“Jangan lewat pesan,” kata pengacara itu pelan. “Semalam saya membaca pesan Ibu dan saya membalas hanya satu kalimat karena alasan itu. Ceritakan sekarang. Pelan-pelan, dan dari awal.”
Lobi pengadilan pagi itu berbau lantai yang baru dipel dan kertas basah. Orang-orang berseragam dan berjas hitam hilir mudik membawa map, sementara di bangku panjang dekat jendela seorang ibu menyeka mata dengan ujung selendang. Kalila duduk di ujung bangku lain, sejajar dengan pengacaranya, pria akhir lima puluhan yang membuka buku catatan kecil berkulit cokelat. Yang dia bawa hanya satu map bening berisi surat kuasa dan salinan gugatan.
Kalila menceritakan semuanya tanpa menaikkan nada. Minggu pagi, kerja bakti dan sarapan bersama warga di panti, pukul tujuh sampai kira-kira tujuh lewat empat puluh. Julian tiba untuk mengantar titipan Eyang dan tidak tahu dia ada di sana. Mereka bicara tidak lebih dari lima menit dengan meja papan di tengah, jarak satu meter, belasan orang di sekeliling. Lalu pria bertopi di seberang pagar, tas kain yang menghadap halaman.
“Dokter Baskara yang melihatnya lebih dulu?” tanya pengacara itu sambil menulis.
“Ya. Dia memberi tahu saya setelah bubur selesai dibagi.”
“Dan beliau menyarankan Ibu melapor kepada saya.”
“Hari itu juga. Saya menunda sampai pagi ini karena pesan Bapak semalam.”
Pengacara itu mengetuk-ngetukkan ujung pulpen pada buku catatannya. Alisnya naik sedikit, jenis gerak yang Kalila pelajari berarti pria itu puas dan tidak mau memperlihatkannya. “Bagus. Ibu melapor sebelum ada yang menuduh. Mulai sekarang foto apa pun dari Minggu itu bukan lagi senjata mereka. Foto itu bukti bahwa kalian berdiri berjauhan di tengah keramaian, dan catatan ini menunjukkan kita yang lebih dulu mengatakannya.” Dia menutup buku. “Satu hal lagi, Bu Kalila. Ibu tidak boleh ke panti itu lagi tanpa saya tahu jadwalnya.”
“Saya bekerja di sana, Pak. Itu satu-satunya dapur yang mau menerima saya sekarang.”
“Kalau begitu saya yang menyesuaikan.” Dia berdiri dan merapikan jas. “Hari ini sidang pembukaan saja. Majelis hanya akan menanyakan sikap kedua pihak. Hampir pasti diperintahkan mediasi. Jangan terkejut kalau Pak Keanu menjawab tidak.”
“Saya tidak terkejut.” Kalila berdiri dan menyandang tasnya. “Saya hanya ingin semuanya dicatat.”
Di pintu lobi, rombongan lain baru masuk. Keanu berjalan paling depan dengan dua orang berjas di belakangnya, pandangannya lurus ke lift seakan dia tak melihat siapa pun. Kalila mengenali caranya melangkah: bahu ditegakkan terlalu keras, tanda orang yang menahan sakit. Dia memalingkan wajah sebelum mata mereka sempat bersilang.
“Ayo,” kata pengacaranya lagi, lebih lembut. “Sidangnya akan dimulai.”
*
Ruang sidang itu lebih kecil daripada yang Kalila bayangkan. Dinding kayu gelap, kipas angin langit-langit berputar lambat, dan tiga hakim di meja tinggi yang memandang ke bawah dengan kacamata nyaris merosot. Kalila duduk di kursi sisi kanan bersama pengacaranya. Sisi kiri diisi Keanu dengan dua orang berjas: pria berambut perak yang rapi dan seorang staf muda dengan laptop.
Keanu masuk terakhir. Dia kurus, dan setelan gelapnya tidak lagi jatuh dengan rapi di bahu. Kalila tidak menatapnya. Dia memandang palu kayu yang tergeletak di meja hakim, benda kecil yang terlalu kecil untuk apa yang bisa dilakukannya.
“Perkara nomor sekian, antara Ibu Kalila Reina sebagai penggugat dan Bapak Keanu Syailendra sebagai tergugat,” suara ketua majelis datar dan terlatih. “Para pihak hadir. Sebelum masuk pokok perkara, majelis ingin menanyakan sikap kedua pihak. Ibu Kalila, apakah Ibu tetap pada gugatan?”
Kalila berdiri. “Ya, Yang Mulia.”
“Apakah Ibu sudah memikirkannya masak-masak?”
