Pukul dua kurang lima, Kalila berdiri di depan meja perawat lantai tiga rumah sakit itu dengan tas kertas di tangan kiri. Dia sengaja datang tepat waktu, tidak lebih awal dan tidak terlambat. Perawat jaga, wanita muda berseragam krem, tersenyum dan menunjuk ke koridor.
“Dokter Julian sudah menunggu, Bu. Pintunya terbuka. Saya duduk di sini kalau Ibu butuh apa-apa.”
Ruang praktik itu bukan ruangan yang Kalila ingat. Dulu, pada hari-hari pertama sakitnya, ruang ini terasa hangat, tirai tertutup setengah, lampu meja menyala kuning, kursi berlengan yang empuk. Hari ini tirainya terbuka lebar dan cahaya siang masuk polos. Pintu yang menghadap koridor tidak ditutup, bahkan diganjal dengan penahan karet. Dari kursi mana pun di ruangan itu, siapa pun yang lewat bisa melihat ke dalam.
Julian berdiri di balik meja, mengenakan jas putih dan kacamata berbingkai tipis. Dia tidak tersenyum seperti biasanya. Dia hanya mengangguk, lalu menunjuk kursi di seberang meja.
“Terima kasih sudah datang, Kalila. Silakan duduk.”
“Dokter.” Kalila duduk dan menaruh tas kertas di pangkuan. “Pengacaraku bilang aku tidak boleh menerima barang apa pun dari Dokter lagi. Jadi ini.” Dia menyorongkan tas itu melintasi meja. “Jaket Dokter. Sudah kucuci.”
Julian memandang tas itu sebentar tanpa menyentuhnya.
“Pengacaramu benar.”
“Jadi Dokter terima.”
“Belum.” Ada kerut samar di sudut bibirnya, bukan senyum, hanya sisa dari satu. “Dengar dulu apa yang ingin kusampaikan, setelah itu putuskan sendiri mau diapakan jaketnya.”
Dia membuka laci, mengeluarkan map tipis, dan meletakkannya di atas meja. Gerakannya hati-hati, nyaris kaku, seperti seseorang yang sudah berlatih kalimat ini berulang kali semalam dan tetap tidak yakin akan bunyinya.
“Mulai hari ini aku berhenti menjadi dokter yang menanganimu. Perawatanmu kualihkan kepada rekanku, seorang psikiater. Dia sudah membaca seluruh catatanmu dan tidak ada satu langkah terapi pun yang berubah.” Julian menatap Kalila. “Dan ini.” Dia mendorong secarik kertas dari dalam map. “Daftar semua kontak kita sejak malam di taman. Tanggal, jam, tempat, dan lamanya. Isi percakapan tidak kutulis. Aku sudah menyalin yang sama untuk pengacaramu, kalau kamu setuju memberikannya.”
Kalila meraih kertas itu. Barisnya rapi. Malam pertama, bangku kayu di taman. Malam yang sama, perjalanan dengan mobil. Unit lantai lima belas, ruang tamu, dua puluh menit, aku tidak masuk lebih jauh dari itu. Pukul empat subuh, pesan singkat. Seperti catatan klinik, sedingin itu, setelaten itu.
Dadanya menegang. Ada sesuatu yang panas naik ke tenggorokan.
“Jadi aku sekarang berkas?” suaranya pelan, tetapi bergetar. “Dokter menyerahkanku seperti menyerahkan pasien yang menyusahkan. Setelah semua yang...”
“Kalila.”
Hanya itu. Namanya, dipanggil dengan nada yang rendah dan tenang. Julian tidak mengangkat suara, tidak membela diri, dan tidak bergerak dari kursinya.
“Aku menyerahkanmu bukan karena kamu menyusahkan,” katanya. “Aku menyerahkanmu supaya tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan perawatanmu dipakai sebagai pintu. Kalau suatu hari keluarga Syailendra menuduh, sidang itu akan membaca catatan ini dan tanggal penyerahan di sini.” Dia mengetuk map. “Aku ingin yang mereka temukan hanya dokter yang tahu kapan harus berhenti.”
Kalila terdiam. Kalimat pengacaranya kemarin kembali di kepalanya, hampir kata demi kata. Yang dihitung adalah apa yang tampak.
Kemarahan di dadanya perlahan surut, tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk dia lihat dengan jelas bahwa lelaki di seberang meja ini sedang melakukan hal yang sama dengannya: menutup celah sebelum orang lain sempat memakainya.
