“Kehilangan apa, Eyang?” tanya Kalila. Suaranya hampir tidak terdengar di ruang keluarga yang mendadak lengang itu.
Eyang menggeser tongkatnya setengah jengkal. “Itu bukan Eyang yang menjawab, Nak. Orang seperti Keanu hanya belajar kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dia pegang.” Sorot tua itu turun ke tangan Kalila yang masih mengepal di atas lutut. “Dan kamu tidak wajib menunggu dia belajar. Pergilah. Kerjakan yang kamu bisa kerjakan.”
Mama bangkit setengah, wajahnya penuh keinginan untuk menahan. “Mama antar, Kalila.”
“Tidak usah, Ma. Saya naik taksi saja.” Kalila berdiri, mencium tangan Eyang sekali lagi, lalu menunduk singkat kepada Mama. Di sudut matanya, Julian masih duduk menghadap jendela dan tidak menoleh. Kalila lega untuk itu, lalu heran kenapa kelegaan itu terasa menyisakan ruang kosong.
Dia keluar tanpa menengok ke belakang.
*
Studio Reina’s Catering sepi dengan cara yang salah. Biasanya pukul sebelas siang tempat itu bising oleh dentang panci, aba-aba Asti, dan bau bawang putih yang ditumis hingga keemasan. Hari ini hanya terdengar kipas exhaust dan bisik-bisik, dan begitu Kalila melangkah masuk, bisik-bisik itu berhenti.
Sepuluh orang lebih berdiri kaku di balik meja stainless, celemek mereka sudah terikat tapi tangan mereka kosong. Tidak ada yang berani menatapnya langsung. Asti berdiri di depan mereka, matanya merah.
“Selamat siang,” sapa Kalila. “Kenapa semua berdiri? Kompor belum ada yang menyala.”
“Bu...” Seorang juru masak muda membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Tanya saja.”
“Katanya studio mau tutup, Bu.”
“Siapa yang bilang?”
Semua diam. Kalila melepas jas hujannya, menggantungnya di paku dekat pintu, dan menggulung lengan blusnya sampai siku. Gerakan-gerakan kecil yang sengaja dia lakukan pelan, supaya semua orang melihat bahwa tangannya tidak gemetar.
“Studio ini tutup kalau aku yang bilang tutup, dan aku tidak bilang begitu.” Dia memandang mereka satu per satu. “Siang ini ada pesanan dua ratus kotak untuk sebuah sekolah. Pesanan itu tetap berjalan. Ayo, kita mulai dengan kaldu.”
Mereka bergerak. Awalnya kaku, lalu satu per satu menemukan ritme lama. Panci diangkat, bawang dikupas, pisau mulai mengetuk talenan. Kalila berdiri di depan kompor besar dan menyadari sesuatu yang tidak bisa dia lakukan seperti dulu: percaya pada tangan sendiri.
Dia mengambil timbangan digital kecil dan sendok takar dari laci. Alat-alat yang dulu hanya dipakai pegawai magang.
“Asti, ke sini.”
Asti berdiri di sampingnya. Kalila menuang dua liter kaldu bening ke panci, memasukkan irisan jahe, lalu menimbang garam. Sebelas gram. Dia tidak tahu apakah itu cukup. Dia hanya tahu, dari kebiasaan bertahun-tahun, bahwa sebelas gram biasanya cukup.
“Cicipi.”
Asti mencelupkan sendok, meniup, mencicip dengan mata setengah terpejam. “Kurang gurih sedikit, Bu. Asinnya sudah pas, tapi... masih tipis di belakang.”
“Tambah sedikit kecap ikan, satu sendok teh.” Kalila menuangkannya, mengaduk, menunggu. “Sekarang?”
“Pas, Bu.” Asti tersenyum kecil, dan matanya basah. “Persis kayak biasanya.”
Kalila mengangguk dan mencatat takaran itu di buku kecil di saku celemeknya. Sebelas gram garam, satu sendok teh kecap ikan, jahe tiga iris. Dia menulisnya seperti menulis nomor telepon orang yang akan dia hubungi setiap hari. Dia sadar sekarang lidah yang dia pakai adalah lidah sewaan, milik Asti, dan selama pinjaman itu bisa dibayar dengan kepercayaan, dia akan terus meminjamnya.
Sesudah kotak-kotak pesanan sekolah mulai tersusun di rak, Kalila mengambil sendok kecil dan mencicipi sup itu sendiri. Dia perlu tahu. Uap hangat menyentuh bibirnya, cairan bening mengalir di lidahnya, dan semuanya datar, seperti minum air yang diberi nama. Dia menelan, meletakkan sendok, dan memasang wajah yang sama seperti sebelum mencicip.
