sekarang. Aku bawa kamu.”
Sesuatu berubah.
Hanya sepersekian detik, tetapi Keanu merasakannya di telapak tangan yang menyangga kepala Dania. Napas yang berbunyi mengi tadi mendadak melembut, seperti keran yang diputar pelan. Kelopak mata Dania bergetar, dan telapaknya yang mencengkeram dada melonggar. Ketika Keanu mengangkatnya, gerak dadanya sudah hampir teratur.
Di ruang kesehatan, petugas berseragam putih memeriksa tekanan darah Dania, menyorot matanya dengan senter kecil, dan bertanya riwayat sakitnya. Dania menjawab dengan suara kecil. Alergi kacang. Riwayat panic attack. Serangan tadi mungkin dipicu keramaian. Petugas menulis, mengangguk, dan berkata semuanya normal.
“Panic attack memang bisa reda secepat datangnya, Pak,” katanya kepada Keanu. “Yang penting dia tenang.”
“Kamu baik-baik saja?” tanya Keanu pada Dania.
“Maaf.” Dania meremas ujung lengan jas Keanu dengan jari yang masih gemetar. “Aku takut sekali. Rasanya kamu tidak akan kembali.”
Keanu menatap tangan yang meremas lengannya. Ada sesuatu di sudut pikirannya yang bergerak pelan, sesuatu yang berbentuk pertanyaan: dua menit lalu napas itu berbunyi seperti kaca digesek, dan dia tidak sempat bertanya kenapa begitu mudah mereda hanya karena disebut ruang kesehatan. Dia menolaknya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sedang lelah, dan bahwa orang yang sedang ketakutan tidak bisa diperiksa seperti saksi.
Namun pertanyaan itu tidak pergi.
*
Ketika dia kembali ke lantai dua, jam di dinding koridor menunjuk empat puluh menit sejak dia keluar. Pintu ruang mediasi terbuka separuh. Meja bundar itu kosong, kursinya sudah dirapatkan, dan lukisan sawah miring itu masih di tempatnya.
Mediator duduk sendirian membereskan berkas. Perekam suara kecil di depannya sudah dimatikan, dan cangkir tehnya tinggal setengah. Dia mengangkat wajah ketika melihat Keanu berdiri di ambang.
“Bu Kalila dan pengacaranya sudah pulang, Pak. Saya sudah menunggu cukup lama sesuai prosedur.”
“Saya hanya ...”
“Saya mengerti ada keadaan darurat.” Perempuan itu mengambil selembar kertas dari tumpukan dan menyodorkannya melintasi meja. “Namun mediasi harus mencatat apa yang terjadi. Ini berita acara. Silakan dibaca dan ditandatangani.”
Keanu mengambil kertas itu dan membaca kalimat yang ditandai dengan garis tipis oleh jari mediator. Pihak tergugat meninggalkan ruang mediasi sebelum sesi selesai, dan tidak kembali dalam waktu yang ditentukan.
Dia membaca kalimat itu dua kali. Kalimat itu benar, seluruhnya, kata demi kata. Lalu dia menandatanganinya dengan tulisan tangan yang miring dan lebih jelek daripada tanda tangan di kontrak mana pun.
“Mediasi kedua Kamis pekan depan, pukul sepuluh,” kata mediator, berdiri dan menyandang tasnya. “Mohon Bapak hadir penuh sampai selesai. Majelis akan membaca catatan hari ini, dan catatan tidak pernah lupa.”
Dia sudah di ambang pintu ketika berhenti dan menoleh.
“Satu hal lagi, Pak. Bu Kalila menunggu dua puluh lima menit sebelum akhirnya pulang. Saya kira Bapak perlu tahu itu.”