Jip hitam itu masuk ke halaman panti pukul tujuh kurang sepuluh, ketika embun masih menggantung di daun kenari dan baru dua pengasuh yang tampak mondar-mandir membawa ember. Julian mematikan mesin, mengambil kardus dari kursi belakang, dan berdiri sebentar menarik napas. Isi kardus itu sama seperti yang selalu dia bawa tiap kali ibunya menitipkan sesuatu: beras sepuluh kilo, minyak goreng, kotak vitamin anak, dan amplop putih yang tak boleh dia buka.
“Ibu sudah begini sejak sebelum kamu pulang dari London,” kata ibunya semalam sambil menyodorkan amplop itu di meja makan. “Panti ini tidak pernah menagih apa pun. Karena itu Ibu tidak pernah lupa.”
Julian menutup pintu mobil dan berjalan ke aula. Dia sudah melangkah lima meter ketika matanya menangkap sesuatu yang tak pada tempatnya. Di seberang pagar besi yang catnya mengelupas, di bawah pohon mangga yang bukan milik panti, berdiri seorang pria bertopi dengan tas kain tersampir di bahu. Dia tidak sedang menunggu bus. Dia tidak sedang menelepon. Dia hanya berdiri, dan tas kainnya menghadap ke halaman dengan cara yang terlalu tenang.
Julian memperlambat langkah, tetapi tidak berhenti. Dokter belajar menimbang gejala tanpa menunjukkan bahwa dia sudah membaca gejala itu.
“Dokter Julian!” Bu Pengurus muncul dari pintu aula sambil mengusap tangan di kerudungnya. “Ya Allah, pagi sekali. Mari, mari. Titipan Eyang ya?”
“Seperti biasa, Bu.” Julian menyerahkan kardus. “Tolong sampaikan ke yang bertugas. Amplopnya jangan disebut atas nama saya.”
“Tidak pernah, Nak Dokter, tidak pernah.” Bu Pengurus tersenyum dengan cara yang membuat Julian curiga. “Ayo sarapan dulu. Hari ini kerja bakti dan sarapan bersama warga, banyak yang datang. Dapurnya di belakang, ada yang bantu masak, nanti Nak Dokter pasti senang.”
“Siapa yang masak, Bu?”
“Orang yang baik hati.” Bu Pengurus berpura-pura sibuk dengan kunci di tangannya. “Sudah, ikut saja.”
Julian mengikuti ke samping bangunan tanpa banyak berpikir, dan baru ketika sampai di ambang dapur terbuka itu langkahnya terhenti.
Atap seng membentang di atas tiga tungku arang dan meja panjang dari papan. Uap naik dari panci-panci besar. Di tengahnya, memakai celemek dan kerudung tipis di kepala, rambut sebahunya terikat sekenanya, Kalila sedang mengaduk bubur dengan sendok kayu sepanjang lengan. Wajahnya lebih tirus daripada yang Julian ingat, tetapi bahunya tegak.
Kalila mengangkat kepala, dan sendok kayu itu berhenti di tengah putaran.
“Dokter.”
“Kalila.” Suara Julian keluar lebih pelan daripada niatnya. “Aku tidak tahu kamu ada di sini. Aku datang mengantar titipan Eyang, hanya itu.”
“Aku diminta Bu Pengurus membantu masak. Sabtu kemarin berjalan baik, jadi beliau minta lagi.” Kalila meletakkan sendok pada tepi panci. Di antara mereka terbentang meja papan selebar satu meter, dan keduanya berdiri di sisi masing-masing seperti dua orang yang sama-sama tahu di mana garis itu ditarik. “Pengacaraku bilang kita tidak boleh terlihat dekat.”
“Aku tahu. Aku juga sudah menyerahkan semuanya, termasuk catatan tanggal dan jam. Aku hanya akan berdiri di sini semenit, lalu pergi.” Julian menatap bubur yang mengepul. “Kamu sudah sarapan?”
“Belum. Dokter pengganti memberiku jurnal makan, dan aku mengisinya jujur. Hari ini baru kolom kosong.”
“Isi setelah buburmu jadi. Orang yang memasak sering lupa makan.”
“Jaketmu masih ada padaku,” kata Kalila tiba-tiba, seakan baru teringat dan baru memutuskan menyebutnya. “Titipan, sesuai katamu. Bukan hadiah.”
“Simpan saja dulu.”
