Dapur panti dibangun untuk jumlah anak yang lebih sedikit daripada yang sekarang tinggal di sana. Kompornya empat tungku, dua di antaranya apinya miring. Wajan-wajan besar tergantung di dinding dengan dasar hitam legam, dan lantainya licin oleh air yang tak pernah benar-benar kering. Kalila berdiri di tengahnya pukul lima pagi, mengenakan celemek pinjaman yang kebesaran, memandangi tumpukan ayam, sayur, dan bumbu yang diantar Asti tadi subuh.
“Enam puluh porsi, Bu,” kata Asti, memeriksa catatan di ponselnya. “Menu yang kita sepakati kemarin. Sayur sop, ayam bumbu kuning, tempe orek, sambal tomat, nasi putih. Saya bawa dua staf dari studio, mereka sudah di belakang mengupas.”
“Timbangan?”
“Dua. Satu digital, satu manual yang saya pinjam dari warung depan.”
“Bagus.” Kalila mengikat rambutnya, mencuci tangan sampai ke siku, lalu menarik buku kecilnya dari saku. “Kita mulai dari bumbu kuning. Itu yang paling mudah salah.”
Dia bekerja seperti seorang ahli bedah. Bawang merah dua ratus lima puluh gram, bawang putih seratus, kunyit empat puluh gram, jahe dua puluh lima, ketumbar yang disangrai lebih dulu. Setiap bahan ditimbang, dicatat, dihaluskan. Bukan lagi dengan insting yang dulu tinggal mengalir dari tangan, tapi dengan angka. Dia mencium bumbu halus itu sebelum ditumis, mencium lagi setelah harumnya naik, dan memejamkan mata untuk membandingkan keduanya. Hidungnya mengatakan sesuatu yang masih bisa dia percaya. Lidahnya tidak mengatakan apa-apa.
“Asti, cicip.”
Asti mengambil sendok bersih, mencelupkan ke wajan, meniup. Keningnya berkerut. “Kurang berani, Bu. Kunyitnya ada, tapi ujungnya tumpul.”
“Garam tambah dua gram. Daun salam dua lembar lagi.” Kalila menuang, mengaduk, menunggu tiga menit penuh. “Sekarang?”
“Nah.” Asti mengangguk pelan. “Ini baru benar.”
Kalila mencatat di bukunya. Dua gram, dua lembar, tiga menit. Dia tidak menulis apa yang dia rasakan, karena tidak ada yang bisa ditulis. Dia menulis apa yang orang lain rasakan, dan menyadari dengan kegetiran yang aneh bahwa itu juga cara memasak.
Pukul sembilan, anak-anak panti mulai berdatangan ke ambang pintu dapur. Mula-mula satu, lalu tiga, lalu belasan. Mereka berdiri berjejal sambil mengintip ke dalam dengan mata bulat, saling dorong, saling berbisik. Seorang pengasuh muda berusaha menyuruh mereka pergi, tapi gagal.
“Mbak, itu ayam apa?” tanya seorang gadis kecil berkepang dua.
“Ayam bumbu kuning,” jawab Kalila tanpa menoleh dari wajan. “Kalau kalian mau membantu, kalian boleh cuci tangan dulu.”
Belasan kaki kecil langsung berlari ke wastafel. Asti tertawa lepas, tawa pertama yang Kalila dengar darinya dalam berhari-hari, dan Kalila menyadari sudut mulutnya sendiri ikut naik.
*
Pukul dua belas kurang, para tamu yayasan tiba dengan dua mobil. Kalila melihat mereka sekilas dari balik jendela dapur: seorang pria sepuh berbatik, beberapa ibu berkerudung rapi, seorang pemuda yang membawa tas kamera. Bu Pengurus menyambut dengan membungkuk hormat dan wajahnya cerah. Kalila mundur dari jendela. Dia tidak ingin ada yang bertanya siapa juru masaknya.
Makan siang disajikan di aula kecil yang biasanya dipakai untuk belajar mengaji. Meja panjang dari papan, kursi plastik berderet, nasi dibawa dalam bakul besar. Kalila tetap di dapur, mencuci wajan dengan lengan terbenam sampai siku di air sabun, mendengarkan denting sendok dan percakapan dari balik dinding. Dia tidak tahu rasa makanannya. Hanya sunyi yang menenangkan, yang berbeda dengan sunyi di apartemen: sunyi sebuah ruangan yang sedang sibuk menghidupi orang.
Sesuatu menarik ujung celemeknya.
Kalila menunduk. Seorang anak laki-laki berdiri di belakangnya, sekitar tujuh tahun, rambut cepak, kaus kebesaran, dan hidung yang beringus hingga ke bibir atas. Piring plastik kosong tergenggam erat di kedua tangannya, bersih sampai ke pinggir seperti dijilat.
