Dania sudah menangis ketika Keanu tiba di rumah Eyang.
Dia duduk di ujung sofa panjang ruang keluarga, mengenakan gaun terusan warna gading yang terlalu longgar di bahu, kedua tangannya meremas sapu tangan renda, dan air matanya mengalir tanpa bunyi, indah dengan caranya sendiri. Mama duduk di sebelahnya dengan wajah tegang. Eyang di kursi ukir seperti biasa, tongkat di sisi, mata setengah terpejam seperti orang yang sedang mendengarkan musik yang tidak enak.
“Maafkan aku, Eyang,” isak Dania ketika Keanu melangkah masuk dan duduk di kursi tunggal di dekat jendela. “Aku tahu aku jadi beban. Aku sudah bilang pada Keanu berkali-kali, aku tidak ingin jadi alasan Kalila pergi. Aku hanya... aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tanto sudah tidak ada, dan aku takut sendirian di apartemen itu...”
“Tenang, Dania.” Keanu mencondongkan tubuh, suaranya otomatis melembut. “Tidak ada yang menyalahkanmu.”
“Ada,” gumam Mama, sangat pelan, nyaris tak terdengar. Hanya Eyang yang sempat melirik.
Pelayan datang membawa nampan perak berisi teh dan sepiring kue cokelat gelap yang ditaburi irisan kacang. Eyang sendiri yang mengambil piring itu dan menyodorkannya ke arah Dania, gerakan sederhana seorang nenek yang menjamu tamu.
“Makan, Nak. Ini kue kacang kesukaan almarhum Tanto, yang dulu selalu Eyang buatkan kalau dia datang bersama Keanu. Kamu juga pernah bilang suka.”
Dania menatap piring itu. Gerakannya cepat, nyaris refleks. Jemarinya yang tadi meremas sapu tangan berhenti, bahunya mengerut, dan dia mundur sedikit di sofa.
“Terima kasih, Eyang, tapi aku tidak bisa,” katanya, sopan dan tergesa. “Aku alergi kacang. Dari kecil.”
“Oh.” Eyang menurunkan piring itu ke pangkuannya. “Eyang lupa.”
Tidak ada seorang pun yang menambahkan apa-apa. Keanu menunduk, memijat pelipis. Mama menatap pegangan sofa. Eyang hanya meletakkan piring itu di meja sisi dengan tenang, lalu menatap Dania lama, lebih lama daripada yang pantas untuk tamu, dan matanya yang sudah keruh oleh usia mencatat semuanya dalam diam. Dia teringat cerita Mbok Darmi yang sampai kepadanya lewat Mama, tentang sepiring martabak dan seorang wanita yang makan satu gigitan sebelum akhirnya sesak. Dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menyimpannya, seperti menyimpan sekeping batu kecil di dalam saku untuk dikeluarkan pada waktunya.
“Dania,” ucap Eyang setelah beberapa saat, dengan suara yang hampir lembut. “Eyang mau bicara terus terang, dan Eyang minta kamu mendengarnya sebagai orang yang disayang, bukan yang dimarahi.”
“Iya, Eyang.”
“Ibu Tanto, mertuamu, sudah beberapa kali mengundangmu tinggal di rumahnya. Rumah itu rumah suamimu dulu. Eyang kenal Ibu Tanto sejak lama dan dia perempuan yang baik. Dia kehilangan anaknya, kamu kehilangan suamimu. Kalian bisa saling menjaga.” Eyang berhenti sebentar. “Eyang rasa itu lebih baik daripada kamu terus tinggal di rumah seorang laki-laki yang istrinya sedang menggugat cerai.”
Wajah Dania memucat. Dalam sekejap, pipinya yang semula merona karena tangis berubah putih, dan jemarinya mulai gemetar. “Tidak... Eyang, aku tidak bisa. Rumah itu... di sana semuanya mengingatkanku pada Tanto. Kamarnya, kursinya... aku tidak kuat. Aku bisa... aku bisa kambuh...”
“Dania.” Keanu berpindah ke sofa dan meraih bahunya. “Kamu tidak harus ke mana-mana kalau kamu tidak mau.” Dia menoleh ke Eyang dengan rahang mengeras. “Eyang, Dania sedang tidak stabil. Dia sudah dua kali panic attack minggu ini. Dia butuh orang yang dia kenal di sekelilingnya, bukan dipindahkan seperti barang.”
“Siapa yang bilang seperti barang?” Suara Eyang tidak naik, tapi ruangan terasa menyempit. “Eyang menawarkan keluarga, Keanu.”
