“Kalila.”
Keanu menyebut nama itu setengah berdiri, tangan kirinya masih menekan perut. Suaranya keluar lebih serak dari yang dia rencanakan, dan beberapa pasien di deretan kursi tunggu menoleh. Dia tidak peduli. Yang dia lihat hanya wanita yang berjalan di tengah koridor dengan tas kertas di dada, rambut sebahu terikat rapi, wajah yang tirus dan pucat tapi tegak.
Kalila tidak berhenti. Dia hanya menoleh sedikit, cukup untuk memastikan siapa yang memanggil, dan menjawab dengan nada yang sama sopannya seperti kepada orang asing di lift.
“Semoga lekas sembuh, Tuan Keanu.”
Lalu dia berjalan terus. Punggungnya lurus, langkahnya tidak melambat, dan pintu lift menelannya dalam hitungan detik.
Keanu masih setengah berdiri ketika petugas poli memanggil nomornya. Kalimat itu berputar di kepalanya. Semoga lekas sembuh. Seperti ucapan seorang staf kepada atasan yang kebetulan masuk angin. Tiga tahun lalu dia pernah demam tinggi, dan Kalila menolak tidur di kamar lain, menjaganya sepanjang malam dengan kompres dan semangkuk bubur yang suhunya dia cek tiga kali. Malam itu Keanu berkata dia tidak perlu repot. Kalila menjawab, aku tidak repot, aku istrimu.
Sekarang istrinya mendoakan dia lekas sembuh tanpa menoleh.
“Bapak Keanu Syailendra?” panggil perawat untuk kedua kalinya.
Dia masuk. Pintu ruang periksa menutup di belakangnya dengan bunyi lembut, dan untuk sesaat dia membenci betapa tenangnya tempat ini dibanding kepalanya.
Dokter jaga di ruang periksa itu pria paruh baya yang bicaranya tenang dan matanya teliti. Dia menekan beberapa titik di perut Keanu, bertanya sejak kapan nyerinya, bagaimana pola makannya, apakah ada riwayat maag. Keanu menjawab seperlunya. Sejak empat hari. Tidak teratur. Tidak ada.
“Sepertinya maag akut, Pak. Lambung Bapak sedang meradang.” Dokter itu melepas stetoskop. “Penyebabnya biasanya satu dari tiga: telat makan, makan terlalu pedas atau asam, atau tekanan pikiran berkepanjangan. Kalau melihat wajah Bapak, saya curiga ketiganya sekaligus. Berapa jam Bapak tidur dalam dua hari terakhir?”
“Mungkin tiga. Total.”
“Nah.” Dokter itu menulis sesuatu. “Saya sarankan rawat inap satu malam supaya bisa dipantau dan diinfus. Lambung Bapak perlu diistirahatkan.”
“Tidak bisa.” Keanu menegakkan bahu. “Resep saja. Saya ada pekerjaan.”
“Pak, kalau lambung sampai luka...”
“Resep saja, Dok.”
Dokter itu menarik napas dengan sabar, tapi tidak membantah lebih jauh. Dia menulis tiga jenis obat dan menjelaskan aturan pakainya. Keanu hanya mengangguk. Ketika dokter itu menutup map, Keanu menyadari ada hal lain yang mengganjal di kepalanya, dan sebelum sempat dipikirkan, mulutnya sudah bergerak.
“Dok, apakah wajar kalau... semua makanan terasa hambar?”
Dokter itu mengangkat alis. “Hambar bagaimana, Pak?”
“Tidak ada rasa. Nasi, kopi, sup, semuanya sama.” Keanu menatap tangannya sendiri di atas lutut. “Sudah seminggu. Saya kira karena kurang tidur.”
“Bisa karena itu. Bisa juga karena lambung yang bermasalah, atau kecemasan. Kalau menetap sesudah maagnya reda, sebaiknya Bapak periksa lebih lanjut.” Dokter itu ragu sesaat. “Di rumah sakit ini ada Dokter Julian Baskara, internis dengan keahlian psikosomatis. Beliau sering menangani keluhan semacam itu.”
Rahang Keanu mengeras. “Terima kasih. Saya tidak perlu.”
