Kantor pengacara itu berada di lantai sembilan sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman, dengan karpet abu tebal yang meredam setiap langkah dan jendela kaca yang memperlihatkan tiang-tiang beton Jakarta di bawah langit mendung. Kalila tiba pukul delapan lewat lima puluh. Seorang sekretaris mengantarnya ke ruang rapat kecil, menyuguhkan kopi dalam cangkir porselen, lalu menghilang tanpa suara.
Kalila memandangi kopi itu. Uapnya naik lurus, aromanya pasti harum bagi siapa pun. Dia mengangkat cangkir dan menyesap sedikit karena sopan, lalu meletakkannya lagi. Hangat, pahit di teori, kosong di lidah.
Pintu terbuka. Pengacara itu masuk dengan map tebal di bawah lengan, pria berusia akhir lima puluhan dengan kacamata separuh bingkai dan rambut yang sudah kehilangan sebagian warnanya. Cara jalannya pelan, seperti orang yang terbiasa menimbang sebelum bertindak.
“Selamat pagi, Bu Kalila. Terima kasih sudah datang tepat waktu.” Dia duduk, membuka map, lalu menatap Kalila sebentar. “Saya harus tanya lagi untuk terakhir kalinya. Ibu yakin?”
“Saya sudah menjawab pertanyaan itu kemarin, Pak.”
“Betul. Tapi tanda tangan ini mengubah banyak hal, dan saya lebih suka klien saya menandatangani dengan kepala dingin, bukan karena kemarahan.”
“Kepala saya dingin.” Kalila menyentuh map di depannya. “Mungkin terlalu dingin. Itu justru yang membuat saya yakin.”
Pengacara itu mengangguk, lalu mulai membuka lembar demi lembar. Dia membacakan dasar gugatan dengan nada datar, tapi setiap kalimatnya jatuh seperti batu di air yang tenang.
“Dasar pertama, penelantaran lahir dan batin. Tergugat membiarkan penggugat tinggal di ruang pelayan di rumah mereka sendiri, mengutamakan pihak ketiga dalam keputusan rumah tangga, dan mengabaikan kebutuhan dasar penggugat sebagai istri. Dasar kedua, penggugat jatuh sakit akibat tekanan berkepanjangan.” Dia membuka lampiran. “Ini rekam medis dari rumah sakit, termasuk keterangan dokter yang menyebut gangguan indra perasa akibat faktor psikosomatis. Dasar ketiga...”
Dia berhenti. Kalila sudah tahu apa yang akan dibacakan.
“Dasar ketiga, bahwa tergugat tidak mendampingi penggugat saat penggugat mengalami keguguran, malah menyalahkannya.” Pengacara itu menurunkan suara. “Saya tahu ini sulit didengar, Bu. Tapi tiga hal ini adalah tulang punggung gugatan, dan sebagian besar bisa dibuktikan lewat dokumen, bukan hanya kesaksian.”
“Dan harta?” tanya Kalila.
“Ibu bilang tidak menuntut gono-gini, hanya yang milik Ibu sebelum menikah. Saya tuliskan begitu, termasuk Reina’s Catering sebagai usaha pribadi. Sebelum Ibu menandatangani, saya sarankan satu hal.” Pengacara itu melepas kacamatanya dan memijat batang hidung. “Pihak suami akan menggunakan senjata klasik: tuduhan bahwa Ibu menggugat karena ada pihak ketiga.”
Kalila menegakkan punggung. “Maksud Bapak?”
“Dokter yang merawat Ibu adalah paman dari suami Ibu. Itu fakta yang bisa dibuka siapa saja. Ibu menginap di apartemen milik keluarganya, diantar olehnya sendiri, dan kontak Ibu dengannya sudah terjadi di tempat-tempat yang bisa dilihat orang, termasuk lobi malam itu.” Dia memandang Kalila lurus. “Saya tidak menuduh apa pun. Saya hanya tahu bagaimana firma besar menyusun serangan.”
“Dia dokter saya, Pak. Dia menolong saya.”
“Dan itu benar. Tetapi benar saja tidak cukup di ruang sidang. Yang dihitung adalah apa yang tampak.” Pengacara itu menyodorkan selembar kertas catatan. “Mulai sekarang, jangan terlihat bersama dengan Dokter Julian di ruang publik. Jangan kirim pesan yang bisa diterjemahkan macam-macam, dan jangan menerima tumpangan, makanan, atau barang apa pun darinya. Kalau beliau menghubungi Ibu, simpan semuanya.”