“Kakak yang masak?” tanyanya.
“Iya.” Kalila mengeringkan tangan di celemek. “Kenapa? Ada yang kurang?”
Anak itu menggeleng kuat-kuat, lalu menyeka hidungnya dengan lengan baju. “Enak sekali, Kak.” Dia berhenti, mencari kata yang cukup besar. “Enak sekali. Ayamnya yang kuning. Aku tambah dua kali.”
Kalila tidak bergerak.
Dia sudah memasak ribuan piring seumur hidup dan mendengar pujian dari orang-orang berjas, dari investor, dari kritikus kuliner di acara-acara yang dia hafal denah mejanya. Tapi tidak ada satu pun yang sempat menembus dinding yang dia bangun sejak gala itu. Pujian dari bocah beringus yang mengelap hidung dengan lengan baju justru menembusnya begitu saja, seperti jarum menembus kain tipis.
Matanya memanas. Dia berjongkok supaya sejajar dengan anak itu, berusaha tersenyum, tapi bibirnya bergetar.
“Terima kasih,” bisiknya. “Kakak senang kamu suka.”
“Kakak nangis?”
“Tidak. Cuma kena asap.”
Anak itu memperhatikannya dengan sorot yang terlalu jujur, lalu mengangkat tangan dan menepuk lengan Kalila dua kali, seperti orang dewasa yang menenangkan. Kemudian dia berlari pergi, piringnya berdentang di lantai.
Kalila tinggal berjongkok di sana beberapa detik. Asti, yang melihat dari seberang dapur, diam-diam memutar badan menghadap wastafel agar Kalila punya ruang.
Menjelang pukul tiga, setelah tamu pulang dan sisa makanan dibungkus untuk dibagikan, Kalila duduk di bangku kayu di belakang dapur dengan segelas air putih. Ponselnya bergetar di saku. Nomor tak dikenal. Dia hampir menolak, tapi sesuatu membuatnya mengangkat.
“Halo?”
“Mbak Kalila?” Suara tua yang pelan dan tergesa, nyaris berbisik. “Ini Simbok.”
Kalila menegakkan duduk. “Mbok? Mbok Darmi? Ini nomor siapa?”
“Nomor lama Simbok, Mbak, yang tidak pernah dipakai. Simbok pinjam pulsa tetangga.” Terdengar bunyi pintu ditutup pelan di seberang. “Simbok telepon dari kamar. Non Dania sedang tidur siang, Mas Keanu belum pulang. Mbak sehat?”
“Sehat, Mbok.” Kalila menelan ludah. “Mbok sendiri?”
“Simbok baik. Mbak, Simbok mau lapor. Kamar pelayan yang dulu Mbak pakai sudah Simbok bereskan semua. Baju-baju Mbak, kotak peralatan, buku. Sudah Simbok lipat dan bungkus.” Mbok Darmi berhenti sebentar. “Ada satu map biru di rak bawah, tulisannya Portofolio. Mbak tidak bawa, kelihatannya Mbak lupa. Simbok simpan di lemari Simbok sendiri, di bawah kain-kain. Mas Keanu belum tahu.”
Kalila terdiam. Map biru. Portofolio. Ia hampir lupa bahwa benda itu ada, setumpuk kertas hasil seminggu penuh bergadang, tersimpan dengan niat sebuah kejutan yang tidak pernah terjadi.
“Simpan saja dulu, Mbok,” ucapnya akhirnya. “Jangan diberikan kepada siapa pun.”
“Siap, Mbak. Simbok jaga.” Napas tua itu terdengar lebih berat. “Mbak, Simbok mau cerita lagi, tapi Simbok takut Mbak sedih.”
“Ceritakan saja, Mbok.”
“Mas Keanu sudah dua hari tidak makan di rumah, Mbak. Duduk di meja, tapi piringnya tidak disentuh. Dibawa kembali ke dapur masih penuh. Simbok masak yang dulu Mbak suka, tetap tidak dimakan.” Suaranya mengecil. “Dan Non Dania terus tanya, Mbak pindah ke mana. Sehari bisa empat kali. Simbok jawab tidak tahu, karena memang tidak tahu.”
“Bagus, Mbok. Tetap begitu.”
“Satu lagi, Mbak.” Mbok Darmi merendahkan suara sampai hampir tak terdengar. “Tadi pagi ada telepon dari pengadilan ke rumah. Orangnya mau memastikan alamat Mas Keanu. Katanya ada surat yang harus diantar langsung. Hari Kamis, Mbak. Surat dari pengadilan akan sampai ke Mas Keanu hari Kamis.”