“Kalau ada yang bertanya aku pindah ke mana, kalian tidak tahu.”
Kalila mengucapkannya pelan sambil menyerahkan dua kardus terakhir kepada dua staf studio yang berdiri di bak belakang mobil boks. Pagi masih basah oleh sisa hujan semalam, dan udara di basemen apartemen terasa lembap dan berbau besi. Asti berdiri di sisinya dengan clipboard di tangan, mengangguk.
“Siapa pun, Bu?” tanya salah satu staf, pemuda kurus berkacamata.
“Siapa pun. Pelanggan, pemasok, kerabat, bahkan kalau orang yang bertanya kelihatannya baik hati dan sedang menangis.” Kalila menatap keduanya bergantian. “Aku tidak sedang curiga pada kalian. Aku hanya tidak mau kalian ditanya sesuatu yang tidak bisa kalian jawab dengan jujur. Lebih mudah menjawab ‘tidak tahu’ kalau memang tidak tahu.”
Pemuda itu mengangguk dalam-dalam. Rekannya, seorang perempuan dengan kerudung biru, hanya berkata, “Siap, Bu,” dan menaikkan kardus itu ke bak.
Kalila menoleh sekali ke arah lift. Dia sudah mengembalikan kunci kartu akses ke kotak surat khusus di lobi, sesuai petunjuk pengelola, dan meninggalkan secarik catatan terima kasih untuk petugas yang menjaga pintu. Jaket Julian ikut dalam kopernya, terlipat rapi di dasar bersama jurnal makan. Dia tidak membawa apa-apa lagi dari unit itu.
“Sudah, Bu,” lapor Asti. “Kita jalan?”
“Jalan.”
Perjalanan ke pinggiran Jakarta makan waktu hampir satu jam. Jalan makin sempit, rumah makin jarang, dan pohon-pohon besar mulai muncul di tepi jalan seperti penjaga lama yang kembali bertugas. Kalila duduk di kursi depan mobil boks dengan koper di pangkuan dan menatap jalan yang semakin dia kenal. Gapura tua. Warung kecil di tikungan. Pagar besi hitam panti asuhan yang catnya mengelupas.
Vila itu berada tiga ratus meter di belakang panti, di ujung gang kecil yang dinaungi pohon kenari. Kalila turun dan berdiri di depan pagar kayu rendah yang digelayuti tanaman rambat. Rumahnya satu lantai, beratap genteng cokelat, jendela-jendela besar tertutup debu, dan teras kecil dengan dua kursi rotan yang sudah lapuk. Taman di sekelilingnya tumbuh liar, rumput setinggi betis, bunga-bunga yang dulu ditanam ibunya kini bercampur dengan semak.
Dia merogoh dasar tas, mengeluarkan kunci cadangan terbungkus kain flanel. Jari-jarinya sedikit dingin saat memasukkannya ke lubang kunci.
Pintu terbuka dengan derit panjang.
Bau debu, kayu tua, dan sesuatu yang manis tapi samar, bunga kering di vas yang tak pernah dibuang. Cahaya pagi menerobos kaca kusam dan menggaris lantai tegel. Di ruang tengah, kain putih menutup sofa dan meja. Di sudut, jam dinding berhenti pada pukul empat lewat dua puluh. Kalila berdiri di ambang pintu cukup lama sampai Asti menyentuh bahunya dengan hati-hati.
“Bu? Kami angkat masuk?”
“Silakan.” Kalila menelan ludah. “Taruh saja dulu di ruang tengah.”
Selama dua jam mereka menyapu, mengelap, membuka jendela, mencabut kain penutup perabot. Debu beterbangan di sinar matahari seperti kabut emas. Kalila membersihkan kamar yang paling kecil di sisi timur, kamar yang dulu milik orang tuanya, lalu memilih kamar lain di sebelahnya yang lebih sederhana. Dia tidak sanggup tidur di ranjang itu. Belum.
Dapur adalah ruangan terakhir yang dia masuki.
Kecil, jauh lebih kecil dari dapur studio apalagi dapur rumah besar Syailendra. Kompor gas dua tungku, rak kayu dengan toples-toples kosong, meja kerja dari kayu jati yang permukaannya penuh goresan pisau. Dan di dinding di atas meja itu, terpasang sebuah foto berbingkai.
Kalila tidak menatapnya. Dia melihat ke bawah, ke rak, ke wastafel, ke mana saja, kecuali ke arah dinding itu.
Tapi dia tahu apa yang ada di sana. Dua orang berdiri di depan kompor yang sama, ayahnya dengan celemek kotak-kotak dan spatula terangkat seperti tongkat komando, ibunya tertawa menutup mulut dengan punggung tangan. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu. Sudah lama sekali dia tidak memandangnya.