Kalila terdiam. Di kepalanya terbayang jaket yang terlipat di sandaran sofa. Bangku kayu, teh hangat, jarak satu meter. Semua itu kebaikan paling bersih yang pernah dia terima, dan kini harus diperlakukan seperti barang bukti.
“Baik,” ucapnya pelan.
Pengacara itu menggeleng halus. “Saya tidak bermaksud membuat Ibu merasa bersalah.”
“Saya tahu, Pak.”
“Satu hal lagi.” Kalila membuka tas dan mengeluarkan ponselnya. “Kemarin dua klien besar membatalkan pesanan, lalu masuk surel dari Syailendra Corp yang menghentikan kontrak katering kantor. Pemasok daging saya juga menunda kiriman karena katanya ada arahan dari atas. Apakah itu bisa masuk gugatan?”
Pengacara membaca surel yang disodorkan, bibirnya menipis. “Tidak langsung, Bu. Gugatan perceraian bicara soal hubungan suami-istri, bukan soal bisnis. Tapi ini tetap penting. Saya minta Ibu menyimpan setiap surel, setiap pesan, setiap nama pemasok yang bicara dengan Ibu. Kalau pada waktunya perlu menunjukkan tekanan terhadap Ibu, kita punya urutannya.” Dia mencatat di buku kuning. “Dan Bu, jangan membalas apa pun secara emosional. Surat seperti ini sengaja dikirim untuk memancing.”
“Saya tidak akan membalas.” Kalila menyimpan ponsel dan meraih pulpen. “Di mana saya tanda tangan?”
Dia menandatangani surat kuasa, lalu halaman demi halaman gugatan, setiap tanda tangannya sama rapi dan sama tegas. Pada halaman terakhir, pulpennya sempat menggantung di atas kertas, hanya sedetik. Bukan ragu. Dia sekadar menyadari bahwa tanda tangan ini adalah tanda tangan yang sama yang tiga tahun lalu dia bubuhkan di buku nikah.
Lalu dia menekan pulpen dan menyelesaikan namanya.
*
Pendaftaran dilakukan secara elektronik di ruang rapat itu juga. Pengacara bekerja dengan dua staf di laptop masing-masing, mengunggah berkas, membayar biaya, menunggu. Kalila duduk diam di kursinya, memperhatikan cangkir kopi yang sudah dingin. Pukul sebelas kurang sepuluh, salah satu staf berseru kecil.
“Nomor perkara terbit, Pak.”
Pengacara membaca layar, lalu menoleh. “Bu Kalila, gugatan Ibu sudah resmi terdaftar. Tahap berikutnya majelis akan menetapkan jadwal sidang pertama dan memanggil kedua pihak. Surat panggilan untuk Pak Keanu biasanya sampai dalam hitungan hari.”
Kalila menatap deretan angka dan huruf di layar. Panjang, kaku, tanpa perasaan. Nomor yang akan menempel pada hidupnya entah berapa bulan.
Dia berterima kasih, berjabat tangan, dan turun dengan lift sendirian. Di lobi gedung dia berhenti di dekat pintu kaca, memandangi hujan yang mulai turun rintik-rintik.
Unit di lantai lima belas itu tidak bisa lagi menjadi tempatnya. Pengacara benar. Apartemen milik keluarga Baskara, kunci dari Julian, jip hitam di lobi. Setiap detail kecil akan jadi kalimat di surat jawaban pihak sebelah. Dan lebih dari itu, dia tidak ingin terus menumpang di kebaikan siapa pun, sebaik apa pun orangnya.
Dia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Asti: lusa pagi aku butuh dua orang yang bisa angkat koper dan beberapa kardus, jangan tanya dulu untuk apa. Balasan datang kurang dari semenit, hanya satu kata, siap, Bu.
Satu-satunya tempat yang benar-benar miliknya adalah vila kecil peninggalan orang tuanya, di taman sepi dekat panti. Kunci cadangannya masih tersimpan di dasar tasnya, terbungkus kain flanel. Dia belum pernah tinggal di sana sejak orang tuanya tiada. Dia tidak tahu seberapa berdebu atau seberapa banyak kenangan yang masih menunggu di dalamnya.
Tapi dia tahu satu hal. Di sana tidak ada nama Baskara atau Syailendra di pintunya.
Ponselnya bergetar di dalam tas. Pesan masuk dari nomor yang tidak perlu dia baca namanya.
Kalila, ada yang perlu kuserahkan kepadamu terkait perawatanmu. Besok pukul dua, di ruang praktikku. Pintu akan terbuka dan ada perawat di luar. Kalau kamu tidak ingin datang, aku mengerti sepenuhnya. Julian.
Kalila membacanya dua kali. Jempolnya melayang di atas layar, belum menyentuh apa pun.