Dia mengambil resep dan keluar. Dia memutuskan dokter itu tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, dan hanya melakukan pekerjaannya. Tapi nama itu menyengat seperti tamparan, dan dia teringat tas kertas di tangan Kalila, dan koridor lantai tiga yang memang satu lorong dengan ruang praktik Julian. Wanita itu keluar dari arah sana. Tas kertas itu mungkin berisi resep, mungkin berisi hasil pemeriksaan, mungkin berisi apa saja. Dia mengusir pikiran itu, tapi pikiran itu kembali lagi sebelum dia sampai di apotek.
Di apotek, antrean pendek. Apoteker perempuan menyerahkan tiga bungkus plastik kecil dan membacakan aturan dengan cepat. “Yang putih sebelum makan, yang kuning sesudah, jangan lupa makan teratur ya, Pak, perut itu juga manusia.”
Keanu nyaris tertawa. Perut itu juga manusia. Dia mengucapkan terima kasih, menerima kantong obat, lalu berdiri sebentar di depan etalase minuman suplemen tanpa melihat apa pun. Makan teratur. Dia sudah mencoba tadi pagi, di meja makan rumahnya yang panjang, dengan semangkuk bubur yang dimasak Mbok Darmi. Dia menyuap, mengunyah, menelan, dan setiap suapan terasa seperti memasukkan kertas basah ke mulut. Piringnya masih penuh waktu dia pergi.
*
Supri sudah menunggu di depan lobi dengan mobil. Keanu duduk di kursi belakang, menutup pintu, dan menyuruhnya jalan sambil menyandarkan kepala ke jok. Perutnya masih perih. Obat yang baru ditebus belum sempat dia minum.
“Tadi pagi Non Dania dijemput mobil dari rumah Eyang, Pak,” lapor Supri hati-hati sambil memperhatikan jalan. “Mbok Darmi yang cerita. Beliau minta Non Dania ikut ke sana. Saya kira Bapak sudah tahu.”
“Belum,” jawab Keanu pendek. Dia memandang jalanan. Dania di rumah Eyang. Berarti Mama dan Eyang sudah merencanakan sesuatu sejak pagi, dan dia kembali menjadi orang terakhir yang diberi tahu di keluarganya sendiri.
Ponselnya bergetar. Surel dari sekretaris, diteruskan dengan satu kalimat pendek: Pak, ini tembusan dari pengacara Ibu Kalila, tiba di kantor tadi pagi. Mohon dibaca.
Keanu hampir menolak membukanya. Tapi lampu merah menyala di perempatan, mobil berhenti, dan jemarinya tahu-tahu sudah menyentuh lampiran.
Gugatan Perceraian. Nomor perkara. Nama penggugat: Kalila Reina. Nama tergugat: Keanu Syailendra.
Dia membaca cepat, lalu lambat. Kalimat-kalimat hukum itu dingin, tetapi isinya terlalu terang untuk salah ditafsirkan. Penelantaran lahir dan batin. Penggugat ditempatkan di ruang pelayan di rumah sendiri. Pihak ketiga diutamakan dalam keputusan rumah tangga. Rekam medis terlampir.
Dia menggulir lagi. Ibu jarinya berhenti di satu baris.
Bahwa tergugat tidak mendampingi penggugat pada saat penggugat mengalami keguguran dan justru menyalahkan penggugat atas peristiwa tersebut.
Keanu menatap kalimat itu sampai hurufnya berbaur. Lampu hijau menyala. Supri menjalankan mobil. Di luar jendela, Jakarta bergerak, tapi di dalam mobil semuanya diam.
Dia ingat ruang rawat itu. Dinding putih, selang infus, wajah Kalila yang pucat di bantal. Dia ingat kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri, dan dia ingat bahwa saat mengucapkannya dia merasa marah, bukan sedih, marah pada sesuatu yang tidak bisa dia peluk atau dia pukul. Tapi tertulis di sini dengan huruf baku, kalimat itu menjadi kalimat milik orang lain, orang yang tidak ingin dia kenali.
“Pak?” Supri melirik dari kaca. “Bapak baik-baik saja?”
“Jalan saja, Supri.”
Dia mematikan layar. Tangannya sedikit bergetar, dan dia menyembunyikannya ke dalam saku jas.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini dari Mama. Pesan singkat, tanpa salam.
Keanu, ke rumah Eyang sekarang. Dania sudah di sini.