"Kalila!" panggil Keanu, suaranya berat dan berwibawa menggema di langit-langit rumah yang tinggi.
Tidak ada jawaban.
Keesokan paginya, Keanu Syailendra turun ke lantai bawah dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Langkah kakinya terdengar tegas, tapi dia mendadak berhenti di anak tangga terakhir. Alis tebalnya menyatu saat melihat meja makan itu kosong. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada piring yang tertata rapi.
Keanu melirik jam tangannya. Pukul 06.30 pagi. Tumben belum ada makanan sama sekali padahal biasanya jam lima pagi, suasana di dalam rumah megah itu biasanya sudah dihidupkan oleh langkah kaki Kalila yang gesit. Selama tiga tahun, Kalila selalu memrogram dirinya untuk bangun sebelum matahari muncul sempurna. Dia akan menyeduh kopi arabika kesukaan Keanu dengan suhu tepat delapan puluh lima derajat, menyiapkan kemeja dan memasak sarapan hangat.
Tapi kali ini tidak.
Dengan guratan kekesalan yang tercetak di dahinya, Keanu melangkah menuju kamar utama mereka di lantai dua. Tapi, saat pintu dibuka, kamar itu rapi sempurna. Ranjang king-size tertutup sprei sutra tanpa lipatan sedikit pun. Kalila tidak ada di sana. Bahkan, aroma parfum yang biasa ditinggalkan istrinya telah menguap sepenuhnya. Semalam dia lebih memilih tidur di ruangan kerjanya karena masih kesal pada Kalila.
"Nekat sekali dia merajuk sampai jam segini karena masalah semalam," gumam Keanu sinis. Dia mengira Kalila sengaja bersembunyi di salah satu kamar tamu untuk memprotes bentakannya di ruang kerja kemarin. Dibukanya semua kamar tamu tapi sama sekali tidak menemukan keberadaan Kalila.
Akhirnya Keanu memutuskan untuk mengabaikannya. Dia tidak sudi menurunkan egonya untuk mencari seorang wanita yang sedang cemburu buta. Dia berbalik, berniat langsung pergi ke kantor dengan perut kosong.
Tapi saat melewati koridor belakang dekat area servis pelayan di lantai bawah, dia melihat pintu sebuah kamar kecil yang biasanya digunakan untuk kamar pelayan magang, sedikit terbuka.
Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, Kalila sedang duduk di tepi ranjang single.
Keanu membeku di ambang pintu. Matanya menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya. Dua koper besar milik Kalila berdiri tegak di sudut ruangan. Kalila mengenakan kemeja linen putih polos dan celana kulot hitam sederhana. Rambutnya dikuncir kuda dengan rapi. Wajahnya polos tanpa riasan yang semakin menunjukkan kecantikan alaminya. Yang membuat Keanu bingung, gurat lelah dan ketakutan yang biasanya menghiasi wajah wanita itu kini lenyap, digantikan oleh ketenangan.
"Apa-apaan ini, Kalila?" tuntut Keanu, suaranya dipenuhi nada tidak suka. "Kenapa kamu di sini? Kenapa barang-barangmu ada di kamar pelayan? Kau sedang membuat drama baru setelah merusak acara makan malamku semalam?"
Kalila mendongak. Dia meletakkan buku yang sedang dibacanya ke atas nakas, dia berdiri, lalu membungkuk hormat dengan sangat sopan, sebuah gestur formal yang biasa dilakukan oleh staf hotel bintang lima kepada tamu VIP. Kening Keanu berkerut semakin dalam melihat ini.
"Selamat pagi, Tuan Keanu," ucap Kalila. Suaranya terdengar sangat merdu tapi begitu datar dan tanpa riak emosi. "
Keanu mendengkus remeh, melipat kedua tangannya di d**a, “Tuan Keanu? Saya? Pindah ke sini? Kamu kesambet apalagi sih? Jadi kamu mau pindah dari kamar utama ke kamar sempit ini? Silakan!"
Kalila mengangguk, "mulai semalam, saya memutuskan untuk pindah."
Rahang Keanu mengeras, "berhentilah bertingkah kekanak-kanakan, Kalila. Hanya karena aku memarahimu kemarin, bukan berarti kau bisa memermalukanku di rumah ini. Jika asisten rumah tangga atau mamaku melihat ini, apa kata mereka?" Suaranya terdengar ketus.
“Saya tidak sedang merajuk,” jawab Kalila datar. “Selama tiga tahun ini, saya gagal menjadi istri yang Anda inginkan. Saya terlalu banyak menuntut perhatian. Terlalu sering cemburu. Dan puncaknya, saya mengacaukan gala makan malam kemarin karena kondisi saya yang tidak stabil.”
Dia memberi jeda sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum yang begitu kosong hingga membuat bulu kuduk Keanu merinding. “Oleh karena itu, saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai istri Anda. Mulai hari ini, saya hanyalah orang asing di rumah ini. Sampai proses perceraian kita selesai diurus pengacara saya.”
Mendengar kata 'perceraian' meluncur begitu mudah dari mulut wanita yang biasanya berlutut memohon agar tidak ditinggalkan, jantung Keanu mendadak berdegup aneh. Ada rasa tidak nyaman yang menusuk egonya.