“Sudah.” Dia berhenti sebentar. “Lebih lama daripada yang tertulis di berkas ini.”
Ketua majelis menatapnya lebih lama dari sebelumnya, lalu beralih. “Bapak Keanu?”
Keanu berdiri. Suaranya tertahan di tenggorokan sebelum dia berhasil mengeluarkannya. “Saya tidak setuju bercerai, Yang Mulia.”
Ada sunyi pendek di ruangan. Pengacara berambut perak di sebelah Keanu menunduk sedikit dan tersenyum seperti orang yang mendapatkan jawaban yang dia butuhkan. Kalila melihat Keanu sendiri tidak tersenyum. Dia berdiri dengan tangan bertumpu pada meja, terlalu erat, seperti orang yang takut roboh.
“Alasan Bapak?”
“Karena ...” Keanu menelan sesuatu. “Karena saya masih suaminya.”
Kalila memejamkan mata satu detik. Kalimat itu terdengar benar secara hukum dan kosong secara lainnya.
Pengacara Keanu mengangkat tangan dan meminta waktu menyusun jawaban. Ketua majelis menanggapi tanpa menoleh, mengatakan jadwal jawaban akan ditetapkan sesudah mediasi dan semua pihak diminta datang tepat waktu, karena ruang itu bukan tempat untuk mengulur.
“Baik,” kata ketua majelis sambil membuka berkas. “Majelis memerintahkan kedua pihak menempuh mediasi lebih dulu. Mediasi pertama Jumat ini, pukul sepuluh pagi, di ruang mediasi lantai dua. Sidang ditunda.”
Palu itu diketukkan satu kali, pelan, dan Kalila merasa lantai di bawah kakinya tidak ikut bergeser.
*
Koridor di luar ruang sidang penuh orang yang menunggu giliran. Keanu keluar dari pintu ganda itu dengan langkah lebih cepat daripada yang dia inginkan dan berhenti tepat ketika Kalila sedang menutup map bening di dekat jendela.
“Kalila.”
Kalila menoleh, wajahnya datar. “Tuan Keanu.”
Keanu tampak ingin mundur dari sapaan itu, tetapi tidak jadi. “Kenapa kamu tidak bilang kamu sakit?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka lama sekali. Kalila mengamati Keanu seolah mencari tahu apakah dia sungguh bertanya atau hanya menyiapkan pembelaan.
“Sudah,” katanya akhirnya, pelan. “Di ruang kerjamu. Kamu bilang aku sengaja.”
Rahang Keanu bergerak. Dia ingat kalimat yang dia lemparkan seusai gala itu, jelas, kata demi kata, Kamu sengaja, dan dia ingat betapa mudahnya kalimat itu keluar dari mulutnya waktu itu. Sekarang kalimat yang sama kembali dan terasa seperti batu di lidah. Dia membuka mulut, tetapi di belakangnya terdengar suara pengacaranya yang berbicara dengan nada rendah kepada staf muda berlaptop, begitu dekat sampai tak mungkin tak terdengar.
“... kita sudah punya fotonya. Sudah masuk folder. Kamu kirim ke sana, bukan ke surel pribadi saya.”
Keanu mendengarnya. Dia tahu dia mendengarnya, karena tulang pipinya mengeras sepersekian detik. Namun matanya tetap pada Kalila, dan dia tidak menoleh, tidak bertanya foto apa, folder apa. Pertanyaan yang tadi dijawab Kalila masih menempel di dadanya seperti pecahan kaca yang belum ketemu tempatnya.
Kalila menunggu. Dia melihat Keanu tidak berkata apa-apa, dan itu pun sebuah jawaban.
“Permisi,” katanya akhirnya dan berbalik. Pengacaranya menyusul di sampingnya. Sepatu hak rendahnya berbunyi tenang di lantai koridor yang panjang.
Keanu masih berdiri di dekat jendela ketika pandangannya terseret ke ujung koridor. Di bangku besi dekat pintu keluar, Dania duduk dengan tas tangan di pangkuan dan Supri berdiri satu langkah di belakangnya. Gaunnya hari itu putih gading. Wajahnya tidak menangis, tidak tersenyum. Dia hanya menatap lurus ke arah Keanu, tanpa berkedip dan tanpa melambai, seperti orang yang menghitung sesuatu.
Keanu menoleh ke Supri dan bertanya tanpa suara. Sopir tua itu hanya mengangkat bahu dengan wajah serbasalah, lalu menunduk, seakan sedang menyampaikan bahwa dia tak punya hak melarang siapa pun yang duduk di kursi belakang mobil itu.
Keanu tidak menyuruhnya datang.