Kamis pagi, lima hari setelah Mbok Darmi berbisik di telepon, seorang kurir berseragam menyerahkan amplop cokelat itu langsung ke tangan Keanu di lobi lantai dua puluh dua. Keanu menandatangani tanda terima tanpa membaca apa yang dia tandatangani. Lima hari itu dia lewati dengan kopi hitam, rapat yang hanya separuh dia ingat, dan satu kebiasaan yang tak dia akui kepada siapa pun: berdiri lama di depan lemari es rumahnya, membukanya, lalu menutupnya lagi karena tak ada satu pun isinya yang dia inginkan.
Amplop itu dia bawa ke ruang kerja seperti membawa batu. Isinya sudah dia kenal. Salinan gugatan sampai lebih dulu lewat tembusan, dan kalimat tentang keguguran di halaman keempat masih menunggunya tiap kali dia memejamkan mata. Yang baru hanya kop surat dan tanggal.
Di sofa ruang kerjanya sudah duduk seorang pria berjas abu-abu, rambut peraknya disisir sangat rapi, map tebal terbuka di pangkuannya. Pengacara dari firma besar itu berdiri setengah, lalu duduk lagi setelah Keanu mengibaskan tangan. Sekretaris masuk membawa dua cangkir kopi, menaruhnya tanpa suara, dan keluar. Keanu menyesap kopinya satu kali. Cairan hitam yang panas itu lewat di lidahnya seperti air keran yang dihangatkan, dan dia menaruh cangkirnya lagi tanpa komentar.
“Sidang pertama Senin depan pukul sembilan, Pak Keanu,” katanya sambil menunjuk surat di tangan Keanu. “Dengan surat itu, kita punya dasar bergerak. Saya usulkan tiga langkah. Kita hadir dan menyatakan menolak. Kita ajukan jawaban yang membantah dalil gugatan satu per satu. Lalu kita minta setiap tahap dijalani penuh: mediasi, pembuktian, saksi, kesimpulan.”
“Dan hasilnya?”
“Pengadilan tidak bisa memaksa Bapak menjatuhkan talak. Semakin panjang prosesnya, semakin besar kemungkinan Ibu Kalila lelah.”
“Lelah,” ulang Keanu. Kata itu terasa asing di mulutnya, seperti kata dari bahasa yang pernah dia pelajari lalu lupa.
“Pihak sebelah memakai pengacara bisnis, bukan spesialis perkara rumah tangga. Itu kelemahan yang bisa kita pakai.”
“Jangan anggap Kalila lemah.” Keanu menatap pria itu lurus-lurus. “Tiga tahun aku tinggal serumah dengannya dan baru minggu ini aku sadar betapa sedikit yang kutahu. Satu-satunya yang kutahu pasti, dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak dia maksud.”
Pengacara itu mengatupkan bibir, lalu mengganti topik dengan sopan.
“Satu hal lagi.” Pengacara itu membalik halaman. “Rekaman kamera lobi apartemen keluarga Baskara pada malam itu sudah kami minta agar ditahan pengelola, supaya tidak tertimpa. Kalau perlu dibuktikan siapa keluar-masuk dan berapa lama, itu ada.”
Keanu mendengus pendek. “Rekaman itu juga merekam aku.”
“Merekam siapa saja yang lewat, Pak. Tuduhan butuh jam dan durasi, dan kamera tidak pilih kasih.”
Keanu tidak menjawab. Dia berjalan ke jendela dan memandang gedung-gedung yang berkilau tanpa makna. Dia bisa membayangkan layar itu dengan jelas: dirinya sendiri, jas kusut, melangkah cepat menuju lift yang tak boleh dia naiki, dengan wajah laki-laki yang sama sekali tak lagi mengenali dirinya. Bukti yang disimpan atas namanya ternyata juga bukti tentang dirinya.
“Sekarang soal gugatan balik,” lanjut pengacara itu di belakangnya. “Idealnya diajukan bersamaan dengan jawaban. Kalau tidak, hak itu gugur. Ada dua dasar. Pertama nusyuz, yaitu istri meninggalkan rumah tanpa izin suami. Kedua, dugaan hubungan khusus dengan pihak ketiga.”
“Pihak ketiga siapa?”
“Dokter Julian Baskara. Beliau yang menjemput, beliau yang menyediakan unit apartemen, beliau yang ...”
“Dia pamanku!” Keanu berbalik dengan suara yang membuat gelas di meja bergetar. “Dan Kalila bukan perempuan yang ...”
Dia berhenti.
