Mama tidak langsung menyebut permintaannya. Dia lebih dulu duduk di ujung sofa, meletakkan tas di pangkuan, dan memandangi ruang tamu itu sebentar, seolah sedang mengukur seberapa jauh Kalila sudah pergi dari kehidupan mereka.
Kalila duduk di kursi tunggal di seberangnya. Dia sengaja tidak memilih sofa. Jarak dua meter dan sebuah meja kaca terasa lebih jujur.
“Kamu kurus sekali,” ucap Mama.
“Saya baik-baik saja, Ma.”
“Bohong.” Mama menarik napas panjang. Sorot matanya menyapu wajah Kalila yang tirus, lingkar gelap di bawah mata, bibir yang pucat meski sudah dipoles tipis. “Kamu pikir Mama tidak bisa melihat? Mama sudah tiga puluh tahun lebih jadi istri dan jadi ibu. Wajah orang yang menahan tangis itu kelihatan, Nak, sekalipun dia tersenyum. Mbok Darmi menelepon Mama tiga hari yang lalu, menangis di telepon sampai Mama harus minta dia mengulang kalimatnya dua kali. Kamar pelayan. Kopermu yang tidak pernah kamu bongkar. Dania yang menempati kamar tamu lantai bawah.” Suaranya bergetar di kata terakhir. “Mama membesarkan anak laki-laki, Kalila. Bukan laki-laki yang membiarkan istrinya tidur di kamar dekat gudang sementara perempuan lain dilayani di kamar tamu.”
Kalila tidak berkata apa pun. Dia hanya menunggu.
“Keanu itu buta,” lanjut Mama. “Keras kepala, congkak, dan bodoh dengan cara yang paling menyakitkan, yaitu merasa dirinya sedang berbuat baik. Mama sudah memarahinya dua hari berturut-turut dan dia menjawab dengan kalimat yang sama, aku hanya menjaga amanah, Ma. Seolah-olah kata itu bisa menghapus apa pun.”
“Dia tahu Mama ke sini?” tanya Kalila.
“Tidak. Sore tadi dia pulang dari lobi apartemen ini dengan wajah seperti orang kalah perang, lalu mengunci diri di ruang kerja. Piring makan malamnya masih utuh waktu Mama berangkat.” Mama mengusap pelipis. “Mama tidak sedang mencari belas kasihan untuknya. Mama hanya melaporkan apa yang Mama lihat.”
Kalila mengangguk tipis. Dia tidak merasa iba. Dia juga tidak merasa puas. Yang ada hanya semacam kekosongan yang tenang, seperti ruangan setelah perabotnya dikeluarkan satu per satu.
“Lalu apa permintaan Mama?”
Mama menatap kedua tangannya. Cincin kawin di jari manis kirinya sudah tipis dimakan usia. “Satu kesempatan untuk Keanu. Satu saja. Bukan supaya kamu pulang malam ini, Mama tahu itu tidak mungkin. Tapi supaya dia bisa duduk di depanmu, bicara, dan kamu mendengarnya sampai habis. Setelah itu, kalau kamu tetap mau pergi, Mama tidak akan menghalangi.”
Kalila menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah. Suaranya pelan, tapi tidak ada satu pun kata yang goyah.
“Saya hormat kepada Mama, dan saya berterima kasih Mama datang sendiri. Tapi jawaban saya tidak, Ma.”
“Kalila...”
“Kesempatan itu sudah saya berikan setiap hari selama tiga tahun.” Kalila menekan tangannya di atas lutut agar tidak bergetar. “Setiap kali dia melupakan hari ulang tahun pernikahan kami, saya memberinya kesempatan. Setiap kali dia pulang dini hari dengan alasan yang sama, saya memberinya kesempatan. Waktu saya keguguran dan dia bilang itu salah saya, saya masih memberinya kesempatan. Yang tidak pernah dia lakukan adalah memakainya.”
Mama memejamkan mata.
“Ada satu hal lagi yang belum Mama tahu.” Kalila menelan ludah. “Sejak malam gala itu, saya tidak bisa merasakan apa-apa, Ma. Garam, gula, asam, semuanya sama. Saya koki, makanan itu hidup saya, dan sekarang lidah saya berhenti bekerja. Dokter bilang tubuh saya mengunci diri. Tiga tahun saya menelan semuanya, Ma. Makan malam yang batal, kamar yang tiba-tiba bukan milik saya lagi, kata-kata yang menyalahkan saya karena kehilangan anak kami. Saya menelan sampai tubuh saya sendiri berhenti menerima apa pun.”
Ruangan itu sunyi. Di luar jendela, lampu-lampu kota bergeser pelan dalam kabut tipis.