“Dia keluarga di rumahku.”
“Dia tamu di rumahmu,” sela Mama. Itu pertama kalinya Mama bersuara tegas sejak Keanu datang. “Tamu yang sudah menginap lebih lama dari yang masuk akal.”
“Ma...”
“Kamu sudah membaca gugatan Kalila?” tanya Mama.
Keanu terdiam setengah detik terlalu lama. “Sudah. Tadi.”
“Ada yang tidak benar di dalamnya?”
Dia melirik Dania yang masih terisak di sampingnya, lalu kembali pada ibunya, dan tidak menjawab. Itu sudah jawaban.
Mama tidak menjawab. Dia hanya menatap putranya, tatapan panjang yang tidak marah dan tidak membela, tatapan seorang ibu yang mencari di wajah anaknya sesuatu yang dulu pernah ada. Keanu bertahan beberapa detik, lalu mengalihkan mata. Tangannya masih di bahu Dania, tapi genggamannya mengendur sedikit.
Dania terisak lebih keras. Bahunya naik-turun, napasnya pendek, dan Keanu langsung mengangkat wajahnya menatap ibunya seolah menuduh.
“Cukup,” katanya dingin. “Dia perlu istirahat. Aku bawa dia pulang.”
“Keanu...”
“Terima kasih untuk tehnya, Eyang.” Dia membantu Dania berdiri. Dania bersandar di lengannya, tubuhnya ringan seperti burung terluka, dan mereka berjalan keluar dengan Dania menoleh sekali ke belakang. Pada detik singkat itu, Eyang melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan air mata di pipinya. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih tenang, lebih menghitung.
Pintu depan tertutup. Mobil menyala, lalu menjauh.
*
Hujan mulai turun menjelang magrib. Kalila baru saja menutup resleting koper kecilnya di unit lantai lima belas, setengah isi pakaiannya sudah masuk, ketika ponselnya berdering. Nama di layar membuatnya duduk tegak di tepi ranjang.
“Eyang.”
“Kamu sudah makan, Nak?”
“Sudah, Eyang.” Itu bohong yang sama. Kalila memejamkan mata sebentar. “Belum. Sedang bersiap.”
“Bersiap apa?”
Kalila diam. Di seberang, terdengar napas pelan yang sabar.
“Kamu tidak mungkin tinggal di unit itu terus, Eyang paham,” kata Eyang akhirnya. “Eyang tidak akan bertanya kamu akan ke mana dan Eyang tidak ingin tahu. Tapi dengar baik-baik. Ke mana pun kamu pergi, jangan beri tahu siapa pun di mana kamu tinggal. Siapa pun. Termasuk Mama Keanu, kalau dia bertanya dengan lembut.”
“Eyang...”
“Dan terutama,” suara tua itu merendah, “jangan beri tahu yang menangis paling pandai.”
Kalila membeku. Hujan mengetuk kaca jendela di sampingnya.
“Eyang melihat apa?” tanyanya pelan.
“Eyang belum mau mengatakannya,” jawab Eyang. “Eyang melihat sesuatu hari ini yang belum bisa Eyang buktikan, dan menuduh tanpa bukti itu perbuatan yang tidak Eyang ajarkan kepada anak-anak Eyang. Jadi Eyang minta saja ini. Jaga dirimu. Dan jangan percaya pada air mata yang jatuh tanpa suara.”
*
Setelah telepon itu, Eyang tidak segera memanggil pelayan untuk membereskan meja. Hujan di luar sudah menjadi tirai, dan Mama belum pulang.
Mama menyandar ke sofa dan memejamkan mata. “Ibu lihat sendiri soal kue itu.”
“Eyang lihat.” Eyang mengusap kepala tongkatnya dengan ibu jari. “Dan Eyang tidak buta.”
“Dulu dia tidak begitu, Bu.” Suara Mama pecah. “Dulu dia anak yang kalau melihat orang tersandung langsung mengulurkan tangan. Sekarang dia mengulurkan tangan pada satu orang dan lupa bahwa istrinya sendiri sedang tenggelam di sebelahnya.”
“Kebaikan yang tidak punya batas itu bukan kebaikan, Nak. Itu kebutaan yang kebetulan rapi.” Eyang menepuk punggung tangan menantunya. “Jangan ceritakan apa pun kepada Keanu tentang kue itu. Dia tidak akan percaya, dan kalau Eyang salah, kita hanya menambah luka. Biar waktu yang membuka. Eyang cuma minta Mama tetap dekat dengannya.”
“Mama takut, Bu.”
“Eyang juga.”