Asti memperhatikannya dari seberang meja. Dia tidak bertanya. Dia hanya mendorong sepiring irisan mentimun ke dekat tangan Kalila, seperti kebiasaan lama, untuk menetralkan lidah, walau sekarang tidak ada lagi yang perlu dinetralkan.
“Pemasok daging yang menunda tadi pagi bagaimana?” tanya Kalila.
“Saya hubungi dua cadangan, Bu. Yang satu bilang stoknya habis, yang satu lagi mau kirim separuh dari biasanya, harga naik.” Asti menghela napas. “Dua-duanya bicaranya sangat hati-hati. Seperti takut ada yang mendengar.”
“Ambil yang mau kirim. Naik berapa pun, kita ambil dulu.”
Pukul dua, ponsel Asti berdenting di atas meja pantri. Dia membaca layar, wajahnya berubah, lalu menyodorkannya kepada Kalila tanpa suara.
Surel resmi, berkop surat Syailendra Corp. Kalila membaca baris demi baris.
Perihal: Pemberitahuan Penghentian Kerja Sama Layanan Katering Kantor.
Isinya singkat dan dingin. Setelah evaluasi mutu layanan pascaacara jamuan investor, manajemen memutuskan menghentikan kontrak katering kantor, efektif mulai awal bulan depan. Ditandatangani oleh Divisi Pengadaan. Tidak ada nama Keanu di mana pun.
“Kontrak kantor itu hampir sepertiga pemasukan kita, Bu,” bisik Asti.
“Aku tahu.”
“Itu bukan evaluasi mutu. Saus gala itu, Bu, takarannya saya yang pegang, dan bukan itu masalahnya...”
“Aku tahu, Asti.” Kalila mengembalikan ponsel itu. Wajahnya tidak berubah. “Surat ini tidak ditulis untuk kita. Surat ini ditulis supaya orang lain membacanya dan ikut menjauh.”
Dia menarik napas, lalu menepuk meja pantri dua kali. Dapur yang tadinya riuh perlahan senyap dan semua mata menoleh.
“Dengarkan sebentar. Semua yang bekerja di sini berhak tahu, jadi aku bicara terus terang. Kontrak kantor dihentikan. Beberapa klien lain membatalkan. Pemasok kita sedang ditekan.” Kalila menahan jeda. “Aku tidak tahu berapa lama ini berlangsung. Tapi gaji bulan ini aman. Aku bayar dari tabunganku sendiri, tidak peduli berapa pesanan yang masuk. Siapa pun yang ingin pergi mencari tempat yang lebih tenang, aku tidak akan menahan dan tidak akan marah.”
Hening sebentar. Lalu juru masak muda tadi mengangkat tangan setengah.
“Saya tidak ke mana-mana, Bu. Ibu yang ajari saya bikin saus pertama. Ibu bilang rasa itu jujur.”
Seseorang di belakang menyahut dengan nada bergetar, “Saya juga, Bu.” Yang lain menyusul, tidak serempak, tidak keras, tapi cukup. Kalila hanya menunduk sedikit sambil menggigit bagian dalam pipinya agar tidak terdengar napasnya yang tersendat.
Asti menyusul ketika Kalila melangkah ke lorong belakang, menutup pintu pelan di belakangnya.
“Ibu yakin tabungannya cukup?” bisiknya. “Saya tahu angka kas studio, Bu. Dua bulan saja sudah berat kalau kontrak kantor betul-betul lepas.”
“Cukup untuk bulan ini,” jawab Kalila jujur. “Bulan depan kita pikirkan bulan depan. Yang penting mereka tidak pulang malam ini sambil menghitung apakah besok masih punya pekerjaan.”
“Ibu selalu begitu. Memikirkan orang lain dulu.”
“Dan lihat ke mana itu membawaku.” Kalila tersenyum tipis, getir. “Tapi yang ini beda, Asti. Mereka tidak meninggalkanku waktu aku tidak punya apa-apa untuk diberikan.”
Ponselnya berdering di saku celemek. Nomor pengacara.
Asti mundur memberi ruang. Kalila bersandar ke dinding lorong dan mengangkatnya. “Ya, Pak.”
“Bu Kalila, selamat siang. Berkas sudah siap semua. Surat kuasa dan gugatan tinggal ditandatangani. Saya mau Ibu datang ke kantor besok pukul sembilan pagi. Mohon bawa rekam medis lengkap dari rumah sakit.” Ada jeda sangat singkat. “Dan Bu, saya sarankan jangan tunda. Pihak sebelah sepertinya bergerak lebih cepat dari dugaan saya.”
Kalila menatap dinding lorong yang dingin. Dari balik pintu terdengar suara pisau dan panci, suara kehidupan yang menolak berhenti.
“Kalau mereka bergerak lebih cepat, Pak, kita bergerak lebih rapi,” ucapnya. “Pukul sembilan, saya sudah di sana.”