Di kepalanya muncul sesuatu yang tak dia undang: suara Kalila di balik pintu kamar pelayan, beberapa hari sebelum perempuan itu pergi. Lunak dan rendah, nada yang sudah dua tahun tak pernah ditujukan kepadanya. Iya, Dok. Terima kasih sudah menanyakan. Keanu waktu itu lewat membawa gelas air, dan dia berdiri di koridor lebih lama daripada yang masuk akal.
Rahangnya mengeras.
“Siapkan,” katanya akhirnya. “Tapi jangan diajukan dulu.”
“Baik. Satu lagi, Pak. Staf saya sedang mengumpulkan materi pendukung. Arsipnya saya taruh di folder bersama yang sudah tersambung ke surel Bapak, supaya Bapak bisa memeriksa kapan pun. Bapak tidak perlu membukanya sekarang.”
“Terserah,” kata Keanu tanpa menoleh. “Aku tidak mau melihatnya.”
*
Di rumah besar Syailendra, di ruang kerja yang sama sekali berbeda dari ruang kerja Keanu di kantor, Dania duduk di kursi kulit milik Keanu dengan kaki ditarik ke atas. Ruangan itu berbau kayu dan kopi lama. Laptop Keanu menyala di depannya, layar terbuka pada kotak surel yang menyimpan ratusan pesan belum terbaca, dan di sudutnya ada ikon folder dengan lencana kecil bertuliskan satu pembaruan.
Dia menelepon dengan suara yang sudah dia siapkan: pelan, sedikit bergetar.
“Keanu? Kamu sudah makan?”
“Ada apa, Dania.” Tidak ada nama panggilan di ujung kalimat itu, tidak ada sela hangat yang biasa dia dengar.
Dania menelan ludah. “Aku di ruang kerjamu. Kamar tamu terlalu sunyi, aku jadi teringat Tanto. Laptopmu menyala, aku tidak menyentuh apa-apa, janji. Surat dari pengadilan sudah sampai, kan? Kamu pasti sedih. Aku bisa temani ...”
“Aku sedang rapat.”
“Kamu tidak pernah bilang rapat kalau bicara denganku.”
“Telepon Mbok kalau kamu perlu sesuatu.” Terdengar napas panjang yang ditahan. “Dan jangan bertanya lagi soal itu, Dania. Sekarang bukan waktunya.”
Sambungan putus.
Dania menatap ponselnya sampai layarnya padam. Pintu ruang kerja diketuk pelan, dan Mbok Darmi masuk membawa nampan berisi teh hangat yang uapnya masih naik.
“Non, diminum dulu.”
“Terima kasih, Mbok.” Dania menerima cangkir itu, tetapi tidak meminumnya. “Mbok sungguh tidak tahu Kalila pindah ke mana?”
“Tidak, Non.” Jawaban itu datang terlalu cepat dan terlalu datar untuk sebuah pertanyaan yang sudah diajukan empat kali sehari. Mbok Darmi menunduk, merapikan taplak yang tak miring, lalu pergi tanpa menoleh.
Dania memandang punggung tua itu sampai pintu menutup. Lalu matanya turun ke laptop, ke ikon folder dengan lencana kecil itu. Satu jarinya melayang di atas bilah geser, diam, tak menekan apa-apa. Dia menutup jendela surel pelan-pelan, seperti orang menutup pintu lemari yang akan dia buka lagi nanti.
*
Pengacara itu keluar dari lift basemen pukul sebelas lewat sedikit dan masuk ke mobilnya sendiri. Dia tidak menyalakan mesin. Dia menelepon seseorang dengan layar ponsel menghadap ke bawah di paha, seakan angka yang dia ketik pun tak boleh dilihat dinding.
“Saya. Ada tugas untuk Minggu pagi.” Dia menunggu sebentar. “Jip hitam milik Dokter Baskara. Ikuti dari rumahnya sampai tujuannya, ke mana pun itu. Foto semuanya, siapa yang dia temui, berapa dekat. Jangan sampai terlihat.”
Suara di seberang bertanya sesuatu. Pengacara itu menatap spion, memastikan basemen masih kosong.
“Kalau dia pergi ke tempat yang tidak biasa, itu menarik. Kalau dia bertemu seseorang, itu lebih menarik. Ibu Kalila menghilang dari semua alamat yang kita tahu, dan satu-satunya orang yang dihubunginya sejak malam itu adalah dokter itu. Mulailah dari rumahnya.”
Staf itu bertanya lagi, lebih pelan.
“Pak Keanu menyuruh saya menyiapkan,” jawab pengacara itu datar. “Ini bagian dari menyiapkan.”