Percakapan itu pendek, canggung, dan kosong dari apa pun yang pantas dituduhkan orang. Julian menyukainya justru karena itu. Dia berdiri dengan kedua tangan di saku, tidak menyentuh meja, tidak mencondongkan badan. Satu langkah ke kiri saja akan menutup ruang di antara mereka, dan dia tahu persis berapa besar langkah itu. Dia tetap di tempatnya.
“Dokter datang pagi sekali,” kata Kalila, sekadar mengisi sunyi. “Ayam saja belum selesai berkokok.”
“Aku selalu datang lebih awal. Kebiasaan dokter. Pasien tidak menunggu orang yang terlambat.”
Sudut bibir Kalila bergerak sedikit, sangat sedikit, hampir tak terlihat. Julian memperhatikan gerakan itu seperti orang memperhatikan kuncup yang belum berani mekar, lalu memalingkan wajah agar tak tertangkap sedang memperhatikan.
*
Dalam lima menit dapur itu dipenuhi suara. Warga datang membawa sapu dan cangkul, ibu-ibu berebut sendok, dan anak-anak panti berlarian di antara kaki orang dewasa. Julian mengambil mangkuk bubur yang disodorkan seorang pengasuh dan duduk di ujung bangku panjang, sengaja di sisi yang jauh dari dapur. Dari tempatnya dia masih bisa melihat pagar besi di kejauhan. Pria bertopi itu sudah berpindah ke sisi lain, dan tas kainnya masih menghadap ke arah yang sama.
Seseorang menarik lengan bajunya.
Anak lelaki kecil, sekitar tujuh tahun, rambut cepak, hidung beringus sampai ke bibir atas, berdiri dengan selembar kertas yang sudah lecek di ujungnya. “Om Dokter, lihat. Aku gambar.”
Julian meletakkan sendok dan menerima kertas itu. Krayon cokelat dan hijau dan kuning. Pohon dengan bola-bola daun besar, tiga sosok garis di bawahnya. Yang tertinggi memakai kacamata. Yang berambut panjang memegang panci. Yang paling kecil tersenyum lebar dengan dua titik di bawah hidungnya.
“Ini Kakak,” anak itu menunjuk, “ini Om Dokter, ini aku. Kakak bilang kemarin gambarku bagus.”
Dari seberang halaman, Julian merasakan tatapan Bu Pengurus. Wanita itu berdiri di dekat bak air dengan senyum yang terlalu lebar dan terlalu penuh arti untuk dibilang kebetulan. Julian berdeham.
“Gambarmu bagus. Pohon ini kamu tambahi buah, nanti jadi pohon mangga.”
“Pohon mangga di sebelah pagar!”
“Ya,” kata Julian pelan. Matanya bergeser lagi ke pagar. “Pohon mangga di sebelah pagar.”
Anak itu berlari mencari krayon merah. Julian melipat gambar itu dengan hati-hati dan menyelipkannya di saku kemeja. Lalu dia bangkit dan berjalan ke arah dapur dengan langkah yang tak tergesa dan wajah yang tidak berubah. Kalila sedang mengangkat panci ke meja saji. Julian berhenti pada jarak yang sama, satu meter yang sama.
“Jangan menoleh,” katanya rendah. “Di seberang pagar, di bawah pohon mangga, ada pria bertopi dengan tas kain. Dia sudah ada di sana sebelum aku turun dari mobil. Kameranya diarahkan ke sini, dan sudah dua kali memotret waktu kita bicara.”
Kalila tidak menoleh. Tangannya yang memegang gagang panci mengencang hingga buku jarinya memutih. “Wartawan?”
“Aku tidak tahu. Orang suruhan, mungkin. Jaraknya jauh, jadi fotonya hanya akan memperlihatkan dua orang berdiri satu meter di antara banyak orang. Itu justru menguntungkan kita.”
“Kamu tenang sekali.”
“Aku tidak tenang. Aku hanya sudah belajar menahan wajah.” Julian menarik napas. “Aku akan pergi lewat gerbang depan, bukan lewat samping. Kamu tetap di sini, tetap membagi bubur, tetap terlihat sibuk di tengah orang banyak. Dan kita tidak boleh bertemu lagi di tempat yang bisa difoto. Pengacaramu harus tahu jam serta tempat pertemuan ini sebelum orang lain menceritakannya lebih dulu. Hari ini. Jangan tunggu.”