Air mata Mama jatuh tanpa suara. Dia tidak menghapusnya. Dia hanya membuka tas, mengeluarkan sehelai saputangan lipat, dan menggenggamnya tanpa dipakai, seperti orang yang membutuhkan sesuatu untuk dipegang.
“Mama tidak tahu soal lidahmu,” bisiknya. “Mbok Darmi tidak cerita itu.”
“Mbok tidak tahu. Hanya dokter dan Asti.” Kalila menegakkan punggung. “Dan sekarang Mama.”
*
Kalila berdiri dan masuk ke dapur kecil di sudut ruangan. Dia perlu melakukan sesuatu dengan tangannya. Teko listrik, dua cangkir, sekantong teh yang disediakan ART pagi tadi. Gerakan-gerakan itu sudah menjadi kebiasaan dan tidak butuh lidah. Dapur ini hanya sepertiga ukuran dapurnya di rumah besar itu, bersih, dingin, dan tidak punya satu pun kenangan. Entah kenapa justru itu yang membuat napasnya sedikit lebih longgar.
Dia mendengar langkah Mama menyusul dan berhenti di ambang dapur.
“Mama boleh jujur?” tanya Mama.
“Silakan.”
“Waktu Tanto meninggal, yang pertama Mama telepon adalah Keanu. Mama bilang, Nak, Tanto itu sahabat karibmu, Dania sekarang tidak punya siapa-siapa, itu utang budi kita.” Suara Mama pecah di tengah kalimat. “Mama yang bilang amanah itu kewajiban. Mama yang menyuruhnya menjaga Dania. Dan Mama tidak pernah bilang, berhenti kalau istrimu sakit. Mama tidak pernah membayangkan kebaikan yang Mama dorong akan jadi alat melukai kamu.”
Teko listrik berbunyi klik. Kalila menuang air ke dua cangkir dan tidak berani menoleh, karena kalau dia menoleh, dia takut ada sesuatu di dadanya yang ikut pecah.
“Ini bukan salah Mama,” ucapnya akhirnya.
“Sebagian iya.” Mama maju selangkah. “Itu sebabnya Mama datang malam ini dan bukan besok. Mama tidak minta kamu memaafkan Keanu. Mama hanya tidak ingin kamu merasa sendirian menghadapi keluarga yang sudah salah menaruh beban di pundakmu.”
Kalila meletakkan cangkir di depan Mama. Uap tipis naik dari permukaan teh. Mama menerimanya dengan kedua tangan, seperti sedang menerima sesuatu yang lebih berharga dari sekadar teh.
Belum sempat Mama meminumnya, ponsel di dalam tasnya berdering nyaring. Mama melirik layar, lalu wajahnya berubah.
“Ibu,” gumamnya. Dia menekan tombol terima dan menyalakan pengeras suara. “Iya, Bu. Mama sedang di... ya, Bu. Dia ada di sini.”
“Berikan kepada Kalila.” Suara di seberang tua, serak, tapi sama sekali tidak lemah. Kalila mengenalnya dari acara-acara keluarga, suara yang membuat ruangan penuh orang mendadak hening.
“Eyang,” ucap Kalila sopan, mendekat ke ponsel.
“Kalila.” Ada jeda sebentar. “Eyang sudah mendengar semuanya, dan Eyang tahu di mana kamu bermalam. Unit itu milik Eyang, jadi tidak perlu sungkan. Tapi dengar baik-baik. Besok pukul sembilan pagi, semua orang berkumpul di rumah Eyang. Mama, Keanu, dan kamu.”
“Eyang, saya...”
“Eyang tidak bertanya kamu mau atau tidak.” Suara itu tidak keras, tapi tidak memberi ruang untuk membantah. “Eyang tidak memintamu berdamai dengan siapa pun. Eyang hanya ingin semua orang yang membuat kekacauan ini duduk di satu ruangan dan melihat wajah satu sama lain. Pukul sembilan. Jangan ada yang terlambat, terutama Keanu.”
Sambungan terputus. Dapur kecil itu kembali sunyi.
Mama memandang Kalila dengan sorot yang tidak bisa dibaca, antara minta maaf dan memohon. Dia meletakkan ponsel di meja dapur, lalu mengusap wajahnya dengan saputangan yang akhirnya dipakai juga.
“Ibu itu,” gumam Mama, setengah tertawa, setengah menangis, “tujuh puluh tahun lebih dan masih bisa membuat semua orang di keluarga ini berdiri tegak.”
“Dan Mama, setelah tiga puluh tahun,” kata Mama pelan, “masih ikut berdiri.”
Kalila memandang uap teh yang menipis di cangkir yang tidak akan pernah bisa dia rasakan. Lalu dia mengangkat dagu.
“Saya akan datang, Ma. Tapi saya tidak akan duduk di sebelah Keanu.”