Hanya satu nama. Kalila mengulang kalimat itu di kepalanya sampai kata-katanya kehilangan bentuk.
Dia duduk di sofa ruang tamu unit apartemen lantai lima belas tanpa menyalakan lampu. Kota di balik jendela besar menyala sepotong demi sepotong, dan ponselnya tergeletak di atas lutut dengan layar gelap. Di sandaran sofa terlipat jaket Julian, persis di tempat yang sama sejak semalam.
Nama pertama yang muncul adalah Mama. Ibu Keanu. Satu-satunya orang yang dihormati Keanu tanpa syarat. Cukup satu panggilan dari Kalila, satu kalimat pendek, dan lelaki yang pagi tadi mengirim perintah “pulang” itu akan menunduk di depan ibunya seperti anak sekolah yang dipanggil ke ruang guru.
Kalila menggeleng pelan. Kalau dia menelepon Mama malam ini, dia memang akan menang cepat. Tapi menang dengan cara mengadu, dan dia tidak mau tiga tahun pernikahannya ditutup oleh seorang istri yang bersembunyi di balik punggung mertua.
Nama kedua datang lebih pelan dan justru lebih sulit disingkirkan. Julian. Satu kata dari Julian dan separuh lingkaran Keanu akan berpikir dua kali sebelum menjalankan perintahnya. Julian bahkan tidak perlu diminta. Mungkin dia malah sedang menunggu untuk diminta.
Justru itu alasannya. Kalila menatap jaket di sandaran sofa. Lelaki itu memberinya bangku, teh hangat, dan jarak satu meter tanpa menagih apa pun. Memakai namanya sebagai senjata berarti membayar semua itu dengan cara paling murahan, dan orang-orang yang suka bergosip akan mendapat bahan yang tidak perlu mereka punya.
“Tidak,” ucap Kalila kepada ruangan kosong. Suaranya serak karena seharian jarang dipakai. “Aku yang mulai, aku yang selesaikan.”
Ponselnya bergetar di atas lutut. Nama Asti menyala di layar.
“Bu Kalila, maaf mengganggu malam-malam.” Suara Asti cepat, napasnya pendek seperti habis berlari. “Ada kabar kurang bagus.”
“Bilang saja, Asti.”
“Siang tadi dua klien besar membatalkan pesanan. Yang untuk pertemuan direksi dan yang jamuan ulang tahun perusahaan logistik itu. Alasannya sama, penyesuaian anggaran. Padahal minggu lalu mereka masih minta tambah porsi.” Asti menelan ludah. “Lalu pemasok daging menunda kiriman besok pagi. Katanya ada arahan dari atas. Saya tanya atas siapa, dia tidak mau jawab.”
Kalila memejamkan mata. Arahan dari atas. Dia tidak perlu bertanya siapa pemiliknya, tapi menduga bukan membuktikan, dan dia tahu kemarahan yang dibangun di atas dugaan hanya akan membuatnya ceroboh.
“Dengar, Asti. Tidak ada yang dirumahkan dan tidak ada dapur yang berhenti. Pesanan yang masih jalan tetap dikerjakan seperti biasa. Untuk daging, cari pemasok cadangan di daftar kita, yang kecil pun tidak apa-apa. Besok pagi aku periksa sendiri.”
“Tapi, Bu, kalau kita terus ditekan begini...”
“Kalau mereka mau menekan, biar mereka capek sendiri. Kita masak.” Kalila memaksa suaranya terdengar mantap, lebih mantap dari yang dia rasakan. “Suruh semua pulang tidur. Bilang ke mereka, studio ini tidak ke mana-mana.”
“Anak-anak dapur sudah mulai bertanya, Bu. Ada yang bilang katanya Ibu sedang ada masalah besar dengan Pak Keanu, dan kalau studio ini ikut tenggelam, mereka harus cari kerja lain.”
“Mereka tidak salah bertanya.” Kalila menekan pangkal hidungnya. “Jawab jujur saja. Aku memang sedang ada masalah dengan suamiku. Tapi urusan dapur bukan urusan rumah tangga, dan selama aku masih berdiri, gaji kalian bukan bagian dari masalah itu.”
Asti diam sebentar. “Baik, Bu. Ibu sudah makan?”
Kalila melirik meja kecil di sudut ruangan. Sepiring nasi dan telur dadar sudah dingin di sana, hanya berkurang setengah. Dia menyendoknya tadi bukan karena lapar, tapi karena makan atau tidak makan sama saja bagi lidahnya.
“Sudah.”