“Maaf,” ucap Kalila akhirnya, lirih. “Aku tidak bermaksud...”
“Kamu berhak marah. Aku sengaja menaruh pintu terbuka dan mengatur semuanya seperti ini, dan dari luar, terlihat sangat dingin.” Julian menarik napas. “Kalau boleh, satu permintaan kecil soal jaketnya.”
Kalila menunggu.
“Simpan dulu. Bukan hadiah. Titipan.” Dia mendorong tas kertas kembali ke arah Kalila dengan ujung jarinya, hanya setengah jengkal. “Malam hari di sekitar panti itu dingin, dan kamu masih mudah kedinginan sejak sakit. Kembalikan kapan pun kamu merasa sudah tidak memerlukannya. Aku tidak akan menagihnya.”
“Pengacaraku bilang...”
“Kalau pengacaramu keberatan, katakan kepadanya jaket itu sudah tercatat sebagai titipan di daftar ini.” Julian menunjuk baris terakhir di kertas, yang ternyata sudah dia tulis: satu jaket pria, dipinjamkan pada malam pertama, belum dikembalikan atas keputusan penerima. “Kalau pun ada yang mempersoalkan, kita sudah jujur dari awal.”
Kalila memandang baris itu lama. Lalu dia menarik tas kertas ke pangkuannya.
“Kusimpan dulu,” ucapnya. “Tapi hanya titipan.”
“Hanya titipan.”
Ketukan halus terdengar di kusen pintu. Seorang wanita berjas putih berdiri di ambang, sekitar tiga puluh lima tahun, rambut dikuncir rendah, kacamata bulat di hidung mungilnya. Julian bangkit.
“Kalila, ini rekanku, dokter yang akan menanganimu mulai pekan ini.”
“Selamat siang, Bu Kalila.” Dokter itu mendekat dan menjabat tangan Kalila dengan genggaman hangat dan singkat. “Saya sudah membaca semua catatan Ibu. Kita bicara besok pagi di ruang saya, kalau Ibu bersedia. Hari ini saya hanya ingin Ibu tahu bahwa saya tidak akan mengulang pertanyaan yang sudah dijawab.”
Kalila mengangguk. Ada kelegaan kecil yang tak terduga dalam kalimat terakhir itu.
“Satu hal lagi yang tidak boleh berhenti,” kata Julian sebelum Kalila berdiri. Dia mengeluarkan buku kecil bersampul polos dari laci dan menaruhnya di atas map. “Jurnal makan. Setiap hari catat apa yang kamu makan, jam berapa, dan apa yang kamu rasakan di lidah. Kalau hasilnya nol, tulis nol. Jangan dilewati karena kosong. Dokter yang baru akan membacanya tiap pekan.”
“Kalau seminggu penuh isinya nol semua?”
“Maka kita punya seminggu data yang jujur.” Sudut matanya melembut sedikit, hanya sedikit. “Kadang obat paling sulit adalah berani menulis angka itu.”
Kalila menyelipkan buku itu ke dalam tas kertas, di atas jaket. Dia berdiri, berjabat singkat dengan dokter pengganti, lalu berhenti di ambang pintu. Julian masih berdiri di balik meja, kedua tangannya bertumpu di tepi kayu, matanya tidak mengikuti ke mana pun. Sopan, terlalu sopan, sampai Kalila hampir ingin berkata sesuatu. Tapi dia hanya berkata, “Terima kasih, Dok,” lalu melangkah keluar.
*
Koridor lantai tiga lebih ramai daripada saat dia datang. Kalila berjalan menuju lift dengan tas kertas di dada, melewati deretan kursi tunggu poliklinik yang penuh pasien. Dia tidak sengaja menoleh ke papan nama di atas salah satu pintu, Poliklinik Penyakit Dalam, dan berhenti.
Di baris tengah kursi tunggu, seorang pria duduk membungkuk dengan satu tangan menekan perut. Jasnya terlipat di pangkuan, kemejanya kusut, wajahnya kelabu seperti orang yang tidak tidur dua malam. Nomor antreannya tergenggam di tangan yang lain.
Keanu.
Kalila tidak sempat bergerak. Lelaki itu mengangkat kepala, kebetulan atau tidak, dan matanya langsung bertemu mata Kalila. Mata elang yang dulu begitu tajam kini dikelilingi garis-garis lelah yang belum pernah dia lihat.
Dua puluh meter lorong. Satu napas panjang. Kalila memegang tas kertas lebih erat dan tidak memperlambat langkahnya.