Rumah Eyang tidak berubah sejak terakhir kali Kalila datang. Pagar besi tua di depan, pohon sawo yang daunnya selalu lebat, dan beranda berlantai tegel kuning yang mengilap karena dipel setiap pagi. Kalila turun dari taksi pukul delapan lewat lima puluh, sepuluh menit lebih awal dari janji. Dia memang sengaja datang lebih dulu, supaya tidak ada yang melihatnya masuk sambil menunduk.
Seorang pelayan membukakan pintu dan mengantarnya ke ruang keluarga. Mama sudah di sana, duduk di kursi rotan dengan punggung lurus, wajahnya segar tapi matanya jelas kurang tidur. Dan di kursi besar berlengan ukir di tengah ruangan, Eyang menunggu, tubuhnya kecil dibalut kebaya sederhana warna abu, kedua tangannya bertumpu pada tongkat.
“Kemari, Nak.”
Kalila menghampiri dan mencium tangan keriput itu. Eyang menahan jemarinya sebentar, menatap wajahnya lekat-lekat seperti membaca halaman buku yang sudah lama tidak dibuka.
“Kurus,” kata Eyang singkat. “Duduk di sini, di sebelah Eyang. Jangan di ujung sana.”
Kalila duduk di kursi yang ditunjuk. Barulah dia sadar bahwa ruangan itu tidak hanya berisi mereka bertiga.
Di ujung ruangan, jauh dari tempat Kalila duduk, ada satu kursi kayu sederhana menghadap jendela. Julian duduk di sana dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung sampai siku, kedua tangan terlipat di pangkuan. Dia hanya menoleh sekali ketika Kalila masuk, mengangguk setengah inci, lalu kembali menatap jendela.
Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Kalila merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, mirip kelegaan, dan dia buru-buru mengalihkan pandangan.
“Eyang yang menyuruhnya diam,” kata Eyang tanpa menoleh, seakan membaca pikiran Kalila. “Julian di sini sebagai saksi, bukan sebagai pembela. Kalau ia membuka mulut sebelum Eyang minta, Eyang suruh ia keluar.”
“Baik, Mah,” jawab Julian dari ujung ruangan. Suaranya rendah dan datar.
Pelayan datang membawa nampan berisi teh melati dan pisang goreng yang masih mengepul. Eyang sendiri yang menyodorkan cangkir pertama ke tangan Kalila.
“Minum. Eyang tahu rasanya tidak seperti dulu, tapi hangatnya masih sampai.”
Kalila menoleh cepat. Eyang hanya menatap ke depan, wajahnya tak berubah. Kalila tidak bertanya dari mana Eyang tahu soal lidahnya. Mama pasti bercerita semalam, sepulang dari apartemen. Dia menerima cangkir itu dengan kedua tangan dan menyesapnya pelan. Hangat. Itu saja yang bisa dia rasakan, tapi pagi itu hangat saja sudah terasa cukup.
Mama menggeser duduknya, dan sebentar mereka bertiga hanya diam, menunggu bunyi mobil yang belum juga datang. Jam kayu besar di sudut ruangan berdetak, dan setiap detaknya terasa menyindir orang yang belum hadir.
*
Keanu datang dua puluh menit terlambat.
Mereka mendengar mobilnya lebih dulu, deru mesin yang berhenti kasar di depan pagar, lalu langkah sepatu yang cepat dan berat di beranda. Dia masuk dengan jas yang kusut dan dasi yang belum terpasang sempurna. Rahangnya mengeras, dan di bawah matanya ada bayangan kelabu yang tidak ada dua hari lalu.
Sorot Keanu menyapu ruangan. Berhenti di Kalila, bertahan setengah detik, lalu bergeser ke ujung ruangan dan menajam.
“Dia ngapain di sini?” tanyanya tanpa salam.
“Eyang yang memanggilnya,” jawab Eyang tenang. “Duduk, Keanu.”
“Dan kau cuma akan duduk di sana, Julian?” Keanu melempar pandangan ke ujung ruangan. “Tidak ada yang mau kau katakan?”
Julian tidak menjawab. Dia hanya menatap Keanu, lurus, tanpa marah dan tanpa menghindar, seperti dokter yang menunggu pasiennya selesai bicara. Diamnya justru lebih berat dari bantahan apa pun, dan Keanu yang pertama memutus tatapan itu.