"Cerai? Kau mengancamku dengan kata cerai hanya karena Dania?" Keanu maju selangkah, mencoba mengintimidasi Kalila dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. "Jangan lupa, Kalila, tanpa nama Syailendra di belakang namamu, bisnis catering kecilmu itu tidak akan ada apa-apanya!"
"Saya tidak pernah mengancam, Keanu," potong Kalila cepat, mengubah panggilannya hanya nama, tanpa embel-embel tuan atau Anda atau ‘Mas’ untuk menunjukkan bahwa dia tidak takut. Suaranya tetap stabil tanpa getaran marah sedikit pun. Kalila menjeda untuk mengambil napas tapi matanya menatap Keanu tajam.
Ketenangannya justru membuat Keanu merasa kesal, “mengenai bisnis saya, Anda boleh menarik seluruh saham atau koneksi yang pernah Anda berikan. Silakan saja. Saya tidak akan menuntut harta gono-gini sepeser pun. Saya hanya mengambil apa yang murni milik saya sebelum menikah dengan Anda."
Keanu mengepalkan tinjunya di dalam saku jas. Dia menelisik wajah Kalila, mencari jejak kemarahan, tangisan atau kebencian di mata Kalila, tapi nihil. Mata istrinya benar-benar kosong. Seolah-olah Keanu hanyalah sebuah tiang atau perabotan rumah yang kebetulan ada di sana. Ketiadaan rasa dari Kalila adalah tamparan paling keras bagi ego seorang Keanu Syailendra.
"Terserah. Kalau kau pikir aku akan memohon agar kau kembali ke kamar utama, kamu salah besar, Kalila!" desis Keanu dingin, mencoba menutupi kepanikan kecil yang mulai merayap di hatinya. "Silakan nikmati kamar sempit ini. Kita lihat berapa hari kau bisa bertahan tanpa fasilitas kemewahan yang kuberikan."
"Terima kasih izinnya," jawab Kalila, kembali membungkuk sopan dan tersenyum kecil, "dan mohon maaf, mulai hari ini saya tidak lagi memasak untuk Anda atau mengurus keperluan pribadi Anda. Anda bisa meminta kepala pelayan untuk menyiapkan semuanya."
Keanu tidak tahan lagi berada di ruangan sempit yang mendadak terasa mencekik itu. Dia berbalik, menutup pintu kamar dengan membantingnya dan melangkah lebar meninggalkan area servis dengan amarah yang bergejolak.
Tapi, sepanjang perjalanan menuju kantornya di dalam mobil, pikiran Keanu sama sekali tidak bisa fokus pada dokumen. Kursi di sebelahnya yang biasanya diisi oleh kotak bekal hangat buatan Kalila, kini kosong.
Tiba di kantor, Keanu melirik ponselnya berulang kali, menunggu rentetan pesan singkat berisi: "Mas, sudah sampai kantor?" atau "Jangan lupa makan siang, ya." yang biasanya selalu dikirimkan Kalila setiap jam sembilan pagi.
Jam sembilan berlalu. Jam dua belas siang terlewati, pun jam tiga sore. Ponsel Keanu tetap hening.
Dia hanya merajuk saja, nanti sore juga sudah kembali normal. Pasti!
Sore harinya, saat Keanu pulang ke rumah, suasana rumah terasa begitu mati. Lampu teras menyala, tapi ruang tamu temaram karena Kalila tidak lagi berdiri di sana untuk menyambutnya dan mengambil tas kerjanya.
Keanu berjalan melewati dapur dan melihat Kalila sedang duduk di meja makan kecil area pelayan, sedang minum segelas air putih sendirian dengan tatapan lurus ke depan. Keanu bisa melihat tangan Kalila masih tampak sedikit bergetar, sisa dari tremor psikosomatisnya, tapi wanita itu tidak mengeluh.
Untuk sesaat, Keanu termangu di tempat tapi kemudian dia berdecih dan gegas ke kamarnya.
Malam itu Dania menelepon dan meminta Keanu datang karena dia merasa kesepian, Keanu sengaja mengeraskan suara ponselnya di dekat koridor tempat Kalila sedang makan malam. Dia ingin melihat apakah Kalila akan bereaksi atau ada kilatan cemburu.
Tapi…Kalila lewat begitu saja. Dia memang mendengar suara manja Dania di telepon karena Keanu memakai mode pengeras suara.
Kalila memang berhenti tapi hanya satu detik saja untuk mengangguk sopan pada Keanu, lalu berjalan lurus menuju kamar pelayannya di ujung koridor tanpa menoleh lagi.
Pintu kayu kamar sempit itu tertutup rapat, meninggalkan Keanu di luar dalam keheningan rumah megah yang mendadak terasa seperti penjara. Mata Keanu mengikuti arah perginya Kalila.
Baru di detik itu Keanu menyadari sesuatu yang mengerikan bahwa Kalila tidak sedang merajuk. Kalila sedang menghapus dirinya dari hidup Keanu, perlahan, rapih dan tanpa keributan.
Dan yang lebih menakutkan…, Keanu tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.