Tangannya meraih sapu tangan dan mulai mengelap meja jati itu. Satu goresan, dua goresan, seolah dengan begitu dia bisa mengelap seluruh waktu yang terhenti di ruangan ini.
“Permisi... Assalamu’alaikum?”
Suara perempuan dari ambang pintu depan membuat Kalila menegakkan tubuh. Seorang wanita paruh baya berkerudung sederhana berdiri di teras, membawa rantang di tangan kiri. Dia menyipit ke dalam, lalu wajahnya berubah.
“Ya ampun. Nak Kalila?”
Kalila menatapnya sesaat sebelum ingatannya bergerak. “Bu Pengurus?”
“Ya Allah, benar kamu.” Wanita itu melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan dan memegang kedua tangan Kalila dengan genggaman hangat yang agak basah. “Ibu lihat ada mobil boks dan pintu terbuka, Ibu pikir pencuri. Tiga tahun, Nak. Sejak akadmu Ibu tidak melihatmu. Kamu dulu rajin sekali kemari, bawa kue, bikin anak-anak berebut.”
“Maaf, Bu. Saya... banyak yang terjadi.”
“Tidak usah minta maaf. Ibu tahu.” Dia memperhatikan wajah Kalila, lingkaran gelap, pipi yang tirus, dan nada bicaranya melunak. “Kamu tinggal di sini sekarang?”
Kalila ragu sesaat. “Untuk sementara. Dan Bu, kalau ada yang menanyakan...”
“Ibu tidak melihat siapa-siapa,” sela Bu Pengurus dengan kerlingan kecil. “Ibu cuma lewat mengantar rantang untuk tetangga.” Dia menaruh rantang itu di meja jati. “Ini sup sayur dari dapur panti. Hangatkan nanti.”
Kalila menunduk. Dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak ia duga.
*
Sore harinya Asti dan dua staf pamit pulang ke studio. Kalila berdiri di teras melambaikan tangan sampai mobil boks hilang di tikungan, lalu masuk dan menutup pintu perlahan. Rumah itu mendadak sunyi.
Dia menyalakan kompor di dapur kecil itu dan membuka laci yang sudah dibersihkan. Panci kecil, talenan, pisau. Dia ingin memasak sup pertamanya di rumah ini, apa pun hasilnya, hanya untuk memberi tahu dapur ini bahwa seseorang kembali.
Ayam, wortel, seledri, sedikit jahe. Dia memotong dengan gerakan pelan. Menimbang garam. Menuang air. Menunggu.
Ketika sup itu mendidih dan aromanya mulai naik, Kalila menutup mata. Dia bisa mencium harum kaldu, bisa menebak dari uap bahwa seledrinya mulai layu. Hidungnya masih bekerja. Hanya lidahnya yang membisu.
Dia menyendok sedikit, meniup, dan menyentuhkan ke bibir.
Tidak ada apa-apa. Cairan hangat melewati lidah tanpa meninggalkan nama.
Kalila meletakkan sendok pelan-pelan. Dia sudah menduganya, tapi dugaan tidak pernah cukup untuk menghentikan perih. Matanya menangkap bingkai foto di dinding, dan untuk satu detik panjang dia menatap wajah ibunya yang tertawa. Kemudian dia berbalik dan mengambil buku kecilnya dari saku celemek.
“Baik,” gumamnya kepada ruangan sempit itu. “Kalau lidahku tidak mau bicara, aku akan memasak dengan cara lain.”
Dia menulis tiga baris di halaman pertama, hurufnya tegas. Timbang semuanya. Cium sebelum dan sesudah. Minta Asti mencicip. Lalu satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil: Jangan menyalahkan dapur.
Dia baru saja menutup buku itu ketika terdengar ketukan lagi di pintu depan. Bu Pengurus berdiri di sana, kali ini dengan wajah sedikit ragu.
“Nak Kalila, maaf mengganggu lagi. Ibu mau minta tolong, dan kamu boleh menolak.”
“Silakan, Bu.”
“Hari Sabtu ada kunjungan dari pengurus yayasan, dan Ibu sudah janji menyajikan makan siang. Tapi juru masak kami sedang sakit.” Bu Pengurus meremas ujung kerudungnya. “Enam puluh porsi. Anak-anak, pengasuh, dan para tamu. Kamu... kamu bisa bantu?”
Kalila menatap dapur kecilnya, lalu menatap wanita di ambang pintu itu. Enam puluh porsi, tanpa lidah, di dapur yang belum dia kenal.
“Bisa, Bu,” jawabnya, dan terkejut mendapati suaranya tenang.