Keanu tidak duduk. Dia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, napasnya ditahan agar terlihat teratur. “Aku datang karena Eyang minta. Tapi aku sudah punya jalan keluar, jadi tidak perlu ada sidang keluarga.” Dia menatap Kalila langsung. “Dania akan kupindahkan ke apartemennya sendiri. Aku sudah bicara dengan perawat. Mulai besok tidak ada lagi orang lain di rumah itu, hanya kita. Jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk tinggal di luar.”
Mama menutup mata sebentar. Kalila merasa sudut mulutnya hampir terangkat, bukan karena lucu, tapi karena lelah.
“Itu bukan soal tempat, Tuan Keanu.”
“Jangan panggil aku begitu.”
“Itu namamu.” Kalila menjaga suaranya sedatar air di baskom. “Anda pikir persoalannya di kamar yang saya tempati? Saya sudah tinggal di kamar pelayan berhari-hari, dan saya tidak keberatan dengan ukurannya. Yang tidak bisa saya terima adalah berada di rumah yang menunggu saya diam.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu diam.”
“Kamu menyuruhku masuk kamar dan tidak membuat keributan, Keanu. Itu kalimat yang kamu berikan padaku pada malam kamu membawa Dania pulang, dan sampai hari ini tidak ada yang menggantinya.”
Rahang Keanu bergerak. Dia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
“Keanu.” Suara Eyang rendah, nyaris berbisik, dan karena itu seisi ruangan menegang. “Eyang mau bertanya satu hal, dan Eyang minta kamu menjawab dengan jujur, bukan dengan pembelaan.”
“Silakan, Eyang.”
“Kapan terakhir kali kamu bertanya kepada istrimu apa yang dia lakukan seharian? Bukan menyuruh, bukan menegur, bertanya. Apakah dia sudah makan, apakah studionya ramai, apakah kakinya pegal setelah berdiri di dapur sepuluh jam.”
Hening.
Keanu menatap tegel di bawah sepatunya. Kalila melihat otot di pelipis lelaki itu bergerak halus. Dia tahu Keanu sedang menggali ingatan, membuka laci demi laci, mencari satu hari saja yang bisa dia tunjukkan.
“Aku...” Keanu berhenti. “Waktu itu... sebelum Dania...”
“Sebelum Dania kapan?” desak Eyang, tanpa menaikkan nada. “Bulan lalu? Tahun lalu? Sebelum anakmu tidak jadi lahir?”
Kalimat terakhir itu jatuh di tengah ruangan seperti pecahan kaca. Mama menunduk. Di ujung ruangan, Julian tidak bergerak, tetapi bahunya menegang.
Keanu tidak menjawab. Bukan karena menolak, Kalila bisa melihatnya. Dia tidak punya jawaban.
Lalu Keanu menegakkan tubuh. Kalila mengenali gerakan itu, cara dia menarik dagu dan merapatkan bahu setiap kali harga dirinya hampir runtuh dan dia memilih menutupnya dengan angkuh.
“Kalau Kalila memang mau bercerai,” ucap Keanu pelan, tajam, “silakan ajukan. Menanglah di pengadilan. Aku tidak akan mempermudah, dan aku tidak akan menjatuhkan apa pun karena dikeroyok di ruang keluarga.”
“Keanu!” seru Mama.
Dia tidak menoleh. Dia berbalik, melangkah keluar, dan pintu depan ditutup dengan bunyi yang membuat pelayan di dapur menjatuhkan sesuatu. Mobilnya menderu pergi sebelum ada yang sempat bergerak.
Mama setengah bangkit, lalu duduk lagi dengan tangan menutup mulut. Kalila tetap diam. Dia menyadari telapak tangannya basah dan jemarinya mengepal di atas lutut, tapi napasnya, anehnya, tenang.
Dari ujung ruangan terdengar bunyi kursi bergeser pelan. Julian berdiri, tetapi dia tidak melangkah mendekat. Dia menatap Eyang, menunggu isyarat, dan Eyang menggeleng tipis. Julian duduk kembali, dan buku-buku jarinya yang memutih di sandaran kursi satu-satunya tanda bahwa diam itu tidak gratis.
Eyang memandang pintu yang masih bergetar. Lalu dia menoleh ke Kalila, dan sorot di mata tua itu berubah.
“Dengar, Nak. Orang yang berkata menanglah di pengadilan itu bukan orang yang yakin akan menang,” ujarnya pelan. “Itu orang yang baru sadar ia sudah kehilangan sesuatu dan belum tahu apa.”