Asti pasti tahu itu bohong, dan Asti cukup baik untuk tidak membantahnya. Sambungan terputus dengan ucapan selamat malam yang terlalu lembut.
Kalila akhirnya menyalakan lampu. Cahaya kuning menyorot ruang tamu yang rapi dan sepi. Dia mengambil buku catatan dari tas, menulis nama-nama pemasok daging satu per satu, lalu mencoret dua yang dia tahu terlalu dekat dengan lingkaran Syailendra. Tinta pulpennya bergetar sedikit di huruf-huruf akhir. Dia menarik napas dan menulis lagi dengan lebih pelan.
Sebentar kemudian dia berhenti menulis dan menatap kosong ke jendela. Dulu, pada jam begini, dia masih berdiri di dapur rumah besar itu, memeriksa apakah kopi untuk sarapan Keanu sudah masuk daftar belanja besok. Delapan puluh lima derajat, tidak lebih, tidak kurang. Tangannya masih hafal angka itu bahkan ketika kepalanya sudah memutuskan untuk tidak peduli.
Dia menutup buku catatan dengan sedikit lebih keras dari yang perlu.
*
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, interkom di dinding berbunyi.
Kalila menegakkan punggung. Hanya satpam lobi yang tahu unit ini ditempati, dan satpam itu sudah mendapat pesan tegas sore tadi. Dia menekan tombol bicara.
“Malam, Bu Kalila. Maaf mengganggu.” Suara satpam terdengar ragu. “Ada ibu-ibu di lobi, mengaku ibunya Pak Keanu. Beliau sendirian, tidak bawa sopir. Menurut pesan Ibu, saya tidak boleh mengizinkan siapa pun dari keluarga Pak Keanu naik tanpa izin.”
Telapak tangan Kalila menempel dingin di dinding. Mama. Di sini. Pada jam begini.
Nama yang baru saja dia tolak datang sendiri tanpa dipanggil.
“Tunggu sebentar, Pak,” ucapnya. Dia menghitung sampai lima dalam hati. “Persilakan naik. Hanya beliau.”
Menit-menit berikutnya terasa lebih panjang dari seluruh sore. Kalila merapikan rambut sebahunya dengan jari, lalu berhenti, karena gerakan itu terasa konyol. Dia sempat memikirkan teh. Dia sempat memikirkan apakah rumah ini cukup layak menerima tamu semacam itu. Pikiran-pikiran kecil yang datang hanya supaya dia tidak perlu memikirkan hal besar.
Lift berdenting di ujung koridor. Langkah pelan, teratur, mendekat.
Kalila membuka pintu sendiri sebelum ketukan sempat terdengar.
Mama berdiri di ambang pintu seorang diri. Rambutnya yang separuh memutih disanggul rapi, tas tangan kecil digenggam dengan kedua tangan di depan perut, dan jas panjang berwarna gelap membungkus tubuhnya yang tampak lebih kurus dari terakhir kali Kalila melihatnya. Sepasang mata di wajah itu adalah mata Keanu, tajam dan berbentuk elang, hanya saja yang ini sembap dan tidak berusaha menyembunyikannya.
Mereka saling menatap lama. Tidak ada yang bicara. Dari dalam unit terdengar jam dinding berdetak, dari koridor terdengar dengung pendingin udara. Kalila tidak menunduk dan Mama tidak mengalihkan pandangan.
Tiga tahun Kalila memanggil wanita ini Mama. Tiga tahun wanita ini menyisipkan bungkusan kue ke tasnya setiap kali mereka bertemu, tanpa banyak kata. Dan malam ini, di bawah lampu koridor yang pucat, Kalila tidak tahu lagi harus berdiri sebagai menantu atau sebagai orang yang sedang menggugat anak wanita itu.
“Mama tahu semuanya,” kata Mama akhirnya, pelan sekali. “Dari Mbok Darmi.”
Kalila tidak menjawab. Jemarinya masih memegang daun pintu, tidak mengencang, tidak melonggar.
“Boleh Mama masuk, Kalila?”
Kalila melebarkan bukaan pintu satu langkah, lalu berhenti. “Boleh, Ma. Dengan satu syarat. Apa pun yang Mama katakan malam ini, saya tidak akan berubah pikiran.”
Sudut bibir Mama bergetar. Bukan senyum, bukan juga tangis, sesuatu yang berada di antara keduanya.
“Mama sudah menduga kamu akan bilang begitu.” Mama melangkah masuk, melewati Kalila, lalu berhenti di tengah ruang tamu dan menoleh. “Mama tidak datang untuk membela Keanu. Mama datang meminta satu hal.”